Rahasia Tersimpan

1462 Words
Kini Muni telah pergi jauh meninggalkannya sendiri. Tiada lagi gadis cantiknya yang setiap malam ia usap-usap kepalanya. Muni tidak bisa di cegah untuk pergi ke Jakarta. Dengan sangat terpaksa Yani melepas putrinya mengadu nasib ke ibu kota. "Semua ini kesalahanmu, Bang. Lihat putri kita, dia harus membanting tulang hanya untuk hidup lebih layak," ucap Yani di dalam hati. Air matanya tiada henti menangisi kepergian putrinya. "Kau pembohong, Bang. Katamu, kau akan datang menemuiku. Tetapi lihat, hingga kini kau tidak pernah kembali. Isi suratmu bohong!" pekik Yani, ia meremas dadanya. Namun, tiba-tiba Yani teringat akan sesuatu. Ia bergegas bangkit dari tidurnya dan mencari sesuatu tersebut. Setelah membongkar semua isi di dalam lemari. Yani tidak menemukan apa yang ia cari. Hingga ia ingat, bahwa sesuatu tersebut disimpannya di dalam kantung tas yang Muni bawa. "Ya Tuhan. Bagaimana jika Muni sudah membacanya. Bagaimana jika Muni sudah melihat foto itu juga," bisik Yani di tengah kegelisahannya. Ia baru ingat, surat dan foto yang terakhir Rendra kirim telah tidak sengaja terbawa oleh Muni. *** Mentari pagi mulai menyinari desa Pantau. Yani yang semalaman gelisah segera berlari menuju rumah Ibu Patin. Ia ingin segera menghubungi putrinya. "Bu, apa Farhan sudah pulang dari mengantar Muni?" tanya Yani setibanya di rumah Ibu Patin. "Belum, Yani. Mungkin agak siangan. Baru saja sehari, kau sudah rindu pada Muni?" goda Ibu Patin pada Yani. Ia melihat kegelisahan di raut wajah Yani. Yani yang mendengar itu hanya tersenyum tipis. Ada rasa kecewa di hatinya mendengar Farhan anak Bu Patin yang mengantar Muni ke Jakarta belum kembali. "Kau pulang saja dulu, Yani. Nanti kalau Farhan sudah pulang akan aku minta ia ke rumahmu," ujar Bu Patin. Ia mencoba menenangkan Yani yang terlihat sangat gelisah. Yani mengangguk dan melangkah pergi. Kini rasa khawatirnya pun bertambah. Entah apa yang akan Muni katakan nanti. Ia akan tahu, jika ayahnya tidak sedang bekerja. Namun, sedang mengurus istri pertamanya di Jakarta. Ya, Jakarta—kota yang sama dengan Muni saat ini. *** Pagi-pagi sekali Muni sudah bangun. Ia mengerjakan pekerjaan rumah. Menyapu, mengepel dan yang lainnya. Tidak banyak yang ia kerjakan. Karena pemilik rumah pun tidak berada di rumah itu. Berkali-kali Muni menatap telepon rumah yang terpajang di meja ruang tamu. Ia pun menunggu telepon dari Farhan dan sudah pasti ia ingin segera bercerita pada ibunya. Ia ingin ibunya tidak lagi khawatir. Hidupnya di Jakarta tidak seperti yang Yani bayangkan. Predikat pembantu yang Yani bayangkan nyatanya tidak seburuk yang Yani pikir. Bahkan, di tempat itu Muni seperti nyonya dari pemilik rumah. Ia mengurus rumah dengan senang hati. Tiada yang mengatur harus ini dan itu. Yang penting ia merawat rumah dengan baik. Muni tersenyum mengingat nanti ibunya pasti akan bahagia jika mendengar ceritanya. Muni pun teringat dengan pemuda yang Luci bilang bernama Erik. Ia merasa ada rasa yang berbeda dengan pemuda itu. Muni berjalan menuju balkon. Ia ingin melihat pemuda itu, mungkin saja ia ada di jendela tempat biasa ia berdiri. Sepi. Tiada siapa pun di sana. Muni merasa kecewa. Namun, ia sadar hari masih sangat pagi. Mungkin saja ia belum bangun. Muni menghirup udara yang sejuk di atas balkon meski tak sesejuk udara di desanya. Namun, bisa mengobati rindu hatinya terhadap sang ibu. Ia merentangkan kedua tangannya lalu memejamkan mata. "Muni!" Panggilan seseorang membuat Muni terkejut. Ia segera memutar pandangannya ke belakang di mana suara itu berasal. "Cepat turun. Ada yang mencarimu," ucap seseorang itu yang ternyata Sony. Muni mengangguk. Namun, di dalam hati ia bertanya-tanya. Siapa yang mencarinya sepagi ini. Apakah Luci? Wanita itu memang sedikit aneh, tetapi Muni suka berteman dengannya. Baru satu kali mereka bertemu, tetapi Luci berbeda. Ia tidak merendahkan Muni seperti orang yang ada di desanya. Alangkah terkejutnya saat Muni tiba di bawah. Ternyata yang mencarinya bukanlah Luci. Melainkan pemuda pemilik senyum memikat di balik jendela. "Ka—kamu!?” ucap Muni terkejut. Ia merasa kikuk melihat lelaki tampan di depannya itu. "Kenalkan, aku Erik. Aku yang tinggal di rumah depan itu," ucap Erik sambil mengulurkan tangannya pada Muni. "I—iya aku tau. Tapi, kenapa kau datang pagi sekali?" tanya Muni yang heran melihat kedatangan Erik. "Hey, kau belum menyebutkan namamu. Siapa namamu?" ucap Erik membuat Muni semakin salah tingkah. "A-aku? Itu emmm namaku Muni," jawab Muni terbata. "Wah, Muni. Nama yang unik. Oh, iya, apa kau suka lari pagi. Aku datang ke sini untuk mengajakmu lari pagi," ucap Erik, ia tak sadar sikapnya membuat Muni benar-benar tak menentu. "Lari pagi?" Muni kebingungan dengan apa yang Erik ajak. "Ia, olah raga pagi." Erik mempraktikkan gerakan berlari di tempat. Muni tersenyum dan mengangguk. Entah keberanian dari mana, ia setuju untuk ikut dengan Erik. Akan tetapi, tanpa mereka sadari. Sepasang mata tengah memperhatikan kedekatan mereka dengan sangat tajam. "Aku akan mengajakmu berkeliling di komplek ini saja," ajak Erik pada Muni yang tersenyum malu-malu. Dalam waktu singkat, Muni dan Erik menjadi dekat. Erik yang terkenal dingin dam sering mengurung diri di dalam rumah tiba-tiba saja menjadi seorang pemuda yang humble dan periang. Begitu pula dengan Muni. Ia merasa di kota ini ia di perlakukan dengan layak. Sungguh berbeda dengan desanya, yang memperlakukannya dengan tidak baik. Ia dan ibunya sering menjadi buah bibir warga desa. Ada saja kesalahan yang mereka cari. "Kalau kau mau, besok pagi aku tunggu di sini, ya," pesan Erik pada Muni seusai berkeliling di komplek Permata Hijau. Komplek yang berisi orang-orang sederhana, tetapi tidak mau mengurusi masalah orang lain. Mereka akan membantu di saat tetangga kesulitan. Namun, mereka tidak ingin saling menghujat bahkan mengucilkan warga yang lain. Sungguh, bagi Muni ini tempat yang nyaman. Ia berpikir ingin sekali membawa ibunya tinggal di komplek ini. Muni masuk ke dalam rumah, tetapi tanpa sengaja ia bertemu Sony si tukang kebun di ambang pintu. "Baru sehari, kau sudah kecentilan," ucap Sony membuat Muni tersentak. Ia tak menyangka, Sony yang terlihat pendiam bicara begitu pedas. Sony berlalu meninggalkan Muni yang masih berdiri di ambang pintu. Sekilas Muni menoleh pada Sony kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke rumah. Ia hendak memasak. Di tengah asyik memasak di dapur tiba-tiba Muni mendengar suara Luci. "Muni, pagi tadi kau sama siapa?" goda Luci sambil mencubit lengan Muni. "Ih, apa sih, Kak Luci." Muni tertunduk menyembunyikan rona di pipinya. "Rupanya, kau sudah dekat dengannya?" goda Luci lagi. Sesungguhnya ia tidak menyangka jika Erik bisa menjadi pemuda yang waras. Selama ini, Erik terkenal mengalami sakit mental akibat kematian ibunya. Ia kerap mengurung diri di kamar. Sedangkan ayahnya jarang sekali berada di rumah. Bahkan, jika sang ayah berada di rumah Erik akan mengamuk dan para tetangga akan mendengar suara barang-barang yang pecah akibat dibanting. Entah masalah apa yang dialami keluarga Erik. Yang pasti sedari ia kecil keluarganya sudah tidak harmonis. Apalagi semenjak ibunya terkena gangguan mental. Erik semakin tak terurus, ia kerap di abaikan dan menyaksikan perkelahian antara ibu dan ayahnya. "Muni, kau orang baru di sini. Aku tahu kau pasti belum mengenal banyak orang. Tapi, ini adalah saranku. Jangan dekat-dekat dengan Erik. Dia itu terkena gangguan jiwa," ucap Luci, ia mencoba memperingati Muni. "Tapi, Kak. Erik orang yang baik tidak ada tanda-tanda dia gila," jawab Muni menyangkal apa yang Luci tuduhkan pada Erik. "Terserah kau sajalah, Muni. Yang penting aku sudah mengingatkan," ujar Luci, kemudian ia berpamitan untuk pulang. Usai masak Muni masuk ke kamarnya. Ia hendak melanjutkan melipat sisa pakaiannya di dalam tas ke dalam lemari. Satu persatu baju pemberian sang ibu ia keluarkan dan menyusunnya kembali ke dalam lemari. Tanpa Muni sadari, di dalam tas tersebut terdapat sebuah surat juga foto ayah ibunya. Muni masih terus mengeluarkan baju yang lainnya lagi. "Apa ini?" gumam Muni ketika merasakan ada sesuatu di dalam kantung kecil yang terdapat di dalam tas itu. Namun, saat Muni akan membuka kantung kecil di dalam tas, Ia mendengar suara telepon berdering. Diletakkannya kembali tasnya, ia berlari kecil menuju telepon. "Halo, Muni. Ini Farhan," ucap Farhan anak Ibu Patin dari sambungan telepon. "Kak Farhan. Ibu mana?" tanya Muni yang senang menerima telepon dari Farhan. "Halo, Nak." Kini suara panggilan telepon sudah beralih pada Yani. "Ibu baik-baik saja, kan?" tanya Muni, ia ingin memastikan bahwa Yani tidak selalu bersedih setelah kepergiannya. "Ibu baik, Muni. Kau bagaimana?" "Yani, baik, Bu. Sangat baik." Muni pun menceritakan keadaannya di Jakarta. Ia bercerita dengan sangat semangat, sengaja Muni melakukan itu agar ibunya tidak selalu bersedih karena memikirkannya. "Syukurlah, Nak." Kini Yani merasa yakin bahwa Muni belum menemukan surat yang ada di dalam tas. "Nak, kalau sudah punya uang, belikan pakaian yang bagus. Jangan pakai baju ibu lagi, ya," pesan yani sebelum sambungan telepon mereka sudahi. Muni pun meminta ibunya untuk mencatat nomor telepon rumah tempat ia bekerja, agar saat Yani merasa rindu ia bisa menghubungi Muni lewat WARTEL. Muni tidak ingin selalu merepotkan Farhan dengan selalu meminjam telepon genggamnya. Muni kembali ke kamar hendak melanjutkan aktivitasnya tadi. Ia kembali memegang tas hendak membuka kantung kecil yang ada di dalamnya. Kini Muni telah pergi jauh meninggalkannya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD