Sakit

1265 Words
Muni yang awalnya salah tingkah kini merasa bersalah. Ia pun mulai berpikir mencari cara untuk bisa merubah suasana hati Erik kembali. "Ehem ... ehem ....!" Muni berpura-pura tenggorokannya serak. Ia memegang lehernya dan melakukan itu berulang kali. Sesekali Muni menengok pada Erik, meski Erik hanya diam saja, ia tidak merespons apa pun yang Muni lakukan. Muni terus mengulangi hal itu berulang kali. Perlahan Erik melirik dengan sikap acuh. Namun, Muni merasa Erik kini telah termakan akal muslihatnya. Ia terus melakukan itu berulang kali hingga Muni tersedak olah liurnya sendiri. Uhuk, uhuk, uhuk! "Minum Muni. Kau ini apa-apaan, kalau memang kau haus kenapa harus kau tahan-tahan," ucap Erik sambil sibuk memegangi gelas jus yang tadi Mbok Darsih sudah buatkan. Muni menyedot Jus lewat sebuah pipet. Namun, dari bibirnya ia menyimpulkan sebuah sunggingan. Di dalam hatinya pun berkata," Aku berhasil! " "Aku merasa lancang. Tuan rumahnya saja belum minum," ucap Muni setelah meminum jus jeruk buatan Mbok Darsih. Ia merasa segar. Erik menautkah alisnya mendengar ucapan Muni. Ia seolah meminta penjelasan dengan apa yang baru saja Muni katakan. "Ah, sudahlah. Erik, aku ingin bertanya sesuatu hal padamu," ujar Muni membuat Erik mengangguk. Ia yang tadi sedikit cerewet kini malah bak orang bisu yang tidak bisa berbicara. "Mmm kau kemana saja? Sakit?" tanya Muni, ia mencoba mencairkan ketegangan yang tadi lebih menguasai dirinya. Lagi-lagi Erik mengangguk tanpa menjawab satu patah kata pun. "Mmm ...." Muni tampak bergumam, otaknya berpikir keras mencari hal untuk ia bahas lagi. Sepertinya Erik belum terpancing dengan pertanyaannya barusan. Padahal ia berharap, Erik akan bercerita seperti tadi lagi. "Kau tidak terkejut melihatku datang?" tanya Muni, ia kebingungan untuk menanyakan apa lagi. Sedangkan Erik hanya terdiam dengan wajah masam. "Siapa yang memintamu datang ke sini Muni?" tanya Erik menerka, membuat Muni gelagapan salah tingkah. Saat pagi tadi Mbok Darsih datang, ia meminta untuk merahasiakan permintaannya pada Erik. "Ti--tidak Erik. A--aku sendiri yang ingin datang. Kenapa, kau tidak suka aku datang?" Muni kembali melempar tuduhan pada Erik. "Suka, hanya saja aku tahu kau terpaksa. Ia, kan?" tuduh Erik semakin sengit. "Tidak Erik. Ini inisiatifku sendiri. A--aku emmm akuuu ... aku rindu padamu." Muni menunduk. Ia terbata dan ragu untuk mengungkapkan perasaan. "Bohong!" sangga Erik menampik pernyataan Muni. "Sungguh Muni. Aku benci seorang pembohong." Muni merasa bingung. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Tidak ada niatnya membohongi Erik. Ia hanya sedang menahan perasaan canggung di kala berada dekat dengan Erik. Namun, hal itu malah membuat Erik salah paham. "Pulanglah. Aku tidak perlu seorang yang suka berdusta ...." "Tidak Erik," potong Mbok Darsih. "Mbok yang meminta Nak Muni untuk datang. Dia tidak salah dalam hal ini. Kau jangan salah paham. Mbok tahu Nak Muni juga rindu padamu. Semua dapat Mbok lihat dari binar matanya tadi pagi." Muni menunduk saat Mbok Darsih menjelaskan pada Erik. Ia merasa lega karena Mbok Darsih datang dan langsung mengatakan hal yang sebenarnya. Ia tidak ingin ada kesalahpahaman antara ia dan Erik. "Tidak, Mbok. Dia tidak rindu denganku. Dia terpaksa karena Mbok yang meminta." Erik menyangkal pernyataan Mbok Darsih. Muni yang mendengarnya terkejut. Ia menatap Erik yang tampaknya sudah enggan membalas tatapan darinya. "Bukan begitu Muni?" tuduh Erik, meski tanpa menatap Muni langsung. "Ti-tidak Erik. Kau salah paham," tolak Muni, ia benar-benar merasa tidak seperti yang Erik katakan. "lantas ...?" "A-aku ... aku rindu padamu Erik." Muni menduduk dalam. Ia merasa rikuh. Erik tersenyum puas. Ia sengaja berpura-pura marah agar bisa langsung mendengar ucapan itu dari bibir Muni. Ia tahu, Muni sedang berusaha menahan gejolak hatinya yang tak menentu. Saat Erik memeluk tubuh Muni tadi, ia dapat dengan jelas merasakan getaran di tengah d**a Muni. Mbok Darsih melihat mereka yang sedang di mabuk asmara pun ikut bahagia. Hatinya semakin yakin, bahwa Muni bisa menjadi pengaruh yang besar dalam kesembuhan Erik. Jingga di ujung langit menampakkan sinar yang sangat indah. Muni baru saja keluar dari dalam rumah Erik dan hendak pulang. Namun, ia terkejut saat tiba di pintu gerbang yang ternyata terkunci. Pintu rumah itu pun tertutup rapat. Tidak pula terlihat sony di taman kecil milik Sinta di depan rumah. Muni mencoba mengetuk-ngetuk pagar yang terbuat dari besi itu dengan sedikit keras. Namun, tidak ada tanda-tanda Sony akan datang dan membuka. Padahal, biasanya saat sore hari seperti ini Sony akan banyak menghabiskan waktu di tanah kecil itu. Muni yang lelah memanggil pun memutuskan menunggu. Ia duduk di depan gerbang. Namun, hingga mentari tenggelam dan hari berganti malam, Sony tidak kunjung datang. Berkali-kali Muni berdecak kesal dengan sikap Sony. Hari yang semakin malam membuat udara berembus serasa hingga ke tulang. Belum lagi, cacing di dalam perut Muni kini turut menuntun untuk mendapatkan haknya hingga menimbulkan suara 'kriuk'. Langit yang tadinya dihiasi bintang kini mendadak gelap. Satu per satu tetasan hujan mulai membasahi kulit Muni. Ia semakin gelisah di depan gerbang rumah. Sony harapan satu satunya pun tidak kunjung terlihat. Muni yakin, Sony sudah pergi. Hanya saja ia merasa heran, tidak biasanya Sony pergi sesore tadi. Air yang turun dari langit semakin membesar. Muni yang telah basah berlari menuju rumah Erik lagi. Sebelumnya ia sudah mencoba datang ke rumah Luci. Namun, seakan tuli Luci tidak jua membuka pintu. Katina itu,. Mau tidak mau Muni pun datang ke rumah Erik. Ia kembali mengetuk pintu dan menekan bel yang ada di dekat pintu. "Loh, Nak Muni kok basah-basahan?" tanya Mbok Darsih terkejut melihat keadaan Muni yang telaj basah kuyup. "Mbok, aku boleh menumpang sampai Bang Sony pilang?" "Siapa Mbok?" tanya Erik dari dalam rumah. "Ini, Nak Muni. Dia basah kuyup," jawab Mbok Darsih menunjuk pada Muni. "Astagaaa! Apa yang terjadi padamu, Muni?" pekik Erik wajahnya terlihat khawatir melihat Muni yang menggigil. "Saat tadi sore pulang, pagar sudah terkunci. Bang Sony juga tidak ada. Mungkin ia pergi sedari sore," jawab Muni sebisa mungkin ia menahan gemeletuk giginya karena dingin. "Memang kelewatan dia. Lihat saja, akan kuberi pelajaran!" gumam Erik. Ia mengajak Muni masuk. Mbok Darsih memberikan handuk pada Muni agar ia bisa mengeringkan tubuhnya. Sedangkan, Erik naik ke lantai atas entah apa yang akan ia lakukan. Saat Erik kembali di tangannya terlihat sedang memegang sesuatu. “Ganti pakaianmu dengan ini, Muni." Erik memberikan pakaian yang ia bawa. Itu adalah pakaian ibunya semasa hidup. Muni mengangguk dan meraih pakaian itu, kemudian ia berganti baju ke dalam kamar mandi. Saat Muni keluar kamar mandi, Erik terpana melihatnya. Muni yang di balut dengan pakaian ibunya itu terlihat begitu sangat anggun. Bahkan, Erik seperti enggan untuk berkedip dari memandang Muni. "Nak Muni, minum teh ini dan makanlah. Biar tubuhmu hangat." Mbok Darsih memberikan satu cangkir teh hangat dan juga sepiring nasi lengkap dengan lauknya. Perutnya yang memang sudah sangat lapar membuat Muni segera menghabiskan isi di dalam piring. Ia terlihat begitu sangat lahap. "Malam ini kau tidur di sini saja dulu, Muni," ucap Erik setelah Muni selesai menghabiskan makanannya. "Ta-tapi ...." "Benar, Nak. Sony pasti pulang dini hari. Lebih baik kau di sini saja," potong Mbok Darsih menyetujui ucapan Erik. Ia tahu betul, jika Sony memang kerap pergi di malam hari. Muni pun mengangguk. Ia pun tidak ingin menunggu di luar pagar lagi. Hujan di luar pun masih sangat deras mengguyur bumi. Tidak mungkin untuk Sony cepat pulang. Malam yang semakin larut diiringi suara rintik hujan menjadi melodi yang indah. Siapa saja pasti akan terlena dan akan segera terlelap terlelap saat suasana hujan di malam hari. Namun, tidak dengan Muni. Ia menggigil menahan rasa dingin, tetapi suhu tubuhnya terasa amat panas. "Ibu ...," gumam Muni, tetapi matanya tetap terpejam. Mbok Darsih bangkit dari tidurnya saat ia menyadari Muni tidak baik-baik saja. Ia menempelkan punggung tangannya pada kening Muni. "Ya Tuhan. Badan anak ini sangat panas," ujar Mbok Darsih setelah menempelkan tangannya di kepala Muni.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD