Menghilang

1552 Words
Sinar mentari pagi telah menyinari bumi. Burung-burung bersahut-sahutan membuat irama yang begitu merdu. Daun dan rerumputan masih basah oleh embun. Suasana pagi yang begitu syahdu. Desa Pantau yang di kelilingi bukit juga tanaman berwarna hijau membuat siapa saja yang memandang akan merasa bahagia. Udara segar dan tidak tercemar memang banyak disukai orang. Duduk sendirian di tepi ranjang, seorang ibu yang semalaman menangis memikirkan anak gadisnya yang hingga mentari menampakkan sinarnya tidak kunjung kembali. Sesekali ia mengelap hidungmya yang ikut mengeluarkan cairan akibat terlalu banyak menangis. Ia gelisah, suhu tubuh rentanya mendadak hangat serta rasa sakit di kakinya semakin menjadi. Untuk sekedar melangkah ke kamar mandi saja ia kesulitan. Ia terus saja memanggil-manggil nama anaknya—Yani. Semalam ia sudah melarang niat anaknya untuk mengikuti para berandal di desanya itu. Namun, Yani sang anak tetap memaksa untuk tetap pergi. Hingga ia tidak kuasa menahan anak gadisnya. Tanpa didampingi siapa pun, anaknya pergi. Entah mengapa, firasatnya sebagai seorang ibu terasa begitu tidak nyaman. Ia merasa Yani berada dalam bahaya. Ia hanya bisa diam menunggu kepulangan Yani yang hingga detik ini batang hidungnya pun tak terlihat. Perutnya yang meronta ingin segera diisi pun tidak ia hiraukan. Ia lebih memilih untuk merebahkan tubuh rentanya yang semakin tak berdaya. Di dalam gubuk sederhana milik Han, tercengang Rendra menatap wajah wanita yang diselamatkan oleh Han pagi ini. Lidahnya kelu melihat keadaan wanita itu yang penuh luka. Hatinya pun bertanya-tanya, apa yang telah terjadi? Rendra masih memilih untuk bungkam. Ia menunggu Han yang sedang fokus mengolesi daun binahong halus pada luka-luka wanita itu. Ia tidak ingin mengganggu. Apalagi dari bibir wanita tersebut terus saja mengeluarkan erangan-erangan menandakan ia sangat kesakitan. “Nak Rendra, minumlah air itu agar luka dalammu lekas pulih,” ucap Han seraya menunjuk gelas berisi rebusan air binahong. Rendra mengangguk dan meraih gelas tersebut. Ditenggaknya sampai habis air rebusan daun binahong yang terasa hangat itu. Kemudian Rendra menunggu Han kembali dari dapur. Ia ingin menayakan tentang wanita itu. “Apa rasanya pahit?” tanya Han sekembalinya dari dapur. Ia memilih duduk di atas tikar di antara Rendra dan si wanita berbaring. Rendra menggeleng sambil mengulum senyum di wajahnya. Sepertinya rasa tak percayanya terhadapa apa yang ia lihat saat ini tidak lebih pahit dari rebusan air binahong. “Pak Han, boleh aku bertanya sesuatu?” Ragu-ragu Rendra mengutarakan niatnya. Han yang sedang menyesap teh hangat segera mengangguk tanda setuju. “Bagaiamana Bapak bisa menemukan wanita itu?” tanya Rendra kemudian. Han pun menceritakan pada Rendra bagaimana ia menemukan wanita malang itu. Ia pun mengatakan bahwa pakaian wanita itu terkoyak. Entah apa yang terjadi padanya, tetapi Han menduga wanita itu terjatuh dari atas tebing. “Pak Han, se—sebenarnya ... aku mengenal wnaita itu,” ucap Rendra mengejutkan Han. Rendra pun menceritakan tragedi yang menimpanya di malam itu setelah pulang dari rumah Yani. “Ada kemungkinan orang yang sama yang sudah mencelakai dia, Nak,” balas Han setelah mendengar cerita dari Rendra. “Tapi, Pak. Apa mungkin mereka mau mencelakai wanita yang mereka sukai?” Rendra gamang, ia tak yakin Dirman sampai hati melukai Yani. Wanita yang pagi tadi di temukan Han. “Entahlah, kita tunggu saja sampai dia bangun.” Han menatap Yani yang tidak berdaya. Ia tak menyangka dua orang yang ia temukan saling berkaitan. “Bos kita cari saja Yani di bawah tebing itu. Mungkin saja ia masih hidup,” ucap teman Dirman yang semalam ikut menyaksikan tragedi naas itu. “Bed*h! Kau mau kita dipenjara?” Dirman memukul kepala temannya. Dari malam tadi hati Dirman dilanda rasa cemas. Ia menyesal sudah berbuat kasar terhadap Yani. Kumpulan pemuda berandal ini mendadak lesu. Mereka seakan kehilangan gairah. Hari-hari yang biasanya mereka lalui dengan memalak orang di pasar kemudian membelikan uang hasil palakan itu minuman haram seperti enggan mereka lakukan hal itu. Tidak ada suara gelak tawa orang yang sedang mabuk lagi. Mereka mendadak menjadi senyap seperti orang yang sedang sakit. Terutama Dirman. Ia terus saja terdiam dan enggan bicara. Bahkan, terkadang matanya terlihat merah dan diam-diam ia mengusap pipi yang dialiri air mata. “Apa yang sudah kulakukan semalam!” pekik Dirman, ia meremas rambutnya dengan kasar. “Bos, sabar!” Salah satu temannya menghampiri dan menepuk-nepuk pundak Dirman. Dirman pemuda yang terkenal nakal dan tidak takut apapun kini terguncang. Ia menangis sejadi-jadinya, meraung-raung bak anak kecil meminta mainan. Melihat itu semua temannya kalang kabut. Mereka tak pernah melihat Dirman begini sebelumnya. “Ambilkan air minum, cepat!” seru temannya pada teman yang lain. “Aku harus apa?” ucap Dirman di sela tangisannya. “Bos, sebaiknya kita mengaku saja. Kita cari Yani di bawah tebing itu, mungkin saja dia masih hidup,” ajak salah satu teman Dirman. Dirman terdiam. Ia memikirkan apa yang baru saja dikatakan temannya itu. Mungkin ada benarnya. Ia harus mengakui kesalahannya dan mencari Yani. Semalaman ia merasa ketakutan dan amat bersalah. Mungkin dengan cara itu ia bisa merasa tenang. Dirman bersama rombongannya berjalan menuju tempat Yani terjatuh semalam. Ia yakin, Yani pasti terjatuh di tempat itu. Namun setelah berkeliling, tidak mereka temukan tubuh Yani. Mereka hanya menemukan koyakan baju yang mereka duga milik Yani. “Mungkin sudah ada yang menyelamatkan Yani, Bos!” ujar teman Dirman. Dirman hanya terdiam. Hatinya makin sedih dan menduga-duga bahwa Yani sudah dimangsa binatang buas. Lagi pula, tempat itu jarang didatangi orang. Itulah sebabnya Dirman yakin bahwa Yani sudah dimangsa oleh macam dan sejenisnya. “Kita pulang!” seru Dirman. Suaranya terdengar sangat lemas. Ia tidak banyak bicara lagi. “Ibu ... Arghh,” erang Yani, ia mulai sadar dan memperhatikan sekitarnya. “Aku di mana?” tanyanya dalam hati. Han yang melihat Yani telah sadar pun mendekati. Kemudian ia berkata, “Kau sudah sadar, Nak? Apa kau haus?” “Kau si—siapa?” tanya Yani, terpancar dari matanya bahwa Yani merasa ketakutan. “Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu. Tadi pagi aku menemukanmu di bawah tebing,” ucap Han menjelaskan. Ia tidak ingin Yani merasa ketakutan. “Aku mau pulang. Ibuku pasti khawatir.” Yani berusaha bangkit dari tidurnya. Namun, matanya malah menagkap sosok Rendra yang juga sedang berbaring tak jauh darinya. “Pak Rendra!” pekik Yani. Ia tak menyangka telah menemukan sosok lelaki yang ia cari. “Aku menemukannya di tengah kebun korek dan tertutup dedaunan kering. Dia juga sedang terluka.” Tanpa menunggu Yani bertanya, Han menjelaskan bagaiamana Rendra juga ada di tempat itu. “Pantas para berandal itu menyibak-nyibak dedaunan,” desis Yani, wajahnya penuh amarah. “Sudahlah kau istirahat dulu. Nanti jika sudah lebih baik kau boleh pulang,” ucap Han memberi saran. “Tidak bisa, Pak. Ibuku pasti menunggu dan sangat khawatir,” tolak Yani, ia tetap bersikeras untuk pulang. Yani berusaha bangkit, meski tubuhnya terasa begitu sangat sakit. Namun, pandangannya tiba-tiba berputar-putar lama kelamaan menjadi gelap, Yani pun terjatuh. Ia pingsan. Han segera mengangkat tubuh Yani dan merebahkan lagi di atas ranjang. Mendengar suara benda jatuh Rendra terkejut dan terbangun. Ia melihat Han sedang memgangkat Yani dan membaringkannya di atas ranjang. “Ada apa, Pak? Apa dia sudah sadar?” tanya Rendra setelah Han meletakkan Yani. “Iya, dia memaksa untuk pulang. Namun, tubuhnya belum cukup kuat, akhirnya dia pingsan,” ucap Han menjelaskan. Rendra terdiam ia menatap iba pada Yani. Namun, walau begitu ia tidak berniat lagi untuk menjadikan Yani sebagai istri. Ia ingin segera sehat dan kembali pulang pada istrinya di kota. Rendra ingin meminta maaf karena hampir saja ia mengkhianati rumah tangganya. Tiga hari sudah berlalu. Yani tak kunjung kembali. Sang ibu pun semakin tak berdaya di atas kasurnya yang bahkan tidak empuk lagi. Tidak ada sedikit pun makanan yang mengisi lambungnya. Hanya air putih yang tersedia di kamarnya sebagai pelas dahaga itu pun sudah hampir habis. Ia terus saja menangis memikirkan putrinya yang tidak kunjung kembali. Tidak ada yang bisa ia mintai tolong. Rumahmya yang terletak cukup jauh dari rumah tetangga membuat orang jarang datang berkunjung. Ia benar-benar pasrah dengan hidupnya yang semakin sekarat. Doanya dalam hati hanya ingin bertemu Yani untuk terakhir kalinya. Di rumah Han, Yani yang sudah mulai sehat memaksa untuk kembali pulang. Meski Han dan Rendra meminta untuk menunggu rencana untuk menangkap Dirman, Yani tak peduli. “Cobalah mengerti Yani. Apa kau tidak ingin membalas perbuatan Dirman?” sergah Rendra pada Yani. “Ya, aku ingin membalasnya, Pak. Tapi, ibuku saat ini pasti sudah sangat khawatir. Aku tidak ingin terjadi apapun padanya,” tolak Yani. Ia tetap bersikeras untuk pulang hari itu juga. “Jika kau masih ingin di sini, silakan saja, Pak. Tetapi, aku akan tetap pulang. Ini keputusan mutlak,” ucap Yani lagi. Ia sangat yakin untuk pulang hari itu juga. Meski luka di tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Namun, kekhawatirannya pada sang ibu membuat ia tidak bisa lagi menunggu. “Baiklah. Aku akan ikut,” jawab Rendra kemudian. Ia tidak tega jika harus membiarkan Yani berjalan sendirian. Setelah berpamitan pada Han Yani dan Rendra berjalan pulang. Melewati rimbunnya pepohonan dan juga kebun-kebun sawi milik petani di desa itu, akhirnya mereka sampai. Hati Yani merasa lega ketika melihat gubuknya itu. Ia memperlebar langkahnya agar segera tiba. “Bu ... Bu, Yani pulang!” teriak Yani sembari masuk ke rumahnya. Melihat Yani telah sampai dengan selamat, Rendra merasa lega. Ia memutuskan untuk kembali pulang ke tokonya. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar teriakan histeris dari dalam rumah Yani. Rendra yang penasaran segera berlari menghampiri Yani yang menangis sesunggukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD