Gadis Bermata Lentik

1375 Words
Pukul 09.00 wib Erik masih duduk termenung di atas kasurnya. Sudah jadi kebiasaan, malamnya ia lewati hanya dengan duduk melamun merindukan sosok mendiang sang ibu. Ia berjalan menuju jendela saat mendengar decit rem mobil yang berhenti. Erik pikir ayahnya yang datang. Namun, dugaan Erik salah. Ia melihat seorang gadis keluar dari mobil tersebut. Gadis yang terlihat cantik meski di balut dengan pakaian yang terkesan kuno. Erik terus memperhatikan gadis itu. Berdiri sendiri sambil memandang ke sana ke mari. Erik yakin ia datang ke Jakarta untuk pertama kalinya. Terlihat dari caranya memandang ke sekeliling. Matanya berbinar memancarkan cahaya, membuat Erik semakin tertarik. Tiba-tiba pandangan gadis itu beralih pada Erik yang berdiri di balik jendela kamarnya yang terletak di lantai dua. Erik melempar senyum padanya. Walau pun tidak ada balasan dari si gadis. Erik terus saja memperhatikan gadis tersebut hingga ia masuk ke dalam rumah yang letaknya tepat di depan rumahnya. Kini pikiran Erik di penuhi dengan tanda tanya tentang gadis itu yang baru saja tiba. Rasa rindu terhadap sang ibu teralihkah sejenak oleh kehadiran gadis itu. Hingga tak lama kemudian Erik melihat gadis tersebut sedang merentangkan tangannya di atas balkon rumah itu. Lagi-lagi pandangan mereka bertemu. Kali ini Erik mencoba tersenyum lagi, ia berharap gadis tersebut mau membalas senyumnya. Benar saja, ia mendapat balasan. Sungguh Erik merasa sangat bahagia. Ia yang merasa hidup tiada lagi berguna semenjak ibunya tiada kini kembali bersemangat. Sejak saat itu, si gadis pun berkali-kali melihat ke atas tempat ia berdiri. Kebiasaan saat rindu terhadap mendiang ibunya ternyata membuatnya bertemu dengan seorang gadis cantik nan lugu itu. Mereka pun sering beradu pandang. Saling membalas senyum manis. Hati Erik semakin yakin, ia memutuskan untuk mendekati gadis yang ia belum tahu namanya. Pagi itu, Erik memberanikan diri datang ke rumah si gadis pemilik mata lentik nan indah itu. Meski ia harus bertemu si tukang kebun bernama Sony yang bekerja di rumah itu pula. Namun, ia lawan rasa kesalnya terhadap Sony yang kerap menatapnya dengan sangat sinis. "Mau apa kau ke sini?" tanya Sony pada Erik ketika ia tiba di depan pagar. Erik tidak menjawab, ia membuka pagar dan berjalan mendekati Sony. "Aku mau mencari gadis itu," ucap Erik membuat Sony tertawa mengejek. "Kau ini gila. Gadis siapa? Ternyata diam-diam kau mengintai rumah ini. Jadi, kebiasaanmu yang berdiri di balik jendela itu untuk mengintai kami?" sindir Sony, ia memang tidak menyukai Erik. "Sudahlah, jangan membuat aku emosi. Cepat panggil gadis yang baru datang kemarin." Erik melipat kedua tangannya di d**a. Ia yang pernah berkelahi dengan Sony mencoba menahan amarahnya. Sesaat setelah Sony masuk, gadis yang ia cari pun keluar. Gadis itu tampak sangat terkejut melihat Erik di depan pintu. Erik mencoba seakrab mungkin dengannya. Hingga akhirnya Erik tahu, jika nama gadis itu adalah Muni. Muni terlihat berbeda dari saat ia datang hari itu. Penampilannya berubah. Pakaian yang Muni pakai membuat ia tidak kuno lagi. Sesungguhnya Erik menyukai Muni yang saat awal tiba, tetapi ia belum berani untuk mengatakan langsung pada Muni. Erik merasa ada ikatan hati dengan Muni. Sehingga ketika ia melihat Muni, ada rasa sayang yang hadir di hatinya tiba-tiba. Erik mengajak Muni berlari pagi sambil terus mengenali Muni lebih dalam lagi. Erik benar-benar merasa berubah semenjak kehadiran Muni. Erik yang kerap menangis dan mengurung diri di dalam kamar, kini selalu tersenyum cerah. Bahkan, semua mata yang melihat Erik berjalan pagi keheranan. Keesokan paginya, Erik telah menunggu Muni di persimpangan jalan. Mereka berjanji untuk bertemu dan berjalan pagi. Namun, hingga mentari meninggi Muni tidak kunjung tiba. Sebenarnya Erik sangat malas mendatangi rumah di mana Muni tinggal. Di sana ada Sony yang memang suka membuat masalah dengannya. Erik ingat betul. Saat ia dan ayahnya berkelahi. Sony meminta ayah Erik untuk membawa anaknya itu ke rumah sakit jiwa. Erik mengepal jari, ia kesal saat mengingat kejadian itu. Akan tetapi, rasa hatinya terhadap Muni mampu menghapus itu semua. Ia pun berjalan menuju rumah tinggal Muni. Dan sudah pasti, ia akan bertemu Sony si tukang kebun. "Datang lagi?" tanya Sony sinis. "Panggilkan Muni," pinta Erik tidak kalah sinis. "Panggil saja sendiri," jawab Sony bersikap acuh. "Aku peringati. Jangan buat aku emosi," ancam Erik, rahangnya mengeras dan matanya memerah. Ia hampir kehilangan kesabarannya. Sony berjalan masuk. Dapat Erik dengar dengan jelas, jika Sony mengetuk pintu kamar Muni dengan keras. Sesungguhnya hal itu benar-benar membuat hati Erik panas. Namun, mengingat ia akan bertemu Muni ia mengatur napasnya yang mulai naik turun menahan gejolak amarah. Setelah ia bertemu dengan Muni, Erik berpamitan untuk pulang dan mengatakan siang nanti akan datang. Hatinya ingin terus dekat dan mengenali Muni lebih jauh lagi. Di dalam kamarnya. Erik yang telah membersihkan diri duduk di atas kasur. Ia memegang sebuah foto keluarga. Ibu, ayah dan seorang anak kecil yang tampak tersenyum bahagia. Foto itu di ambil saat ibunya belum mengalami gangguan jiwa. Erik begitu menyukai foto yang menggambarkan kebahagiaan keluarganya. Namun, suatu tragedi membuat ibunya trauma dan menjadi gila. Ibunya kerap mengamuk dan membanting barang-barang di dalam rumah itu. Ibunya pun kerap menangis sendiri dan menyakiti diri. Erik yang saat itu masih kecil menjadi saksi hidup atas apa yang ibunya alami. Hal yang juga membuat mentalnya trauma. Hingga membuat ia terus tergantung dengan sebuah obat penenang. Erik yang lelah memutuskan untuk tidur sejenak, sebelum nanti ia akan datang menemui Muni. Waktu menujukan pukul 14.45 wib. Angin sepoi-sepoi membuat tidur Erik semakin nyenyak. Ia pun tidak ingat dengan janjinya sendiri yang akan datang menemui Muni. Di rumahnya, Muni masih menunggu dan berkali-kali melihat ke arah jendela kamar Erik. Sepi. Tiada siapa pun di sana. Hingga tak lama kemudian ia melihat sebuah mobil pribadi berwarna hitam masuk ke dalam pekarangan rumah Erik. Tak lama kemudian terlihat Luci lari tergopoh-gopoh sambil menggendong anaknya. Muni yang terkejut kedatangan Luci langsung bertanya, "Kak Luci ada apa? Kenapa lari-lari begini?" "Muni kau lihat tidak ada mobil yang datang ke rumah Erik?" tanya Luci, ia langsung duduk di sofa. "Iya," jawab Muni sambil mengangguk cepat. Ia duduk di samping Luci dan menunggu Luci bercerita. "Itu tadi mobil ayahnya Erik. Sebentar lagi pasti komplek ini akan ramai," ujar Luci membuat alis Muni bertautan. "Maksudnya bagaimana, Kak? Ramai kenapa?" tanya Muni penasaran. "Kau tunggu saja. Aku di sini dulu, ya Muni. Biar kita lihat sama-sama," ucap Luci, ia bangkit dan seperti biasa pasti menuju kulkas. Muni masih terdiam dan bingung dengan apa yang baru saja Luci katakan. Dadanya pun berdebar menunggu apa yang akan terjadi. Beberapa jam berlalu. Kue-kue di dalam kulkas sudah hampir separuh berpindah ke meja dan di santap Luci. Sedangkan Muni, hanya menjadi penonton atas sikap Luci yang semakin rakus. Apa yang Muni tunggu pun tiada terjadi. Suasana di luar terutama di rumah Erik pun hening. Tak ada keramaian seperti apa yang Luci katakan. "Kak Luci, tidak ada apa pun yang terjadi," ujar Muni membuat Luci menghentikan aktivitasnya menyuapi anaknya kue. "Wah, iya ya. Tuemben suekali," ucap Luci yang terdengar tidak jelas karena mulutnya penuh dengan makanan. Muni menggaruk-garuk pipinya. Ia sedikit jengkel dengan sikap Luci. Sudah barang pasti, ia yang akan kena semprot si Sony yang sinis itu. "Memang sebenarnya ada apa, sih, Kak?" tanya Muni lagi. Ia masih sangat penasaran. Bahkan ia berpikir itu hanya alasan Luci saja yang ingin mencari alasan untuk duduk di rumah itu. "Tunggu, aku minum dulu," jawab Luci. Ia meraih sebuah botol air dingin dari dalam kulkas. Kemudian ia meminum air itu tanpa menggunakan gelas. Hal itu membuat kening Muni berkerut. Ia tak menyangka orang kota berperilaku begitu, jorok menurut Muni. Ia kembali duduk dan membawa segelas air untuk anaknya. "Sebentar, ya," ucap Luci yang memberikan anaknya minum. Muni menghela napas kesal. Ia semakin yakin Luci hanya mencari alasan. "Hari ini memang sangat berbeda Muni. Biasanya jika mobil itu datang Erik akan kumat," ujar Luci kemudian. Hal ini lagi-lagi malah membuat Muni kesal. "Kumat bagaimana, sih Kak?" tanya Muni yang masih tak mengerti. "Aku kan sudah bilang. Erik itu terkena gangguan jiwa. Dia itu gila. Nah, mobil tadi itu milik ayahnya. Setiap kali ayahnya datang dia pasti mengamuk. Sama seperti ibunya dulu saat masih hidup," ucap Luci panjang lebar. Semua ucapan Luci benar-benar tidak di mengerti oleh Muni. Ia tidak percaya jika Erik memang terkena gangguan mental. Apa lagi, yang di katakan Luci tidak ada bukti. Nyatanya, tidak terjadi apa pun dari rumah Erik meski sudah beberapa jam mobil yang katanya milik ayahnya itu datang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD