Qiara perlahan mundur. Ia menatap wajah Rendra dengan rasa tidak percaya. Baru saja ia mendengar bahwa Rendra mengatakan cinta terhadap Yani. Qiara begitu sangat hancur. Betapa ia menaruh rasa percaya pada suaminya itu, tetapi kini rasa percaya yang besar menghancurkan hatinya hingga remuk redam berkali-kali.
"Qiara," panggil Rendra lagi. Ia tak menyangka jika Qiara mendengar perkataannya barusan.
Qiara pun berlari. Terlihat tangannya mengusap wajahnya. Rendra berusaha untuk mengikuti Qiara, tangisan Erik pun seakan menjadi lagu pilu keluarga yang nyaris hancur itu.
Bruak!
Qiara menutup pintu kamar dengan sangat keras. Tubuhnya terperosok di balik pintu dan ia menangis histeris. Rendra datang dan hendak mendorong pintu yang kuncinya saja telah rusak akibat dobrakkan Rendra tadi. Namun, tubuh Qiara di baliknya menahan pintu itu. Tampaknya ia sengaja duduk di balik pintu agar Rendra tidak dapat masuk.
"Kau jahat, Bang! Jahattt!" teriak Qiara dengan sangat keras.
Qiara terus menangis tanpa menghiraukan bujukan Rendra. Dari lantai bawah terlihat Erik yang berlari menaiki tangga dengan di ikuti Mbok Darsih di belakangnya.
"Erik, tunggu, Nak!" panggil Mbok Darsih mengikuti Erik yang menangis sambil terus menyebut ibunya.
"Erik," ucap Rendra saat Erik tiba di depannya.
Erik menatap Rendra dengan tajam. Anak kecil itu seakan menyalahkan semuanya kepada ayahnya. Tiba-tiba pintu terbuka. Qiara berjalan keluar dengan mendorong tubuh Rendra yang berdiri di depan pintu.
Ia mendekati Erik. Kemudian mendorong tubuh anak itu hingga terjerembap tepat di kaki Rendra.
"Qiara, kau sudah gila!" bentak Rendra yang terkejut melihat sikap kasar Qiara.
"Iya! Aku memang sudah gila. Dan semua karena kau, Bang. Kau!" Qiara menunjuk wajah Rendra.
Sementara Rendra berusaha mengangkat putranya yang menangis. Namun, Erik enggan untuk Rendra sentuh. Ia terus menolak saat Rendra hendak menggendongnya. Melihat itu, Mbok Darsih pun mendekati Erik. Meski awalnya ia pun menolaknya, tetapi akhirnya Mbok Darsih dapat membujuk Erik meski ia tetap tidak mau berhenti menangis.
"Qiara, tolong. Jangan bersikap seperti ini," ujar Rendra membuat amarah di d**a Qiara makin membara.
"Qiara, aku menyayangimu. Tolong, sadarlah," ucap Rendra lagi. Ia menatap Qiara dengan penuh harap.
"Sayang? Katamu kau sayang padaku, Bang? Lantas, apa yang kau lakukan. Apakah itu bukti betapa kau menyayangiku?" dengkus Qiara.
"Bang, kau tahu. Saat kelahiran Erik, aku hampir kehilangan nyawa. Kau tahu, setiap malam aku menjaga bayi kita. Apa kau tahu itu?"
"Iya, Qiara aku mengerti. Aku salah, tapi tolong sudahi perilakumu yang tidak masuk akal ini," tekan Rendra.
"Tidak masuk akal?" Qiara terbahak. Namun, di matanya tidak berhenti mengeluarkan air mata.
"Miris. Hidupku terlalu miris, Bang. Di saat aku kelelahan mengurus Erik yang masih bayi. Kau, kelelahan meniduri wanita jalang itu," ucap Qiara, ia kemudian terduduk lemas.
Rendra tertunduk. Ia tidak dapat membela dirinya. Kata-kata yang baru saja Qiara ucapkan memuatnya seakan tertimpa beban yang amat berat. Ia merasa malu.
Tanpa mereka sadari, Erik terus memperhatikan dan mendengar pertengkaran mereka berdua. Mbok Darsih yang telah berusaha membawa Erik untuk menjauh pun gagal. Erik selalu memberontak dan kembali menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya.
Qiara melangkah pelan. Ia masuk ke kamar dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Kemudian Qiara meringkuk sambil menangis terdengar begitu sangat memilukan. Ia sedang merasakan betapa sakitnya sebuah pengkhianatan yang Rendra lakukan.
Baru Qiara sadari. Selama ini di saat ia membutuhkan Rendra selalu saja ada alasan yang Rendra katakan. Bahkan, di hari kelahiran Erik anak pertama mereka. Rendra tidak hadir untuk sekedar memberikan semangat.
Di setiap malam, Qiara menjaga Erik hanya dengan di bantu Mbok Darsih. Ia selalu sabar, karena Rendra yang mengatas namakan pekerjaan dan masa depan yang lebih cerah. Namun, nyatanya pengkhianat yang ia dapatkan.
Berkali-kali Qiara meremas dadanya. Ia merasa begitu sangat sesak ketika membayangkan Rendra yang asyik dengan wanita lain. Ia merasa dirinya begitu amat kotor.
Sedangkan Rendra. Hanya memandang dengan rasa yang bersalah. Ia tidak berani untuk mendekati Qiara yang terisak-isak di atas tempat tidurnya. Sungguh, Rendra begitu ingin memeluk istrinya itu dan meminta maaf. Namun, mengingat respons Qiara ia memilih untuk hanya duduk di depan pintu.
Sementara Mbok Darsih, ia berusaha untuk menidurkan Erik. Anak itu terlihat selalu gelisah. Memang tak sepatutnya ia harus menyaksikan masalah pada orang tuanya. Belum lagi, ia bahkan menjadi pelampiasan amarah Qiara.
Untuk sesaat rumah keluarga Rendra hening. Tidak terdengar suara Qiara yang berteriak juga tidak terdengar suara Erik yang menangis. Rendra merasa sedikit tenang melihat istrinya yang telah tertidur. Ia pun turun ke bawah. Perutnya meronta untuk segera di isi.
"Mbok, apa Qiara sudah makan?" tanya Rendra pada Mbok Darsih yang menyiapkan makanan untuknya.
"Pagi tadi sudah, Tuan. Tapi sore ini belum," jawab Mbok Darsih. Ia meletakkan lauk di atas meja.
"Tolong siapkan, ya, Mbok. Nanti setelah aku makan akan aku bawa ke kamar. Mungkin saja ia mau aku suapi," pinta Rendra yang di jawab anggukan oleh Mbok Darsih.
Usai makan. Rendra pun membawa piring yang telah lengkap dengan nasi dan lauk pauk. Ia berharap, hati Qiara akan melunak.
Akan tetapi, Rendra terkejut saat melihat di dalam kamar tidak ada lagi Qiara. Ia mencoba memeriksa kamar mandi. Namun kosong, Qiara tidak ada di dalamnya. Ia pun berlari turun dan menemui Mbok Darsih.
"Mbok, lihat Qiara turun?" tanya pada Mbok Darsih yang ikut terkejut.
"Tidak, Tuan," jawab Mbok Darsih menggeleng cepat.
"Ya Tuhan, kemana Qiara," pekik Rendra sambil menarik rambutnya.
Ia pun bergegas meraih kunci mobilnya dan hendak mencari Qiara. Hari mulai gelap. Rendra begitu sangat khawatir pada Qiara. Belum lagi, Qiara saat ini benar-benar tidak stabil apa pun bisa ia lakukan.
Tak jauh dari rumahnya. Ia melihat ramai orang yang berkerumun. Rendra pun mematikan mobilnya dan turun. Dadanya bergemuruh, takut kekalau itu adalah Qiara.
"Ada apa, Pak?" tanya Rendra pada seorang bapak yang ikut berkumpul di tempat itu.
"Itu, ada wanita yang ingin bunuh diri," ucapnya sambil menunjuk ke atas gedung.
Tampaklah seorang wanita yang berdiri di pinggir gedung dan beberapa tim SAR. Orang-orang dari tim SAR seperti sedang membujuk wanita tersebut.
Rendra pun terkejut saat menyadari wanita itu adalah Qiara-istrinya. Ia bergegas berlari menuju gedung tersebut.
"Pak, mau apa?" sergah salah satu tim SAR yang berjaga di bawah.
"Pak, itu istriku. Tolong izinkan aku naik," pinta Rendra memohon.
Orang itu pun mengizinkan Rendra untuk segera naik dengan di temani salah satu tim SAR yang lain.
"Qiara!" pekik Rendra saat tiba di atas gedung.
Qiara menengok pada Rendra dan tersenyum sinis.
"Tolong Qiara, jangan lakukan itu. Erik di rumah mencarimu Sayang. Ayo kemarilah." Rendra mencoba untuk membujuk Qiara.
"Jangan dekati aku! Atau aku akan menjatuhkan diriku," bentak Qiara membuat langkah Rendra berhenti.
"Kau mendatangiku hanya untuk mendiamkan Erik?" ucap Qiara, ia terus menampilkan senyum sinisnya.
"Tidak, Qiara tidak ! Aku menyayangimu. Sungguh aku sangat sayang padamu. Apa kau tega akan meninggalkan aku sendiri," ucap Rendra berharap Qiara turun.
Namun, Qiara malah menangis. Ia berteriak sekuat-kuatnya. Tubuhnya melemas, beruntung salah seorang tim SAR segera menarik tangan Qiara. Tubuhnya hampir saja terjatuh.
Semua orang yang menyaksikan berteriak histeris. Mereka merasa merinding melihat ulah Qiara.
"Pak maaf jika istriku merepotkan. Dia sedang tidak stabil, aku mohon maaf," ucap Rendra saat petugas telah berhasil menyelamatkan Qiara dan memberikannya pada Rendra.
"Pak, lebih baik cepat obati istri Bapak. Jangan sampai hal ini terulang lagi," ucap salah satu tim SAR menyarankan.
Rendra pun mengangguk dan segera membawa istrinya pulang ke rumah. Hingga tiba di rumahnya, Qiara belum sadarkan diri.
"Syukurlah Nyonya sudah ketemu," ujar Mbok Darsih yang ikut merasa lega.
"Mbok, Qiara hampir bunuh diri."
"Apa? Di mana Tuan?" Mbok Darsih sangat terkejut dengan ucapan Rendra.
"Di atas gedung Mal di depan itu Mbok. Beruntung ia belum sampai terjatuh. Mbok, kita harus ekstra mengawasi Qiara." Rendra meletakkan Qiara di atas kasur sambil terus berpesan. Sesekali ia menatap wajah Qiara dan merasa begitu amat bersalah.
"Mungkin, memang aku harus mengikhlaskan Yani," bisik Rendra dalam hati.