Muni merasa salah tingkah. Dadanya berdegup dengan sangat kencang. Ia tak menyangka bisa berada di dalam kamar berdua bersama Erik saja. Sungguh ini di luar dugaannya. Ia pikir hanya akan bertemu seperti biasa, tetapi saat ini hatinya merasa tak menentu. Mbok Darsih malah meninggalkan bersama Erik di kamar itu.
"Aku sedang berpikir. Apa mungkin ini nyata, Muni?" ucap Erik, jarak mereka kini sudah sangat dekat.
Muni menunduk. Ia menyembunyikan rona wajahnya yang memerah menahan rasa malu. Sebelumnya ia tak pernah sedekat ini dengan Erik. Apa lagi kali ini mereka hanya berdua saja.
Srak!
Tiba-tiba Erik memeluk tubuh Muni dengan keras. Muni tak dapat menolak lagi, kini ia berada di dalam pelukan Erik yang terasa sangat hangat. Ia memejamkan matanya dengan sangat erat.
"Ini benar nyata," desis Erik sambil terus memeluk tubuh Muni.
Beberapa detik mereka lalui dengan pelukan dan membisu. Tiada kata yang Erik mau pun Muni katakan. Mereka seolah hanyut dengan rasa masing-masing. Muni dapat mendengar dengan jelas detakan jantung Erik yang berdentang sangat keras.
Akhirnya Erik melepas pelukan itu dan menarik tangan Muni. Belum sempat Muni bernapas dengan lega, ia kini telah di ajak naik ke atas kasur yang bantal, guling dan selimutnya saja tak beraturan begitu juga dengan sprei-nya.
Ragu-ragu Muni naik dan duduk. Napasnya makin tersengal-sengal tak tentu. Entah apa yang akan Erik lakukan, semua kemungkinan terburuk muncul di dalam kepala Muni. Berkali-kali ia memejamkan mata agar pikiran itu menghilang, tetapi seakan melekat pikiran itu terus saja hadir.
Muni memperhatikan Erik yang membuka lemari dan meraih sebuah album dari dalamnya. Ia berjalan kembali mendekati Muni yang tergugu di atas kasur.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, Muni," ujar Erik lalu duduk tepat di samping Muni. Mereka duduk sangat dekat. Hingga terkadang kaki merwka saling bersentuhan.
Susah payah Muni mengatur napasnya, ia seakan hendak sesak menahan gejolak aneh yang mendorong di dalam hati. Muni menjadi tidak fokus dengan apa yang Erik ucapkan.
"Lihat ini. Kau pasti tidak menyangka kalau foto bayi itu adalah aku," ucap Erik sambil jari telunjuknya menunjuk satu foto bayi dengan tubuh yang gemuk dan pipi seperti kue bakpao.
Muni tersenyum. Ia memperhatikan foto tersebut lebih dekat. Sedangkan Erik terus membuka-buka lembar demi lembar album foto yang di penuhi foto bayi. Hingga berhenti pada satu foto keluarga. Di mana terdapat ayah, ibu dan juga Erik kecil yang sedang dipangku.
Sejenak Erik memandang foto tersebut. Ia mengusap tepat pada foto seorang wanita yang memangku bayi yang tak lain adalah sang ibu.
"Andai saja Papa tidak melakukan kesalahan. Mungkin mamaku bisa bertemu denganmu Muni," ucap Erik lirih.
Muni menatap tepat pada wajah Erik. Ia melihat mata Erik yang berkabut tebal. Muni pun iba, meski ia tak tahu apa sebenarnya yang terjadi pada keluarga Erik. Untuk bertanya pun Muni seakan ragu, ia khawatir Erik malah akan terganggu.
"Kita lihat yang lain." Erik menutup album foto kemudian berdiri dan melangkah menuju lemari lagi. Ia hendak mengambil album foto yang lain.
Satu buah album foto ia bawa dan langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur tepat di samping Muni. Sungguh Muni merasa kaku dengan apa yang Erik lakukan.
"Ini mamaku Muni. Sepertinya foto ini di ambil saat ia masih gadis. Cantik sepertimu."
Serrr! Jantung Muni berdesir ketika mendengar ucapan Erik. Ia semakin menunduk dan tersipu malu.
"Kenapa kau diam saja? Bosan?" tanya Erik yang menyadari Muni hanya diam.
Ia tidak tahu. Muni sedang berusaha menghentikan pemain drum yang terus menghentak-entakkan jantung hati Muni.
"Eh, tidak Erik. A-aku hanya ... aku tidak terbiasa berdua dengan seorang lelaki di dalam kamar," jawab Muni kemudian menunduk lagi.
Erik terbahak. "Apa kau pikir aku biasa?"
Muni menggeleng pelan.
"Baiklah, kita turun saja," ajak Erik, ia menyimpan kembali album foto di dalam lemari dan mengajak Muni turun.
Rumah dengan dua lantai itu hanya di huni oleh Erik juga Mbok Darsih. Hingga terlihat beberapa ruangan kosong dan gelap. Sambil berjalan mata Muni menyusuri setiap ruangan yang ia lewati. Tirai-tirai yang di biarkan tertutup membuat ruangan menjadi pengap. Walau dengan bantuan AC, tetapi udara sangat sedikit keluar masuk hingga terasa tidak segar.
"Mbok, buatkan Muni minum," ucap Erik saat tiba di lantai bawah.
"Iya, ini Mbok sedang membuatkan jus jeruk, Nak," jawab Mbok Darsih penuh kasih sayang. Sikapnya tidak menandakan bahwa ia adalah seorang pembantu.
Erik mengajak Muni duduk di ruang tamu bernuansa hijau. Beberapa lukisan seorang wanita menghiasi dinding ruangan tersebut. Wanita yang sama. Dengan senyum tipis dan anggun.
"Muni, sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu." Erik menatap lekat gadis yang memilik bulu mata lentik yang duduk di sampingnya itu. Dapat ia tangkap, Muni sedang menahan rasa canggung yang luar biasa. Dari cara Muni duduk yang gelisah dan wajahnya selalu merona.
Muni mengangkat alisnya. Namun, dadanya berdesir kembali saat tatapannya bertemu dengan Erik. Untuk waktu sekedip mereka saling pandang seakan sedang berbicara lewat mata. Saling mengungkap bahwasanya rasa cinta di hati telah terlalu dalam.
"Aku boleh jujur?" tanya Erik dengan tatapan yang masih melekat erat.
Muni mengangguk, sepertinya ia pun enggan untuk melepas tatapan itu.
Senyum tipis Erik membuat wajahnya makin bercahaya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya pada Muni. Melihat sikap Erik, Muni pun memejamkan mata dengan erat.
"Kau mau apa Erik?" tanyanya dalam hati. Sungguh ia sedang menahan rasa yang aneh di dalam dadanya. Ia tidak dapat menolak Erik yang kini semakin dekat dengan wajahnya. Membuat Muni makin mengeratkna pejaman mata seolah enggan melijat apa yang jendak Erik lakukan.
"Muni, kau terlihat jelek dengan pakaian ini," bisik Erik tepat di telinga Muni.
Dengan seketika Muni melebarkan matanya. Ia merasa bodoh sudah berpikir hal yang lain akan Erik lakukan. Wajahnya memerah menahan malu yang terasa dua kali lipat.
"Jelek?" ucapnya lirih. Muni kembali mengalihkan tatapannya pada pemuda yang ada di depannya.
"Iya, jelek." Erik tersenyum melihat wajah merah Muni. "Jangan salah paham dulu, Muni. Kau terlihat lebih cantik dengan pakaian saat pertama aku melihatmu. Itu saja.”
Muni kembali menunduk. Perasaannya seperti sedang di bawa melayang-layang ke angkasa biru dan di hempaskan ke sebuah taman yang begitu indah. Perlahan tangan Muni mengarah ke dadanya, ia merasakan degupan jantung yang bertalu dengan kerasnya.
"Silakan di minum, Nak," ucap Mbok Darsih, ia meletakkan dua gelas jus jeruk juga beberapa camilan.
Muni tersenyum dengan kehadiran Mbok Darsih. Setidaknya ia dapat meredam jantungnya yang terasa begitu keras bekerja.
"Mbok tinggal ke dapur, ya," pamit Mbok Darsih.
"Tunggu, Mbok!" panggil Muni. Ia seakan enggan untuk di tinggal berdua saja dengan Erik lagi.
"Kenapa, Nak?" tanya Mbok Darsih, ia menatap heran pada Muni.
Begitu pula dengan Erik. Ia menautkan alisnya, bertanya-tanya dengan apa yang terjadi pada Muni. Bahkan, Erik berpikir Muni tidak menyukainya. Perasaan Erik yang mudah tersinggung pun membuatnya menerka jika Muni terpaksa.
"Di sini saja, Mbok. Aku tidak enak jika hanya berdua dengan Erik. Mmm ... aku takut akan ada fitnah," ucap Muni beralasan. Ia hanya tidak ingin berdua dengan Erik dan membuat jantungnya memompa darah dengan lebih cepat.
"Mbok hanya di dapur situ, Nak. Tidak jauh. Kau berbincanglah bersama Erik," jawab Mbok Darsih kemudian berlalu meninggalkan Erik dan Muni.
Erik menghela napas berat. Ia menyadarkan tubuhnya di kursi. Perasaannya yang tadi bahagia karena kedatangan Muni mendadak lesu. Ia pikir Muni merindukannya, tetapi melihat sikap Muni, Erik gamang. Ia yakin Muni terpaksa.
Hening. Tiada percakapan antara Muni juga Erik. Sesekali ekor mata Muni melirik pada Erik yang wajahnya berubah asam. Tidak seperti tadi, senyuman yang merekah indah di wajahnya. Kini bak bunga layu kekurangan air.
"Ka-kau kenapa?" tanya Muni dengan kaku. Ia merasa suasana menjadi berubah seratus persen.
"Jika kau tak nyaman, silakan pulang." Erik menjawab dengan dingin.
Muni terkejut dengan jawaban yang sinis dari Erik. Ia menengok cepat pada Erik yang menatap langit-langit ruangan bernuansa hijau tersebut.
Ah, kembali ingatan Muni saat pagi tadi Mbok Darsih datang dan memintanya untuk bertemu dengan Erik. Bukankah niatnya untuk membantu kesembuhan Erik? Muni merasa bersalah. Namun, bagaimana pun ia tidak bisa menahan perasaan canggungnya saat berada dekat dengan Erik.