Rendra duduk seorang diri di dalam kantornya. Ia sedang memikirkan Yani di desa, hatinya begitu ingin untuk bisa bertemu dengan Yani kembali. Namun, keadaan Qiara yang tidak memungkinkan membuatnya urung. Rendra tidak ingin membuat Qiara semakin murka.
Telepon berdering. Dengan malas Rendra memerima panggilan tersebut. Ia yakin, panggilan telepon itu pasti dari Qiara istrinya.
"Tuan, cepat pulang. Nyonya sedari pagi tidak keluar kamar. Erik pun menangis tidak mau berhenti. Aku sudah kewalahan, Tuan," ucap Mbok Darsih setelah telepon Rendra terima. Di sana pula, Rendra dapat mendengar suara anaknya yang menangis histeris.
Tanpa menjawab lagi. Rendra segera pergi. Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, ia terus saja menggerutu dengan sikap Qiara yang terus saja berulah.
Tiba di rumah. Dari luar ia dapat mendengar suara Erik yang menangis sambil memanggil ibunya.
"Tuan, aku khawatir Nyonya berbuat nekat," adu Mbok Darsih ketika melihat Rendra datang.
Rendra segara menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Ia mencoba membuka pintu, tetapi ternyata pintu kamar itu terkunci dari dalam. Rendra pun semakin khawatir saat memanggil-manggil Qiara dan tidak ada sahutannya dari dalam. Sementara tangisan Erik semakin membuat perasaannya makin kalut dan kebingungan.
"Dobrak saja, Tuan. Cepat!" saran Mbok Darsih yang semakin khawatir dengan majikannya itu.
Rendra pun menuruti saran Mbok Darsih. Ia segera mengambil ancang-ancang dan menendang pintu kamar itu dengan tenaga yang kuat. Namun, pintu itu tidak langsung terbuka. Rendra harus melakukan gerakan tendangan berulang kali hingga akhirnya pintu pun berhasil di buka dengan paksa.
Ia segera menerobos masuk ke kamar. Dan alangkah terkejutnya Rendra juga Mbok Darsih. Ketika mereka melihat Qiara yang ternyata sedang duduk di depan cermin sambil menyisir rambutnya. Dari bibir Qiara pula terdengar ia sedang menyanyikan sebuah lagu dengan suara yang lirih.
"Qiara!" Rendra menyentuh pundak Qiara yang terus saja melakukan aktivitasnya seakan tidak mendengar kegaduhan yang baru saja Rendra ciptakan.
Qiara menoleh ke arah Rendra. Seperti kemarin, Qiara menggunakan riasan wajah yang mencolok. Bahkan, kali ini lebih tebal dibandingkan kemarin.
"Kau ini apa-apaan Qiara?" keluh Rendra dengan sangat geram.
"Aku kenapa, Bang? Kau tidak suka melihat dandananku?" tanya Qiara dengan suara yang lembut. Bahkan, seakan ia sengaja lebih melembutkan suaranya sehingga terdemgar mendayu-dayu.
"Astaga, Qiara. Kau lihat Erik, dia menangis. Sedangkan kau ...!" Rendra memperhatikan dandanan Qiara dari ujung kakinya hingga ke atas kepala.
Qiara yang tampak seksi dengan di balut pakaian tipis yang menampilkan lekuk tubuhnya hingga pakaian dalamnya pun menerawang membuat Rendra menelan saliva. Harus ia akui, meski Qiara sudah pernah melahirkan tubuhnya tetap indah dan terawat.
Akan tetapi, saat melihat wajah Qiara Rendra merasa ngeri. Lipstik yang merah dioles di bibirnya melebihi garis bibir Qiara itu sendiri. Belum lagi alis dan riasan yang lainnya. Qiara memakainya dengan berlebihan dan bahkan wajahnya persis seperti badut.
"Apa aku begitu memesona, Bang. Hingga dirimu tidak dapat berkedip saat melihatku," goda Qiara sambil satu matanya berkedip dengan cepat. Ia sekan berubah seperti wanita yang suka menggoda pria.
"Ow, tidak, tidak. Aku bukan apa-apa di matamu, iya, 'kan Bang?" lanjut Qiara, kini ia menyentik-nyentikkan kakunya yang lentik.
"Qiara, kau ini bicara apa?" Rendra semakin yakin, melihat tingkah Qiara, istrinya itu sedang tidak sadar.
"Qiara, lihat. Erik menangis," tunjuk Rendra pada Erik yang berada di dalam gendongan Mbok Darsih. Bahkan, anak itu kini memandang tajam pada Rendra tangisannya pun kian mereda ketika melihat wajah ibunya yang menyeramkan.
Qiara menatap sinis pada Erik. Ia berjalan mendekat dan berkata, "Kau masih memikirkan kami, Bang?"
"Iya, Sayang. Aku masih sangat memikirkan kalian berdua," ucap Rendra, tangannya hendak meraih Qiara berharap wanita itu dapat ia tenangkan.
"Bohong! Kau bohong! Jika memang kau memikirkan kami, lantas apa yang tadi pagi kau kirim pada wanita itu. Apa?" teriak Qiara mengejutkan Rendra.
Rendra benar-benar tidak menyangka bahwa Qiara mengetahui ia mengirim surat untuk Yani. Matanya membelalak menatap Qiara dengan rasa tak percaya. Di dalam hatinya pun bertanya-tanya," Siapa yang sudah memberitahu Qiara?"
Tiba-tiba Qiara bertepuk tangan. Ia tertawa terbahak-bahak. "Rupanya, kau begitu mencintainya. Hingga kau lebih memilih melihatku gila. Iya 'kan?" bentak Qiara.
"Tidak Qiara. Kau salah sangka. Aku tidak pernah menginginkan dirimu seperti ini, tidak sama sekali." Rendra mencoba membela dirinya.
"b******n!" hina Qiara, ia meludahi Rendra dan mengenai baju Rendra.
Mendapat perlakuan begitu, Rendra tak dapat menahan emosinya. Tanpa ia sadari tangannya melayang dan mendarat tepat di pipi Qiara.
Qiara yang mendapat tamparan dari Rendra pun terhuyung-huyung ke belakang. Ia sulit untuk mengendalikan tubuhnya yang lemah itu. Sementara Erik yang melihat ibunya di pukul pun berlari dari gendongan Mbok Darsih.
"Mama!" teriak Erik kemudian memeluk Qiara.
"Papa ahat! Ahat!" (Papa jahat! Jahat!) ucap anak itu, ia terus memeluk tubuh Qiara sambil mengusap wajah Qiara yang terkena tamparan Rendra.
Melihat sikap Erik, Rendra pun menyesal. Ia merasa bersalah telah menampar Qiara. "Maaf, maaf Qiara. Aku tidak sengaja." Rendra mencoba untuk memeluk Qiara yang terduduk di lantai dan menangis sembari di peluk oleh Erik.
"Egiii! Angan egang Mama!"(Pergi! Jangan pegang Mama) teriak Erik. Ia melarang Rendra yang hendak menyentuh dan mendekati Qiara.
"Sayang, Papa minta maaf. Papa tidak sengaja, Nak," bujuk Rendra, ia pun tak kuasa menahan air matanya melihat Erik yang begitu gigih ingin melindungi ibunya.
Mbok Darsih yang iba pun mendekati Qiara juga Erik. Ia membantu Qiara untuk berdiri. Perlahan-lahan Mbok Darsih membersihkan wajah Qiara. Erik pun mulai diam. Namun, ia tetap memeluk tubuh ibunya. Tatapan Qiara semakin kosong. Ia hanya terdiam dan terkadang matanya mengeluarkan air mata tanpa ada suara jika ia memang menangis. Kadang pula bibirnya tersenyum seakan sedang membayangkan sesuatu hal yang indah.
Usai menggantikan pakaian, membersihkan wajah Qiara, dan menidurkan Erik Mbok Darsih pun menemui Rendra yang duduk terdiam di meja makan.
"Tuan, apa aku boleh menanyakan sesuatu?" Rendra yang mendengar suara Mbok Darsih pun menoleh. Ia pun segera mengaguk menyetujui atas apa yang baru saja Mbok Darsih tanyakan.
"Sebenarnya apa yang terjadi Tuan. Mengapa Nyonya begitu terpukul hingga ia kehilangan kewarasannya?" tanya Mbok Darsih. Ia ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Rendra pun mulai menceritakan hal yang ia alami di desa bersama Yani. Ia pun menceritakan tragedi Penganiayaan yang sempat ia dan Yani alami. Hingga akhirnya, ibu Yani harus kehilangan nyawanya dan membuat Yani hidup sendiri. Bahkan, janji terhadap ibu Yani turut Rendra ceritakan pada Mbok Darsih.
Setelah mendengar cerita dari Rendra, Mbok Darsih menarik napas berat. "Tuan, bagaimana pun niat Tuan. Tuan tetap salah. Walau aku akui, Tuan berniat membantu Yani. Tetapi, Tuan sudah mengkhianati Nyonya Qiara," ucap Mbok Darsih menyesali apa yang telah Rendra lakukan.
"Lalu Mbok, aku harus apa?" tanya Rendra meminta pendapat dari Mbok Darsih.
"Tuan, saat ini Nyonya dan Erik sedang sangat membutuhkan Tuan. Lebih baik, Tuan fokus mengurus mereka berdua saja dulu."
"Mmm ... maaf Tuan. Apa Tuan bersama Yani sudah memiliki anak?" tanya Mbok Darsih sedikit ragu.
"Belum Mbok," jawab Rendra cepat.
"Itu artinya, Tuan belum terikat secara pasti dengannya. Dan menurutku, lebih baik Tuan tinggalkan Yani dan fokuslah pada kesehatan Nyonya juga Erik," usul Mbok Darsih membuat hati Rendra begitu amat sedih.
"Tapi Mbok, aku mencintai Yani. Sungguh saat ini aku begitu merindukannya ...."
Prang!
Rendra dan Mbok Darsih terkejut mendengar suara benda jatuh. Mereka lantas menoleh pada sumber suara tersebut . Alangkah terkejutnya Rendra saat melihat di sana Qiara tengah berdiri dengan mata yang membelalak dan bibir menganga. Di dalam gendongannya pula, Erik yang terus memeluk tubuh Qiara dengan sangat erat terlihat ia sangat ketakutan.
Mbok Darsih bergegas berlari menuju Qiara saat pegangan tangannya pada Erik mengendur. Beruntung, Mbok Darsih tepat waktu dan dapat meraih Erik yang hendak terlepas dari gendongan Qiara.
"Qiara!" ucap Rendra sambil tangannya hendak meraih tangan Qiara.
"Jangan dekati aku!" pekik Qiara, air matanya menggenang siap menerobos dengan deras.