Pesan Terakhir

1189 Words
Rendra berlari ke dalam rumah Yani. Ia melihat Yani yang sedang menangisi ibunya. Rendra mencoba memeriksa ibunya Yani. Masih ada tanda kehidupan dari tubuh renta itu. Rendra meminta Yani untuk minggir dan mengangkat tubuh tua itu. "Pak, ibuku mau dibawa ke mana?" sergah Yani, ia menarik-narik baju Rendra yang sedang menggendong sang ibu. "Kita bawa ke balai pengobatan. Ibumu masih hidup!" ucap Rendra sambil berjalan cepat. Meski tubuhnya sendiri masih terasa sakit, tetapi ia berusaha dengan sekuat tenaga membawa ibunya Yani untuk segera mendapat pertolongan. Yani mengikuti langkah Rendra yang lebar-lebar. Di dalam hatinya sungguh sangat berharap, ibunya bisa di selamatkan. Melihat kondisi ibunya yang sangat lemah, Yani begitu sangat menyesal. Setibanya di balai pengobatan desa, beberapa perawat langsung menyediakan brankar. Rendra pun meletakkan tubuh ibunya Yani di atas brankar yang langsung didorong perawat masuk ke dalam ruang pemeriksaan. "Ini semua salahku," ucap Yani sambil terisak. Ia sungguh menyesal telah meninggalkan ibunya seorang diri. "Sabar, Yani. Kita berdoa saja ibumu bisa sembuh." Rendra menepuk-nepuk pundak Yani. Ia pun merasa tak enak hati dan merasa bersalah. Karena dialah Yani pergi meninggalkan ibunya seorang diri. Beberapa menit menunggu, seorang perawat keluar dan berbicara lantang, "Siapa yang bernama Rendra dan Yani?" "Aku Yani dan dia Rendra, Sus. Ada apa dengan ibuku?" tanya Yani sangat khawatir. "Masuklah!" pinta perawat itu pada Yani dan Rendra. Yani masuk tanpa menunggu persetujuan Rendra. Ia tak sabar lagi untuk melihat keadaan ibunya. "Ibu!" pekiknya kemudian menangis dan memeluk tubuh sang ibu yang tidak berdaya. "Di ma-mana Re-Rendra ...?" tanya ibunya Yani terbata-bata. "Aku di sini, Bu!" sahut Rendra cepat, ia berjalan mendekat ke tempat ibunya Yani terbaring. "Rendra, aku titip Yani padamu ... Ja—janjimu waktu itu ... Tepati!" Dengan terbata-bata ibunya Yani meminta Rendra menepati janjinya waktu itu. Janji yang ia katakan tanpa berpikir panjang, ia akan menikahi Yani dan menjaga Yani begitu katanya saat itu. Mendengar itu Rendra terdiam. Ia tahu betul bahwa kini ia sedang berada dalam kegalauan. Padahal, ia sudah memutuskan untuk membatalkan niat itu dan kembali pada istri sahnya di kota. Namun pada kenyataannya kini, ibunya Yani malah menagih janji itu. "Re—Rendra ja—jaga putriku ...." Samar-samar telinga Rendra mendengar ucapan terakhir dari mulut ibunya Yani sebelum akhirnya napasnya terhenti untuk selamanya. Yani menangis meraung-raung. Ia tak kuasa menahan rasa sakit kehilangan sang ibu. Di dalam hatinya pun terus menyalahi dirinya yang telah meninggalkan sang ibu seorang diri. Andai saja malam itu ia mau menuruti ucapan sang ibu, mungkin saja saat ini ia masih bisa bersama ibunya. *** Usai pemakaman sang ibu. Yani duduk termenung seorang diri di dalam kamar. Suasana di luar tampak mendung dan mulai menjatuhkan rintik-rintik air hujan. Sepertinya langit pun turut bersedih dengan apa yang sedang ia rasakan saat ini. Hingga akhirnya ia terkejut dengan suara ketukan pintu. Yani berjalan malas menuju pintu dan membukanya perlahan. Ia terbelalak melihat bahwa Rendra-lah yang datang. "Ada apa?" tanya Yani sedikit ketus. Ia memang merasa sedikit kesal pada Rendra karena ia yang terus saja menghalanginya untuk segera pulang saat masih di rumah Han. "Aku boleh masuk? Ada yang perlu kita bicarakan," ucap Rendra dengan wajah tertunduk. Ia tidak yakin Yani akan mau menerima kenyataan ini. Beberapa detik suasana hening. Tidak ada percakapan antara Yani dan Rendra. Rendra sendiri ingin jujur pada Yani bahwa ia sudah memiliki keluarga di kota. Namun, melihat wajah Yani yang murung Rendra membatalkan rencananya untuk jujur. "Yani, kau jelas dengar pesan terakhir ibumu?" tanya Rendra setelah ia memikirkan apa yang akan ia katakan. Yani mengangguk. Sekilas ia menatap wajah Rendra kemudian menunduk. "Bagaimana?" tanya Rendra lagi. Ia ingin memastikan jawaban Yani. Sebab sore itu Yani seperti ingin menolak lamarannya. Kali ini Rendra berharap Yani benar-benar menolak pinangannya. "Sesuai dengan pesan terakhir ibu. Aku setuju, Pak." Rendra benar-benar tak menduga dengan jawaban Yani. Ia merasa telah terjebak oleh ucapannya sendiri. "Ta—tapi ...." Ucapan Rendra terpotong ketika di jalanan beberapa orang berlari-lari. Rendra dan Yani pun berjalan ke luar rumah hendak melihat hal apa yang sedang terjadi. "Ada apa, Bu?" tanya Yani pada seorang ibu yang juga ikut berlari-lari. "Anu, mau lihat Dirman. Katanya dia tewas gantung diri." Serrr .... Tiba-tiba saja udara menjadi dingin. Rendra dan Yani saling memandang. Mereka tak menduga lelaki yang sudah mencelakai mereka berdua kini sudah tiada. Tanpa dikomandoi mereka melangkah menuju tempat lokasi Dirman tewas. Di sana, seorang pemuda yang terkenal bengal tergantung tak bernyawa. Sedang di bawah jasadnya para anak buahnya menangis histeris melihat ketua geng mereka telah tewas secara tragis. "Yani! Kau masih hidup?" pekik seseorang saat melihat kedatangan Yani dan Rendra. "Bos, kau telah salah mengambil langkah ini. Lihat Bos, Yani dan lelaki kota itu masih hidup," teriak salah satu teman Dirman. Ia terus saja menangis menyesali keputusan Dirman yang mengakhiri nyawanya sendiri. Beberapa petugas kepolisian datang dan mengamankan tempat terjadinya perkara. Kemudian jasad Dirman di bawa oleh tim medis. Hari itu, desa tampak begitu mencekam setelah kematian Dirman. Rendra dan Yani kembali pulang. Sedang di dalam hati Rendra terus saja bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi pada malam itu. Apa mungkin Yani telah di nodai oleh Dirman hingga membuat Dirman begitu menyesal dan akhirnya gantung diri? "Pulanglah Pak, hari hampir malam. Aku tidak ingin ada yang berpikir negatif pada kita," pinta Yani pada Rendra yang mengikutinya hendak pulang ke rumah. "Ta—tapi, masih ada yang ingin kutanyakan padamu Yani," jawab Rendra, kali ini ia makin serba salah. Ia takut Yani malah merasa sakit hati. "Tanya saja di sini, Pak," sambut Yani, ia tidak ingin berduaan saja di dalam rumah. "Ya—Yani ... maaf sebelumnya, kau jangan tersinggung. Malam itu, apa yang terjadi padamu dan Dirman?" Ragu-ragu Rendra bertanya. Ia takut Yani salah sangka. Sejenak Yani menatap wajah Rendra. Ia paham betul. Rendra pasti mengira bahwa malam itu berandal yang bernama Dirman itu telah menodainya. Yani menarik napas panjang sebelum akhirnya ia berkata, “Aku memang hampir dinodai oleh berandal itu, Pak. Namun, aku memilih menjatuhkan diri ke dalam jurang dari pada ternoda." Mendengar ucapan itu Rendra terdiam. Dari raut wajah Yani tampak ketidaksukaan hingga membuat Rendra enggan bertanya lagi. "Baiklah, kita bicarakan besok lagi. Kau pulanglah," ucap Rendra mempersilakan. Yani tersenyum tipis kemudian melangkah menjauhi Rendra yang masih berdiri menatapnya. Yani yakin, Rendra bahagia dengan persetujuannya. Meski Yani sendiri tidak tahu, perjanjian apa yang dikatakan Rendra pada ibunya hingga menjelang wafat ibunya menagih janji itu. Yang pasti, ia tahu Rendra ingin meminangnya menjadi istri. Malam kian larut, tetapi Rendra seperti enggan berpindah ke alam mimpi. Ia masih saja di bayang-bayangi rasa bersalah pada istrinya di kota. Ia pun tidak mempunyai nyali untuk mengatakan statusnya pada Yani. Belum lagi bayangan wajah Dirman yang menyeramkan terus saja menari-nari di ingatan. Begitu pun dengan Yani. Ia masih enggan untuk memejamkan mata. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Ia menahan rasa takut saat dengan jelas ia mendengar suara Dirman yang terus saja memanggil namanya. Ia sempat mengintip dari lubang dinding rumahnya yang terbuat dari anyaman bambu yang di belah-belah tipis. Di depan pintu rumahnya, ia melihat bayangan yang sangat mirip dengan Dirman sedang berdiri. Ingin rasanya Yani berteriak, tetapi rasa takut membuatnya bungkam dan meringkuk di atas tempat tidur. Yani berharap malam cepat berlalu dan mentari segera hadir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD