Biarlah Hilang

1368 Words
Sejak kejadian itu, Muni tidak lagi menanyakan keberadaan ayahnya. Tidak lagi menayakan, kapan Ayah pulang? Tidak lagi menyebut-nyebut perihal itu. Ia tidak ingin melihat ibunya yang sudah lelah bekerja harus menangis dengan ulahnya yang ingin bertemu sang Ayah. Muni tetap menjadi sosok yang pendiam. Ejekan dari teman-temannya pun belum juga usai. Namun, Muni tidak pernah mau menghiraukan itu. Di rumah ia hanya menyibukkan diri membantu ibunya bekerja. Hingga akhirnya dengan kerja keras Yani Muni lulus dari sekolah menengah pertama. “Muni, ini ibu sudah meminta baju seragam bekas anaknya Bu Patin. Sepertinya muat denganmu.” Yani memberikan baju seragam yang warnanya tidak lagi cerah. Muni meraih baju tersebut. Dibolak baliknya seragam putih abu-abu yang telah kusam karena terlalu sering dicuci. Kemudian Muni berkata,”Simpan saja, Bu. Muni tidak mau melanjutkan sekolah.” “Apa?! Kau bicara apa Muni? Kau harus sekolah, Nak.” Yani terkejut sekaligus sedih mendengar ucapan Muni. Yani sangat mengerti, anaknya itu pasti memikirkan biaya sekolah yang mahal. “Tidak, Bu. Muni mau bekerja saja membantu ibu. Muni tidak ingin sekolah lagi,” ucap Muni meyakinkan Yani lagi. “Kau tidak perlu memikirkan biayanya, Nak. Ibu akan mencarinya. Yang penting kau harus sekolah, agar bisa menjadi wanita yang pintar,” bujuk Yani, meski Muni tetap terlihat keras. “Muni sudah bisa membaca, sudah bisa berhitung. Kurang pintar apa lagi? Muni tidak ingin melihat ibu kelelahan bekerja hanya untuk Muni sekolah.” Muni menunduk dan meneteskan air mata. Di dalam hatinya, ia sudah yakin untuk tidak melanjutkan sekolah. Meski sesungguhnya ia ingin. “Bukan hanya bisa membaca dan menulis Muni. Ibu ingin kau bisa menjadi wanita yang hebat. Ibu ingin nasibmu berubah,” bujuk Yani lagi. Ia menggenggam tangan Muni. “Tidak, Bu.” Muni menatap wajah ibunya kemudian ia berkata lagi, “Muni akan bekerja. Muni ingin merubah hidup kita agar tidak selalu di hina. Jika Muni terus bersekolah, butuh waktu lama lagi untuk Muni bekerja.” “Kau mau kerja apa, Nak? Umurmu saja baru lima belas tahun,” ucap Yani, ia hampir menyerah. Yani tahu betul pendirian Muni sangat kuat. “Apa saja, Bu. Hari ini pun, Muni akan bekerja. Kemarin Ibu Patin meminta Muni untuk membersihkan kebunnya.” Muni mengusap air matanya. Ia tidak ingin membuat ibunya sedih. Yani hanya bisa diam melihat Muni yang berjalan menuju rumah Ibu Patin. Ia tidak bisa memaksa Muni karena memang hidup mereka yang kekurangan. “Lihatlah Bang, nasib anakmu.” Yani berbisik sambil terus menatap langkah Muni. Air matanya berderai mengingat Rendra yang tidak pernah kembali. Muni terus bekerja dari rumah ke rumah. Bahkan, ia tidak pernah bermain-main seperti anak remaja yang lain. Ketika di desanya di adakan perkumpulan pemuda-pemudi Muni tidak pernah di undang untuk berkumpul hanya karena menurut mereka Muni gadis yang aneh. Terkadang ada rasa ingin Muni untuk bisa bergabung bersama mereka. Namun ia sadar, bersama mereka hanya akan menuai sakit hati yang amat sakit. Mereka hanya akan menjadikan Muni hinaan dan cemoohan. Kehidupan yang begitu kejam membuat Muni terkucilkan. Semua itu Yani mengetahuinya. Namun, apalah daya. Ia pun tidak bisa memberi lebih kepada putrinya. Hanya sebuah penyesalan yang tersimpan di dalam d**a. Kenangannya bersama Rendra tidak pernah mati di dalam ingatan. Pun luka yang Rendra berikan padanya masih tetap basah dan tak kan pernah mengering. Melihat nasib anaknya yang nyatanya tidak jauh beda dengan dirinya dulu, begitu sangat menyakitkan. “Muni,” panggil Ibu Patin mendekati Muni yang sibuk membersihkan rumput di kebunya. Muni lantas menengok pada Bu Patin. Ia menepuk-nepuk kedua tangannya membersihkan tanah-tanah yang menempel. “Sini, ibu mau bicara padamu,” panggil Bu Patin, meminta Yani duduk di sebelahnya. “Ada apa, Bu?” tanya Yani kemudian duduk, ia sedikit menjaga jarak dari Bu Patin takut kekalau Ibu Patin terganggu dengan aroma keringatnya. “Muni, keponakan ibu sedang mencari orang untuk bekerja di rumahnya. Apa kau mau bekerja ke Jakarta?” tanya Bu Patin membuat Muni terkejut. “Jakarta? Kerja apa, Bu?” Muni tampak antusias. “Jadi pembantu rumah tangga. Tapi, tidak berat kerjanya. Keponakan ibu belum punya anak dan dia mempunyai usaha butik. Jadi, rumahnya sering ia tinggal. Nah, tugasmu hanya bersih-bersih dan menjaga rumah,” jelas Ibu Patin. “Gajinya lumayan loh, Muni. Kalau kau mau katakan dulu pada ibumu. Nanti Farhan yang akan mengantarmu ke Jakarta,” lanjutnya lagi. “Muni mau, Bu. Nanti sepulang bekerja Muni akan katakan pada ibu.” Muni begitu semangat, di dalam hantinya ini lah kesempatan untuk merubah nasih. Agar nanti tidak ada yang menghina ia mau pun ibunya. Hari ini, Muni bekerja dengan sangat semangat. Tak sabar rasanya ingin cepat pulang dan mengatakan hal ini pada Yani sang ibu yang juga sedang sibuk bekerja di rumah orang. “Setelah Muni bekerja, tidak akan Muni izinkan ibu menjadi pencuci baju lagi,” ucap Muni di dalam hati. Hari ini, pekerjaannya selesai dengan cepat. Ia berpamitan pada Ibu Patin dan bergegas pulang. Setiba di rumah, Muni sudah mencium aroma masakan yang menandakan Yani sudah kembali lebih dulu dan sudah memasak. “Hmmm wangi sekali, Bu. Ibu masak ikan?” tanya Muni yang langsung masuk ke dapur. “Iya, tadi kolam Pak Sur di kuras. Ikannya banyak sekali, ibu di kasih,” ucap Yani tersenyum menceritakan. “Cepat mandi dulu, setelah itu kita makan sama-sama,” perintah Yani pada Muni yang ia jawab dengan anggukan yang semangat. Beberapa ekor ikan lele sudah matang dan di hidangkan di piring. Tak lupa Yani membuat sambal sebagai teman makannya, juga beberapa lalapan sebagai pelengkap. Makanan yang mewah bagi Yani juga Muni. Mereka berdua menyantap makanan itu dengan sangat lahap. Sambil berbincang-bincang bercerita. Namun, Muni masih belum mengatakan ucapan Ibu Patin tadi. Ia ingin menunggu suasana yang lebih baik. Malam pun tiba. Muni duduk di kursi kayu di depan rumahnya. Hal yang sering ia lakukan sedari kecil. Menatap kerlap kerlip bintang di angkasa yang hitam. Meski ia tidak lagi menanyakan tentang ayahnya, tetapi di dalam hatinya masih tetap menunggu kepulangan sang Ayah. “Muni, kau memikirkan apa?” Yani datang menghampiri Muni sambil membawa dua gelas teh hangat. “Tidak ada, Bu. Hanya melihat bintang,” jawab Muni menutupi perasaan rindunya terhadap sang ayah. Muni meraih satu gelas teh hangat yang Yani bawa dan menyesapnya. Sejenak mereka terdiam. Sibuk dengan fikiran dan khayalan masing-masing. Yani yang tiba-tiba merasa getaran rindu menyergap hatinya. Ia mengingat lagi bagaimana dulu Rendra datang bak pangeran. Tak pernah Yani sangka, Rendra akan membohonginya. Sedangkan Muni. Ia sibuk merangkai kata di dalam hatinya. Ia rasa sekarang saat yang tepat untuk meminta izin pada ibunya tentang tawaran yang di berikan Ibu Patin. “Bu,” ucap Muni membuat Yani tersadar dari lamunan dan segera menengok kepada Muni. “Tadi saat bekerja. Ibu Patin menawari Muni untuk bekerja di rumah saudaranya,” ucap Muni dia sedikit gugup untuk mengatakan langsung. “Kerja apa, Nak?” tanya Yani. “Pembantu, Bu. Tetapi, kata Bu Patin kerjanya tidak berat. Hanya bersih-bersih dan menunggu rumah saja,” jelas Muni lagi. Yani terlihat mengela napas. Ia tidak ingin anaknya menjadi seorang pembantu, tetapi Yani tahu betul Muni anak yang kuat akan pendirian. Saat ia ingin sesuatu tidak akan bisa untuk ditolak lagi. “Dimana rumah saudara Ibu Patin, Nak?” tanya Yani kemudian, Yani ingin ia saja yang bekerja di sana. “Jakarta ....” “Apa!? Tidak! Ibu tidak setuju!” pekik Yani, ia tampak kesal mendengar nama kota Jakarta. “Tapi, Bu. Gaji yang di tawari sangat menguntungkan. Kita akan bisa merubah nasib. Ibu tidak perlu mencuci baju dari rumah ke rumah lagi,” ujar Muni sedikit memaksa. “Ibu tidak setuju, Muni. Jakarta kota yang jauh, apa kau tidak kasihan jika ibu tinggal seorang diri?” keluh Yani kemudian. Ia tidak sanggup jika harus jauh dari Muni. “Bu, doakan saja. Sejauh apa pun Muni pergi, Muni tetap dekat di hati ibu,” bujuk Muni lagi. Tekadnya sudah bulat. Malam berlalu begitu cepat. Perdebatan semalam dimenangkan oleh Muni yang tetap ingin bekerja meski telah dilarang. Yani begitu gelisah dengan niat putrinya yang akan bekerja ke Jakarta. Kota yang menelan Rendra hingga kini. Kota yang memisahkan Muni dengan ayahnya. “Tuhan, apa aku sanggup kehilangan Muni?” tanya Yani di dalam hati. Ia takut Muni pun akan pergi sama seperti Rendra. Tidak pernah kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD