Luci

1017 Words
Muni tersenyum saat ia melihat wanita muda sambil menggendong anak kecil di depan pintu. Meski ia tidak mengenali wanita tersebut. Ia pikir wanita itu adalah tamu sang majikan. "Maaf, mau cari nyonya Sinta?" tanya Muni pada wanita tersebut. "Ah, enggak. Hanya ingin main dan berkenalan denganmu saja. Kau asisten baru di rumah ini?" ucap wanita tersebut sangat ramah. Muni mengangguk sambil tangannya mempersilakan wanita tadi untuk masuk. Wanita tersebut seolah sudah hafal dengan rumah itu. Hingga ia leluasa masuk ke dalam dapur membuka kulkas dan mengambil sekaleng minuman bersoda serta kue coklat bertabur kacang almond. Wanita tadi kembali duduk di samping putrinya yang lebih dulu ia letakkan di sofa empuk yang bahkan Muni sendiri tidak berani untuk menyentuhnya. Muni hanya diam memperhatikan wanita yang menurutnya lancang itu. Namun, ia pun tidak ada keberanian untuk menegur. Mengingat ia hanyalah pembantu di rumah itu. "Namaku Luci. Kau jangan heran melihatku begini. Aku sudah terbiasa keluar masuk rumah ini, aku dan Sinta bersahabat." Luci menjelaskan karena tatapan Muni melihatnya seakan ia adalah pencuri. Muni tersenyum tak enak hati. Walau begitu ia tetap berdiri memandang wanita dan anaknya itu melahap habis kue yang tadi baru ia cicipi sepotong. "Siapa namamu?" tanya Luci kesusahan karena mulutnya penuh dengan kue. "Muni." Singkat Muni menjawab. Sebenarnya ia kesal melihat tingkah Luci. Namun, mau tak mau ia tetap diam. "Kemarilah, duduk. Aku tahu kau akan kesepian. Karena itu aku datang," ujar Luci yang di tanggapi dengan senyuman oleh Muni. "Ah, lebih baik kau tak datang," bisik Muni dalam hati. Perlahan Muni duduk di sofa berwarna ungu dan lembut itu. Senyumnya mengembang saat ia sudah duduk dan merasakan empuknya sofa ungu milik Sinta si majikan. "Makanlah," tawar Luci memberikan kue cokelat. Lagi-lagi ia tahu Muni terlihat sangat ingin memakan kue itu pula. Perlahan rasa kesal terhadap Luci hilang setelah mereka berdua berbincang-bincang lalu tertawa. Muni mulai menyukai Luci yang menurutnya cukup menghibur. Luci menceritakan satu persatu orang yang ada di Komplek tempat tinggal mereka. Akan tetapi, ada satu orang yang begitu ingin Muni dengar. Namun, Luci tidak kunjung menceritakannya. "Em, Kak. Si—siapa pemuda yang tinggal di rumah depan itu?” Akhirnya Muni menanyakan perihal lelaki yang ia lihat tadi berdiri di balik jendela. Rasa penasaran dalam hatinya membuatnya inhin segera tahu. "Pemuda? Maksudmu Erik?" Alis Luci bertautan ia sedikit bingung atas pertanyaan Muni. Ragu-ragu Muni mengangguk, entah benar atau salah Erik adalah nama pemuda yang ia maksud. "Oh, dia. Erik lelaki yang tertutup. Kabarnya ia depresi setelah kematian ibunya yang mendadak," ucap Luci membuat Muni kaget. "Kau lihat. Walau ia ada di dalam, tetapi lampunya selalu mati. Ah, sayang sekali! Padahal ia lelaki yang tampan juga mapan. Namun, masalah orang tuanya sepertinya mempengaruhi hati lelaki itu," ucap Luci melanjutkan lagi kata-katanya mengenai Erik. "Ta—tapi Kak. Aku melihatnya seperti orang yang normal. Bahkan ia tersenyum padaku." Terbata Muni mengatakan itu semua. "Oh, ya. Kapan?" tanya Luci yang tampaknya terkejut mendengar ucapan Muni. "Bukankah kau baru datang siang tadi? Kapan kau bertemu dia?" tanya Luci lagi. "I—itu ... Sore tadi aku naik ke atas. Dari situlah aku melihatnya sedang berdiri di dekat jendela dan tersenyum," jelas Muni malu. Luci tertawa terbahak-bahak. Kemudian ia berkata, "Kau yakin ia tersenyum padamu? Dia itu sinting. Jangan kau lihat dari wajahnya yang tampan. Mungkin saja ia tersenyum pada dirinya sendiri." Luci kembali tertawa terpingkal-pingkal. Mendengar itu Muni menunduk. Wajahnya bersemu merah menahan malu. Dalam hatinya merutuki kebodohan yang baru saja ia lakukan. "Benar. Mungkin ia tertawa sendiri. Akulah yang terlalu percaya diri. Ah, lagi pula siapa yang akan terpesona melihatku?" bisik Muni di dalam hatinya. Meski begitu ada rasa nyeri di hatinya saat mengatakan itu. "Sudah malam. Aku pulang dulu. Rumahku di sebelah, jika aku tak sempat datang, kau mainlah ke rumahku. Jangan terus-terusan naik ke atas balkon. Kau bisa-bisa jatuh cinta pada lelaki gila itu." Luci kembali tertawa saat mengatakan Erik gila. Muni tersenyum kecut. Kemudian ia mengikuti langkah Luci menuju pintu. Ia masih memperhatikan punggung Luci yang menghilang di balik pagar. Saat hendak berbalik masuk ke dalam rumah refleks Muni menengadah ke arah jendela kamar si pemuda bernama Erik tersebut. Di kamar itu, sudah terlihat temaram lampu yang menyala. Meski tidak terang, tetapi setidaknya terlihat ada cahaya kehidupan dari kamar itu. Muni menangkap sosok yang membuat hatinya bergetar tadi siang. Ah, entah mengapa ada rasa bahagia saat melihat pemuda itu. Meski Luci mengatakan dia tidak waras, tetapi Muni meyakini Erik orang yang baik. Muni yang berniat masuk malah terus berdiri menatap netra pemuda yang sungguh tampan itu. Ia seakan enggan melepas tatapannya yang memikat hati, tajam menghunus dalam ke jantungnya. Tanpa Muni sadari ia malah tersenyum pada pemuda yang berdiri seakan sedang menatapnya dalam. Semakin rasa di dalam hati Muni bergejolak tak menentu. Bukan! Muni yakin ia tidak sedang berkahayal. Erik memang sedang memandangnya dengan lekat. Hingga kemudian lengkung indah di wajah Erik yang di nanti Muni muncul juga. Kali ini ia benar-benar yakin. Erik memang sedang tersenyum padanya bukan tersenyum sendiri seperti yang di katakan Luci. Muni menampik semua ucapan Luci tentang Erik yang terkena gangguan mental. Muni menunjuk ke dalam rumah kemudian mengangguk sambil terus menatap Erik. Ia seakan sedang meminta izin untuk ke dalam. Erik mengangguk kemudian tersenyum semakin membuat hati Muni berbunga-bunga. Wajah Muni masih tergambar senyuman, membuat ia terlihat makin cantik. Muni memnag gadis yang cantik dan berkulit putih. Hanya saja penampilannya yang sering membuatnya di jauhi. Kuno, itu yang banyak pemuda katakan ketika melihat Muni. Semua itu karena pakaian yang ia pakai adalah warisan dari sang ibu. Baju-baju semasa ibunya lajang dan belum menikah. Hanya beberapa pakaian yang Muni beli, selebihnya pemberian sang ibu. Pemuda jaman sekarang melihat wanita hanya dari fisik. Penampilan yang tidak modis langsung mereka anggap tidak cantik. Padahal, Muni begitu sangat cantik dan lembut. Ia begitu mirip dengan Yani sang ibu. Pada masa Yani lajang dan memakai pakaian yang kini Muni pakai, ia begitu amat di gemari lelaki. Yani adalah kembang desa pujaan banyak pria. Namun, ia melabuhkan hati pada lelaki kota yang telah beristri. Hal yang tidak pernah diketahui oleh Muni. Bahkan sosok ayah pun tak pernah ia lihat semenjak lahir ke dunia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD