Teror

1190 Words
Tubuh Yani makin menggigil, tak tahan rasanya ia menahan perasaan takut itu. Suasana malam yang biasanya ramai oleh suara gitar yang biasa Dirman dan kawan-kawannya mainkan kini bak ditelan bumi. Desa Yani mendadak sunyi senyap. Telinga Yani pun seakan semakin tajam mendengar suara-suara di luar rumah. Tubuhnya dibanjiri keringat, meski begitu ia enggan melepas selimut. Hanya wajahnya yang tampak, ia sengaja menutupi seluruh tubuhnya untuk mengurangi rasa takut. Meski demikian, rasa takutnya tidak juga berkurang sedikit pun. Semalam suntuk Yani terjaga sambil menahan perasaan takut. Matahari yang mulai muncul menyinari bumi membuat Yani sedikit lega. Rasa kantuk yang semalam pergi entah kemana kini mulai terasa. Yani pun memutuskan untuk tidur, tubuhnya begitu amat lelah. Di tokonya, Rendra pun merasakan hal yang sama. Semalaman ia tidak dapat terlelap barang sebentar saja. Bukan suara Dirman yang ia dengar, melainkan bayangan Ibu Yani terus saja berkelebat setiap ia hendak memejamkan mata. Rendra semakin merasa bersalah. Namun, ia pun tidak ingin meninggalkan Yani yang kini seorang diri. Setelah semalaman berpikir, Rendra memutuskan untuk segera menikahi Yani tanpa mengatakan statusnya. Rendra telah siap dengan pakaian rapi. Ia hendak mengajak Yani pergi ke pekan raya untuk mencari pakaian dan emas sebagai mas kawin mereka. Di ketuknya pintu rumah Yani yang tampak sepi. Yani yang baru saja masuk ke dalam alam mimpi membuka mata dengan perasaan yang kesal. Ia mengintip dari lubang dinding untuk melihat seseorang yang sedang mengetuk pintu rumahnya. Saat Yani melihat itu adalah Rendra, ia pun bangkit dan segera membuka pintu. "Baru bangun?" tanya Rendra ketika Yani membuka pintu. Yani tak menjawab, ia hanya mengangguk pelan. "Cepat mandi. Aku akan mengajakmu ke pekan raya," kata Rendra lagi. "Aku sedang lelah, Pak. Semalaman aku tidak tidur, Bapak pergi sendiri saja, ya," tolak Yani dengan lemas. "Kau masih memikirkan ibumu?" Rendra mencoba menebak penyebab Yani tidak bisa tidur. "Bukan. Semalam arwah Dirman menggangguku." "Apa?!" pekik Rendra, ia tak menyangka Yani akan mengatakan hal itu. "Iya, Pak. Karena itu aku tidak bisa tidur," sambung Yani meyakinkan Rendra. "Kau tidak sedang bermimpi, ‘kan?" Rendra tak yakin dengan yang Yani alami. Ia tidak begitu percaya dengan hal gaib. "Pak aku yakin. Bahkan aku melihat bayangannya dari celah-celah dinding." Yani berbicara sambil menunjuk dinding rumahnya yang berlubang-lubang. "Aku dengar, Dirman akan dimakamkan hari ini. Apa lebih baik kita datang dan mengikhlaskan apa yang sudah ia lakukan," ajak Rendra pada Yani. Ia pikir dengan begitu arwah Dirman tidak lagi mengganggu Yani. "Baiklah, aku mandi dulu baru setelah itu kita ke sana," sambut Yani kemudian. Ia pun merasa usulan Rendra ada benarnya. Rendra dan Yani berjalan menuju ke pemakaman umum. Setibanya di sana suasana tampak ramai. Meski mobil jenazah yang membawa Dirman belum tiba, tetapi pemakaman sudah di datangi banyak orang. Sayup-sayup Yani mendengar orang-orang di tempat itu yang sedang berbincang. Mereka sedang membahas Dirman, karena penasaran Yani berjalan lebih dekat di antara orang-orang itu. "Sudah mati saja masih saja mengganggu ...." ujar seorang ibu. Dari yang Yani dengar, semalam ia pun di ganggu oleh sosok bayangan yang mirip dengan Dirman. Tidak hanya dia, beberapa yang lain pun mengaku di ganggu oleh arwah Dirman. Mendengar itu semua Yani bergidik ngeri. Ia semakin yakin jika Dirman memang menjadi arwah penasaran. Sehingga ia mengganggu orang-orang di desa. Tak lama kemudian mobil jenazah datang. Beberapa petugas langsung membuka mobil dan menurunkan keranda yang bertutupkan kain berwarna hijau. Meski hari masih siang, tetapi langit gelap seperti senja akan segera tiba. Tetasan air dari langit pun satu persatu turun sangat kontras dengan angin Semilir yang bertiup menggoyang-goyangkan dedaunan. Yani hanya memperhatikan prosesi pemakaman dari jarak jauh. Ia enggan untuk mendekat. Berbeda dengan Rendra yang turut mengangkat keranda dan juga menguburkan jenazah Dirman. Akan tetapi, samar-samar di antara kerumunan orang-orang yang tengah sibuk menguburkan jenazah Dirman, Yani melihat sosok yang begitu mirip dengan Dirman bahkan nyaris sama. Seketika itu bulu kuduknya meremang. Ia ingin berlari, tetapi kakinya mendadak kaku dan enggan untuk melangkah. Yani semakin merasa takut. Di suasana yang dingin ia merasa kepanasan. Keringat mulai mengalir membasahi wajahnya. Meski sudah berusaha untuk mengalihkan pandangan, tetapi matanya lagi-lagi mengarah ke tempat di mana sesosok yang begitu mirip dengan Dirman berdiri. Prosesi pemakaman yang biasanya berlangsung sebentar kini terasa begitu amat lama. Entah apa penyebabnya, Yani tetap enggan mendekati liang kubur yang tertutup banyak orang. Masih dari kejauhan, Yani melihat jenazah Dirman yang sudah masuk ke dalam lubang di angkat kembali. Beberapa orang lelaki membawa cangkul dan ember masuk ke dalam lubang dan mulai menggali lagi. Rendra yang menyadari keberadaan Yani tidak terlihat mulai mencari-cari sosok wanita itu. Ia melihat Yani berdiri jauh dari lokasi penguburan Dirman. Dari kejauhan Rendra melihat wajah Yani yang pucat. Ia pun berlari mendekati. "Ada apa Yani?" tanya Rendra, ia menyentuh pipi Yani yang terlihat sayu. "Panas!" seru Rendra setelah menyentuh pipi Yani. "Kita pulang saja," ajak Rendra, ia khawatir pada kesehatan Yani yang memang belum sepenuhnya pulih. "Di sana ... Dirman," ucap Yani sambil jarinya menunjuk sesuatu. Rendra mengikuti arah jari Yani. Ia pun terperanjat melihat sosok yang mirip dengan Dirman. Tubuhnya mendadak merinding. Rendra yakin sosok itu bukanlah manusia. Akan tetapi, suasana pemakaman tiba-tiba menjadi riuh ketika seseorang pelayat berteriak histeris. Beberapa lelaki mencoba memeganginya sedangkan para wanita berhamburan takut melihat orang itu berteriak-teriak. "Kesurupan ... kesurupan!" histeris wanita-wanita itu berhamburan. "Yani, maafkan aku," ucap lelaki yang kesurupan tadi. Seorang Ustad yang mengatur jalannya proses pemakaman Dirman sibuk membaca doa. Tangannya memegang satu ibu jari Kaki lelaki yang sedang kesurupan itu. "Apa ada yang bernama Yani?" tanya Ustad tersebut. Rendra menarik tangan Yani untuk mendekat. Walau sesungguhnya Yani enggan, tetapi tarikan tangan Rendra begitu kuat. Ia pun mengikuti langkah Rendra yang semakin mendekat ke lelaki itu. "Maafkan aku Yani. Aku mohon maafkan aku." Lelaki yang sedang kesurupan itu terus saja meminta maaf pada Yani. "Dirman," lirih bibir Yani tiba-tiba memanggil lelaki tersebut dengan nama Dirman. "Aku sudah memaafkanmu, pergilah dengan tenang dan jangan pernah ganggu aku lagi.” Semua orang menatap pada Yani. Seiring dengan tubuh lelaki tersebut yang tiba-tiba saja melemas dan tidak sadarkan diri. Para lelaki memangkat lagi jenazah Dirman yang penguburannya sempat tertunda karena lubangnya tiba-tiba saja berair dan baunya busuk. Akan tetapi, air itu tiba-tiba hilang dengan sendirinya. Pemakaman Dirman pun dilanjutkan dan berjalan dengan lancar. Begitu juga dengan hati Yani. Ia merasa lega dan berharap malam ini arwah penasaran Dirman tidak muncul lagi mengganggunya. "Besok pagi, kita ke pekan raya. Bangunlah yang pagi aku tiba di sini, kau harus sudah mandi," ucap Rendra setibanya di depan rumah Yani. "Memangnya kita mau mencari apa, Pak?" tanya Yani yang penasaran. Tak biasanya Rendra mengajaknya. "Kita akan mencari baju untuk kau pakai di akad nikah dan emas kawin. Kau mau minta apa?" Ucapan dan pertanyaan Rendra membuat Yani kikuk. Ia salah tingkah dengan pertanyaan tentang mas kawin. "Yani, kau mau minta apa?" tanya Rendra lagi. "Terserah Bapak saja," jawab Yani sekenanya. Ia tidak ingin Rendra menganggapnya sebagai wanita yang matre. "Baiklah, besok kau pilih saja sendiri. Aku pulang dulu, ingat besok kau harus sudah siap," pesan Rendra, kemudian berjalan pulang. Entah mengapa, Yani merasa sikap Rendra sangat berubah. Padahal saat kemarin Rendra melamarnya, Rendra begitu amat lembut dan baik. Namun, sekarang Rendra sedikit ketus bahkan jarang sekali ia tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD