Hilang

1324 Words
Pagi nan cerah menyambut Muni. Ia bangun dan bergegas keluar. Tujuannya adalah persimpangan jalan tempat ia dan Erik berjanji akan bertemu. Dengan langkah yang semangat Muni menyusuri jalanan komplek. Namun, di sana tak ada sosok Erik. Muni pun menunggu. Mentari kian meninggi. Erik tak kunjung datang. Muni gelisah dan menerka-nerka. Mungkinkah Erik tidak lagi ingin bertemu dengannya? Dengan perasaan kecewa ia berjalan pulang. Setibanya di depan rumah Erik ia menatap ke jendela tempat Erik biasa muncul. Akan tetapi, sedari kemarin tirai jendela itu tidak pernah terbuka. Pun dengan Erik. Ia tidak muncul barang sekali saja. Semenjak kedatangan mobil yang kata Luci adalah ayah Erik, Erik tak sama sekali menampakkan diri. Muni kembali melangkah pulang dengan perasaan kecewa. Erik yang semalaman tidak tidur terus menatap keluar jendela. Ia pun melihat Muni yang berjalan penuh semangat di pagi hari yang terlihat sangat cerah berbanding terbalik dengan hatinya yang kini mendung. Erik yakin, Muni akan pergi ke persimpangan jalan. Erik meremas jemarinya menahan kesal. Karena keberadaan ayahnya ia enggan untuk sekedar keluar kamar. Makan pun ia meminta pada pembantunya untuk di antar. Erik pun melihat Muni yang kembali dengan raut wajah sedih dan kecewa. Muni terlihat menatap jendela kamar Erik. Meski Erik dapat melihat Muni dengan jelas, tetapi ia tetap enggan membuka tirai dan jendela kamarnya. Ia tidak tahu bagaimana caranya mengatakan pada Muni. Perihal hubungannya dengan sang ayah yang tidak harmonis. Muni masuk ke kamarnya. Ia hendak mandi. Setelah mandi ia memulai pekerja rumah yang hanya sedikit itu. Menyapu, mengepel dan kali ini di tambah dengan mencuci pakaiannya sendiri. Muni merasa semangatnya menghilang. Seiring Erik yang tidak pernah lagi muncul. Baru sehari, ya sehari bagi Muni begitu terasa lama. Hatinya merasakan rindu yang dalam pada Erik. Seorang pemuda yang baru saja ia kenal, tetapi Muni merasa ada ikatan kuat antara mereka. Pekerjaan selesai. Muni hendak masuk ke kamarnya lagi. Namun, langkahnya berhenti saat ia melihat mobil milik Sinta datang. Ia bergegas menuju pintu hendak menyambut majikannya itu. "Wah, rumah ini tampak sangat bersih, ya, Pa," ujar Sinta pada suaminya. "Betul, Ma. Sepertinya Muni sangat rajin," puji Anton, suami Sinta. Sinta tersenyum dan mengangguk. Ia mendekati Muni Kemudian berkata, "Kau sudah makan, Nak?" "Belum, Bu," jawab Muni, ia kini tidak lagi merasa canggung saat bicara dengan Sinta. "Dia memang jarang makan, Bu. Dia sudah kenyang dengan hanya menatap si Erik," sahut Sony, membuat mata Muni membulat. "Maksudmu apa Sony?" tanya Anton, ia tidak mengerti dengan apa yang Sony katakan. "Ia, Pak. Si Muni ini suka sekali dekat-dekat dengan Erik. Bahkan Erik berani datang ke sini," ucap Sony mengadu. "Benar Muni?" tanya Sinta menatap wajah Muni yang terlihat gugup. "Bu—bukan begitu, Bu. Erik sendiri yang datang," kilah Muni, ia menatap Sony dengan kesal. "Muni, kau orang baru di sini. Jadi, kau belum tahu siapa-siapa yang ada di lingkungan ini. Kau jangan mudah terpengaruh ucapan orang. Apa lagi Erik, dia sedang sakit mental," ungkap Sinta, ia memang tidak ingin Muni sampai terjerumus. Apa lagi, Sinta sudah berjanji akan menjaga Muni. Muni tidak menjawab. Ia hanya mengangguk. Di dalam hatinya bertanya, mengapa semua orang mengatakan Erik terkena gangguan mental? Padahal, ia melihat Erik adalah seorang yang normal. Erik bersikap baik juga lembut. Tidak ada yang aneh. Sinta pun mengajak Muni untuk memasak. Sinta akan berada di rumah sampai besok pagi. * Di rumahnya Erik semakin gelisah. Ia geram dengan ayahnya yang tak kunjung pergi. Sudah tiga buah obat penenang ia telan. Namun, perasaan kesal itu hadir lagi dan lagi. Setiap ia mengingat perlakuan ayahnya dulu, rasa sakit hati itu semakin terasa pedih. Erik tak dapat lagi menahan rasa emosinya. Semakin ia menahan, dadanya semakin sesak. Ia pun melangkah menuju kamar ayahnya. Erik mengetuk pintu kamarnya dengan keras. "Erik, kau datang," ucap ayahnya, wajahnya berbinar bahagia. Erik tersenyum sinis. "Jangan kau pikir aku datang ingin bertemu denganmu. Aku ke sini untuk memintamu segera pergi," hardik Erik mengusir ayahnya sendiri. "Tapi kenapa, Nak? Ini rumah Papa juga, Papa berhak tinggal di sini," tolak ayahnya, ia berpikir bisa kembali mengambil hati anaknya yang sudah terlanjur membencinya. "Aku beri waktu satu jam. Jika kau tidak juga angkat kaki dari rumah ini, aku yang akan pergi." Tanpa menunggu persetujuan ayahnya, Erik melangkah pergi menuju kamarnya. Mau tak mau Ayah Erik pun pergi. Ia tidak ingin Erik yang keluar dari rumah itu. Ia tahu, Erik butuh waktu untuk bisa memahami apa yang terjadi. Bahwa ia tidak sengaja melakukan apa yang Erik anggap salah. Erik menatap mobil ayahnya yang keluar dari pekarangan rumah. Hingga mobil itu hilang menjauh dari pandangannya. Ia membuka tirai juga jendela. Membiarkan semilir angin dan sinar mentari menembus ke dalam kamar. Erik memejamkan mata dan menghirup udara, seperti biasa ia berdiri di tempat itu. Kali ini bukan untuk merenung, melainkan Ia mencari-cari sosok Muni yang tidak terlihat lagi sejak pagi tadi. Masih tergambar jelas di benak Erik raut wajah kecewa Muni. Erik begitu ingin meminta maaf, tetapi setelah beberapa saat menunggu Muni tidak juga naik ke atas balkon. Erik benar-benar merasa sangat bersalah. Ia yakin Muni akan benci padanya yang tidak menempati janji. Berkali-kali Erik memukul dinding hingga mengeluarkan suara dentuman. Tangannya pun membiru, tetapi Erik seakan tidak merasakan sakit. Langit yang menguning menandakan senja telah tiba. Erik masih menahan perasaan rindu terhadap Muni. Namun, ia ragu untuk datang ke rumah itu karena Erik melihat mobil milik Sinta yang terparkir di halamannya. Erik tidak ingin bertemu Sinta apa lagi suaminya yaitu Anton. Mereka pernah adu mulut dan membuat Erik memendam rasa dendam. Lagi-lagi, semua karena mereka yang melerai Erik juga ayahnya yang berkelahi. Erik menganggap mereka semua membela ayahnya. Kini Erik hanya terdiam. Ia membiarkan lampu kamarnya mati meski hari telah gelap. Angin yang berembus menggoyang-goyangkan tirai jendela yang masih terbuka. Sesekali Erik menatap jauh ke angkasa. Malam ini tiada bintang yang menghiasi, awan gelap membuat malam pun semakin pekat. Sesekali kilatan cahaya menyambar di angkasa. Perlahan tapi pasti, titik-titik air hujan turun membasahi bumi. Erik meringkuk di atas tempat tidurnya. Gambaran masa kecilnya yang suram terus saja tergambar bak film yang sedang di putar. Sesekali telinganya seakan mendengar suara tangisan dari sang ibu yang terdengar begitu amat pilu. "Cukup!" pekik Erik, kedua tangannya menutup telinga. Erik tidak tahan lagi dengan semua imajinasinya. Ia tahu, semua hanyalah ilusi dari masa lalunya. Erik duduk memeluk kedua lutut. Tubuhnya menggigil, air matanya tumpah membasahi pipi. Erik benar-benar merasa sakit dan sesak. "Aku tidak tahan, Ma. Sungguh aku tidak tahan," ucap Erik lirih. Erik semakin mengingat rangkaian peristiwa yang menyebabkan ibunya meninggal, acap kali ayahnya datang. Melihat wajah sang ayah hanya akan menambah luka baru di hatinya. Ia merasa dadanya kian sesak. Tubuhnya semakin gemetar. Dengan langkah goyahnya, Erik meraih botol yang berisi obat pemenang. Ia menelan pil tersebut, karena hanya obat itu yang akan mampu membuat rasa emosinya yang meninggi turun kembali. Perlahan-lahan Erik mulai stabil. Ia merebahkan lagi tubuhnya di atas kasur. Suara gemercik air hujan seakan menjadi lagu penghantar tidur. Erik pun terlelap melepas beban yang anat penat. * Empat gelas coklat hangat juga beberapa camilan sudah tersedia di meja. Malam ini hujan yang turun malah membuat suasana rumah Sinta semakin harmonis. Apa lagi sejak kehadiran Muni. Sinta merasa rumahnya yang sepi kini tampak begitu berwarna. "Sony, kau tidak pergi?" tanya Sinta melihat Sony yang ikut duduk di ruang keluarga menonton televisi. "Hujan, Bu." Sony menjawab sambil menunjuk ke atap rumah. "Pantas Muni membuat empat gelas coklat hangat," ujar Sinta membuat Sony terkejut. "Empat? Buat aku juga?" tanyanya tak percaya. "He’ em," jawab Sinta mengangguk. Sony tersenyum simpul, ia bangkit meraih coklat hangat yang sudah Muni siapkan di atas meja. Sinta, Anton, Sony, dan juga Muni duduk bersama menonton televisi sambil menikmati coklat hangat juga camilan. Kebahagiaan terpancar dari wajah pasangan suami istri itu. Akan tetapi, tidak dengan Muni. Hatinya gelisah memikirkan Erik yang tidak lagi ada kabar. Meski ia melihat jendela Erik yang sudah terbuka, tetapi hingga kini Muni melihat lampunya tidak menyala. Hatinya di penuhi pertanyaan tentang apa yang terjadi pada pemuda yang kini memiliki tempat istimewa di hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD