"Tolong ...!" desis Rendra sambil menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
Semalam ia berada di tengah rimbunnya pohon korek dan tertimbun dedaunan kering. Ia bersyukur masih diizinkan bernapas dan kini ia berharap ada seseorang yang datang membantu. Meski seperti sangat mustahil. Kebun ini rumputnya saja tinggi dan terlihat tidak terawat.
Perlahan-lahan mentari pagi menampakkan cahayanya. Rendra masih berada di bawah tumpukan dedaunan kering di tengah kebun korek. Ia hampir putus asa, untuk sekedar menggerakkan tubuh saja ia tak kuasa.
Di tengah-tengah kepasrahan Rendra, muncullah secercah harapan ketika ia mendengar langkah kaki yang mendekat. Lirih ia berkata, "Tolonggg ...."
"Siapa itu?" teriak seseorang yang mendengar rintihan Rendra.
"Apa iya hantu keliaran pagi-pagi. Hiii ...." gumam orang itu. Ia bergidik mengira suara tadi adalah makhluk halus.
"Tolong aku," rintih Rendra lagi. Ia terus berjuang agar seseorang tadi menemukan tubuhnya.
Seseorang itu mengedarkan pandangan ke segala arah. Wajahnya terlihat waspada meski tetap saja terlihat kalau ia sedang ketakutan.
Hingga akhirnya, matanya menangkap gundukan daun kering yang meninggi. Ia mendekati tumpukan tersebut. Kemudian menyibak sedikit dedaunan yang menutupi tubuh Rendra.
Benar saja, ketika dedaunan bergeser terlihatlah sepasang kaki dengan masih menggunakan sepatu. Orang tadi makin penasaran dan menyibak lebih banyak lagi. Kini, sosok Rendra yang terbujur tak berdaya terlihat sangat jelas.
"Ya Tuhan!" pekiknya melihat keadaan Rendra yang penuh luka. Bahkan di dekat bagian matanya berwarna biru kehitaman.
"Tolong, Pak," mohon Rendra saat mereka saling pandang.
"Kau masih hidup?" tanya orang itu. Perlahan-lahan di angkatnya kepala Rendra.
"Kau harus segera di obati. Sebentar." Orang tadi berlari. Ia hendak mengambil gerobak yang ia bawa untuk mencari rumput.
Rendra sangat bersyukur atas kedatangan bapak tadi. Ia yang sudah pasrah dan putus asa akhirnya kembali kuat. Rendra yakin ia akan selamat.
"Liat saja, aku akan balas perlakuan mereka!" bisik Rendra dalam hati. Ia masih sangat ingat dengan wajah-wajah orang yang telah menganiayanya. Bahkan, ia mengenal orang tersebut.
Tak lama kemudian, seseorang yang tadi datang kembali membawa gerobak. Ia menarik gerobak itu sendiri dengan susah payah.
"Apa kau masih bisa bangun?" tanya seseorang tadi pada Rendra.
Rendra menggeleng lemah. Untuk sekedar menggerakkan kepalanya saja ia seakan tidak mampu.
"Baiklah, aku akan mengangkatmu." Perlahan-lahan lelaki tadi mencoba mengangkat tubuh Rendra.
"Arghhh ...." pekik Rendra saat tubuhnya mulai terangkat.
"Apa sakit?" tanya lelaki itu dengan dahi mengernyit.
Rendra hanya mengangguk. Sungguh suaranya seakan tercekat di tenggorokan karena rasa sakit yang mendera tubuhnya.
Dengan hati-hati lelaki itu meletakkan tubuh Rendra di dalam gerobak yang sudah dialasi kain sarung. Sekilas Rendra menatap wajah lelaki itu dengan syahdu. Ia begitu amat berterima kasih atas pertolongan ini. Meski saat ini ia belum bisa mengatakannya langsung.
Lelaki itu mulai menarik gerobak, tentu secara perlahan. Ia tidak ingin Rendra merasa kesakitan. Hatinya merasa iba melihat keadaan Rendra yang mungkin hampir kehilangan nyawa.
Tak lama kemudian, tibalah mereka di sebuah rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Di sekelilingnya tumbuh subur bunga-bunga dengan bermacam-macam warna.
"Kita sampai, aku akan mengangkatmu lagi. Tahan sedikit jika kau merasa sakit," ucap lelaki itu penuh perhatian.
Rendra mengangguk, kali ini ia menyunggingkan sedikit senyum di wajahnya. Rendra meringis-ringis saat tubuhnya di angkat lelaki tadi.
"Tunggu, aku akan mengambil air hangat," ucap lelaki tadi setelah meletakkan Rendra di atas ranjang yang terbuat dari bambu.
Rendra mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan rumah lelaki tersebut. Meski tampak begitu sangat sederhana, tetapi rumah itu terlihat sangat bersih, nyaman dan sejuk.
Tak lama kemudian lelaki tadi muncul dengan mangkok besar di tangannya. Ia duduk di sebelah Rendra. Tangannya sibuk memeras-meras kain yang ia basahi dengan air di dalam mangkok.
Perlahan dan sangat hati-hati, lelaki tersebut membersihkan luka-luka yang ada di tubuh Rendra. Berkali-kali Rendra mendesis menahan rasa sakit luka yang sedang di bersihkan.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Nak?" tanya lelaki tersebut.
"A—aku dianiaya, Pak. Mereka sepertinya marah karena aku mendekati seorang wanita yang mereka suka ... Arghh!" Rendra memekik tak tahan menahan sakit.
"Baiklah, aku akan mengobatimu dulu. Setelah itu istirahatlah dulu. Nanti jika kau sudah lebih baik, kita akan bicarakan lagi," ucap lelaki tadi sambil mengolesi obat pada luka di tubuh Rendra.
Rendra pun terlelap setelah diobati dan diberi makan oleh lelaki yang mengaku bernama Han itu. Semalaman ia tidak tidur, berada di tengah pohon korek membuat tubuhnya yang penuh luka bertambah sakit karena binatang-binatang kecil yang sepertinya ingin ikut menyakiti Rendra.
Ia sempat merutuki nasibnya yang begitu malang. Bahkan, ia sempat berpikir jika ini adalah karma karena telah mengkhianati sang istri yang ia tinggal di kota. Rendra pun berpikir untuk membatalkan niatnya untuk memperistri Yani.
Matahari telah kembali ke peraduannya. Kini bulanlah yang memiliki tugas menyinari bumi. Bintang-bintang ikut andil mengiasi angkasa berkelap-kelip indah. Menatap langit malam dan mengagumi ciptaan Tuhan, hampir setiap malam Yani lakukan. Namun, malam ini hatinya resah dan gundah.
Seharian ia berkeliling mencari sosok lelaki yang sempat merekahkan senyum di wajahnya. Namun, tak ia temukan di mana pun. Berkali-kali ia menepis bayangan buruk yang menari-nari di kepala. Namun, bayangan itu selalu hadir lagi dan lagi seakan memberi isyarat bahwa memang itulah yang sedang terjadi.
Yani benar-benar merasa putus asa. Ia tak tahu harus mencari Rendra kemana lagi. Satu-satunya harapan adalah mengikuti rombongan Dirman malam ini. Walau risikonya sangat besar, tetapi Yani harus tetap melakukan itu. Ia yakin hanya itu cara agar bisa menemukan Rendra.
Malam kian larut. Yani berjalan perlahan menuju tempat berkumpulnya Dirman dan gerombolannya. Ia terpaksa melawan ucapan sang ibu kali ini. Meski telah di larang Yani tetap memaksa. Padahal Yani begitu enggan melihat air mata sang ibu tumpah. Namun, kali ini ia tak menghiraukannya.
Yani telah tiba di dekat gubuk Dirman. Terlihat teman-teman Dirman yang sedang berbincang. Di depan mereka botol minuman beralkohol berjejer. Sudah barang pasti, para lelaki pengangguran itu mencuri untuk bisa menikmati minuman memabukkan itu. Itulah salah satu alasan Yani menolak Dirman.
"Ayo, cabut!" ajak Dirman pada teman-temannya.
Yani bersembunyi melihat Dirman dan teman-temannya berjalan ke arah tempat ia berdiri. Hatinya berdetak kencang. Ia takut Dirman menyadari keberadaannya. Rombongan Dirman terus berjalan tanpa berbicara. Namun, Yani yakin mereka akan mendatangi Rendra.
Perlahan Yani membuntuti mereka. Dengan sangat hati-hati Yani berjalan agar tidak menimbulkan suara dan membuat Dirman curiga. Sudah lumayan jauh, tetapi mereka belum juga berhenti.
Hingga akhirnya tibalah mereka di tengah kebun korek milik salah satu warga. Kebun yang dibiarkan tanpa terurus ini memang begitu sangat rimbun.
Dirman menyibak-nyibak dedaunan kering yang menumpuk-numpuk. Hal itu membuat Yani bingung. Apa tujuan mereka menyibak dedaunan kering itu? Tanpa Yani sadari seseorang teman Dirman sudah berdiri tepat di belakangnya.