Rindu Terpendam

1321 Words
Rendra mencoba untuk merengkuh tubuh istrinya itu. Namun, Qiara menolak dan mendorong Rendra dengan keras. "Qiara, tolong jangan begini. Aku harus apa agar kau mengerti?" bujuk Rendra. Qiara menatap wajah Rendra dengan tajam. Bibirnya yang memakai lipstik berwarna merah pun menampilkan senyuman tipis nan sinis. "Sungguh, kau mau mengikuti yang aku minta?" tanya Qiara, tatapan tajamnya tidak juga ia turunkan. "Iya, Sayang. Aku akan menuruti apa pun yang kau mau. Tapi, tolong jangan begini," harap Rendra, ia mencoba melangkah lebih dekat pada Qiara. "Berhenti di sana, Bang! Jangan coba-coba untuk dekati aku,” sergah Qiara merentangkan keliama jarinya. Rendra pun menghentikan langkahnya. Ia terdiam menatap Qiara dengan sendu. Berharap istrinya itu mau mengerti. "Bang, aku ingin kau berjanji. Berjanjilah demi anak kita." Rendra mengangguk cepat sambil berkata, "Iya." "Jangan pernah temui wanita itu lagi ataupun mencari keberadaannya!" ucap Qiara dengan sangat tegas. Tubuh Rendra mendadak lemas. Di dalam hatinya begitu ingin untuk bertemu dengan Yani lagi. Bahkan, ia pun berniat untuk membawa Yani tinggal di Kota Jakarta. Namun, perkiraan Rendra salah besar. Ada sisi lain yang ia tidak ketahui dari Qiara yang ia kira lemah lembut. "Aku tak menyangka kau sekejam ini Qiara. Bukankah sudah kukatakan. Yani hidup seorang diri, tidakkah hatimu iba padanya?” protes Rendra dengan janji yang baru saja Qiara minta. Qiara tersenyum sinis dan berkata, "Kejam? Kau bilang aku kejam, Bang? Lalu, bagaimana dengan yang kau lakukan? Kau mengkhianatiku!" "Qiara, sudah kukatakan. Aku menikahinya karena janji."Rendra menekankan alasannya menikahi Yani. "Bohong! Kau bohong, Bang! Kau mencintainya bukan? Iya 'kan!" bentak Qiara histeris, napasnya kini turun naik menahan emosi yang semakin meluap. "Kini, kau anggap aku yang kejam. Iya! Aku memang kejam. Akulah yang salah sudah mengizinkanmu pergi ke desa itu," racau Qiara yang air matanya kini tumpah. Tubuhnya lemas dan terduduk di lantai. Qiara menangis sejadi-jadinya. Melihat itu Rendra iba dan mencoba mendekati Qiara lagi. Ia berniat menenangkan istrinya. "Berhenti! Jangan pernah kau dekati aku!" bentak Qiara, tatapannya semakin kosong. Jiwa Qiara benar-benar tergunjanng. Qiara pun bangkit dan keluar dari kamar. Ia berjalan cepat menuju dapur. Sedangkan Rendra hanya terdiam melihat istrinya yang semakin tidak dapat di kendalikan. "Tuannn!" Tiba-tiba teriakan pembantunya membuat Rendra terkejut dan berlari menuju asal suara. Rendra melihat Qiara yang tangannya telah berlumur darah. "Tuan, Nyonya hendak bunuh diri," pekik pembantunya itu. "Qiara! Apa yang kau lakukan." Rendra segera menutup tangan Qiara yang terluka. Beruntung luka sayatan itu tidak dalam. "Mbok, bawa Erik masuk ke kamar," pinta Rendra pada pembantunya. Putranya yang masih kecil itu terus menangis melihat ibunya terluka. Rendra pun membawa Qiara ke dalam kamar. Wanita itu masih terus menangis dengan tatapan yang kosong. Dengan telaten Rendra mengobati tangan Qiara, ia mengoleskan obat merah dan menutupnya dengan perban. Meski lukanya tidak dalam, tetapi banyak darah yang keluar dari luka sayatan itu. Rendra pun mengusap kepala Qiara. Ia sungguh merasa bersalah atas apa yang kini Qiara alami. Namun, ia pun tidak ingin melepas tanggung jawabnya pada Yani. Setelah Rendra memastikan Qiara tidur, ia berjalan menuju meja kerjanya. Rendra pun menulis surat yang ia tujukan pada Yani. Ia ingin meminta maaf sekaligus memberitahu bahwa ia belum dapat menemui Yani. Rendra yakin, Yani akan mengerti. Setelah menulis surat tersebut, Rendra melipatnya dan memasukkan ke dalam amplop. Tak lupa, ia memasukkan sebuah foto dirinya dan Yani saat di pekan raya. Yani yang terlihat cantik dengan dress bermotif bunga mawar itu membuat Rendra merasa semakin rindu. Rendra sengaja mencetak beberapa foto itu. Selain foto, ia pun memasukkan beberapa lembar uang untuk Yani. Sebelum bisa menemui Yani, ia pikir uang itu cukup untuk Yani yang hidup sendiri hingga suasana stabil dan ia bisa menemui Yani. Surat telah siap. Besok ia akan mengirimkan ke alamat rumahnya. Namun, di saat itu pula Rendra pun teringat bahwa rumah itu telah di hancurkan Qiara. "Ya Tuhan. Tinggal di mana Yani sekarang?" bisik Rendra di dalam hati. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Sungguh, saat mengingat apa yang telah Qiara lakukan pada Yani ia begitu ingin marah. Namun, melihat keadaan Qiara yang tidak stabil membuatnya urung. Ia tidak ingin istrinya semakin tidak terkendali. Rendra menyimpan amplop yang telah berisi surat untuk Yani. Ia kemudian berjalan menuju kamar putranya. Saat melihat Qiara yang berlumur darah, Rendra sempat melihat wajah putranya yang ketakutan dan juga menangis. Saat membuka pintu kamar anaknya, Rendra melihat Mbok Darsih-pembantunya yang sedang menidurkan Putranya. "Biar aku saja, Mbok," pinta Rendra yang langsung di setujui Mbok Darsih. Akan tetapi, anaknya malah menyingkir dan seperti enggan untuk di dekati. Ia menangis sejadi-jadinya dan mengarahkan tangannya pada Mbok Darsih. "Erik, kenapa? Ayo sama Papa," bujuk Rendra, kali ini ia merasa sedih karena merasa ditolak putra kandungnya sendiri. "Mokkk endong ...!"(Mbok gendong) teriak Erik dengan suara cadelnya. Ia meminta Mbok Darsih untuk menggendongnya. Rendra tidak hilang akal. Ia meraih mainan robot untuk mengalihkan perhatian Erik. Namun, tanpa di duga mainan itu ia lempar dan mengenai tepat kepala Rendra. Rendra kesal. Ia bangkit dan pergi meninggalkan Erik yang menangis histeris. Ia merasa semua ini adalah kesalahan Qiara yang sudah bertingkah aneh. * * Pagi hari, Rendra dikejutkan dengan tidak adanya Qiara di sampingnya. Ia pun berlari mencari Qiara. Rendra takut istrinya akan melakukan hal yang aneh dan nekat lagi. Namun, Rendra lagi-lagi dibuat terkejut oleh Qiara. Ia melihat Qiara yang duduk sambil memangku putra mereka di depan televisi. Hati Rendra merasa tenang. Ia pikir Qiara sudah baik-baik saja. Ia pun memutuskan untuk mandi dan segera ke kantor pos untuk mengirim surat pada Yani. "Hey, Papa sudah rapi, mau kemana?" sapa Qiara yang tiba-tiba masuk ke kamar bersama Erik di dalam gendongannya. "Papa mau kerja dulu, ya, Sayang," jawab Rendra dan mengarahkan bibirnya pada pipi Erik. Akan tetapi, Erik menepisnya. Dengan gaya khas anak yang cadel ia berkata, "Papa atal, angisin Mama."(Papa nakal, nangisin Mama.) Rendra menatap Qiara, ia seakan memberi tahu inilah buah dari tindakannya yang tidak masuk akal kemarin. Namun, Qiara dengan wajah polosnya hanya tersenyum-senyum seakan celotehan Erik barusan adalah hal yang begitu lucu. "Qiara, aku akan ke toko sebentar. Kau baik-baik di rumah, ya. Jangan berpikir yang macam-macam," pesan Rendra, meski Qiara tidak sama sekali menanggapi. Qiara malah sibuk dengan Erik. Ia seakan menganggap Rendra tidak ada. Sejenak Rendra menatap Qiara, tingkahnya terlihat begitu sangat aneh. Namun, Rendra menganggap Qiara hanya sedang mencari perhatian. Ia pun pergi tanpa berpamitan lagi. Setibanya di depan pintu. Rendra bertemu dengan Mbok Darsih ,pembantunya. Kemudian Rendra berpesan, "Mbok, tolong jaga Qiara. Aku lihat dia tidak stabil." "Tuan. Kalau bisa Nyonya jangan sering di tinggal," pinta Mbok Darsih penuh harap. "Aku hanya sebentar, Mbok," jawab Rendra dan ia pun pergi. Mbok Darsih menatap kepergian Rendra. Ia tahu masalah apa yang sedang majikannya hadapi. Soal orang ketiga. Sesuatu yang sudah pasti sangat menyakiti hati Qiara. Sikap Qiara semakin sulit di mengerti. Terkadang ia menangis lalu tertawa begitu seterusnya. Mbok Darsih pun enggan untuk meninggalkan Erik berdua saja dengan Qiara. Ia selalu mengawasi ibu dan anak itu. Erik pun akhir-akhir ini selalu rewel. Ia sering terbangun di tengah malam dan menangis ketakutan. "Mbok!” Mbok Darsih segera menoleh ketika Qiara tiba-tiba sudah berada di belakangnya. "Tolong jaga Erik," pinta Qiara dan menyerahkan putranya pada Mbok Darsih. Mbok Darsih segera meraih Erik, ia takut anak itu akan terjatuh melihat cara Qiara yang memegangnya selayaknya boneka. Dengan tatapan kosong, Qiara berjalan menuju kamarnya lagi. Sedangkan Erik, ia meronta-ronta menangis ingin ikut Qiara. Namun, seakan tuli Qiara tidak menoleh lagi. Ia terus berjalan masuk ke dalam kamar. Di kantor pos. Rendra sudah siap mengirim sepucuk surat untuk Yani. Berkali-kali ia menarik napas dalam karena rindunya pada Yani yang telah lama tak ia temui. Dari kantor pos, Rendra langsung menuju tempat usahanya. Ia berniat menenangkan pikiran di dalam kantor pribadinya. Mengingat kelakuan Qiara, Rendra mendadak pusing. Padahal, dahulu Qiara adalah wanita satu-satunya di dalam hati Rendra. Rendra bahkan rela terusir dari rumahnya hanya untuk bisa menikahi Qiara. Akan tetapi, kehadiran Yani telah mampu merubah segalanya. Rendra lupa akan perjuangannya bersama Qiara, hingga di dalam hati dan pikirannya kini hanya ada nama Yani seorang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD