Malam Petaka

1349 Words
Yani memekik ketika tangan besar nan kasar memegang pundaknya. Sontak ia membalikkan tubuhnya mengadap si pemilik tangan. Seketika tubuh Yani mengigil. Ia tak menyangka aksinya membuntuti rombongan Dirman ternyata ketahuan. "Bos!" teriak seorang yang kini telah mencengkeram Yani. Dirman menengok ke tempat di mana Yani dan lelaki tadi berdiri. Yani meronta sekuat tenaga hendak melepaskan cengkeraman yang sangat kuat itu. Namun percuma, tenaganya tidak lebih kuat dari para berandal itu. "Wah, si bunga desa rupanya," ucap Dirman dengan tatapan penuh nafsu. "Lepas!" sergah Yani. Ia masih terus berusaha untuk bisa melepaskan diri. “Ck ... kau begitu liar saat berhadapan dengan kami. Tapi, dengan si lelaki kota itu, kau jadi penurut. Bahkan, kau rela membuntuti kami sampai tempat ini," sindir Dirman tepat di depan wajah Yani. "Kalian jahat! Di mana Rendra!?" Yani berteriak penuh emosi, ia seakan kehilangan rasa takut saat menayakan keberadaan Rendra. "Sabar. Kau lihat bukan, kami tidak bersama Rendra-mu itu." Dirman menghisap rokok yang telah menyala di sela jarinya. "Yani ... Yani. Bagaimana kau bisa mengira kami membawa kekasihmu itu? Tapi, tunggu! Atau jangan-jangan kau memang ingin menemuiku? Iya, kan?" lanjut Dirman, ia mengembus-embuskan asap rokok di depan wajah Yani. "Kalian semua! Malam ini kita akan pesta. Lihat, mangsa kita malam ini tidak perlu di buru, ia sudah datang sendiri," imbuh Dirman pada teman-temannya. Ia terbahak-bahak setelah mengatakan itu. Mereka kemudian berjalan mendekati Yani yang masih berada di dalam cengkeraman salah satu teman Dirman. Mereka tertawa-tawa hingga membuat nyali Yani menciut. Ia tidak bisa bergerak kemana pun. Lagi pula, lima orang lelaki tidak akan mampu ia lawan. Sekalipun satu, ia tidak akan bisa menang. "Tolong!" teriakan Yani menguar di kegelapan malam. Tak di sangka, niatnya untuk mencari Rendra malah berubah menjadi malam naas bagi Yani. *** Rendra tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan mata lalu memperhatikan sekitar. Ia mencoba mengingat-ingat kembali kejadian yang kemarin ia alami. Saat hendak kembali pulang usai dari rumah Yani, ia dihadang dan langsung dipukuli oleh rombongan pemuda desa. Perlahan-lahan ingatan Rendra kembali. Ia benar-benar ingat dengan wajah seseorang yang sempat memperingatinya kemarin untuk tidak mendekati Yani. "Dirman," desis Rendra mengingat nama pemuda berandal itu. "Kau sudah bangun, Nak?" tanya Han saat melihat Rendra. Rendra berusaha untuk bangkit, tetapi ia begitu merasakan tubuhnya amat sakit. "Sudah ... sudah. Jangan di paksakan. Tidur saja dulu, tubuhmu belum terlalu pulih." Han membantu Rendra untuk kembali berbaring. Pukulan demi pukulan yang dilakukan Dirman dan teman-temannya membuat tubuh Rendra remuk redam. Penuh memar berwarna biru kehitaman di tubuhnya. Bahkan, bukan hanya tubuh, tetapi wajah Rendra pun di penuhi luka lebam. "Kau boleh di sini sampai pulih. Aku akan mengobatimu dengan dedaunan herbal. Aku akan ke hutan di kaki bukit kemuning, sebelum aku pergi kau makanlah ini dulu," ucap Han sambil menyodorkan sendok berisi sup yang masih mengeluarkan asap. Perlahan Rendra membuka mulut dan menyesap sup itu. Han begitu amat telaten menyuapi Rendra yang saat ini hanya bisa berbaring. Meski ia bukan siapa-siapanya, tetapi Han mempunyai hati yang begitu amat peduli pada sesama apalagi yang sedang dalam kesulitan seperti Rendra. Mangkuk berisi sup telah bersih berpindah ke dalam lambung Rendra. Han kemudian berjalan ke dapur dan mengambil air hangat beserta handuk kecil. Ia hendak membersihkan tubuh Rendra. Rendra yang diperlakukan bak anak sendiri oleh Han begitu amat terharu. Hal itu membuatnya rindu pada sang ayah yang telah lama tiada. Bahkan, di detik-detik akhir sang ayah Rendra tidak bisa bertemu. "Aku akan membantumu untuk berganti baju, kau tahan sebentar kalau terasa sakit," ujar Han, ia hendak mengganti pakaian Rendra yang dikotori noda darah. Sesekali Rendra berdesis ketika lukanya tersentuh Han. Namun, di dalam hatinya begitu amat senang dengan perlakuan Han yang begitu sangat baik. "Kau istirahatlah lagi. Dengan begitu tubuhmu akan cepat pulih. Aku akan ke tepi hutan untuk mencari daun binahong. Daun itu sangat bermanfaat, bisa untuk mengobati luka-lukamu," kata Han sambil membereskan bekas air hangat dan handuk. Rendra terlihat sedikit segar. Ia sudah berganti pakaian milik Han. Kemudian ia mencoba untuk memejamkan mata lagi. Perlahan Han mengunci pintu rumahnya. Ia tidak ingin ada yang datang lantas mengganggu istirahat Rendra. Ia berjalan menuju hutan di kaki bukit kemuning. Di sekitar tempat tinggal mereka memang terdapat beberapa bukit sehingga membuat pemandangan alamnya begitu indah. Di hutan tersebut tumbuh dengan subur tanaman binahong. Tanaman ini dapat dibuat menjadi berbagai macam obat. Banyak orang menggunakan daunnya untuk mengobati luka agar cepat kering. Han langsung memetik beberapa lembar daun binahong. Ia tidak ingin pergi berlama-lama meninggalkan Rendra seorang diri. Entah mengapa, ia merasa sangat iba pada Rendra. Akan tetapi, saat sedang fokus memetik daun-daun binahong tersebut lirih telinga Han mendengar suara rintihan dari seseorang. Han menghentikan sejenak jemarinya dari memetik daun ajaib itu. Ia mendengarkan suara yang baru saja ia tangkap. Suara itu persis seperti seorang wanita yang mengerang menahan rasa sakit. Han mencari-cari sumber suara itu. Ia menajamkan telinga, sebab suara rintihan tersebut begitu amat lirih. Matanya membulat sempurna ketika ia melihat seorang wanita dengan pakaian compang camping. Dari kepalanya mengeluarkan darah. Dilihatnya lebih dekat wanita tersebut, memastikan dia masih hidup. Han melihat d**a wanita itu masih turun naik. Dengan cepat Han melepas kain sarung yang selalu terikat di pinggangnya. Ternyata, kain sarung ini berfungsi lain selain dari untuk melindungi tubuhnya dari hawa dingin. Han menutupi tubuh wanita itu dengan kain sarungnya. Ia tidak ingin mencari kesempatan di saat seperti ini. Kemudian Han mengangkat tubuh wanita itu dan membawanya pulang ke rumahnya. Di perjalanan ia terheran-heran sebab memikirkan hal yang terjadi beberapa hari ini. Entah memang sudah takdir atau kebetulan, Han membantu dua orang yang terluka. Sesampainya di rumah. Han masuk dan meletakkan tubuh wanita itu di sebuah kasur lusuh tidak jauh dari Rendra yang tertidur. Di tutupinya tubuh wanita itu dengan selimut yang lebih lebar lagi, kemudian ia pergi ke dapur untuk memasak beberapa lembar daun binahong. Beberapa lembar yang lain di tumbuknya menjadi halus. Han ke ruangan depan sambil membawa dua gelas air rebusan daun binahong dan satu mangkuk daun binahong halus. Daun binahong yang sudah halus akan ia olesi pada Luka Rendra dan wanita yang tadi ia temukan. Rendra masih tertidur pulas. Han enggan untuk membangunkannya. Ia pun mengoles daun binahong halus secara perlahan agar tidak membuat Rendra terbangun. Sesekali Han melirik pada wanita yang tadi ia temukan. Ia tidak berani untuk menggantikan wanita tersebut pakaian. Han pun memutuskan untuk meminta tolong pada tetangganya yang wanita untuk menggantikan baju wanita tersebut. Belum selesai Han mengolesi daun binahong halus pada luka Rendra. Ia akan melanjutkan nanti setelah menggantikan wanita itu pakaian. Han bergegas mendatangi salah satu rumah yang tak jauh dari rumahnya. Setiba di tempat tujuan, Han tidak banyak basa-basi. Ia segera menceritakan apa yang terjadi dan bagaimana ia menemukan kedua pemuda-pemudi tersebut. Han takut akan ada orang yang salah paham padanya. Meski awalnya Han mendapat tolakan, tetapi ia berhasil meyakinkan seorang ibu itu dan bergegas kembali pulang ke rumah. Tidur nyenyak Rendra terusik oleh suara erangan seseorang. Ia pun terbangun dan terkejut melihat seorang wanita terbaring tak berdaya. Rendra tidak dapat melihat wajah wanita tersebut karena wajah wanita itu menghadap ke lain arah. Akan tetapi, Rendra dapat mendengar jelas erangan dari bibir wanita itu. Entah mengapa, melihat si wanita Rendra teringat akan Yani, penyebab ia menjadi seperti ini. "Pak Han!" sapa Rendra ketika melihat Han muncul dari balik pintu. "Kau sudah bangun, Nak Rendra?" tanya Han lalu membantu Rendra yang hendak duduk. Rendra mengangguk lalu bertanya, "Siapa dia, Pak?" "Sama sepertimu, aku menemukannya di pinggir bukit kemuning," jawab Han. Ibu yang bersama Han tadi kini sedang sibuk menggantikan pakaian wanita yang ditemukan Han. Dengan di tutupi kain agar tidak terlihat. Maklum rumah Han hanya sepetak tidak ada kamar untuk sekedar berganti baju. "Sudah, Pak Han," ucap si ibu seusai menggantikan wanita itu dengan baju miliknya tang diminta Han sebelum mereka kembali. Han mengangguk dan berterima kasih. Ia pun mempersilakan ibu itu untuk kembali ke rumahnya. Han meraih mangkuk sebagai wadah daun binahong yang sudah ia haluskan. Ia kemudian mendekati wanita itu dan mengolesi daun binahong halus secara perlahan. Dari tempat Rendra duduk, ia memperhatikan sikap Han yang menurutnya begitu amat baik. Hatinya tersentuh. Namun, Rendra terkejut saat wajah wanita itu berbalik menghadapnya. "Dia!" pekik Rendra dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD