Persiapan

1298 Words
Sinar mentari pagi mulai menyinari desa Pantau. Yani hendak memejamkan mata, tetapi ia teringat akan pesan Rendra kemarin untuk bersiap-siap. Sialnya, tubuhnya kian lemas karena kurang tidur. Dua malam ini ia benar-benar terjaga. Meski demit Dirman tak lagi memanggil namanya, tetapi alunan gitar dan suara orang yang berdendang mengikuti musik membuat Yani tak bisa tidur. Ia yakin, itu bukanlah manusia. Yani pun sempat mengintip dari lubang di dindingnya. Sosok yang persis seperti Dirman, tengah memetik gitar yang ia pangku. Meski wajahnya tidak dapat Yani lihat, tetapi jelas sosok itu memang menyerupai Dirman. Seperti saat dulu ia masih hidup, kebiasaan yang sering ia lakukan setiap malam duduk ramai-ramai bermain gitar di depan rumah Yani. Yani ingin sekali menolak ajakan Rendra dan tidur seharian. Namun, ia tak ingin membuat lelaki yang akan menjadi suaminya itu kecewa. Yani yang merasa sikap Rendra sedikit berubah enggan untuk membuat suasana yang tidak enak di antara mereka berdua. Lagi pula, Yani pun ingin segera menjalani wasiat terakhir ibunya untuk menikah dengan Rendra. Ia ingin hidupnya akan berubah setelah menjadi istri seorang Rendra yang telah memiliki usaha yang jelas. Terutama Yani memikirkan nasib anak-anaknya kelak tidak akan sama sepertinya. Hidup miskin serba kekurangan. Yani meregangkan tubuhnya yang terasa lemas. Kemudian ia bangkit menuju kamar mandi. Seperti biasa, Yani menimba air sebelum mandi. Namun, kini ia tak perlu lagi menimba banyak air untuk persiapan ibunya yang ia tinggal sendiri saat bekerja. Ia hanya cukup menimba keperluan dirinya saja. Tak terasa air matanya luruh. Belun sempat ia membahagiakan sang ibu, beliau malah telah pergi untuk selamanya. Setelah mandi dan berganti baju Yani merias wajahnya dengan sedikit polesan bedak dan juga lipstik murahan. Wajah pucatnya sedikit terlihat merona tertutup lipstik merah muda itu. Ia menunggu Rendra sambil membuat teh dan meminumnya sebagai penghangat tubuh. Tak lama kemudian pintu rumah Yani diketuk seseorang. Yani bergegas membuka pintu, ia tampak girang saat melihat Rendra yang datang. “Hm, sudah siap rupanya,” ucap Rendra saat melihat Yani membuka pintu. Yani tertunduk menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu. “Kita langsung berangkat saja,” ajak Rendra. Padahal Yani baru saja ingin mempersilakan Rendra untuk masuk dan meminum teh hangat. Ia pun segera mengunci pintu rumahnya. Mereka jalan beriringan menuju pekan raya yang diadakan di desanya. Di sana banyak baju-baju yang bagus yang akan dijual. Juga ada penjual-penjual perhiasan datang dari kota. Itulah sebabnya, Rendra ingin Yani memilih sendiri apa yang dia inginkan. Setengah jam berlalu, Rendra dan Yani tiba di pekan raya yang sudah di padati orang. Mereka rata-rata orang-orang kaya yang hendak berbelanja tak ketinggalan pula kalangan bawah ikut meramaikan tempat itu meski hanya sekedar melihat-lihat. “Yani pilihlah apa pun yang kau mau,” titah Rendra pada Yani. Setelah berkeliling dari satu gerai ke gerai yang lain, Yani tidak juga mengatakan apa yang dia inginkan. Meski sejujurnya setiap singgah di gerai yang menjajakan pakaian atau pun perhiasan Yani begitu ingin. Namun, ia takut untuk mengatakan pada Rendra. “Apa tidak ada yang bagus?” tanya Rendra, ia sudah merasa lelah namun Yani tak kunjung mengatakan yang ia inginkan. “Bu—bukan, Pak. Semua bagus,” jawab Yani terbata. Ia masih merasa kaku untuk berbicara pada Rendra. “Mulai sekarang jangan panggil, bapak. Panggil saja Abang.” Serrr .... Hati Yani berdesir mendengar ucapan Rendra barusan. Ada dentuman keras di dadanya saat ia membayangkan akan memanggil sosok lelaki di sampingnya ini dengan sebutan “Abang”. “Nyatakah ini Tuhan,” bisik Yani di dalam hati. Ia meremas dadanya yang bertalu-talu bak genderang yang hendak berperang. “Kita ke gerai itu.” Tunjuk Rendra pada salah satu gerai yang menjula banyak perhiasan. Yani mengikuti langkah Rendra dengan masih menahan rasa yang berbunga. Tak pernah ia bayangkan, jodohnya setampan dan juga segagah Rendra. Namun, entah mengapa sikap Rendra semakin dingin. Tidak seperti sore itu saat di warung mie ayam Bu Santi. Rendra begitu ramah dan perhatian. Yani tak menghiraukan apa yang ia rasa. Ia pikir itu hanya perasaannya saja. Ia memperhatikan Rendra yang berbicara pada pemilik gerai. Pemilik gerai tersebut langsung mengeluarkan sekotak koleksi cincin yang ia punya. “Sini.” Tangan Rendra melambai meminta Yani mendekat. Rendra langsung menarik tangan Yani yang sudah berdiri di sampingnya. Ia memasang sebuah cincin di jari manis Yani. “Pas,” ujar Rendra sambil memperhatikan jari Yani yang sudah terlingkar sebuah cincin permata. “Em ... Pak, eh, Bang apa tidak terlalu mahal,” tanya Yani, ia masih kaku untuk bisa langsung memanggil Rendra dengan sebutan “Abang”. Rendra hanya tersenyum. Ia tidak menjawab pertanyaan Yani yang menurutnya konyol. Rendra langsung meminta penjual perhiasan itu untuk membungkus cincin itu. Setelah cincin didapat. Rendra mengajak Yani kembali ke toko di mana tadi Yani memperhatikan sebuah baju dress yang tingginya selutut bermotif bunga-bunga sungguu sangat manis. Rendra tahu, Yani menyukai baju itu. Ia melihat bagaimana tadi Yani memandang baju itu dengan mata yang berbinar. Namun, Rendra ingin Yani meminta langsung. Nyatanya setelah berputar-putar dan kakinya sudah lelah Yani tak kunjung meminta apa pun. Itulah sebabnya, Rendra langsung saja membeli tanpa meminta pendapat Yani lagi. Kini, beberapa baju sudah Rendra beli. Perhiasan pun bukan hanya cincin yang Rendra beli untuk Yani. Ada sepasang anting yang beegitu amat cantik. Mereka pun pulang dengan membawa beberapa kantung belanjaan yang isinya pakaian untuk Yani. Iya, semua untuk Yani. Rendra tidak membeli satu barang pun untuk dirinya sendiri. Ia hanya ingin wanita itu bahagia, sesuai permintaan mendiang ibu Yani. Tak jua Rendra pungkiri. Meski sudah berusaha untuk tidak lagi menaruh rasa pada Yani, tetapi pesona dan kepolosan Yani terus saja menggetarkan hatinya. Ia tak kuasa menahan gejolak api asmara yang terus membara. Di perjalanan pulang. Tak ada kata-kata dari Rendra dan Yani. Mereka berjalan dengan khayalan masing-masing. Yani yang merasa bahagia, melangkah dengan penuh semangay. Tak sabar untuk segera tiba i rumah dan mencoba semua pakaian yang Rendra belikan. Sedangkan Rendra. Ia merasakan kegalauan hati yang tiada henti. Antara menjaga perasaan istrunya atau mengungkap yang sebenarnya. Ia merasa serba salah. Andai ia katakan pada Yani bahwa di kota sudah ada deorang wanita yang menunggu kepulangannya, pastilah Yani tidak akan mau menikah dengannya. Gadis itu akan hidup sendiri dan wasiat mendiang ibunya tidak akan terpenuhi. “Bang Rendra,” panggil Yani malu-malu. “Terima kadih untuk ini semua, Abang mau masuk dulu atau langsung pulang,” lanjut Yani. Mereka telah tiba tepat di depan rumah Yani. “Aku mau masuk dulu. Ada sedikit yang inginku bicarakan padamu, Yani.” Rendra menatap mata lentik Yani. Mata itu yang terus saja membuat degub jantung di dadanya bertalu-talu dengan keras. “Sebentar, aku buatkan minum dulu, Bang,” ucap Yani setelah Rendra duduk. Kini ia mencoba mebiasakan memanggil Rendra dengan sebuatn Abang. Bagaimana pun Rendra akan menjadi suaminya, tidak mungkin ia selalu memanggilnya dengan sebutan Bapak. Tak butuh waktu lama. Yani sudah membawa secangkir teh hangat dengan beberapa biskuit sebagai temannya. “Diminum dulu, Bang,” ucap Yani mempersilakan. Rendra meraih cangkir berisi teh hangat. Disesapnya teh itu. Lumayan, pikirnya. Teh itu bisa menghilangkan sedikit kegugupannya. “Yani, kau sudah siap dengan rencana kita, kan?” tany Rendra sambil meletakkan cangkir teh kembali ke atas meja. “Iya,” jawab yani singkat sambil mengangguk. “Setelah tujuh hari ibumu, kita langsung melakukan ijab qabul,” ucap Rendra menjelaskan. “Secepat itu?” Yani tak menyangka, Rendra akan merancakan pernikahan mereka dengan cepat. Rendra mengangguk kemudian bertanya, “Bagaimana, semalam arwah Dirman sudah tidak mengganggumu?” “Tidak. Tapi, aku tetap tidak bisa tidur. Di depan sana, ada bayangan orang persisi Dirman sedang bermain gitar dan seperti menyanyikan lagu,” jawab Yani menceritakan hal yang terjadi semalam. “Hm, itulah sebabnya aku ingin kita segera menikah. Agar kau tidak hidup seorang diri lagi, Yani.” Rendra berucap sangat perhatian. Yani yang mendengarnya merasa bahagia. Tak sabar ia ingin segera berstatus sebagai Nyonya Rendra.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD