Pesan

1198 Words
Qiara mengerjapkan matanya. Ia melihat Rendra yang tertidur di kursi tidak jauh dari tempat tidurnya. Ia mengingat lagi apa yang terjadi. Tak terasa air matanya luruh seketika. Qiara begitu menyesali apa yang baru saja ia lakukan. Apa lagi saat ia mengingat Erik, sungguh hatinya begitu merasa amat bersalah. Qiara pun bangkit. Ia hendak menemui Erik. Setibanya di depan kamar Erik, ia melihat Mbok Darsih yang sedang menidurkan Erik. Perlahan Qiara masuk ke kamar yang pintunya tidak tertutup itu. "Erik tidur, Mbok?" tanya Qiara sambil berbisik. Akan tetapi, tidak disangka Erik mendengarnya dan ia pun bangun. "Mama!" pekik Erik terlihat bahagia melihat Qiara menemuinya. Qiara pun langsung memeluk Erik. Berkali-kali ia mengecup wajah Erik. "Erik kenapa belum tidur, Sayang?" tanya Qiara pada Erik yang tersenyum bahagia. Namun, di matanya tampak genangan air mata. "Erik kangen Mama," jawab Erik, ia mengeratkan pelukannya pada Qiara. "Ini sudah malam. Erik tidur sambil Mama bacakan dongeng, ya," bujuk Qiara. Perlahan ia meletakkan Erik ke atas kasur. Qiara pun merebahkan tubuhnya di samping Erik. Sambil mengusap kepala Erik ia menceritakan sebuah dongeng. Tak butuh waktu lama, Erik pun terlelap. Malam ini wajahnya tertidur dengan senyum bahagia. Setelah memastikan Erik tidur, Qiara menemui Mbok Darsih yang ada di kamarnya. Ia mengetuk pintu kamar Mbok Darsih Perlahan-lahan. Pintu pun terbuka, Mbok Darsih sempat terkejut melihat Qiara yang datang. Ia langsung mempersilakan Qiara untuk masuk. "Mbok, aku minta tolong. Jaga Erik, anggap dia seperti anakmu sendiri," ucap Qiara, ia duduk di sudut kasur Mbok Darsih. "Tapi, memangnya Nyonya mau ke mana?" tanya Mbok Darsih yang heran dengan kata-kata Qiara. "Aku takut Mbok. Akhir-akhir ini aku tidak bisa mengendalikan emosiku. Apa lagi semenjak mengetahui Bang Rendra menikah lagi. Aku semakin tidak bisa menahan amarah ini," keluh Qiara pada Mbok Darsih. "Nyonya, cobalah berdamai dengan keadaan. Semua sudah terjadi. Tidak mungkin untuk kita memutar apa yang telah terlewat. Saat ini lebih baik berusaha untuk memperbaiki." Mbok Darsih mencoba menasihati Qiara. Ia pikir ini saat yang sangat tepat untuk membuat Qiara mengerti. "Berkali-kali sudah kucoba, Mbok. Namun, bayangan Bang Rendra bersama wanita lain. Sungguh hal itu sangat menyakitkan hatiku." Qiara menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu menangis. Mbok Darsih mengusap punggung Qiara yang terguncang. Ia tahu, Qiara memang sedang sangat terluka. Namun, ia pun hanya bisa memberi nasihat dan menguatkan majikannya itu. "Mbok, tolong. Aku benar-benar merasa keadaanku semakin buruk. Tolong jaga Erik. Aku tidak ingin ia menjadi korban atas ketidakwarasanku. Tolong Mbok," pinta Qiara sambil terus terisak. Mbok Darsih mengangguk. Di dalam hatinya berkata, "Meski tidak diminta, aku pasti akan menjaga Erik." Mbok Darsih dan Qiara pun terkejut. Ketika pintu tiba-tiba terbuka. Terlihat Rendra berdiri dengan wajah yang khawatir. "Ya Tuhan, Qiara kau di sini? Aku sangat panik melihatmu tidak ada di kamar," ucap Rendra sambil memegang d**a. Rendra pun masuk dan mendekati Qiara. Ia melihat istrinya itu tengah menangis. "Kau kenapa, Sayang? Mbok Qiara kenapa?" "Tidak apa-apa, Bang. Ayo kita masuk ke kamar lagi," ajak Qiara mengejutkan Rendra. Ia senang melihat Qiara normal kembali. "Mbok, tolong temani Erik tidur," pinta Qiara pada Mbok Darsih. Mbok Darsih tersenyum sambil mengangguk. Ia berharap Qiara tidak lagi mengamuk dan hilang kendali seperti sebelumnya. Berkali-kali Rendra menatap wajah Qiara. Ia seakan bermimpi melihat istrinya menjadi lembut kembali. Saat menuju kamar, Qiara terus memegang tangan Rendra. Wajahnya pun seakan sedang memancarkan kebahagiaan. "Sayang, aku sangat rindu padamu," rayu Rendra ketika mereka berdua tiba di dalam kamar. Seakan pasrah. Qiara hanya menerima kecupan demi kecupan yang Rendra lakukan. Ia menikmati sentuhan lembut yang Rendra berikan. Hingga perlahan matanya terpejam menikmati perlakuan dari Rendra. Akan tetapi, saat mata Qiara terpejam bayangan Rendra tengah bermesraan