Senja mulai bergelayut manja di ujung langit yang berwaran jingga. Rendra masih enggan untuk kembali ke rumahnya. Setelah semalaman ia tidur di kantornya dengan pikiran yang tak menentu. Rendra kini merasa yakin, bahwa ia akan menceraikan Qiara dan membiarkan wanita itu memilih kebahagiaannya sendiri.
Di rumah, Qiara yang menunggu kepulangan Rendra makin gelisah. Ia menyesal sudah membuat rencana dengan Teddy untuk memanas-manasi Rendra. Qiara terus duduk di kursi ruang tamu untuk menunggu kepulangan Rendra.
Suara bel dari pintu pagarnya berbunyi. Qiara bergegas berlari menuju pintu pagar. Namun, ia kecewa saat melihat seseorang yang datang bukanlah Rendra melainkan Teddy. Qiara tidak seantusias biasanya saat Teddy datang. Malah hatinya merasa kecewa karena bukan Rendra yang berada di depannya kini.
Qiara mempersilakan Teddy untuk masuk. "Ada perlu apa? Aku sudah katakan, sudahi saja rencana kita," ucap Qiara saat Teddy sudah berada di kamarnya.
"Qiara, aku minta maaf. Awalnya memang aku mau membantumu, tetapi semakin hari rasa cintaku padamu yang telah lama aku kubur kini bangkit kembali," ujar Teddy sambil menggenggam jemari Qiara.
"Tidak, Ted. Ini salah. Kau sudah punya istri dan anak. Aku pun tidak memiliki rasa apa pun denganmu. Kau tahu 'kan, aku melakukan ini hanya untuk membuat suamiku cemburu," jawab Qiara, ia melepas genggaman tangan Teddy.
"Qiara, apa yang kau pertahankan dari Rendra. Bukankah dia sudah sangat menyakiti hatimu?" Teddy mencoba mengingatkan Qiara tentang apa yang telah Rendra lakukan.
Hal itu membuat Qiara terdiam. Sejenak ia memang mengingat segala pengkhianatan yang telah Rendra lakukan. Apa lagi, hatinya semakin sakit saat ia sadar dirinya sudah berada di rumah sakit jiwa.
"Sadarlah Qiara. Rendra bukan lelaki yang baik untukmu. Jika saja ia memang menyayangimu, tidak mungkin ia tega meninggalkanmu di rumah sakit jiwa. Dan apa kau tahu, selama kau berada di rumah sakit, Rendra tidak bertemu dengan selingkuhannya itu?" Teddy semakin memanasi Qiara. Ia sudah bertekat untuk bisa merebut hati Qiara dari Rendra. Meski Teddy sendiri sudah memiliki keluarga.
Qiara terguncang mengingat beberapa tahun lalu. Teddy tidak melewatkan kesempatan itu, ia pun memeluk tubuh Qiara dan mengusap kepalanya dengan sangat lebut.
Di depan pintu, Rendra menatap Qiara juga Teddy yang berpelukan. Dadanya naik turun, menahan amarah yang telah di ubun-ubun.
"Jadi, ini yang kalian lakukan!" bentak Rendra membuat Qiara terperanjat.
"Qiara, aku tidak pernah menduga kau jadi begini. Aku memang hina, tapi apa kau juga harus menghina dirimu dengan melakukan ini?" murka Rendra sambil menunjuk wajah Qiara.
"Ini tidak seperti yang kau lihat, Bang. Sungguh aku tidak ada hubungan apa pun dengan Teddy," sahut Qiara dengan telapak tangan menyatu, memohon.
"Sudahlah Qiara. Hari ini kau kuceraikan!" pekik Rendra membuat Qiara membelalak sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Di samping Qiara, Teddy tersenyum puas. Ia yakin, setelah ini Qiara akan memohon padanya untuk dinikahi. Teddy yang menyimpan rasa sakit hati pada Qiara sengaja melakukan itu untuk membalas sakit hatinya dulu saat ia di tolak dan malah memilih Rendra. Kini, rencananya berhasil untuk menghancurkan rumah tangga Qiara.
"Bagus. Sekali mendayung dua tiga pulau terlewati," bisik Teddy di dalam hati. Ia sungguh bahagia mendengar ucapan talak dari bibir Rendra untuk Qiara.
Sungguh Teddy tak menyangka, pertemuannya dengan Qiara beberapa tahun lalu di sebuah rumah sakit jiwa membangkitkan kembali dendam yang masih bernanah. Rasa sakit hatinya pada Qiara yang menolaknya membuat Teddy mempunyai ambisi untuk membalas rasa sakit itu.
Mendengar penuturan Qiara tentang rumah tangganya, Teddy merasa ada peluang untuk bisa membuat rumah tangga yang telah retak itu menjadi hancur tak tersisa. Hingga akhirnya, dialah yang menyarankan pada Qiara untuk membuat pelajaran pada Rendra. Dan kali ini, Teddy tersenyum dengan sangat puas. Tak sabar untuk melihat wajah Qiara yang meminta dinikahi mendapat penolakan.
Setelah menalak Qiara, Rendra pun melangkah ke kamarnya. Teddy mencoba untuk menenangkan Qiara yang masih menangis tak percaya telah diceraikan oleh Rendra.
"Qiara, aku sudah bilang. Rendra itu lelaki pengecut. Sudahlah, jangan tangisi keputusannya," ucap Teddy menyarankan. Ia berharap Qiara semakin membenci lelaki yang baru saja menalaknya itu.
"Diamlah, Ted! Aku sudah bilang untuk tidak datang ke sini lagi." Dilaur dugaan Teddy, Qiara membentaknya dengan menyalahkan semua padanya.
"Pergilah! Jangan datang ke sini lagi, perjanjian kita telah usai," usir Qiara.
Mulut Teddy menganga, tak menyangka Qiara akan mengusirnya. Ia merasa lukanya yang masih bernanah tersiram air garam. Perih. Sejenak Teddy menatap Qiara dengan tajam, ia menahan tangannya yang telah mengepal kemudian melangkah pergi.
Di sudut lain, Erik selalu menjadi penonton para orang tuanya yang terus saja bersitegang. Bahkan, beberapa menit yang lalu ia melihat dan mendengar secara langsung ayahnya telah menceraikan ibunya.
Dengan sangat berang, Erik melangkah menuju kamar ayahnya yang berada di lantai atas. Tanpa uluk salam dan permisi ia menerobos masuk ke kamar itu.
Rendra yang sedang meratapi nasib rumah tangganya terkejut dengan kehadiran Erik yang tiba-tiba. Ia menatap anaknya itu dengan heran. Sedangkan Erik tampak wajahnya memerah dan rahangnya mengeras. Ia sangat marah.
"Papa, aku pikir Papa akan berubah." Erik melangkah lebih dekat pada Rendra yang kini berdiri dari duduknya.
"Maksudmu apa, Nak?" tanya Rendra heran.
"Kenapa Papa tega menceraikan Mama? Kenapa, Pa?" desak Erik, ia ingin mendapatkan alasan yang tepat. Erik memang sedang dalam masa pertumbuhan sehingga ia terus mencari jati dirinya.
"Kau belum mengerti, Nak. Suatu saat nanti kau pasti tahu." Rendra hendak mengusap pundak Erik. Namun, Erik menepis dan memiringkan tubuhnya.
"Aku sudah mengerti, Pa. Aku bukan lagi anak kecil yang akan menangis. Aku tahu apa yang telah Papa lakukan.” Erik semakin berang. Ia menuduh hal yang seharusnya belum ia mengerti.
"Aku sangat membenci Papa!" seru Erik dengan nada amarahnya. Ia lantas berlari keluar. Di depan pintu kamar, ia bertemu Qiara yang menatapnya dengan sendu. Namun, Erik tetap melanjutkan langkahnya.
Qiara perlahan masuk ke kamar. Ia ingin menjelaskan hal yang sebenarnya pada Rendra. Bahwa apa yang ia lakukan dengan Teddy hanya kepura-puraan belaka.
"Bang!" panggil Qiara, ragu-ragu ia mendekat pada Rendra. "Aku ingin menjelaskan sesuatu."
"Sudahlah Qiara, aku lelah, sungguh sangat lelah. Apa lagi yang ingin kau jelaskan. Bukankah kau sudah menang dan berhasil membalasku?" Rendra mengurut dahinya lalu mengacak rambut. Dari wajahnya terlihat ia sangat frustrasi.
"Bang, ini tidak seperti yang kau pikir. A-aku dan Teddy ... Kami tidak ada hubungan apa pun." Dengan wajah seakan memohon, Qiara mulai mencoba menjelaskan pada Rendra.
Rendra menarik napas dalam kemudian menghembuskan perlahan. Ia berharap rasa nyeri di kepalanya sedikit berkurang.
"Qiara, aku tahu kau begitu sakit hati padaku, tetapi bukan berarti kau membalas dengan cara ini. Aku sudah berusaha untukmu Qiara, sungguh kau begitu tidak menghargai aku sebagai suami," keluh Rendra, ia kembali menghempaskan tubuh lesunya di atas kursi di sudut kamar.
"Dengarkan dulu, Bang. Aku tidak bermaksud untuk ...."
"Cukup Qiara. Seperti yang kau katakan. Rumah tangga kita memang telah hancur. Sekuat apa pun aku ingin menyelamatkannya, sesuatu yang telah hancur memang sulit untuk di satukan kembali. Biarlah, kali ini semua kita selesaikan," ujar Rendra memotong ucapan Qiara.
Qiara benar-benar tak menyangka. Pada akhirnya ia harus benar-benar berpisah dengan Rendra, lelaki yang masih begitu sangat ia cintai. Qiara menyesal, telah melakukan itu pada Rendra.
"Tolong, Bang. Dengarkan sekali ini saja. Aku minta maaf ...." Ucapan Qiara berhenti ketika melihat kelima jari tangan Rendra membentang di depan wajahnya.
Mendadak napas Qiara sesak. Pandangannya gelap dan berputar-putar. Samar ia melihat Rendra yang memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Kemudian Rendra menarik koper itu melangkah pergi.
"Bang," lirih Qiara sebelum akhirnya tubuhnya benar-benar lemas dan tak sadarkan diri.
Rendra yang mendengar seperti benda jatuh pun sontak menengok pada Qiara. Ia terkejut melihat Qiara yang telah tergeletak di atas lantai tidak sadarkan diri. Rendra lantas berlari, ia menggoyangkan tubuh Qiara sambil menyentuh pipinya mencoba untuk menyadarkan istrinya kembali.
Tak ada respons. Qiara tetap tidak sadarkan diri. Rendra segera mengangkat tubuh tak berdaya Qiara ke atas tempat tidurnya. Ia bergegas menelepon seorang dokter dan meminta dokter tersebut untuk datang.
Mbok Darsih yang membuka pagar ikut terkejut ketika dokter datang. Ia bergegas mengantar dokter tersebut ke kamar majikannya.
"Ada apa dengan istriku, Dok?" tanya Rendra setelah dokter selesai memeriksa.