IBA

1293 Words
Rasa kesal terhadap Sony masih membuat d**a Muni merasa sesak. Ia semakin enggan untuk bertemu pria aneh dan suka ikut campur itu. Namun, semakin Muni menghindar, semakin pula ia sering bertemu. Bahkan, malah semakin banyak percekcokkan antara Muni juga Sony. Padahal, Muni sempat merasa bahwa Sony memiliki sisi hati yang lembut. Akan tetapi, ia menepis lagi pikiran itu. Muni yakin, Sony-lah yang mengalami gangguan mental. Langit senja perlahan hilang berganti gelapnya malam. Satu persatu bintang mulai bermunculan menghiasi langit bersama bulan. Muni duduk seorang diri di samping telepon, ia masih berharap ibunya akan menghubunginya lagi. Akan tetapi, Muni malah dikagetkan oleh kedatangan Luci. "Muni, aku minta tolong. Pinjam uang." Dengan wajah memelas Luci datang dan meminta tolong meminjam uang. "Duduk dulu, Kak. Aku ada sedikit uang. Kakak boleh pakai saja," jawab Muni kemudian berjalan menuju kamarnya hendak mengambil uang. "Shila kenapa?" tanya Muni saat ia kembali ke ruang tamu. Ia melihat Shila yang terus saja merengek. "Shila kenapa, Kak? Kenapa tumben sekali ia rewel?" tanya Muni memastikan keadaan Shila. "Shila lapar Muni." Luci menunduk, ia kemudian memeluk putrinya yang terus saja merengek seakan sedang meminta sesuatu. Muni yang mengetahui keadaan Shila pun terkejut. Lekas ia menggendong bocah berumur tiga tahun itu dan membawanya menuju kulkas. "Shila lapar? Lihat ada kue," rayu Muni pada Shila. Terlihat wajah Shila mulai berbinar saat ia melihat kue-kue di dalam kulkas. Muni pun mengambil beberapa makanan dari dalam kulkas dan membawanya ke meja di ruang tamu. Ia juga mempersilakan Luci untuk ikut makan. "Muni, aku tidak punya uang. Herman belum juga mengirim," ujar Luci, ia merasa malu karena terlalu sering merepotkan Muni. "Pakai saja uangku, Kak." Muni tersenyum, lalu ia kembali fokus pada Shila yang tampak lahap. Miris. Muni merasa kehidupan Luci begitu menyedihkan. Apa bedanya ia dengan keluarga Luci. Ada seorang ayah, tetapi tetap terasa tak ada. Muni kembali mengingat masa-masa kecilnya yang juga penuh dengan tekanan. Semua orang di sekelilingnya diibaratkan racun yang berbisa. Kapan saja, bisa membunuh dengan sangat tega. Tanpa mereka pikirkan, perasaan seseorang yang mereka hina. Muni tidak ingin. Hal yang ia alami semasa kecil akan pula Shila rasa. Ia begitu ingin membantu Luci untuk pergi, tetapi apalah daya ia saja masih berjuang untuk hidupnya. "Kau memikirkan apa Muni? Apa kau juga sedang ada masalah?" tanya Luci, membuyarkan lamunan Muni. "Ah, tidak, Kak. Aku hanya rindu pada Ibu. Sama seperti Shila, aku juga hanya tinggal berdua bersama ibuku," jawab Muni tersenyum tipis. Matanya tampak berkaca, ia memang sedang sangat merindukan Yani. Luci mengusap punggung Muni seolah ia sedang menguatkan gadis itu. Luci merasa nasib begitu kejam mempermainkan kehidupan. Sehingga, mengharuskan hidupnya di penuhi dengan derita. "Aku menginap di sini lagi, ya," ucap Luci, ia merasa saat bersama Muni hatinya sedikit tenang. Muni pun mengangguk tanda mengiyakan. Setidaknya, kehadiran Luci dan Shila dapat mengalihkan rasa rindu yang sudah begitu penuh di dadanya. *** Di rumah Erik. Mbok Darsih diam-diam berbicara dengan seseorang lewat sambungan telepon. Sebelumnya ia telah memastikan Erik telah tertidur. Sejak kedatangan ayahnya beberapa hari lalu, kesehatan Erik menurun sangat drastis. Hal itu membuat Mbok Darsih begitu cemas. Anak dari majikannya itu masih tidak bisa mendapat tekanan apalagi bertemu sang ayah. "Mungkin ini salahku, Mbok. Seharusnya hari itu aku tidak perlu datang," sesal ayah Erik pada Mbok Darsih di telepon. Mbok Darsih hanya diam. Ia tidak bisa memihak pada siapa pun. Ingin menganggap tuannya bersalah pun tidak mungkin. Karena, posisinya hanya seorang pembantu meski ia cukup dihormati di rumah itu. "Mbok, tolong jaga Erik baik-baik. Aku yakin, Mbok bisa membuat Erik mengerti dan ia bisa kembali normal. Kalau perlu ajak gadis yang kemarin untuk lebih sering bertemu Erik," pinta ayah Erik. Terdengar, ia begitu sangat mengkhawatirkan putranya itu. "Baik, Tuan," jawab Mbok Darsih singkat. Kemudian sambungan telepon terputus. Ia menghela napas berat, ia menjadi saksi bisu tragedi demi tragedi yang terjadi bertahun-tahun lalu. Masih sangat jelas ingatannya. Di saat ibu dari Erik mengamuk. Semua barang akan ia lempar, bahkan ia tak segan-segan untuk melukai dirinya sendiri. Wajahnya yang mula cantik, harus tertutup dengan kewarasannya yang mendadak hilang. Dan, Erik kecil. Selalu menyaksikan pertengkaran yang terjadi pada orang tuanya. Di setiap kali ibunya mengamuk, tidak jarang Erik pun akan ikut menjadi pelampiasan sang ibu. Semua itu membuat Erik trauma hingga ia remaja. Ia pun turut menyalahkan ayahnya atas apa yang ibunya alami. Mbok Darsih mengusap wajahnya dengan kasar. Ia berpikir esok akan mengajak Muni untuk menemui Erik. Pemuda itu kini enggan untuk keluar kamar lagi. Ia terus saja mengurung diri di kamarnya sambil menangis dan menatap foto sang ibu yang telah tiada. * * "Wanita itu tidur di sini lagi?" tanya Sony, mengagetkan Muni yang baru saja keluar dari kamarnya. Muni menatap Sony sebentar kemudian mengangguk. Entah kapan Sony pulang, Muni pun tak tahu dan tidak ingin tahu. Ia melanjutkan langkahnya menuju dapur hendak memasak sarapan. Ia terkejut ketika membuka kulkas dan sudah berisi penuh lagi. Sony memang tidak pernah membiarkan kulkas itu kosong. Namun, Muni tidak lagi kagum. Ia pikir, Sony mengisi kulkas karena perintah dari Sinta. "Dasar tidak tahu terima kasih," sindir Sony, saat ia meletakkan gelas yang telah kosong ke dalam tempat pencucian piring. Muni mengerutkan keningnya. Ia tidak menjawab perkataan Sony. Hingga Sony berlalu dengan langkah yang sedikit ia hentak-hentakkan. Lagi-lagi, Muni menarik napas kasar. Dari awal Sony memang selalu membuatnya tidak nyaman. Entah apa kesalahannya hingga selalu saja ada yang Sony hardik dari dirinya. Dengan hati yang buram, karena memikirkan ibunya, Erik, juga Sony, Muni melanjutkan masaknya. Muni memang memilik hati yang perasa, mungkin semua karena ia selalu saja sendiri. Di desa, Muni tidak memiliki teman, meski sekadar sebagai teman tempat bercurah isi hati. "Muni, tidak perlu repot-repot," ucap Luci yang datang ke dapur. Muni tersenyum, lalu berkata, "Aku tidak repot, Kak." "Kau sedang sedih, Muni?" tanya Luci yang sedari tadi memperhatikan wajah Muni yang sedikit murung. "Tidak, Kak. Aku baik-baik saja. Hanya asam lambungku sepertinya sedang kambuh," jawab Muni sambil memegang perutnya. "Jangan terlalu memikirkan aku Muni." Luci memgusap punggung Muni. Muni tersenyum dan menangguk. Ia melanjutkan aktivitasnya memasak. Setelah semua matang, Luci meminta untuk di bungkus saja. Ia akan memakannya di rumah. ** Seperti biasa, di siang hari Muni tidak banyak pekerjaan. Ia sering menghabiskan waktunya sekedar menonton televisi atau pun membaca majalah dan buku-buku yang Sinta belikan. Akan tetapi, tidak untuk kali ini. Ia hanya duduk di samping telepon berharap benda itu akan berdering dan ibunya yang menelepon. Hatinya belum merasa tenang jika ia belum bicara pada Yani. Tiba-tiba Muni melihat Sony yang berlari ke arah gerbang. Deru mesin mobil memasuki pelataran rumah membuat Muni berjalan ke luar. Ia melihat mobil milik Sinta yang datang. Muni pun menyambut kedatangan majikannya. Dengan wajah tersenyum, Sinta keluar dari mobilnya dan langsung menghampiri Muni. Ia memberikan sebuah paper bag kepada Muni. "Apa ini, Bu?" tanya Muni, setelah ia menerima paper bag itu. "Buka saja nanti di kamar." Sinta tersenyum dan masuk ke rumah. "Muni aku akan istirahat dulu, ya. Jadi, nanti malam saja kita mengobrol," ucap Sinta seakan Muni adalah temannya. Muni mengangguk dan tersenyum. Ia senang melihat kedatangan Sinta. Saat dekat dengan Sinta ia merasa sedang dekat dengan Yani ibunya. Muni pun masuk ke kamarnya. Ia penasaran dengan apa yang ada di dalam paper bag yang Sinta tadi berikan. Ternyata isinya pakaian dalam, Muni pun tersenyum kembali. Ada beberapa pasang pakaian dalam wanita yang warnanya senada. Sore hari, seakan sudah menjadi kebiasaan Sinta dan Anton mereka pasti selalu meminta cokelat hangat. Kata mereka meminum cokelat hangat dapat meringankan stres. Kepulangan Sinta dan Anton memang sangat disenangi Muni. Ia akan merasa memilik keluarga di kota itu. "Muni sudah kau buka tadi tas yang ibu kasih?" tanya Sinta pada Muni yang sedang sibuk menyiapkan cokelat hangat. Malu-malu Muni menjawab, "Sudah, Bu. Terima kasih banyak." "Muat semua, 'kan?" tanya Sinta memastikan. Muni mengaguk dan tersenyum. Wajahnya terlihat sekali sangat malu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD