"Tidak ada masalah yang serius. Ini hal biasa yang terjadi pada ibu hamil ketika kelelahan. Aku sarankan untuk Ibu Qiara lebih banyak istirahat. Di trimester pertama memang tubuh ibu hamil sedang sangat lemah hingga memerlukan lebih banyak istirahat."
Rendra hanya mengangguk mendengar ucapan dari dokter. Namun, di dalam hatinya sungguh sangat terkejut mendengar kabar kehamilan Qiara.
"Ini resep obat dan vitamin yang bisa di tebus di apotek, ya, Pak." Dokter memberikan kertas bertuliskan nama-nama obat yang harus Rendra beli.
Setelah dokter itu berpamitan, Rendra meminta Mbok Darsih untuk menebus obat tersebut. Sedangkan Rendra sendiri tak sabar menunggu Qiara sadar dari pingsannya.
Beberapa jam berlalu, akhirnya Qiara mulai mengerjapkan matanya. Ia melihat Rendra yang tidur di sebelahnya dengan wajah yang mengarah pada Qiara. Ia tersenyum, tetapi ingatannya kembali pada talak yang sudah Rendra katakan tadi pagi.
“Apakah hanya dengan mengatakan cerai sudah jatuh talak?” tanyanya dalam hati. Ia tidak ingin bercerai dari Rendra.
Qiara menarik napas dalam. Ia berharap kejadian itu hanya mimpi belaka. Qiara pun mengedarkan pandangan ke seluruh kamar. Ia menangkap sebuah koper yang masih tergelatak di sudut kamar. Dan di meja tak jauh dari tempat tidurnya, terlihat sebuah bungkusan obat yang tergeletak. Alis Qiara mengernyit, di dalam hatinya timbul tanda tanya, "Obat siapa?"
Rendra yang menyadari Qiara telah duduk pun ikut bangun. Ia melihat wajah pucat Qiara yang sekan kebingungan sambil menatap ke arah obat yang ia letakkan di atas meja setelah Mbok Darsih membelikannya tadi.
"Itu obatmu," ucap Rendra memberi tahu Qiara. Sontak Qiara menatap Rendra sekaan bertanya ada apa?
"Kau hamil," ucap Rendra lagi. Kali ini Qiara benar-benar terkejut hingga bibirnya menganga dan matanya terbuka lebar.
"Anak siapa?" tanya Rendra dingin. Bagaikan petir di siang bolong, pertanyaan Rendra membuat hati Qiara yang belum sembuh terluka lagi.
"Maksudmu apa, Bang?" tanya Qiara dengan suara lemahnya.
"Tidak salah 'kan aku menanyakan anak siapa? Bukankah kau sangat dekat dengan Teddy, aku tidak percaya jika kau tidak pernah berhubungan dengannya," kata Rendra membuat air mata Qiara luruh tak tertahankan.
"Kau salah, Bang. Jelas kau sangat salah. Aku tidak serendah dirimu," balas Qiara, dengan susah payah ia menahan getar di dadanya.
"Qiara, saat aku di rumah saja kau berani mengenakan pakaian tipis untuk menemui Teddy. Lantas bagaimana saat aku tidak berada di rumah. Tidak ada kemungkinan kalian tidak melakukan apa pun," tuduh Rendra tanpa ampun.
Qiara menggeleng. Ia benar-benar tak habis pikir jika Rendra akan menganggap seperti ini.
"Maaf Qiara, aku meragukan jika bayi dalam kandunganmu itu adalah darah dagingku," lanjut Rendra, ia pun bangkit meninggalkan Qiara sendiri.
"Tunggu, Bang!" Qiara mencoba menghentikan langkah Rendra. Namun, seakan tuli Rendra tak mau menengoknya sedikit saja.
Qiara menangis histeris, ia mengusap perutnya yang rata.
"Aku tak pernah melakukannya dengan Teddy, Bang. Sungguh kau sudah salah menilai," gumam Qiara, ia bahagia saat mengetahui di dalam rahimnya tumbuh seorang bayi. Namun, dia pun sedih karena keraguan Rendra pada anak di dalam kandungannya.
Qiara pun bangkit dan hendak menemui Rendra. Ia ingin menjelaskan hal yang sebenarnya. Bahwa semua hanya sandiwara.
Qiara melihat Rendra yang duduk sambil menyadarkan kepalanya pada kursi. Ia menatap langit-langit ruang tamu, dari matanya terlihat air mata yang mengalir.
"Bang, aku ingin bicara," ucap Qiara mengejutkan Rendra.
"Ada apa lagi Qiara? Apa masih kurang puas Pembalasanmu padaku. Atau, kau ingin mengatakan bahwa anak dalam kandunganmu itu benar buah cinta kau dengan Teddy?" Rendra memberondong Qiara dengan berbagai tuduhan.
"Bang, apa yang aku dan Teddy lakukan hanya sandiwara. Kami tidak benar-benar dekat." Qiara mencoba menjelaskan pada Rendra.
"Sandiwara? Wah!" Rendra bertepuk tangan, ia tersenyum miris pada dirinya sendiri.
"Kalian hebat. Siapa bisa percaya jika kali ini juga kau sedang bersandiwara?" lagi-lagi Rendra memberikan tuduhan tak berbukti pada Qiara.
"Sungguh, Bang. Kali ini aku berkata jujur," bujuk Qiara, ia menyatukan kedua telapak tangnya. "Maafkan aku, Bang." Qiara terus memohon.
"Sudahlah Qiara. Aku sudah sangat muak dengan segala masalah dalam rumah tangga kita. Aku lelah, Qiara, sangattt lelah. Masalah selalu datang silih berganti, dan kau. Kau memperkeruh masalah itu," tunjuk Rendra pada Qiara.
Ia pun meninggalkan Qiara sendiri. Qiara terduduk lemas di lantai. Ia menyesali semua kebodohan yang telah ia lakukan bersama Teddy.
Seperti biasa, Erik yang belum mengerti dengan kehidupan orang dewasa selalu jadi penonton keributan antara kedua orang tuanya. Seperti kebetulan, ia selalu menyaksikan sikap ayahnya yang kasar. Hingga tertanamlah di dalam otaknya jika Rendra akar dari semua masalah dan selalu membuat ibunya menangis.
Mbok Darsih yang melihat Qiara pun datang mendekati, ia membantu Qiara untuk bangkit dan duduk ke atas kursi.
"Minumlah, Nya. Kasihan bayi di kandungan Nyonya," ucap Mbok Darsih memberikan segelas s**u hangat khusus untuk ibu hamil yang tadi ia beli di apotek.
"Mbok, carikan aku dukun. Aku ingin menghilangkan bayi ini," kata Qiara dengan sangat lemah.
Mbok Darsih yang mendengarnya terkejut. Ia meletakkan telapak tangannya tepat di bibirnya. "Nyonya bicara apa? Jangan begitu, Nya. Anak tidak mengerti masalah orang tua."
"Mbok, untuk apa aku pertahankan bayi ini jika ayahnya saja tidak mau mengakuinya," ucap Qiara, membuat Mbok Darsih makin terkejut tak menyangka.
"Aku ingin mati saja, Mbok." Tangis Qiara pecah. Ia menenggelamkan wajahnya di atas meja. Namun, bahunya terguncang karena menangis.
"Sabar, Nya. Jelaskan pelan-pelan pada Tuan." Mbok Darsih mengusap punggung Qiara.
"Aku sudah mencobanya, Mbok. Tapi, Bang Rendra tidak mau mendengar lagi," Qiara mengangkat wajahnya memandang Mbok Darsih.
Dari balik pintu, Erik menatap ibunya yang menangis dengan penuh amarah. Rasa bencinya terhadap Rendra selalu menebal ketika melihat ibunya yang menangis. Di dalam hatinya terus saja merutuki ayahnya yang telah berkhianat. Tanpa ia tahu, ibunya kini pun turut bersalah.
"Minumlah, Nyonya." Mbok Darsih menggeser gelas berisi s**u lebih dekat pada Qiara.
Perlahan Qiara meraih gelas berisi s**u tersebut dan menenggaknya sampai habis. Ia memang merasa haus yang berlebih.
Sejenak tak ada obrolan antara Qiara juga Mbok Darsih. Hanya sesekali suara isakan Qoara menggema di dalam rumah ruangan itu.
Qiara mengalihkan pandangannya pada tangga yang mengarah ke kamarnya bersama Rendra. Ia melihat Rendra yang menyeret kopernya berjalan menuju ke bawah. Dengan cepat Qiara berlari untuk menghalangi Rendra agar tidak pergi.
"Bang, aku mohon jangan tinggalkan aku." Qiara berlutut tepat di depan kaki Rendra.
Rendra langsung menghentikan langkahnya dan menatap pada Qiara.
"Bang ini anakmu. Aku berani bersumpah, Bang. Ini anakmu," ucap Qiara sambil memegang perutnya.
"Minggir Qiara. Aku ingin menenangkan pikiranku. Jadi biarkan aku pergi," ucap Rendra. Ia memang berniat untuk pergi dan menemui Yani di desa.
"Tidak, Bang. Jangan pergi, jangan tinggalkan aku," mohon Qiara, tetapi Rendra tak mau mendengarnya.
Rendra menepikan pegangan Qiara dari tubuhnya. Ia melanjutkan langkahnya yang hendak pergi. Namun, Qiara memegang koper Rendra dengan keras hingga saat Rendra menariknya maka tubuh Qiara ikut tertarik pula.
"Lepas, Pa!" pekik Erik lalu berhambur pada Qiara yang terserat koper Rendra.
Rendra pun berhenti.
"Ma, ayo bangun. Untuk apa menghalangi lelaki ini," ujar Erik membuat darah Rendra seakan mendidih.
"Kau semakin hari semakin kurang ajar. Ini yang kau dapat dari ajaran Teddy?" berang Rendra pada Erik yang semakin kurang ajar.
"Pa, buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Jadi, apa pun sikap Erik hari ini itulah hasil dari didikan Papa," ucap Erik, ia berbicara seakan telah sangat dewasa.
"Kau, sudah berani kau menjawab orang tua. Lihat Qiara ini hasil didikan kekasihmu itu," pekik Rendra pada Qiara yang menangis.
Rendra kembali menarik kopernya, melanjutkan langkahnya untuk pergi. Namun, lagi-lagi Qiara tak sadarkan diri. Suara jeritan dan tangisan Erik yang panik melihat ibunya pingsan membuat Rendra mau tak mau kembali dan mengangkat tubuh lemah Qiara.
"Apa Papa belum puas menyakiti, Mama? Sampai kapan, Pa? Sampai kapan Papa akan membuat Mama begini!" Erik menangis histeris sambil berbicara pada Rendra.
Rendra menekan pelipisnya. Ia benar-benar merasa kepalanya sakit seakan hendak pecah. Ucapan Erik memang benar, tetapi rasa sakit hatinya pada Qiara tak bisa untuk di tepikan. Ia tidak bisa menerima jika benar anak dalam kandungannya itu adalah benih Teddy.