Di dalam ruangan kerja yang terlihat rapi dengan susunan buku juga beberapa foto yang tergantung di dinding. Seorang pria tengah memandang dua buah foto berukuran 4 x 5 di tangannya. Wajahnya terlihat begitu murung, dari matanya pun tergenang air yang siap meluncur membasahi pipinya yang kian menua.
Suara ketukan pintu membuatnya segera menyimpan foto itu dan mengusap mata. Ia tidak ingin ada seorang pun yang tahu bahwa diam-diam ia sering menangis.
"Masuk!" ucapnya dengan lantang, mempersilakan seseorang di balik pintu itu untuk segera masuk.
"Permisi, Tuan. Ini laporan penjualan selama sebulan," ucap seseorang itu sambil memegang map berwarna biru.
"Letakkan saja di meja," jawabnya kemudian mempersilakan karyawannya itu untuk keluar.
Sejenak, karyawannya tadi diam. Ia memandang dengan penuh harap pada bosnya yang tampak sangat bersedih.
"Em ... Tuan, aku masih siap jika kau minta untuk mencari tahu tentangnya."
"Tidak perlu. Saat ini aku hanya ingin sendiri. Keluarlah."
Karyawannya pun melangkah keluar dari ruangan itu.
Kembali ia meraih kedua foto yang tadi ia pandang. Beberapa menit memandang, ia meletakkan kedua foto itu. Kemudian menyandarkan kepalanya di kursi dan mengusap wajahnya dengan sangat kasar.
Bayang-bayang masa lalu, terus saja menghantuinya. Sedikit pun tidak pernah bisa ia lupa kebodohan yang telah ia lakukan berpuluh tahun yang lalu. Setiap kali ia sendirian bayangan itu selalu hadir dan tergambar jelas seperti sebuah film di layar bioskop menayangkan adegan demi adegan yang memilukan.
Mungkinkah ini karma? Karena sudah mempermainkan dua hati wanita. Tiada kebahagiaan yang ia miliki hingga saat ini. Bukan hanya sebuah janji, tetapi banyak janji yang nyatanya hancur karena kebodohannya.
Ia melihat kembali, gambaran ketika menikahi wanita lain dan mengkhianati istrinya. Tak di sangka, jika yang ia lakukan menjadi bumerang besar yang memporak porandakan rumah tangganya.
Sedangkan, wanita kedua yang ia nikahi pun tidak tahu. Jika pada kenyataannya ia telah bermain curang. Hingga akhirnya dia tak lagi berani untuk sekedar muncul di depan wanita itu.
Rendra, hingga kini ia masih mengingat kejadian yang terjadi di masa silam. Saat ia kembali ke Jakarta untuk bertemu keluarganya. Keluarga kecilnya yang begitu bahagia, meski ternyata tercoreng dengan sebuah pengkhianat yang ia lakukan.
"Bang, kenapa usahamu di desa tidak kau suruh si Parmin saja." Ucapan istrinya kala itu seakan masih terngiang di telinganya. Wanita lembut yang ia nikahi meski tanpa restu orang tua.
"Usaha di sana 'kan masih belum berkembang Qiara, jadi Abang yang harus menjalankannya," ucap Rendra, ia berbohong demi bisa kembali lagi ke Desa Pantau.
"Sampai kapan, Bang? Atau aku ikut saja, ya," pinta Qiara, ia ingin selalu dekat dengan Rendra.
Mendengar permintaan istrinya, Rendra gelagapan. Ia kalang kabut memikirkan alasan agar istrinya tidak ingin ikut dan tidak menimbulkan kecurigaan.
"Qiara, Sayang. Di sana itu desa. Kau tidak akan betah. Tidak ada mal apa lagi AC," cetus Rendra beralasan.
"Hmmm, ya, sudah. Tapi, Abang janji, ya, untuk sering-sering pulang. Aku tidak tahan kalau harus selalu menahan rindu," rengek Qiara dengan gaya khasnya yang manja.
Rendra mengusap kepala Qiara. Ia pun mengecup jidat istrinya itu. Meski di hati dan pikirannya selalu teringat wanita desa yang telah ia nikahi bernama Yani.
Entah mengapa. Rasa rindu di hatinya semakin tak terkendali. Ia semakin ingin dekat dengan Yani dan segera merengkuh gadis manis itu. Niat awalnya yang hanya ingin menjaga Yani harus hancur ketika di malam itu akhirnya ia menyentuh Yani.
Tidak ada sesal di hati Rendra saat itu. Ia yakin, Qiara akan mengerti dengan niatnya untuk menikahi Yani dan menjadikannya madu untuk Qiara. Hingga pada malam itu, Rendra memutuskan untuk membicarakan niatnya dan menceritakan latar belakang Yani.
"Wah, kasihan dia, ya, Bang. Jadi, wanita itu kini hidup sendiri?" tanya Qiara setelah Rendra menceritakan kisah hidup Yani. Respons Qiara sangat baik. Semakin Rendra yakin Qiara akan menyetujui niatnya.
"Satu hal lagi, Qiara. Mmm ...." ungkap Rendra tergantung. Ia gugup untuk mengatakan langsung.
"Ada apa, Bang. Ceritalah," pinta Qiara yang melihat Rendra ragu-ragu.
"A-aku, Sayang ... i-izinkan Abang menikahi Yani."
Qiara yang mulanya berseri-seri tiba-tiba mendadak diam. Ia memandang wajah Rendra dengan rasa tidak percaya. Qiara yakin, Rendra hanya mengujinya.
"Bang, kau bercanda 'kan?" Qiara memukul pundak Rendra yang wajahnya tidak sama sekali mengatakan jika ia memang sedang bermain-main.
"Bang, bilang. Ini tidak serius ‘kan?" tanya Qiara lagi. Ia menatap wajah Rendra dengan lekat berharap mendapat jawaban dari suaminya itu.
"Maaf, Sayang. Sekali lagi aku minta Maaf. Aku tidak bisa lagi menyembunyikan ini. Dan aku tidak ingin terus mengkhianatimu ...." Rendra menghela napas berat.
"Maksudmu apa, Bang? Jangan bilang kau sudah menikahi wanita itu." Qiara mencoba menepis dugaan yang tiba-tiba saja hadir di kepalanya.
"Maafkan aku Qiara." Rendra menunduk, ia tidak berani menatap wajah Qiara.
"Lihat aku, Bang. Lihat!" bentak Qiara. Ia berdiri tepat di hadapan Rendra.
"Kenapa? Apa kini kau jijik melihatku, Bang? Apa kau sudah tidak lagi mencintaiku?" racau Qiara yang melihat Rendra semakin tertunduk lebih dalam.
Sungguh ia tak menyangka, Qiara yang baik juga lembut tiba-tiba saja berubah menjadi seorang wanita yang arogan.
"Qiara, tolong dengarkan penjelasanku dulu. Dia hidup sendirian. Dan Abang sudah terlanjur berjanji pada ibunya," bujuk Rendra berharap Qiara mau mengerti.
"Oh, jadi kau ingat dengan janji pada ibu wanita itu. Sedangkan denganku?"
"Bukan begitu, Sayang. Aku selalu ingat dengan janji kita. Itulah sebabnya aku meminta izin padamu," sanggah Rendra. Ia menganggap apa yang ia lakukan adalah kebenaran.
Qiara tersenyum sinis. Kemudian ia berkata, "Izin? Untuk apa, Bang? Tanpa izinku kau sudah menikahi wanita itu, bukan? Lantas, izin apa lagi?"
Rendra terdiam. Kali ini ia merasa apa yang dikatakan Qiara adalah benar. Bagaimana pun, ia bersalah.
"Bang, aku tidak ikhlas. Hatiku sakit. Sungguh, ini sangat sakit."
Malam itu, setelah semua Rendra katakan pada Qiara rumah yang awalnya ceria menjadi suram. Tidak terdengar lagi suara canda dan tawa Qiara. Ia murung dan sering menangis, bahkan ia enggan untuk didekati oleh Rendra.
Hingga suatu hari, Parmin asisten pribadi Rendra datang tergopoh-gopoh menemui Rendra.
"Tuan, aku minta maaf. Sekali lagi aku minta maaf," ucap Parmin terengah-engah.
"Ada apa? Duduk dulu, ceritakan padaku. Ada apa?" tanya Rendra merasa penasaran.
"Semua sudah habis, Tuan. Rumah juga toko Tuan yang ada di Desa Pantau sudah diratakan oleh Nyonya."
Seakan tersambar petir. Tubuh Rendra mendadak tegang. Ia terkejut mendengar aduan asistennya tersebut. Rendra pun tak menyangka, kepergian istrinya yang berpamitan ke rumah orang tuanya ternyata untuk mendatangi rumahnya di desa yang ia tempati bersama Yani.
"Lalu, bagaimana Yani? Kau lihat dia 'kan? Apa dia baik-baik saja?" berondong Rendra pada Parmin. Ia begitu khawatir pada keselamatan istri keduanya itu.
"Dia baik, Tuan. Tapi, dia terlihat begitu lemah. Dia pun sempat di seret Nyonya, Tuan," adu Parmin membuat hati Rendra gelisah memikirkan Yani.
Rendra pun bergegas pulang ke rumahnya. Menurut info dari Parmin, istrinya itu sudah berada di rumah. Ia yang tidak terima dengan sikap Qiara pun hendak marah.
Setibanya di rumah. Rendra segera mencari keberadaan Qiara. Ia langsung menuju kamar. Dan benar saja, Qiara tengah duduk di depan cermin sambil menyisir rambutnya.
"Kau pulang, Bang?" sapa Qiara dengan suara yang sedikit aneh.
"Qiara, kau dari mana?" tanya Rendra dengan nada tinggi.
"Oh, jadi Parmin belum cerita?" Qiara membalikkan wajahnya dan menghadap Rendra. Tampaklah wajah Qiara yang memakai riasan wajah dengan warna yang begitu mencolok.
Sejenak Rendra menatap wajah Qiara dengan aneh. Sebelum akhirnya ia mencoba mendekati Qiara. Niat awalnya yang akan marah, kini menguar melihat Qiara yang aneh.
"Sayang, kau kenapa?" tanya Rendra ia berusaha untuk selembut mungkin.
"Hari ini aku sedang bahagia, Bang. Dan iya, Bang. Kau tidak perlu ke desa itu lagi sekarang. Alasannya, sudahlah pasti kau tahu 'kan?"
Qiara tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Namun, dari sudut matanya terlihat setitik air yang mengilat terkena sinar lampu.
"Hari ini, semua yang kau miliki di desa itu telah aku hancurkan. Termasuk juga wanita jalangmu itu, Bang," ucap Qiara dengan nada yang tinggi sambil menyeringai.