Udara dingin sisa hujan semalam masih menusuk hingga ketulang. Mbok Darsih berjalan mengendap menuju tempat tinggal Muni. Semalam ia mendapatkan pesan dari tuannya untuk di sampaikan pada gadis itu yang tak lain adalah Muni. Ia harus segera menemui Muni tanpa sepengetahuan Erik.
Tiba di rumah keluarga Sinta, majikan Muni. Mbok Darsih melihat Sony tukang kebun keluarga itu sudah sibuk membersihkan rumput yang tumbuh liar di antara bunga di taman kecil depan rumahnya. Ragu-ragu Mbok Darsih bertanya pada Sony.
"Mmm Muni sudah bangun?"
Sony mengangguk dan memberi isyarat dengan menunjuk ke dalam rumah. Mbok Darsih yang mengerti membalas anggukan Sony kemudian melangkah masuk. Ia langsung menuju dapur.
"Nak Muni!" sapa Mbok Darsih ketika tiba di dapur rumah itu dan melihat Muni yang tengah mencuci piring.
"Eh, Mbok." Muni mengeringkan tangannya yang basah. "Ada apa? Tumben Mbok ke sini?"
"Anu, Nak. Ada yang ingin Mbok katakan padamu," ucap Mbok Darsih.
Wajah Muni mengernyit, ia penasaran dengan apa yang akan Mbok Darsih katakan. "Mari duduk sini, Mbok," tawar Muni sambil menggeser kursi ke arah Mbok Darsih agar ia duduk.
Mbok Darsih perlahan duduk. "Nak, kenapa kau jarang main ke rumah?" tanya Mbok Darsih, di dalam hatinya sedang merangkai kata selanjutnya.
"Kupikir, Erik sedang tidak sehat Mbok. Dia jarang sekali terlihat," jawab Muni, raut wajahnya seketika berubah saat menyebut nama Erik. Ia lesu, beberapa hari sudah tidak bertemu dengan Erik.
"Datanglah, Nak. Erik sangat membutuhkanmu. Mbok yakin, kehadiranmu dapat membantunya untuk sembuh," ujar Mbok Darsih, lagi-lagi Muni mengernyit. Ia bingung apa maksud dari ucapan Mbok Darsih.
"Panjang ceritanya, Nak," ucap Mbok Darsih seolah tahu Muni penasaran. "Tapi, seiring waktu kau bersama Erik, kau akan tahu. Jadi, Mbok mohon. Datanglah setiap hari ke rumah dan temui Erik."
Muni menatap wajah tua Mbok Darsih. Meski ia bukan ibu dari Erik, tetapi tatapan khawatirnya seperti seorang ibu yang begitu menyayangi anaknya. Beberapa saat Muni terdiam, kemudian ia mengaguk tanda menyetujui permintaan Mbok Darsih.
"Terima kasih, Nak." Mbok Darsih menggenggam tangan Muni dengan erat. Ia yakin kehadiran Muni bukan tanpa sengaja, tetapi Tuhan mengirimnya memang untuk kesembuhan dari anak majikannya itu.
Mbok Darsih berpamitan pulang. Ia kembali bertemu dengan Sony di kebun kecil depan rumah itu. Mbok Darsih melempar senyum tipis sambil mengaguk pada Sony. Meski Sony hanya menatap tanpa ekspresi. Ia tidak membalas sapaan dari Mbok Darsih.
Muni melanjutkan aktivitasnya. Di dalam hatinya bertanya-tanya, tentang apa sebenarnya yang terjadi pada Erik. Namun, kedatangan Luci membuyarkan lamunan dan rasa penasarannya pada Erik.
"Muni, kau punya beras?" tanya Luci, seperti biasa ia datang dengan anaknya di dalam gendongan.
Muni mengaguk, ia sudah paham. Hanya saja kali ini ia tidak lagi penasaran dengan Luci. Ia tahu, Luci pasti belum mendapatkan kiriman dari ayah Shila.
"Banyak sekali," ucap Luci saat Muni memberikan sekantung beras. "Satu liter saja, Muni."
"Tidak apa-apa, Kak. Ambillah bisa untuk besok. Oh, iya ...." Muni membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa bungkus nuget yang Sinta berikan saat kemarin mereka pulang.
"Ini untuk Shila," bubuhnya sambil menyerahkan satu bungkus nuget pada Luci.
"Terima kasih, Muni. Semenjak kehadiranmu kau begitu banyak membantuku. Entah bagaimana aku membalas semua kebaikanmu," ucap Luci, matanya berkaca saat mengatakan hal itu pada Muni.
Muni tersenyum dan mengusap pundak Luci. Ia melakukan hanya sebisanya saja. Saat Muni melihat Luci juga Shila, anaknya. Muni seakan melihat dirinya juga Yani sang ibu. Betapa sulit hidup mereka dahulu. Hanya sekedar untuk bisa mendapatkan sesuap nasi, mereka harus bekerja keras mencuci pakaian milik tetangga.
Hingga hari ini, Muni belum juga bicara lagi pada Yani. Rasa rindu di hatinya begitu sangat menggunung. Ia sudah mencoba menghubungi Farhan, tetapi ia tidak sedang di rumah. Kini Muni hanya menunggu ibunya yang akan menghubungi. Meski ia harus menahan rasa rindu yang begitu amat menyiksa.
Muni merebahkan sebentar tubuhnya di atas kasur. Pekerjaan rumah telah ia kerjakan. Saat di rumah, Muni lebih suka menghabiskan waktu di dalam kamar. Ia enggan untuk sering bertemu Sony yang selalu memberikan tatapan sinis juga dingin padanya.
Saat Muni mendengar telepon berdering. Gegas ia bangkit sebelum Sony yang akan menerima telepon tersebut. Sial, Sony ternyata lebih dulu menerima telepon. Hal itu membuat Muni berdecak kesal.
"Bang, Sony!" pekik Muni, ia yakin yang menelepon adalah ibunya dengan cepat Muni meminta telepon yang ada di genggaman Sony.
Sony menatap Muni sejenak. Baru kemudian ia memberikan telepon yang belum ia ketahui siapa di sana.
"Jangan lama-lama." Sony melengos setelah memberi tatapan sinis pada Muni.
Muni langsung menempelkan alat komunikasi itu di telinganya.
"Ibu," katanya lirih.
"Muni! Apa kabar, Nak? Ibu sangat rindu pada Muni," ucap Yani dengan suara serak. Ia telah berusaha untuk bisa menahan tangis, tetapi perasaan rindu yang menggebu di hatinya tak dapat ia sembunyikan.
"Muni sehat Ibu. Muni pun sangat rindu pada Ibu. Ibu sehat 'kan?" Muni pun tak bisa menyembunyikan rasa rindu yang telah lama ia tahan. Tangis keduanya pecah. Sejenak hening tak ada percakapan antara mereka. Hanya terdengar isakan tertahan.
"Nak, pulang saja. Ibu tidak kuat untuk lama-lama berpisah denganmu," ucap Yani akhirnya memecah keheningan.
"Tidak, Bu. Muni yakin kita bisa. Di desa, siapa yang bisa memberi pekerjaan seperti ini dengan gaji yang lumayan. Jadi, biarkan Muni bekerja hingga kita punya banyak tabungan." Muni mencoba untuk tegar melawan rindu, ia ingat kembali niatnya datang ke kota ini untuk merubah nasibnya kelak.
"Tapi, Nak. Setiap hari ibu takut kehilanganmu. Ibu takut kau tidak kembali seperti .... " Ucapan Yani terhenti. Ia hampir mengatakan ayah Muni yang tak kembali bak hilang di telan bumi.
"Seperti apa, Bu? Kenapa ibu berhenti?" tanya Muni, ia masih menunggu Yani untuk meneruskan ucapannya yang tadi berhenti.
"Tidak, Nak. Tagihan telepon ibu sudah banyak. Kau baik-baik di sana. Ibu selalu menunggu kepulanganmu, Nak," ucap Yani dan ia mengucapkan salam.
Telepon terputus dengan masih menyisakan tanda tanya di dalam hati Muni.
"Seperti apa, Bu? Apa maksud Ibu seperti Ayah," gumam Muni berderai air mata. Ucapan Yani yang terpotong memnuatnya menerka.
Muni menghela napas panjang. Ia teringat akan permintaan Mbok Darsih pagi tadi. Muni pun lekas bangkit dan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Wajahnya telah segar. Ia tidak ingin Erik tahu bahwa hatinya sedang merasa gundah. Kemudian Muni berjalan menuju rumah Erik.
"Mau kemana kau Muni?" Suara bariton milik Sony membuat Muni terlonjak kaget.
"Apa urusanmu?" Muni menjawab dengan sinis. Tanpa menatap Sony ia terus melanjutkan langkahnya menuju rumah Erik. Meski sekilas ia mendengar suara keras dari sekop yang Sony banting.
Tiba di depan rumah Erik. Pintu rumah itu telah terbuka. Sepertinya Mbok Darsih memang sudah menunggu kedatangan Muni di rumah itu. Muni segera mengucapkan salam dan benar saja, Mbok Darsih langsung menyambut Muni dengan binar wajah yang bahagia.
"Muni, aku pikir kau tidak datang," ucap Mbok Darsih.
Muni tersenyum, "Aku pasti datang, Mbok. Di mana Erik?" tanya Muni, kepalanya celingukan ke dalam rumah yang tampak mewah itu.
Mbok Darsih memegang tangan Muni dan memgajak masuk. Muni melihat rumah indah itu di penuhi dengan foto seorang wanita yang begitu amat cantik. Senyumnya persisi seperti Erik. Manis dan berlesung di pipi.
"Apa itu ibunya Erik, Mbok?" tanya Muni sambil tangannya menunjuk salah satu foto yang menempel di dinding.
Mbok Darsih mengangguk. Namun, ia tidak banyak mengatakan apa pun. Ia hanya melangkah pelan menuju ke lantai atas di mana kamar Erik berada.
"Tunggu di sini, ya, Nak. Mbok masuk dulu," ujar Mbok Darsih dan di jawab anggukan oleh Muni.
Mbok Darsih pun masuk ke dalam. Sedangkan Muni berdiri sambil memperhatikan seisi rumah yang baru pertama kali ia masuki ini. Ada sesuatu yang membuat Muni penasaran. Begitu banyak foto seorang wanita yang sama yaitu ibu dari Erik. Namun, tak ada satu pun foto ayah Erik yang terpasang.
"Aneh," gumam Muni.
Di dalam kamar, Mbok Darsih mendekati Erik yang duduk terdiam di atas kasurnya dengan foto sang ibu di tangan.
"Nak Erik, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," ucap Mbok Darsih membuat perhatian Erik teralihkan dari foto di tangannya.
"Siapa Mbok?" tanya Erik, ia khawatir jika yang datang adalah Rendra ayahnya.
"Sebentar." Mbok Darsih melangkah keluar dan memanggil Muni.
"Kau!" ucap Erik terkejut saat melihat Muni yang datang, tetapi dari raut wajah Erik dapat di artikan bahwa ia senang dengan kehadiran Muni.
"Mbok tinggal, ya. Kalian mengobrol saja dulu," ucap Mbok Darsih dengan tersenyum.
Erik yang sebelumnya duduk di atas kasur pun bangkit mendekati Muni. Wajahnya seolah tak percaya gadis yang mampu menggetarkan hatinya itu kini hadir di dekatnya. Bahkan sangat dekat.