Muni kembali dengan nampan berisi dua gelas minuman dan juga makanan ringan. Erik tersenyum menyambut Muni, ia memperhatikan rona wajah Muni yang bersemu merah jambu.
"Tidak perlu repot-repot Muni," ucap Erik membuat Muni salah tingkah.
"Iya Muni. Buat apa kau ambilkan dia minum. Rumahnya hanya di depan sana, jika haus dia tinggal pulang saja," sahut Sony dari luar. Ia sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Erik juga Muni. Seakan ia adalah seorang mata-mata.
Erik hanya mendengus kesal. Ia kembali menatap Muni yang juga terlihat jengkel terhadap sikap Sony. Erik tidak ingin waktunya terganggu oleh Sony.
"Jangan didengar Muni. Dia memang begitu, iri melihat orang bahagia.” Ucapan Erik mengukir senyum di wajah Muni.
"Cih, iri? Aku bukan iri, tapi muak melihat sikap kalian berdua," sahut Sony lagi dari luar.
Muni bangkit dan berjalan menuju pintu. "Bang, tolong jangan ganggu kami. Di sini kami tidak sedang melakukan hal buruk," keluh Muni pada Sony.
Sony hanya diam. Ia tidak lagi menjawab apa pun yang di katakan Erik mau pun Muni di dalam. Namun, Sony tetap terus memperhatikan dua sejoli yang sedang di mabuk cinta itu.
"Hem, kau kemana saja? Kenapa aku tidak melihatmu dari kemarin?" tanya Muni pada Erik.
"Aku tidak kemana-mana Muni. Di rumahku sedang ada tamu, jadi aku tidak dapat pergi," jawab Erik berkilah. Ia tidak ingin mengatakan orang yang datang kemarin adalah ayahnya.
"Ayahmu?" tanya Muni. Erik pun terbelalak, ia tidak menyangka jika Muni tahu.
"Bu—bukan Muni. Hanya saudara jauh," jawab Erik berbohong. Belum saatnya ia menceritakan kisah hidupnya.
Muni mengangguk-angguk. Ia percaya dengan yang dikatakan Erik. Lagi pula, memang tidak ada keanehan dari Erik.
"Muni, berapa umurmu?" tanya Erik mencari topik pembicaraan yang lain.
"Delapan belas," jawab Muni singkat.
"Wah, masih sangat muda. Kenapa kau tidak sekolah?" tanya Erik lagi. Ia ingin tahu lebih banyak tentang Muni.
"Tidak ada biaya." Muni menjawab singkat sambil menunduk
"Ayah dan ibumu masih ada?" Erik bertanya bak wartawan yang sedang mencari informasi.
"Ibuku masih. Tetapi ...." Muni ragu-ragu untuk menceritakan soal ayahnya yang entah di mana keberadaannya. Hidup atau mati pun Muni tak tahu.
"Tetapi apa Muni?" Alis Erik bertautan mendengar ucapan Muni yang menggantung.
"Aku tidak tahu di mana ayahku berada.”
"Maksudmu?" Erik bingung dengan jawaban Muni.
"Iya, semenjak aku lahir. Aku hanya tinggal bersama ibu. Sedangkan ayahku, ibu bilang ia sedang bekerja di tempat yang sangat jauh. Hingga aku sampai di tempat ini ia tidak juga ada kabar," papar Muni. Wajahnya tampak begitu amat sedih mengingat kembali perasaan rindu yang ia pendam untuk sang ayah yang entah di mana rimbanya.
"Kasihan sekali. Berdoa saja, semoga ayahmu cepat pulang dan kau akan segera bertemu dengan ayahmu," kata Erik mencoba menenabgkan hati Muni.
Muni mengangguk sambil tersenyum. Ia merasa nyaman berada di dekat Erik. Muni yang tidak pernah mendapat kasih sayang dari sosok sang ayah langsung luluh dengan sikap Erik.
"Kau tahu Muni. Satu hari tidak bertemu denganmu membuatku hampir gila," ucap Erik membuat Muni sedikit terkejut.
"Entah mengapa, sejak awal kau datang aku selalu ingin menatapmu Muni. Kau berbeda," lanjut Erik lagi. Hal ini membuat wajah Muni semakin merona.
"Untuk pertama kali di dalam hidupku. Aku merasakan perasaan aneh ini. Aku tidak bisa untuk menahannya," tandas Erik.
Muni hanya terdiam. Gadis polos itu sedang sibuk dengan hatinya yang semakin berdebar mendengar ucapan Erik. Ia pun merasakan hal yang sama. Erik berbeda. Terutama cara Erik yang menghormati Muni. Itu yang membuatnya semakin terharu dengan sikap pemuda yang baru saja ia kenal itu.
Suasana hening. Erik dan Muni saling memandang dan menahan dentuman keras di dalam d**a yang bertalu-talu bak genderang yang siap berperang. Sungguh, dua anak manusia ini sedang di landa rasa yang bernama cinta.
"Muni, apa kau merasakan hal yang sama?" tanya Erik memecah keheningan di antara mereka.
Muni mengangguk. Ia seakan terhipnotis oleh pesona Erik.
"Sungguh Muni?" tanya Erik memastikan lagi.
"Iya Erik," jawab Muni menekankan.
Erik pun meraih tangan Muni dan mengarahkan ke bibirnya. Sambil mereka saling menatap menyalurkan rasa lewat mata.
"Tadi bilang tidak melakukan hal buruk, lalu ini apa!?" hardik Sony tiba-tiba membuat Erik melepas tangan Muni.
Erik dan Muni langsung mengalihkan pandangan kepada Sony yang berjalan ke arah dapur. Ia tampaknya memang sengaja ingin mengganggu Erik juga Muni.
"Kau tahu Muni. Ketika ada dua orang wanita dan pria sedang saling mengobrol dan ada orang ketiga biasanya namanya setan," ucap Erik dengan suara yang sengaja ia keraskan.
Muni yang menyadari Erik sedang menyindir Sony pun tertawa. Ia tahu Erik kesal pada Sony sebab Sony yang selalu ingin ikut campur.
"Ia terkadang setan memang diperlukan di tengah-tengah orang yang berpacaran, agar mereka tidak melakukan hal di luar batas." Sony yang mendengar ucapan Erik menyahut dari dapur. Lagi-lagi hal ini malah membuat Muni tertawa lucu.
"Sudahlah biarkan saja dia, bukankah setan memang harus kita abaikan saja. Anggap saja dia sedang iri dengan kebahagiaan kita," sindir Erik lagi. Ia sesungguhnya kesal dengan Sony, tetapi Erik terus menahan emosinya di depan Muni. Apa lagi ia melihat Muni yang tertawa menunjukkan wajah cantiknya.
Tak lama kemudian Sony pun muncul dari dapur. Sejenak ia menatap Erik juga Muni dengan sangat sinis. Kemudian ia pun berkata, "Jangan terlalu lama, atau kuadukan kau pada Bu Sinta."
"Kau mengancam?" protes Erik melihat Sony yang memang terkesan mengancam Muni.
"Aku tidak bicara denganmu!" Sony pun melangkah pergi. Meninggalkan Erik yang semakin emosi. Tangannya telah mengepal seakan siap melayangkan pukulan.
"Sudah, jangan dengarkan dia. Benar, kau jangan lama-lama di sini. Aku orang baru, takut jika ada yang melihat dan berpikir buruk," ucap Muni menenangkan Erik.
"Baiklah Muni. Aku pulang. Besok pagi kita bertemu di persimpangan, ya," pesan Erik, ia bangkit dari duduknya hendak pulang.
Muni mengangguk sambil tersenyum. Belum selesai apa yang mereka bahas tadi. Baru saja Muni akan mengungkap perasaan yang membuat matanya sulit untuk tidur. Namun, semua harus gagal karena Sony yang terus saja mengganggu.
Saat di depan pintu, Erik menatap sekilas pada Sony yang sedang berada di kebun kecil depan rumah. Baru kemudian ia melangkah pulang ke rumahnya yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat Muni.
Muni kembali masuk ke dalam rumah setelah mengantar Erik sampai di depan pintu. Ia membereskan gelas yang isinya saja baru berkurang sedikit.
"Muni!" panggil Luci yang tiba-tiba saja datang. "Kau bilang tadi hendak tidur. Kenapa, saat Erik datang kantukmu langsung hilang? Jadi, Erik lebih penting dariku?" cecar Luci dengan wajah masam.
"Bu—bukan begitu, Kak." Muni pun kebingungan untuk mencari alasan. Karena memang Eriklah yang ia tunggu.
"Baiklah aku minta maaf. Mari Kita mengobrol," tawar Muni, ia merasa tak enak pada Luci.
Tanpa menjawab Luci pun pergi. Ia berjalan dengan mengentakkan kakinya dengan sedikit keras. Muni pun merasa bersalah pada Luci. Ia tidak sama sekali ingin membuat Luci tersinggung. Sungguh hatinya tadi begitu kacau, tetapi setelah bertemu Erik ia menjadi lebih baik.
Muni pun berniat meminta maaf dan datang ke rumah Luci. Muni membuka kulkas dan mengambil beberapa potong kue untuk ia bawa.
"Kau mau ke mana?" tanya Erik melihat Muni yang berjalan ke luar.
"Aku mau main ke rumah Ka Luci sebentar," jawab Muni tanpa melihat Sony.
"Kau ini, sama gilanya dengan mereka. Erik dan Luci," gerutu Sony membuat Muni menghentikan langkahnya.
"Bang, kau ini selalu saja menghardik orang. Cobalah untuk berkaca," protes Muni. Wajah Sony pun terlihat memerah mendengar ucapan Muni.
Muni kembali melanjutkan langkahnya menuju rumah Luci yang berada di sebelah tempat tinggalnya. Ia membuka pagar rumah Luci yang tidak terkunci. Kemudian mengetuk pintunya sambil mengucapkan salam.