Kembali Hadir

1244 Words
Hujan yang semakin deras membuat malam ini semakin dingin. Muni mulai membereskan gelas yang kini telah kosong. Sinta dan Anton, sudah masuk ke kamarnya. Sony pun sama. Tinggal Muni yang memilih membereskan sisa-sisa remahan camilan yang terjatuh di lantai. Muni sangat ingin naik ke balkon dan menatap jendela kamar Erik dengan jelas. Namun, hujan yang deras mengalangi keinginan Muni. Ia pun hanya melihat jendela yang masih terbuka itu dari dalam rumah. Lampu kamar itu pun mati. Terlihat begitu sangat gelap. "Mungkinkah kau pergi dengan mobil tadi?" bisik Muni bertanya di dalam hati. Ia mencoba menerka Erik yang hingga kini tidak juga terlihat. Muni berjalan lemas ke dalam kamar. Ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Sesekali Muni menarik napas panjang. Hampir saja Muni menangis karena menahan rasa yang tidak ia mengerti dan belum pernah ia alami sebelumnya. "Apa ini yang namanya jatuh cinta, Bu?" gumam Muni. Ia seakan sedang mengadu pada ibunya. * Dari ufuk timur terlihat mentari mulai muncul. Semalam hujan yang sangat deras tidak menyurutkan matahari untuk tetap menyinari bumi. Rasa dingin sisa hujan semalam pun masih sangat terasa. Muni telah berdiri di balkon setelah semalaman menahan hati yang gelisah. Lama ia berdiri sambil menatap jendela kamar Erik. Namun, pemuda dengan senyum manis itu tidak juga terlihat. Hal ini membuat hati Muni semakin kecewa dan putus asa. Haruskah secepat ini ia menghapus perasaan yang baru saja mulai tumbuh? "Muni ... Muni! Kau ini, selalu saja di sini. Kenapa, kau rindu pada si gila itu?" Sony datang tiba-tiba membuat Muni terkejut. Ucapan Sony selalu mampu membuat Muni tersinggung. "Bang Sony. Bisa tidak, kau tidak mengganggu atau ikut campur urusanku!" keluh Muni yang semakin kesal dengan sikap Sony. Sony tertawa, "Tidak perlu terlalu percaya diri, Muni. Siapa yang ikut campur dengan urusanmu? Aku hanya mengingatkan," terang Sony sambil melangkah turun. Muni mengentakkan kakinya. Ia melipat tangannya ke d**a. Kemudian mengikuti langkah Sony yang turun. Setibanya di bawah. Muni melihat Sinta sedang menyiapkan makanan di dapur. Sinta hendak memasak. "Bu, biar Muni saja," ucap Muni meminta pada Sinta. "Tidak apa, Muni. Ibu hanya menyiapkan sarapan untuk Pak Anton. Dia kalau pagi harus makan begini," tolak Sinta dengan lembut. Sedang tangannya sibuk memotong-motong sayuran. Walau begitu Muni tetap membantu Sinta di dapur. Ia merasa bersalah karena terlalu asyik memandang jendela kamar Erik dari balkon. Tugas yang seharusnya ia kerjakan malah dikerjakan sang majikan. Muni sudah selesai mengerjakan tugas rumahnya. Rumah itu telah tampak rapi kembali. Muni memilih duduk di sofa sambil membaca majalah yang dibawa Sinta. Ia sengaja memberikan Muni majalah untuk hiburan Muni. "Muni, ibu dan bapak akan kembali ke butik," pamit Sinta yang sudah berpakaian dengan rapi. Terlihat sangat anggun dan cantik. "Iya Bu," jawab Muni mengangguk. "Ini, untukmu jika ada keperluan mendadak," Sinta menyerahkan beberapa lembar uang berwarna Merah pada Muni. "Tidak usah, Bu. Yang kemarin ibu kasih saja masih. Lagi pula Muni makan dan apa pun keperluan sudah tersedia," tolak Muni. Ia khawatir gajinya nanti akan terpotong. "Benar begitu?" tanya Sinta memastikan. Muni mengangguk tersenyum. Kemudian mengantar majikannya itu sampai ke pintu. Rumah kembali sepi. Muni begitu merasa rindu pada ibunya juga dengan Erik. Hingga saat ini Erik pun tidak terlihat lagi. Muni yang lelah memutuskan masuk ke kamar hendak beristirahat. Namun, baru saja ia merebahkan tubuhnya. Pintu kamarnya diketuk seseorang dari luar. Ia bangkit dan membuka pintu itu, walau sesungguhnya ia malas. "Muni, kau mau tidur?" tanya seseorang yang ternyata Luci. "Iya." Muni menjawab singkat. Ia sesungguhnya malas untuk meladeni sikap Luci yang sudah pasti aneh. "Yah, padahal aku ingin mengobrol denganmu Muni," ucap Luci menyayangkan. "Tapi, aku lelah Kak. Aku ingin istirahat," jawab Muni, ia terus berkilah agar Luci segera pulang. "Hem baiklah, kau akan bangun jam berapa? Nanti aku datang lagi," ucapnya seakan begitu harus untuk datang. "Entah. Aku ingin tidur, Kak. Lagi pula pekerjaan rumah sudah kukerjakan. Mungkin sampai siang aku akan tidur," jawab Muni dengan sangat malas. Ia benar-benar enggan meladeni Luci. Luci pun pulang dengan kecewa. Namun, Muni merasa lega. Muni ingin menyendiri di dalam kamarnya. Namun, sepuluh menit berlalu pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang lagi. Muni berdecak kesal. Ia diam tak menjawab ketukan tersebut agar dikira sedang tidur. Namun, ketukan itu semakin keras memekakkan telinga. Akhirnya Muni bangkit dan membuka pintu. "Kau ini tuli?!" hardik Sony saat pintu telah Muni buka. "Aku tidur, Bang," jawab Muni membela diri. "Halah. Kau ini memang sengaja. Cepat keluar, kekasihmu datang," ucap Sony dengan nada yang kesal. Mendengar ucapan Sony, hati Muni berdebar. Ia yakin kekasih yang Sony katakan itu adalah Erik. Muni pun bergegas melangkah keluar untuk langsung bertemu dengan seseorang itu. * Pagi yang cerah tidak mampu menghapus luka yang sudah terlanjur mengoreng di hati Erik. Ia membuka matanya berharap tidak berada di dunia lagi. Namun, semua seakan mustahil. Matanya menyusuri setiap sudut ruang kamarnya sendiri. Hingga pandangannya berhenti tepat di jendala kamarnya yang masih terbuka. Bahkan, tirainya pun basah terkena air hujan semalam. Erik pun teringat akan Muni yang sedari kemarin belum ia temui. Entah gadis itu mau memaafkannya atau tidak. Erik pun gelisah. Ia takut, Muni akan berpikiran buruk terhadap dirinya. Erik bangkit dari tidurnya. Ia berjalan menuju jendela kamarnya dan menatap ke bawah. Mobil milik majikan Muni masih terparkir di depan rumahnya. Artinya Sinta belum pergi. Erik pun memutuskan untuk menyegarkan tubuhnya dan makan. Lambungnya terasa perih akibat beberapa obat penenang yang ia telan kemarin. Beruntung Erik tidak mengalami over dosis. Setelah mandi Erik tampak lebih segar. Ia turun ke bawah dan meminta pembantunya menyiapkan sarapan. Erik sudah terlihat lebih stabil. Setelah menyantap makanan yang telah disiapkan pembantunya, Erik pun kembali ke kamarnya. Setiba di kamar ia menuju jendela, tempat terindah baginya merenung. Erik menatap mobil Sinta yang hendak pergi. Erik pun tersenyum, artinya ia dapat segera menemui Muni. Erik memastikan kembali penampilannya di cermin. Ia tidak ingin terlihat kacau saat bertemu dengan Muni. Ia pun kembali ke jendela memastikan suasana di rumah Muni sebelum ia datang. Namun, ia melihat Luci seorang wanita yang juga tidak pernah Erik sukai. "Wanita tidak tahu malu," umpat Erik sambil memandang Luci yang masuk ke rumah tempat tinggal Muni. Erik terus memperhatikan rumah itu. Kali ini ia menunggu Luci keluar. Tidak lama kemudian Luci memang keluar dan pulang ke rumahnya. Erik memiringkan bibirnya tersenyum senang. Sejenak ia memperhatikan rumah itu, memastikan tidak ada lagi yang datang. Di depan rumah itu, hanya ada Sony yang sibuk di kebun kecil yang ditanami bunga-bunga berwarna-warni. Erik pun turun dan langsung menuju rumah Muni. Tanpa uluk salam, Erik langsung membuka pagar dan menuju pintu rumah tempat Muni bekerja. "He! Kau ini lancang sekali. Tidak punya sopan santun?!” bentak Sony yang melihat Erik masuk tanpa salam. "Kau ini siapa? Haruskah kuhormati?" jawab Erik sedikit mengejek Sony. "Cih." Sony meludah. "Kau datang mau apa?" tanya Sony lagi. "Panggilkan Muni," perintah Erik. Ia merasa dirinya lebih unggul. Tanpa menjawab lagi, Sony pun masuk dan mengetuk pintu kamar Muni. Lagi dan lagi, darah Erik menggelegak panas saat mendengar Sony yang mengetuk pintu kamar Muni dengan kasar. Juga saat Sony bicara pada Muni, Sony tampak sangat meremehkan Muni. Hal itu membuat hati Erik panas membara. Hampir saja emosunya terlepas. Erik menarik napas dalam untuk menstabilkan emosinya. Hingga akhirnya Muni datang dengan wajah berbinar. "Erik," sapa Muni. Erik tersenyum dan berjalan masuk. "Apa aku boleh duduk sebentar bersamamu?" Muni mengangguk. Erik pun masuk kemudian duduk. Sedangkan Muni, ia ke dapur hendak mengambil minuman dan sedikit kue. Muni pun ingin menyembunyikan rona bahagia di wajahnya. Dadanya berdebar-debar menahan gejolak asmara yang kian membara tak dapat di hentikan lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD