Pemuda di Balik Jendela

1034 Words
Muni merasa nyaman dengan perlakuan ramah dari Sinta. Ia masuk ke kamar dan membuka tas hendak menyusun pakaian ke dalam lemari. Melihat baju-baju itu, Muni teringat ibunya yang kini hidup sendirian di desa. Rasa rindu mulai menyerang hati Muni. Dipeluknya salah satu baju pemberian sang ibu. Ia sudah berpesan pada tetangga yang mengantarnya untuk segera menghubungi jika telah tiba di kampung. Tak sabar rasanya untuk mendengar suara dari sang ibu. Ia mengusap air mata yang sempat menetes ketika mendengar ketukan pintu. Muni berjalan dan membuka pintu. Dilihat wajah keibuan milik sang majikan—Sinta. "Ada apa, Nya?" tanya Muni pada Sinta. Ia masih sedikit canggung meski Sinta bersikap layaknya keluarga. "Aku akan pergi ke butik. Di kulkas sudah ada bahan makanan, kau masaklah kalau lapar. Ini jika kau ingin membeli sesuatu," jawab Sinta dengan ramah. Ia memberikan sedikit uang pada Muni. Muni mengangguk dan berterima kasih seraya tersenyum. Masih tak menyangka ia akan bertemu dengan seseorang yang sangat baik seperti Sinta. Sinta memiliki usaha butik bersama suaminya. Ia sering menginap di butik tersebut, hingga rumah itu sering kosong. Itulah sebabnya Sinta mencari orang untuk bekerja di rumahnya sekaligus agar rumah itu tidak selalu kosong. Sebenarnya saat siang hari ada Sony si tukang kebun. Namun, Sony sering sekali keluar malam. Ia seorang pemuda yang umurnya sudah hampir kepala empat. Setelah Sinta berlalu Muni kembali masuk ke kamar. Ia melanjutkan aktivitasnya menyusun pakaian di dalam lemari. Tidak pernah terbayangkan ia akan tinggal di rumah yang indah ini, walau sebagai pembantu sekalipun tak pernah ada dalam bayangannya. Muni hanya menyusun separuh pakaiannya. Sedangkan pakaian yang lain ia biarkan tetap di dalam tas dan langsung memasukkan ke dalam lemari. Muni tidak sabar untuk merebahkan diri di atas kasur yang terlihat sangat empuk. Awalnya, disentuhnya kasur itu perlahan. Terasa begitu sangat lembut. Kemudian Muni menekan-nekan kasur yang di atasnya dilapisi seprei berwarna biru muda. Ia tersenyum, sangat empuk. Saat di desa, ia dan ibunya hanya tidur beralasan kasur yang sangat tipis juga keras. Sungguh sangat berbeda jauh dengan yang saat ini ia lihat. Muni mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia menatap langit-langit kamar. Tergambarlah wajah sang ibu. "Andai Ayah tidak pernah pergi. Mungkin kita tidak akan berpisah, Bu," ucapnya berlinang air mata. Muni kemudian bangkit dan mengusap pipinya yang basah karena air mata. Di sini ia datang untuk bekerja. Ia tidak ingin mengecewakan orang yang sudah memberinya pekerjaan. Apa lagi, majikannya cukup baik padanya. Muni berjalan menuju dapur. Ia membuka benda kotak berpintu dan dingin. Yang tadi di sebut kulkas oleh sang majikan. Sesuatu yang tidak pernah ia miliki. Untuk pertama kalinya ia membuka benda itu. Muni melihat isinya ada berbagai macam makanan, buah dan minuman. Lagi-lagi Muni malah teringat akan ibunya di desa. Muni meraih sebotol air putih dan menuangnya ke dalam gelas. Sedari tiba di tempat ini ia belum menenggak air setetes pun. Dilihatnya di dalam kulkas, berbagai makanan yang tampak lezat dan belum pernah ia makan. Ragu-ragu Muni memotong sebuah kue cokelat bertabur kacang almond di atasnya. Muni sangat terharu, ia tidak menyangka akan memakan sesuatu yang hanya bisa ia lihat di toko-toko kue. Ia melihat sebuah tangga menuju balkon. Muni penasaran dan berjalan menaikinya. Saat tiba di atas, Muni lagi-lagi takjub di buatnya. Ia dapat melihat pemandangan yang indah dari tempat itu. Hingga tidak sengaja Muni melihat seorang pemuda yang juga sedang berdiri di balik jendela. Pemuda tersebut sedang memperhatikan Muni. Meski awalnya Muni mengabaikan dan terus saja melihat pemandangan dari atas, tetapi lagi-lagi pandangan Muni kembali pada pemuda di balik jendela tersebut. Muni merasa salah tingkah saat sekilas ia melihat si pemuda melempar senyum. Ada rasa getar yang aneh di hatinya ketika melihat lengkung manis dari bibir pemuda tersebut. Tersipu Muni kemudian berlari kembali ke lantai bawah. "Siapa pemuda itu?" tanyanya dalam hati. Muni gadis yang masih sangat polos. Selama di desa tidak ada seorang pemuda pun yang mau mendekatinya. Kemiskinan membuat Muni di asingkan dari perkumpulan pemuda-pemudi di desa tempat tinggalnya. Hingga di saat ia melihat pemuda di balik jendela tersebut membuat hatinya terasa bergetar aneh. Otaknya dipenuhi tanda tanya akan pemuda di balik jendela itu. Hingga mampu mengukir seutas senyum di wajah sendu Muni. Warna jingga di langit membuat senja semakin indah. Muni menatap langit di penghujung hari. Rasa rindu terhadap sang ibu menyesakkan d**a. Padahal belum genap satu hari Muni berada di ibu kota. Kota yang tidak pernah ia impikan kini malah ia pilih menjadi tempat mengadu nasib mencari nafkah. Semua pekerjaan rumah yang di perintahkan Sinta telah ia kerjakan. Muni pun sudah bersih dan menautkan dirinya di cermin. "Cantik sekali baju ibu ini. Dari sekian banyak baju yang ibu berikan Muni sangat menyukai ini," ucapnya dalam hati. Baju sederhana pemberian sang ibu itu pun memang mampu membuat Muni terlihat sangat menarik. Dengan menampilkan betis kencangnya yang berkulit putih bersih dan lekuk tubuh Muni tergambar indah dalam dress mini bermotif bunga mawar tersebut. Suasana rumah kini benar-benar terlihat sangat sepi. Sony si tukang kebun sudah pergi sedari sore. Muni berjalan-jalan menyusuri setiap sudut rumah yang baginya sangat mewah ini. Hingga tiba ia di kebun kecil di depan rumah sang majikan. Matanya tak sengaja refleks menengok ke jendela di mana ia saat tadi melihat seorang pemuda. Diam-diam hatinya begitu ingin melihat senyum manis si pemuda yang hanya terdiam di balik jendela tadi. "Kenapa tidak terlihat?" keluh Muni dalam hati. Resah hati Muni bergejolak menahan sebuah rasa yang ia pun tidak mengerti. Ia hanya ingin melihat lelaki tampan dengan senyum manis itu. Tak ia mungkiri, lelaki tersebut sudah mampu membuatnya sedikit lupa akan kesedihannya berpisah dengan sang ibu. Muni yang tak kunjung melihat sosok lelaki di balik jendela tadi melangkah menuju balkon. Barang kali setelah melihatnya berdiri di sana si lelaki terpancing dan mau melihat Muni lagi. Hanya satu yang ingin Muni tunggu, senyum manis si lelaki di balik jendela itu. Setiba di balkon tepat di mana siang tadi Muni berdiri ia memandang lurus ke jendela si pemuda. Tidak ada tanda-tanda seseorang dari situ. Bahkan kini Muni sadari jika ruangan itu gelap gulita tanpa cahaya. Pun ruangan lainnya di biarkan gelap tak berlampu. Muni yang sedari tadi tertegun memandangi rumah pemuda pemilik senyum manis memikat itu bergegas turun saat mendengar bel di tekan. Lari tergopoh-gopoh Muni agar segera bisa cepat membuka pintu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD