Wanita Lain

1289 Words
Hari berganti minggu, minggu pun berganti bulan. Yani belum juga mendapat kepastian soal pernikahannya. Rendra pun semakin sering berlama-lama tinggal di ibu kota. Bahkan, usaha Rendra yang ada di desa sudah tidak terurus lagi. Barang-barang jualannya sudah sedikit-sedikit mulai habis dan tidak ada pemasukan. Rendra hanya datang beberapa hari memberikan Yani uang lalu kembali lagi Ke Jakarta. Ia seakan tidak menghiraukan usaha yang ia bangun dengan susah payah. "Bang, baru tiga hari Abang di sini. Kenapa cepat sekali kembali ke kota," rengek Yani saat Rendra berkemas dan hendak kembali ke Jakarta. "Pekerjaan Abang di sana sedang ramai, Yani. Itu sebabnya Abang tidak bisa meninggalkannya berlama-lama," jawab Rendra berkilah. Ia memang sudah menyiapkan jawaban ini jika Yani bertanya. "Cepat kembali, ya, Bang!" ucap Yani sambil melambaikan tangan. Berat hatinya melepas setiap kepergian Rendra. Namun, kali ini entah mengapa ia merasa teramat sedih seakan Rendra tidak akan kembali lagi. Hari-hari berlalu seperti biasa. Semenjak kesibukan Rendra di Jakarta, Yani sering melamun dan murung. Namun, kali ini bukan hanya itu yang Yani rasa. Tubuhnya semakin lemah, ia lebih sering menghabiskan waktu untuk berbaring. Akhir-akhir ini Yani sering merasakan mual dan lemas yang berlebih. Ia tidak mengerti sakit apa yang sedang diderita. Hingga akhirnya ia putuskan untuk memeriksakan kesehatannya di puskesmas. "Selamat, ya, Ibu hamil," ucap bidan yang memeriksa Yani. Sebelumnya bidan tersebut memberikan sebuah benda pipih yang ia minta untuk di celupkan di air seni. Benda tersebut menunjukkan dua garis merah yang terang. Mendengar ucapan itu Yani merasa bahagia. Ia tidak menyangka akhirnya benih dari Rendra suaminya tumbuh juga di rahimnya. Tak sabar rasanya Yani menunggu kepulangan Rendra dan memberitahu kabar yang bahagia ini. Akan tetapi, dua bulan berlalu Rendra tak kunjung kembali. Hati Yani semakin gelisah menahan rindu di hatinya yang semakin hari semakin menggebu. Padahal, Yani sudah membayangkan wajah bahagia Rendra saat mengetahui bahwa ia sedang mengandung buah cinta mereka. Tersenyum bibir Yani membayangkan itu. Hingga tiba-tiba Yani dikejutkan oleh suara ketukan pintu yang begitu keras. Yani pikir seseorang yang datang itu adalah Rendra. Bergegas Yani keluar dan membuka pintu. Yani terkejut saat pintu terbuka. Di luar sana berdiri seorang wanita berpakaian mewah. Jantung Yani berdetak dengan kencang melihat wanita tersebut, ia takut ada kabar buruk dari suaminya. "Apa kau yang bernama Yani?" tanya wanita itu dengan keras. Terdengar amarah dari nada suara saat ia bicara. "Iya, aku Yani. Maaf kau ini siapa dan mau mencari siapa?" ucap Yani balik bertanya. "Kenalkan." Wanita tersebut mengulurkan tangan kanannya. Namun, saat hendak Yani sambut cepat-cepat wanita itu menarik kembali tangannya. "Tak perlu kau menyalami aku. Wanita kotor sepertimu tidak layak kusentuh!" hardik wanita itu membuat Yani terkejut dan kesal. "Maksudmu apa? Kenapa kau datang-datang menghinaku?" Yani semakin penasaran dengan sosok wanita di depannya ini. "Namaku Qiara. Dan aku adalah istri sah dari Rendra Gunawan," jawab Qiara membuat Yani terkejut saat nama Rendra disebut oleh wanita tersebut. "A—apa!? I—istri sah?" tanya Yani terbata-bata. "Iya, aku istri sah RENDRA GUNAWAN!" jawab Qiara dengan sangat keras dan menekankan suaranya saat menyebut nama Rendra. "Tidak! Kau bohong 'kan? A—aku istri Rendra," sanggah Yani, ia tidak percaya pada ucapan Qiara. "Jadi, kau tidak percaya. Baiklah." Qiara merogoh sesuatu dari dalam tasnya yang terlihat sangat mewah. "Lihat ini. Ini adalah bukti bahwa aku adalah istri sah dari Rendra," imbuh Qiara menunjukkan dua buku kecil bertuliskan buku nikah tepat di depan wajah Yani. Yani meraih salah satu buku tersebut. Kemudian membukanya dan terlihatlah di sana foto Rendra juga Qiara. Tubuhnya terasa semakin lemas, sedangkan matanya memanas membuat buliran-buliran bening berjatuhan tiada henti. "Sudah lihat, Kan? Sini!" pekik wanita itu kemudian menarik buku itu dari tangan Qiara. Yani menatap wanita tersebut, ia masih tidak percaya bahwa Rendra mengkhianatinya. Tak lama kemudian datanglah sebuah mobil truk ke halaman rumah Yani. Ia melihat Qiara mendekat ke mobil tersebut. "Ambil semua barang-barang yang ada di toko ini," perintah Qiara pada sopir truk tersebut. Qiara pun meminta pada seseorang yang ada di dalam truk itu untuk merusak pintu toko itu saja karena ia enggan meminta kuncinya pada Yani. Yani yang sedang merasa hancur, hanya bisa memandang saat toko Rendra di bongkar paksa dan diangkut barang-barangnya. Sementara para warga yang mendengar keributan dari rumah Yani pun berkumpul untuk menonton dan pasti akan menjadi bahan gunjingan selanjutnya. "Kau!" tunjuk Qiara pada Yani. "Cepat kosongkan rumah ini, pergi dari rumahku!" hardik Qiara membuat Yani ketakutan. "Ta—tapi ... aku akan tinggal di mana?" tanya Yani ia terisak-isak. Akhirnya tangisnya pecah juga. "Aku tidak peduli! Kau ini, sudah miskin malah menjadi w************n. Cuihhh!" bentak Qiara ia semakin emosi. "Cepat pergi dari rumah ini!" usir Qiara lagi pada Yani. "Atau jangan salahkan aku, jika nanti aku akan berbuat kasar," ancam Qiara kemudian. "A—aku akan pergi. Tapi, tolong katakan di mana Bang Rendra? Izinkan aku bertemu dengannya sekali saja," pinta Yani memohon pada Qiara. Plakkk! Bukannya mendapat jawaban dari Qiara, ia malah menampar wajah Yani hingga membuat Yani terhuyung-huyung ke belakang. Pandangannya sempat buram, tetapi ia berusaha berpegangan pada pintu. "Tidak perlu kebanyakan drama, cepat pergiii!" teriak Qiara lagi. Ia bak orang yang sedang kesetanan. "Aku sudah berbaik hati padamu. Aku tidak melukaimu, jadi jangan kau pancing emosiku lebih tinggi lagi," pekik Qiara sambil menunjuk-nujuk wajah Yani. Qiara yang emosi melihat Yani terduduk di ambang pintu sambil terisak-isak pun semakin merasa emosi. Ia menarik rambut Yani dan menyeretnya hingga ke tanah. "Arghhh sakit! Lepas," pinta Yani. Ia tidak punya banyak tenaga karena tubuhnya memang masih lemah karena kehamilannya. "Aku sudah memperingatimu berkali-kali. Tapi, kau malah sok-sokan menangis di depan pintu. Apa kau pikir aku akan iba? Tidak! Wanita perebut suami orang tidak pantas untuk di kasihani," bentak Qiara, matanya melotot menatap Yani. Qiara benar-benar sudah sangat dikuasai emosi. "Kau pikir, dengan menikahi Rendra kau bisa menjadi kaya? Dengan menjadi istri simpanannya kau bisa menyingkirkan aku? Kau salah! Aku tidak selemah itu hingga mau untuk di madu. Rendra hanya milikku, ingat itu!" Tanpa ampun, Qiara terus membentak-bentak Yani. Tidak sedikit pun ia memberi kesempatan pada Yani untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa Yani tidak tahu-menahu jika Rendra sudah memiliki istri. Tak lama kemudian sebuah eksafator datang. "Kau! Cepat pergi dari sini jika masih ingin hidup. Aku masih sangat baik membiarkan kau pergi. Atau jika kau tetap bersikeras berada di sini akan kutimbun tubuh hinamu itu di bawah puing-puing rumah yang akan aku hancurkan ini," bentak Qiara pada Yani yang terduduk lemas di tanah. "Baiklah aku akan pergi. Tapi izinkan aku mengambil pakaianku dulu." Yani bangkit dan membersihkan bajunya yang kotor. "Cepat ,jangan lama-lama!" sahut Qiara membentak. Yani sungguh terpukul dan tak menyangka semua akan begini. Dengan waktu singkat, angan-angan hidup bahagia bersama sang suami kandas karena sebuah pengkhianatan. Dengan berat hati, Yani keluar dan menjauh dari rumah yang berisi kenangan indah bersama Rendra. Suara dentuman keras menandakan rumah itu telah di robohkan. Yani menghentikan sejenak langkahnya, ia melihat rumah yang pernah ia tempati bersama Rendra hancur berkeping-keping. Sama persis seperti hatinya yang luluh lantak karena sebuah pengkhianatan. Yani melanjutkan langkahnya. Ia berjalan tak tentu arah dan tujuan. Tubuhnya semakin lemah. Sesekali Yani mengusap perutnya yang masih rata. Yani mulai merasa khawatir dengan nasib anaknya kelak. Bahkan, Rendra pun belum mengetahui jika Yani tengah mengandung buah cinta mereka. "Bang, kenapa kau begitu jahat padaku?" bisik Yani dalam hati. Ia benar-benar merasa sakit hati dengan apa yang telah Rendra lakukan. Kini Yani menyadari. Mengapa Rendra menikahinya hanya secara siri saja dan mengapa ia begitu sering berlama-lama di Jakarta. Semua karena Rendra sudah memiliki keluarga. Ia telah menikah dengan seorang pria yang telah beristri. Mengingat itu semua Yani terduduk lemas di tanah. Ia menangis sejadi-jadinya. Tanpa ia hiraukan pandangan orang yang melihatnya menangis. Tak ada yang menegur atau membantu Yani. Semua orang yang melihatnya seakan bersorak gembira dengan apa yang kini Yani alami.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD