Rahasia

1193 Words
Di desa, Yani yang kini hidup seorang diri tengah melamun memikirkan putrinya di perantauan. Ia juga merasakan rindu yang teramat sangat pada Muni. Tidak ada lagi gadis yang akan terus berceloteh menghibur. Sedih Yani memikirkan nasib anak gadisnya itu. Sedari kecil ia hidup tidak selayaknya anak-anak yang bebas bermain. Kemiskinan yang ia sandang membuat Muni kecil sering di sisihkan olah teman-temannya. Ada rasa sesal di hati Yani, mengingat kebodohan yang dulu ia lakukan. Ia berharap hidup lebih baik setelah menikahi lelaki dari kota. Namun, nyatanya ia malah di tinggal, parahnya kondisi Yani saat itu tengah mengandung. Masih teringat jelas di benak Yani. Saat itu, dua puluh tahun yang lalu. Lelaki dari kota Jakarta datang ke desanya untuk membuka sebuah cabang usaha yang sedang ia kelola. Namanya Rendra, seorang lelaki yang tampan berpenampilan rapi. Keramahannya membuat ia cepat di terima di desa tempat Yani tinggal. Belum lagi, ia sangat loyal kepada warga desa. Sikapnya itu membuat banyak gadis-gadis desa berebut ingin mendapatkan perhatian dari Rendra sang pemuda kota. Namun, terlihat jelas Rendra begitu menjaga hati. Ia tidak sama sekali mau menanggapi gadis-gadis yang terus saja mendekatinya dan menebar pesona. Hingga suatu hari, Rendra bertemu dengan Yani. Saat itu, ibunya Yani bekerja sebagai pembantu di tempat usaha Rendra. Ibunya yang sudah tua tidak kuat untuk bekerja lagi. Belum lagi penyakit yang ia derita semakin ganas menggerogoti tubuh ringkihnya. Oleh sebab itu, ia membawa Yani bertemu Rendra meminta agar Yani yang menggantikan posisinya sebagai pembantu. Rendra merasa jatuh cinta pada Yani saat pandangan pertama. Padahal selama ini ia menjaga hati mata dan nafsunya. Namun, melihat Yani hatinya bergetar hebat. Ia tidak bisa menahan gejolak rasa suka terhadap gadis desa yang sangat cantik itu. Ia menerima Yani bekerja. Semua itu hanya untuk bisa bertemu Yani setiap hari. Rendra belum berani untuk mengungkapkan rasa pada Yani. Ia tidak ingin mengecewakan seorang yang setiap bulan menanti kepulangannya. Wanita itu yang telah menemani Rendra selama tiga tahun. Seorang gadis yang ia nikahi tanpa restu orang tua. Rendra harus keluar dari rumah orang tuanya demi si wanita, tetapi kini hati Rendra malah terusik oleh pesona Yani si gadis desa. Yani tidak pernah bermimpi akan Rendra yang menyukainya. Ia bekerja dengan senang hati. Tak ingin mengecewakan Rendra, ia begitu rajin. Sikap Yani membuat hati Rendra makin tak menentu. Rendra tidak bisa lagi menahan rasa suka di hatinya untuk Yani. Ia memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya. “Yani, tunggu!” panggil Rendra ketika Yani hendak pulang. “Ada apa, Pak?” jawab Yani menoleh menatap Rendra yang tampak kebingungan. “Em ... anu, aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” ucap Rendra terbata. Yani menatap Rendra bingung. Ia masih berdiri menunggu apa gerangan yang ingin Rendra katakan. “Sebentar aku tutup toko dulu. Kita ke warung mie ayam Bu Santi.” Rendra berjalan menutup pintu toko. Ia ingin mengajak Yani makan agar suasana sedikit bersahabat. Yani yang bingung, ia tidak berani untuk menolak. Padahal ia harus segera pulang untuk memasak makan malam. Ibunya pasti sudah menunggu. Mereka berdua berjalan beriringan menuju warung Mie ayam yang letaknya tak jauh dari toko milik Rendra. Banyak orang memandang pada mereka berdua. Terutama para gadis di desa itu, mereka iri melihat kedekatan Yani dan Rendra. “Bu, mie ayamnya dua, ya!” pesan Rendra pada pedagang mie ayam setibanya di sana. Yani terbelalak, ia belum sempat bicara pada Rendra untuk tidak berlama-lama. Namun, kini Rendra malah sudah memesankan ia semangkuk mie ayam. “Mau minum apa?” tanya Rendra pada Yani. Suaranya begitu sangat lembut dan penuh kasih sayang. “A—air putih saja, Pak,” jawab Yani, ia masih merasa tak enak hati dengan pandangan orang di jalan tadi. “Es teh dua, ya, Bu!” pesan Rendra lagi pada si pedagang. Mata Yani membelalak, padahal tadi ia sudah meminta air putih. “Pak ....” ucap Yani menggantung. Rendra terdenyum tipis. Sekilas ia memandang wajah sejuk gadis yang kini bersamanya. Ia bahkan lupa akan janji pada sang istri. Kini Rendra malah akan merajut asmara dengan wanita desa bernama Yani. Tak lama kemudian. Dua mangkuk mie ayam dan dua gelas es teh sudah terhidang di meja. “Silakan,” ucap Rendra menggeser sedikit mangkuk mie ayam tepat di depan Yani. Menatap mie ayam yang aromanya lezat itu ia tak sampai hati untuk memakannya. Bagaimana bisa, ibunya di rumah pasti sedang lapar dan menunggu ia kembali pulang dan memasak makanan. “Ayo makan, mie itu tidak akan habis dengan hanya di pandangi saja,” goda Rendra pada Yani yang terdiam. Yani tersenyum tipis. Ia sangat ingin memakan mie itu, tetapi bayangan ibunya terus saja membuatnya tidak tega. “Kau sedang memikirkan apa, Yani?” tanya Rendra akhirnya. Ia tahu Yani sedang bingung dan memikirkan sesuatu. “Ah, tidak, Pak.” Yani berkilah kemudian tersenyum tipis terlihat sangat terpaksa. “Kau memikirkan ibumu di rumah?” tanya Rendra menebak hal yang sedang menari di dalam pikiran Yani. Yani menatap Rendra, ia mengangguk pelan. “Tenanglah Yani. Aku sudah mengirim semangkuk mie ayam pada ibumu lebih dulu,” ujar Rendra. Yani terkejut, ia tak menyangka dan bingung dengan apa yang sedang terjadi pada bosnya itu. “Sekarang kau makan.” Rendra kembali menunjuk mangkuk mie ayam yang masih penuh belum tersentuh oleh Yani. Kini Yani mengangguk. Ia mulai meraih botol saus dan menuang di atas gundukan mie di dalam mangkuk di depannya. Kemudian ditambahnya sedikit kecap juga sedikit sambal. Diaduk-aduknya mie tersebut hingga berubah warna menjadi merah. Perlahan-lahan Yani menyuap sesendok mie ke dalam mulutnya. Hingga suapan terakhir, mie itu akhirnya habis berpindah ke dalam lambung Yani. Begitu juga dengan Rendra yang telah dulu menghabiskan mie yang ia pesan. Kini hanya tersisa dua mangkuk kosong dan dua gelas kosong pula. Mereka telah kenyang. Namun, hati Rendra masih berdebar tak menentu. “Pak, sebenarnya apa yang ingin Bapak katakan tadi?” ucap Mumi menayakan niat awal Rendra tadi. Rendra menarik napas dalam kemudiam menunduk. Ia berkata, “Yani, a—aku me—me ....” Rendra ragu-ragu untuk mengungkapkan perasaannya itu. Melihat Rendra terbata membuat Yani semakin penasaran. Ia malah salah menyangka dari ucapan Rendra yang tak jelas itu. “Apa maksud Bapak ... Memecat? Bapak mau Memecatku?” lirih Yani berprasangka. “Bukan! Bukan itu, Yani,” sergah Rendra cepat. Ia tidak ingin ada kesalahpahaman. “Lantas, me-me apa, Pak?” tanya Yani makin tak sabar. “Me—me ... aku men-cintaimu Yani.” Dengan memejamkan mata akhirnya Rendra mengatakan hal itu juga. Yani yang terkejut tidak langsung merespon apa yang baru saja ia dengar dari bibir bosnya itu. Ia tidak sama sekali berpikir Rendra mengatakan itu dengan sungguh-sungguh. Padahal, dalam hati Rendra begitu sangat ingin Yani langsung menerima perasaannya. Tidak lama kemudian setelah beberapa detik mereka terdiam, Yani malah terpingkal-pingkal. Ia pikir Rendra sang bos tampannya itu sedang mengerjainya. Melihat sikap Yani, Rendra merasa bingung. Ia tidak menyangka Yani akan bersikap demikian. “Pak, becandanya gak lucu,” ujar Yani. Ia mengusap sudut matanya yang basah karena air mata. “Aku tidak becanda, Yani. Suer!” Rendra mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya. “Kalau memang Bapak serius, bicara langsung pada ibuku di rumah,” tantang Yani. Ia hanya iseng bicara begitu. Yani yakin bosnya sedang becanda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD