"Tunggu dulu," sanggah Teddy. Wajahnya terlihat begitu sangat gugup. "Tolong ambilkan berkas yang ada di lemari, Vit," lanjut Teddy meminta pada istrinya.
Istrinya pun bangkit dan langsung menuju kamar. Rendra merasa sedikit puas melihat tingkah Teddy yang gelisah.
"Rendra, kali ini aku mohon. Jangan katakan apa pun pada istriku. Dia baru saja melahirkan. Aku tidak ingin ia syok dengan apa yang ingin kau katakan dan pasti berkaitan dengan Qiara," pinta Teddy dengan wajah memelas pada Rendra.
"Apa aku peduli? Kau sudah menghancurkan rumah tanggaku!" hardik Rendra, ia semakin tak sabar ingin segera mengungkap kelakuan Teddy di depan istrinya.
"Aku mohon. Aku akan katakan semuanya padamu. Tapi, tolong jangan di sini, ayo kita keluar," mohon Teddy lagi. Raut wajahnya terlihat amat frustrasi.
"Aku pikir dulu," jawab Rendra sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, istri Teddy keluar dari kamar. Wajahnya menggambarkan sebuah kebingungan.
"Tidak ada berkas di lemari, Mas," ujarnya mengadu. Jelas, memang tidak ada berkas yang harus di ambil. Itu hanya alasan saja agar ia bisa bicara pada Rendra.
"Oh, mungkin masih tertinggal di sekolah," jawab Teddy berpura-pura.
"Mari, Pak Rendra. Kita langsung menuju sekolah saja. Nanti kita bisa bicara di sana," ajak Teddy, ia menatap lekat pada Rendra berharap lelaki itu setuju dengan ajakannya.
Untuk sejenak Rendra diam. Ia masih ingin melihat raut ketakutan dari Teddy. Sungguh pemandangan yang nikmat. Bagaimana seorang lelaki yang mencoba menggoda istri orang lain, sedang di rumah sudah ada istri yang menunggu. Miris.
"Sebenarnya mau bicara tentang apa, Mas?" tanya Istri Teddy, ia masih sangat penasaran.
"Hanya soal pekerjaan," jawab Teddy singkat. Namun, matanya terus menatap Rendra lekat. Seakan ia sedang memohon agar Rendra lekas bangkit dari duduknya.
"Tapi, sepertinya Bapak ini ingin bicara di rumah kita saja," ucap istri Teddy menunjuk Rendra.
Rendra menyeringai sambil menatap Teddy. Ada rasa kemenangan saat melihat Teddy yang semakin gelisah dan wajahnya mulai dialiri keringat.
"Baiklah, mari Pak Teddy kita bicara di sekolah saja." Sesungguhnya Rendra masih ingin menikmati ekspresi Teddy, tetapi ia ingin segera tahu status anak dalam kandungan Qiara.
Mendengar ucapan Rendra, Teddy pun merasa lega. Ia bangkit dan berpamitan pada istrinya. Terkesan sekali, Teddy terburu-buru ingin segara mengajak Rendra pergi dari rumahnya itu.
Di sebuah kafe bernuansa hijau. Rendra dan Teddy duduk berhadapan.
"Jadi, kau mau apa?" tanya Teddy, nadanya kini tampak berani sangat berbeda saat di rumahnya tadi.
Rendra menyeringai, "Hebat sekali kau berperan. Sesaat tadi kau bagai ayam yang hendak di sayur."
"Sudahlah, aku hanya tidak ingin nasib istriku sama dengan istrimu," ujar Teddy, ucapannya kali ini membuat telinga Rendra terasa panas. Namun, ia mencoba untuk tenang.
"Sudah berapa kali?" tanya Rendra, membuat raut wajah Teddy berubah bingung.
"Tidak perlu terkejut. Sekarang Qiara hamil. Aku yakin itu anakmu," tuduh Rendra.
"Ha, apa? Kau gila Rendra?" Teddy menggeleng tak percaya mendengar penuturan Rendra.
"Lebih baik, sekarang kau datangi Qiara. Sebelum dia berbuat nekat. Karena, dia berniat menggugurkan anakmu," ujar Rendra lagi.
Kali Ini Teddy tersenyum miris. Ia tak menyangka Rendra akan termakan sandiwaranya bersama Qiara hingga sedalam ini.
"Bodoh! Sangat bodoh!" Teddy menggeleng sambil menatap pada Rendra. Bibirnya melengkung saat ia bicara seakan sedang mengejek nasib Rendra.
"Apa maksudmu, ha?" Rendra mengepal tangannya, geram.
"Aku tidak pernah ada hubungan apa pun dengan Qiara. Semua itu hanya sandiwara, Rendra."
"Kau bohong 'kan. Aku yakin kau sudah merencanakan ini dengan Qiara," tuduh Rendra. Ia tidak mau lagi percaya pada ucapan Teddy.
"Demi Tuhan Rendra. Aku dan Qiara hanya bersandiwara. Walau, dulu aku memang pernah jatuh cinta padanya," lanjut Teddy meyakinkan Rendra. Ia tidak ingin, Rendra malah membalas untuk merusak rumah tangganya andai saja ia tahu ia sengaja memanasi dan berniat menghancurkan rumah tangga Rendra.
Rendra tampak terdiam. Ia seperti sedang berpikir. Mungkin, ia sedang mencerna setiap ucapan Qiara juga Teddy.
"Kalau begitu, anak dalam kandungan Qiara anakku," desis Rendra. Kini mulai menyeruak rasa bersalah di hatinya. Ia menyesal.
Tanpa pamit, Rendra berdiri dan meninggalkan Teddy yang memandangnya dengan tatapan aneh. Rendra tidak ingin terlambat, ia harus segera menemui Qiara sebelum istrinya itu berbuat nekat.
Rendra memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dadanya bergemuruh mengingat tuduhan yang pasti begitu menyakitkan untuk Qiara. Lagi, kesalahan kembali Rendra toreh di dalam hati istrinya itu.
Mobil Rendra memasuki kawasan Perumahan Permata Hijau. Ia mulai menurunkan kecepatan. Namun, hatinya sudah tak sabar untuk segera sampai di rumah.
Tiba di rumah, ia membiarkan mobilnya terparkir di pinggir jalan depan rumahnya. Rendra bergegas masuk menuju kamarnya. Rumah itu tampak sepi, Mbok Darsih dan Erik pun tidak terlihat. Entah kemana mereka.
Rendra membuka pintu kamarnya. Terlihatlah sebuah pemandangan yang membuatnya tak percaya. Bibirnya menganga dan matanya melotot. "Nyatakah ini Tuhan?" tanyanya tak percaya.
Rendra pun berhambur masuk ke dalam kamar. Ia segera memeluk tubuh Qiara yang telah dingin tak bernyawa. Di atas kasur berseprai biru muda tergambar noda darah yang banyak.
"Qiara ...!” pekik Rendra mengagetkan Erik juga Mbok Darsih.
Mereka berdua lari tergopoh-gopoh menuju kamar Rendra setelah mendengar suara itu. Erik yang sampai lebih dulu terkejut melihat ibunya yang bersimbah darah.
Tak jauh dari Rendra, tergelak sebuah pisau yang di pinggirnya terdapat noda darah. Erik menatap tajam pada Rendra.
"Kau, kau membunuh Mama?" tuduh Erik membuat Rendra menghentikan tangisannya dan menatap pada Erik.
Rendra menggeleng. "Tidak, Nak. Kau jangan salah paham," tampik Rendra.
"Mama ... Bangun, Ma!" teriakan Erik menggema di ruangan itu. Ia meraih tubuh Qiara dari pelukan Rendra.
"Mama jangan tinggalkan Erik, Ma." Erik terus meracau, ia terlihat begitu sangat terpukul atas kehilangan ibunya.
Kejadian yang terasa begitu cepat. Qiara sudah di makamkan. Kini tinggallah Erik dan Rendra dengan perasaan yang gundah.
Erik menatap rintik hujan yang membasahi bumi. Ia berdiri di balik jendela kamar di mana ibunya meragang nyawa.
"Lihat, Ma. Langit pun ikut menangis atas kepergian Mama," bisik Erik. Ia memandang ke langit yang menghitam.
"Erik," panggil Rendra, ia berjalan masuk ke kamar dan mendekati Erik yang berdiri di dekat jendela.
"Mau apa kau datang ke sini? Kau puas, bukan? Kau telah merenggut mamaku," ucap Erik dengan sangat tajam.
Rendra menunduk. Ia tahu saat ini Erik sedang sangat terluka. Sama halnya dengan hatinya. Kehilangan Qiara membuat rasa salah itu semakin melekat di hatinya. Andai ia mau mendengarkan ucapan Qiara hari itu. Mungkin, saat ini Qiara masih hidup.
Akan tetapi, sesal pun sudah tiada guna. Semua telah terjadi dan Qiara tidak akan hidup lagi. Hanya saja, rasa benci di hati Erik membuatnya semakin tidak stabil. Ia kerap mengamuk dan membanting barang di dalam rumah itu.
Bahkan, saat Erik mengamuk ia selalu menjadi tontonan warga di komplek itu. Gunjingan orang membuat Erik makin enggan untuk hanya sekedar keluar dari kamar. Ia hanya terdiam di dalam kamar dan berdiri di balik jendela.
Rendra yang iba melihat Putranya pun berusaha mengobati. Dengan meminta dokter untuk datang ke rumah. Namun, sia-sia. Erik selalu saja mengamuk saat Rendra berada di hadapannya.
Hal itu membuat Rendra memutuskan untuk tinggal di kantornya. Ia tidak ingin putranya semakin parah.
***
Mengingat episode demi episode yang telah ia lalui membuat hatinya perih tak terkira. Rendra yang semakin menua terus saja di hantui dengan rasa salahnya. Kesalahan pahaman antara ia dan Erik pun belum juga selesai.
Ia meletakkan kembali kedua foto wanita yang pernah mengisi harinya dengan kebahagiaan itu ke dalam laci. Rendra cukup senang mendengar kabar dari Mbok Darsih bahwa Erik sedikit ada perubahan.
Dan, anak gadis yang bersama Erik waktu itu. Membuat ia mengingat Yani dahulu.
"Sungguh, gadis itu mirip dengan Yani. Wajah polosnya membuatku mengingat kembali pada Yani," gumamnya dalam hati. Ia menyadarkan kepalanya pada kursi.