dengan Yani pun muncul. Dengan cepat Qiara membuka matanya dan mendorong Rendra yang sudah tidak berbusana. Sedangkan Qiara sendiri pun, pakaiannya telah berserakan di lantai. "Sayang kenapa?" tanya Rendra heran. "Pergi! Jangan dekati aku. Kau laki-laki kotor. Pergiii!" teriak Qiara membuat Rendra tercengang. Rendra segera menggunakan lagi pakaiannya. Wajahnya merah menahan malu dan menahan nafsu yang hampir saja tersalurkan. Sedangkan Qiara ia terus menangis tanpa memikirkan tubuhnya yang tak tertutup benang sehelai pun. "Sayang," bujuk Rendra, berharap Qiara mendengarnya. Namun, Qiara malah bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi. Rendra berusaha membujuk Qiara agar membuka pintu dan keluar dari kamar mandi. Ia khawatir Qiara akan sakit, suara gemercik air terus mengalir terdengar dari dalam kamar mandi. "Tolong, buka pintunya Qiara," bujuk Rendra. Meski tak ada jawaban apa pun dari Qiara. Rendra pun hilang kesabaran. Ia segera mendobrak pintu kamar mandi itu. Terlihatlah Qiara yang duduk di lantai kamar mandi, tepat di atasnya shower menyemburkan air membasahi tubuh Qiara. Rendra segera menutupi tubuh Qiara dengan handuk. Ia memeluk istrinya yang telah menggigil kedinginan. "Qiara, jangan selalu membuatku khawatir," ujar Rendra sambil mengeringkan tubuh Qiara. Akan tetapi, pandangan Qiara kembali kosong. Tidak Rendra lihat lagi pancaran bahagia tadi. Rendra pun kecewa. Namun, ia juga merasa bersalah. Rendra telah memutuskan untuk menjaga Qiara dan melupakan Yani. Ia tidak ingin Qiara semakin terluka. Hari pun berganti. Qiara semakin sulit untuk berkomunikasi. Ia lebih sering duduk terdiam di dalam kamar. Meski sesekali, Qiara menemui Erik. Namun, Qiara lebih sering terdiam di kamar dan menangis. Amukan dan teriakan Qiara seakan telah menjadi makanan sehari-hari bagi Rendra. Apa lagi saat ia kembali dari tempat ia bekerja. Sudah pasti Qiara akan mengamuk dan melempar barang-barang. "Tuan, apa tidak bisa kalau untuk saat ini jangan pergi ke toko dulu," pinta Mbok Darsih pada Rendra. "Memangnya kenapa Mbok?" tanya Rendra heran. "Nyonya, Tuan. Saat Tuan tidak di rumah dia selalu mencoba untuk pergi. Aku takut teledor dan Nyonya kabur," adu Mbok Darsih. Ia merasa tidak sanggup jika harus mengawasi Qiara dan Erik yang bahkan kini pun seeing ikut mengamuk. "Hari ini aku akan membawa Qiara berobat Mbok," ujar Rendra. Ia berharap Qiara dapat di obati dan normal kembali. Rendra pun masuk ke kamar menemui Qiara yang duduk melamun di atas kasurnya. "Sayang, ganti baju dulu, ya. Kita akan jalan-jalan," ucap Rendra, tak ada tanggapan apa pun dari Qiara. Rendra pun mulai menggantikan Qiara pakaian yang lebih baik. Ia menyisir rambut Qiara dengan rapi. Istrinya itu kini terlihat begitu sangat kurus. "Mbok aku pergi dulu. Jaga Erik, ya," pesan Rendra pada Mbok Darsih. Sepanjang perjalanan, Rendra terus mengajak Qiara bicara. Namun, Qiara sama sekali tidak menjawab ucapan Rendra. Ia hanya menatap pemandangan di liar mobil dan sesekali tersenyum. Tak lama kemudian. Tibalah mereka di sebuah rumah sakit jiwa. Rendra sudah berjanji pada salah satu dokter kejiwaan untuk menangani Qiara. Beberapa hari sebelumnya, Rendra pun sudah datang dan mengkonsultasikan keadaan Qiara. Setelah melewati beberapa pertanyaan yang kebanyakan tidak Qiara jawab. Akhirnya dokter meminta untuk salah satu suster membawa Qiara ke sebuah kamar. Qiara akan di obati dan mendapat terapi di rumah sakit itu. "Dok, aku percayakan kesehatan istriku," ucap Rendra sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Qiara di rumah sakit jiwa. Sejenak ia menatap Qiara yang masih duduk di atas kasur di dalam kamar barunya. Lalu kemudian ia melangkah dengan perasaan yang sedih. "Maafkan aku Qiara. Semua aku lakukan demi kesembuhanmu," bisik Rendra dalam hati. Rendra sangat berharap. Keputusannya ini adalah benar dan Qiara lekas membaik. Ia ingin Qiara hidup dengan normal kembali dan menjalani rumah tangga dengan bahagia. Meski di dalam hatinya, nama Yani telah terukir dan tidak dapat untuk di hapus lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD