Erik terkejut dan segera membuka mata saat mendengar suara ayahnya yang berbicara dengan pembantunya di luar. Dadanya bergemuruh mendengar lelaki yang sangat ia benci itu datang. Namun, ia sedang tidak ingin membuat kekacauan apa lagi mengusir ayahnya itu.
Erik memilih diam di dalam kamarnya. Ia tidak ingin bertemu apa lagi melihat wajah ayahnya. Erik pun memutuskan untuk membatalkan niatnya bertemu dengan Muni. Hatinya sedang tidak stabil, ia tidak ingin gadis itu akan berpikiran buruk.
Erik kembali menutup matanya saat ia lihat pintu kamarnya hendak di buka seseorang. Namun, Erik tetap mengintip siapa gerangan orang yang datang ke kamarnya.
Seseorang yang ternyata ayahnya tersebut masuk dan mengusap kepala Erik, ia mengira Erik sedang tertidur. Padahal, Erik sedang menahan rasa bencinya yang begitu menggunung untuk sang ayah. Ayah yang harusnya ia hormati dan ia sayangi. Ia tidak memiliki rasa hormat pada lelaki yang ia anggap jahat itu. Erik menganggap apa yang terjadi pada ibunya semua kesalahan sang ayah.
"Anakku, kau ada di dekatku namun terasa begitu jauh. Apa tidak ingin kau memeluk papamu ini, Nak," bisik ayah Erik yang tidak mengetahui jika Erik hanya pura-pura tidur.
Ayahnya mendekatkan bibirnya ke kening Erik. Namun, cepat-cepat Erik merubah posisi tidurnya. Sungguh ia sedang menahan rasa hati yang tak menentu.
Setelah ayahnya keluar dari kamarnya. Erik segera bangun dan memukul kasurnya dengan keras. Ia bangkit dan menuju kamar mandi. Segera ia menyalakan shower dan membasahi tubuhnya di bawah guyuran air.
"Aku tidak sudi disentuh tangan kotor lelaki itu," ucap Erik sambil mengusap kasar kepalanya.
Ia menangis di bawah air shower yang semakin deras membasahi tubuhnya.
"Seumur hidupku tidak akan aku maafkan apa yang sudah kau lakukan pada ibuku," gumam Erik dengan penuh amarah.
Cukup lama Erik berada di kamar mandi. Kulitnya sedikit keriput dan pucat karena terlalu lama terkena air dingin. Tubuhnya pun bergetar menahan dingin. Perlahan ia bangkit membuka seluruh bajunya yang telah basah. Mengganti dengan handuk kering yang tergantung di balik pintu kamar mandi.
Ia berjalan menuju lemari. Di mana lemari tersebut dipenuhi dengan foto mendiang sang ibu.
"Kau sangat cantik, Ma." Erik mengusap salah satu foto ibunya. Kemudian menarik baju yang akan ia kenakan.
Handuk yang ia pakai tadi di buangnya ke dalam kotak sampah bersama pakaian yang tadi ia pakai. Itulah kebiasaannya ketika pakaiannya tersentuh ayahnya. Tanpa ia sadari, hal itu terus membuat luka di hatinya semakin dalam.
*
Selepas Luci pulang, Muni mulai membersihkan sisa-sisa makanan di meja. Berkali-kali ia berdecak kesal mengingat sikap Luci. Namun, untuk melarang pun Muni tak berani. Mengingat ia hanya seorang pembantu di rumah itu. Pun Luci pernah berkata jika ia sahabat dari Sinta majikannya.
"Kau ini. Kenapa suka mengundang wanita tak tahu malu itu datang ke sini," hardik Sony yang tiba-tiba masuk.
"Aku tidak pernah mengundangnya datang, Bang. Dia yang ke sini sendiri." Muni membela dirinya, karena memang ia tidak pernah meminta Luci untuk datang.
"Terserah. Intinya tetap saja kau meladeni wanita itu," ujar Sony lagi.
Kini Muni tidak lagi menjawab. Ia hanya fokus membereskan remahan kue di atas sofa yang pasti mahal milik Sinta. Setelah memastikan tidak ada lagi sisa-sisa kue di atas sofa itu, Muni pun ke dapur untuk mencuci gelas kotor.
Sambil mencuci beberapa gelas yang kotor di dalam bak pencucian piring, Muni teringat akan ucapan Erik yang akan datang. Hingga sore Erik tak juga menampakkan batang hidungnya. Hal itu membuat tanda tanya di dalam hati Muni. Ia pun memutuskan setelah mencuci piring naik ke balkon untuk melihat jendela Erik.
Tiba di balkon. Muni melihat ke jendela tempat biasa Erik berdiri. Tak ada siapa pun. Bahkan, tirai jendela itu masih tertutup. Sesuatu yang tidak biasa. Muni benar-benar merasa sangat penasaran dengan Erik, lelaki yang baru saja ia kenal namun sudah membuat hatinya terikat.
"Erik, kau di mana?" gumam Muni. Cukup lama ia berdiri di balkon. Ia memutuskan untuk turun mengingat hari kemarin Sony yang memarahinya karena hari telah magrib.
*
Langit mulai gelap, tetapi terlihat indah dengan bintang-bintang yang bertaburan berkelap kelip menghiasi angkasa. Erik menatap jauh ke langit. Angannya kembali pada sang ibu. Mengingat lagi kejadian demi kejadian yang terekam di ingatannya. Samar tapi pasti, ingatan itu tidak pernah beranjak sedikit saja dari pikirannya.
Erik berjalan menuju jendela yang sedari pagi tidak ia buka tirainya. Ia sengaja terus menutup tirai tersebut. Namun, meski begitu ia tetap melihat ke luar jendela. Niatnya untuk datang menemui Muni harus batal karena kedatangan ayahnya. Rasa kesal semakin menyesakkan d**a Erik. Apa lagi, saat sore tadi ia melihat wajah Muni yang murung dan kecewa.
Erik mengepalkan tangannya dan memukul dinding hingga menimbulkan suara hantaman yang cukup keras. Tanpa ia sadari ayahnya mendengar suara itu dan menuju kamar Erik.
"Nak, kau tidak makan," sapa ayahnya bsrbasa-basi, hal itu malah mengejutkan Erik. Ia tidak menyangka ayahnya itu masuk ke dalam kamarnya secara tiba-tiba.
"Keluar!" hardik Erik tanpa menatap ayahnya.
"Nak, sebentar saja. Papa rindu," bujuk ayahnya sambil jalan mendekati Erik.
"Jangan mendekat. Keluar kataku!" ucap Erik penuh penekanan.
"Nak, tolong. Papamu ini mengaku salah, tapi izinkan sekali saja ayah memelukmu," bujuk ayahnya dengan raut wajah memelas.
"Apa kau tuli, ha! Keluar!” pekik Erik. Meski begitu, ia tetap menahan amarahnya yang sesungguhnya telah memuncak dan siap meledak.
Ayahnya bergeming. Ia menunduk menangis di hadapan Erik. Hal itu membuat Erik semakin kesal.
"Keluar atau ...." Erik meraih sebuah vas bunga yang terbuat dari kaca.
Ayahnya menatap Erik sejenak. Kemudian berbalik dan berjalan keluar dengan langkah gontai dan lemah.
"Tunggu!" panggil Erik membuat wajah ayahnya berbinar. Ia berharap Erik berubah pikiran.
"Cepat pergi dari rumah ini. Aku muak serumah denganmu," ucap Erik tanpa memikirkan perasaan ayahnya yang juga terluka.
*
Telepon berdering, Muni yang berada di dalam kamar hendak berlari keluar. Namun, gagang telepon telah di angkat oleh Sony. Tampak Sony sudah berbicara dengan seseorang lewat sambungan telepon.
Sony meletakkan telepon, tetapi tidak memutuskan sambungan teleponnya. Ia terkejut melihat Muni yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Kau seperti hantu, ya. Ini ibumu yang menelepon," ujar Sony sedikit terkekeh.
Mendengar ibunya yang menelepon wajah Muni berbinar. Ia segara mengambil gagang telepon itu dan berbicara.
"Halo, Bu. Apa kabar, ibu baik kan? Jangan banyak-banyak mengambil pekerjaan, Bu. Bulan depan ibu tidak perlu bekerja lagi, ya. Nanti biar Muni yang mengirimi Ibu uang," berondong Muni tanpa henti. Ia sangat mengkhawatirkan ibunya yang tinggal sendiri di desa.
"Pelan-pelan, Muni. Kau ini bicara sudah seperti kereta, panjanggg sekali," jawab ibunya sambil tertawa kecil.
Muni tersenyum mendengar suara ibunya dan tawa kecil yang terdengar begitu renyah.
"Ibu sangat baik, Nak. Ibu hanya bekerja di rumah Bu Patin. Anak ibu bagaimana kabarnya, baik juga ‘kan?" lanjut Yani, ia pun memendam rasa yang sama dengan Muni.
"Muni juga baik, Bu. Dan ibu tahu, Bu Sinta majikan Muni. Dia sangat baik, bahkan dia memberikan Muni baju baru dan sangat bagus, Bu." Muni mulai menceritakan semua yang ia alami. Termasuk juga Sony, yang kerap membuatnya kesal. Namun, Erik tidak sama sekali ia sebutkan.
"Ibu lega setelah mendengarnya, Nak. Tapi, kau harus jaga diri baik-baik. Terutama pada siapa tadi katamu, Sony. Ia Sony. Jangan dekat-dekat dengannya," pesan Yani, membuat Muni terkekeh.
"Ya, sudah. Kau istirahatlah, Nak. Ibu tutup teleponnya sebelum tagihannya semakin besar," ujar Yani sambil tertawa.
Muni pun ikut tertawa bersama Yani hingga akhirnya sambungan telepon terputus. Muni merasa lega sudah mendengar suara ibunya.
"Bu, Muni harap ini adalah awal kebahagiaan kita," batin Muni sambil meletakkan kembali gagang telepon di tempat seharusnya.
Sedangkan Yani, ia pun merasa lega. Mendengar cerita Muni yang menyimpan kembali pakaian yang ia bawa ke dalam tas. Itu artinya, surat terakhir dari Rendra juga fotonya bersama Rendra yang tak lain adalah ayah Muni tidak Muni temukan. Rasa Waswas di hatinya sedikit berkurang. Di dalam hatinya hanya berharap kesehatan dan keselamatan sang anak selama jauh darinya mengadu nasib ke ibu kota.