Matahari mulai bangkit dari peraduannya. Muni telah sibuk dengan pekerjaan rumah, menyapu dan mengepel lantai. Karena pekerjaan yang sedikit, ia bingung harus mengerjakan apa lagi. Jadilah, Muni sering menyapu, mengepel bahkan mengelap semua pajangan yang ada di rumah Sinta. Debu-debu yang menempel pun kini sudah hilang, berganti dengan kilatan cerah dari setiap barang pajangan di rumah itu.
Sesekali Muni menatap ke jendela kamar Erik yang masih tertutup. Ia lupa jika kemarin sudah berjanji akan bertemu di persimpangan jalan.
"Muni," panggil Sony dengan keras.
Muni yang mendengar suara berat Sony pun terlonjak kaget. Seketika dadanya berdebar dan nafasnya tak beraturan. Muni ketakutan. Perlahan ia menengok di mana Sony berdiri.
Ia benar-benar takut melihat Sony yang jaraknya tidak jauh dengannya. Sedangkan di dalam rumah itu ia hanya berdua dengan Sony lelaki yang ia anggap aneh. Malah menurut Muni Sony sedikit tidak waras.
"Kenapa jendela itu semalam tidak kau kunci?" tanya Sony sambil menunjuk ke satu jendela.
Muni terkejut. Ia ingat betul bahwa semalam semua jendela sudah ia periksa dan terkunci rapat.
"Se—semalam aku sudah me—menguncinya, Bang Sony," jawab Muni terbata-bata.
"Kau ini. Lain kali lebih teliti lagi. Jangan kau asyik memandang pria gila di depan sana." Sony berjalan menjauh. Sedangkan Muni, ia masih menahan perasaan yang tak menentu.
Tubuh Muni terasa lemas karena takut. Ia terduduk di sofa sambil mengingat-ingat kembali bahwa semalam ia benar-benar sudah mengunci jendela tersebut.
Dan, mengapa Sony bersikap dingin? Muni tak menyangka di antara kenyamanannya bekerja di rumah Sinta ada seseorang yang membuat hatinya waswas dan gelisah. Sikap Sony yang dingin sulit untuk bisa Muni tebak.
Sony memang jarang bicara. Namun, sekali ia bicara membuat Muni gemetar tak karuan, ia takut melihat Sony dengan perawakan tinggi besar bak seorang preman.
Sesegera mungkin Muni menyelesaikan pekerjaannya kemudian masuk ke kamar. Ia duduk termenung, mengingat ibunya di desa.
"Andai ibu di sini, Muni pasti akan minta dipeluk," gumam Muni, air matanya mengalir membasahi pipi.
Muni yang sedang bersedih menahan rindu pada Yani terkejut ketika pintu kamarnya di ketuk seseorang. Ia segera membersihkan air mata kemudian membuka pintu.
"Ada yang mencarimu." Lagi-lagi Sony datang. Ia benar-benar seperti hantu yang terus menakuti Muni.
Muni menunduk menunggu Sony pergi dari hadapannya. Baru setelah itu ia berjalan ke luar melihat siapa orang yang mencarinya.
"Erik!" ucap Muni, ia kaget melihat Erik yang datang. Muni pun teringat akan janji mereka kemarin.
"Astaga, maaf aku lupa." Muni menepuk jidatnya.
"Hmmm sudah kuduga," ujar Erik. Muni memperhatikan wajah Erik, tidak ada raut kesal dari wajahnya. Muni yakin Erik tidak marah.
"Baiklah, hari sudah mulai siang. Besok saja kita lari pagi lagi. Oh, iya. Apa kau siang ini sibuk?"
"Tidak," jawab Muni singkat. Ia memang tidak banyak pekerjaan.
"Oke, nanti siang aku akan datang. Boleh, kan?" ucap Erik membuat Muni tak percaya. Erik seakan menjelma seperti seseorang yang sangat dekat dan sudah lama mengenalnya. Siapa pun yang melihat pasti mengira mereka sudah lama berteman.
Muni yang masih merasa salah tingkah hanya mengaguk. Erik pun pergi setelah mendapat persetujuan dari Muni.
"Mau apa laki-laki itu?" tanya Sony yang tiba-tiba saja datang mengejutkan Muni.
Muni yang merasa kesal dengan sikap Sony pun menjawab dengan sangat sinis, "Apa urusanmu?" Muni tidak ingin hidupnya sama dengan saat di kampung. Tertindas.
Sony membelalak saat mendengar jawaban Muni. Ia tak menyangka Muni akan menjawab dengan kata-kata itu.
"Jelas ini urusanku. Kau ini orang baru sudah sok berani!" hardik Sony. "Jangan coba-coba berbuat dosa di rumah ini. Paham! Apalagi pria gila itu, baru dua hari kau di sini. Dia sudah berani datang."
Muni yang semakin kesal dengan Sony pun mengentakkan kakinya dan berjalan menuju kamar. Ia tidak memedulikan ucapan Sony yang menurutnya terlalu mengatur. Setelah masuk ke kamar, Muni menutup pintu sedikit keras dan menguncinya dari dalam.
"Memangnya siapa dia! Sama-sama pekerja mau mengatur, his!" gerutu Muni di dalam kamarnya. Ia duduk di tepi kasur sambil melipat tangan di d**a. Ia bertekad akan melawan siapa pun yang hendak menindas. Ia tidak ingin hidupnya di Jakarta akan sama dengan di desa.
Namun, lagi-lagi pintu kamarnya di ketuk seseorang dari luar. Muni pikir itu adalah Sony. Ia pun memutuskan untuk tidak membuka pintu. Akan tetapi, ketukan semakin kuat. Terpaksa Muni membuka pintu kamarnya.
"Muni, kau baru bangun?" tanya Luci, ternyata ia yang sedari tadi mengetuk pintu.
"Tidak, Kak. Aku merasa bosan, pekerjaan sudah selesai jadi aku diam di kamar," jawab Muni menjelaskan.
"Oh, iya Muni. Aku mau minta sedikit beras. Apa kau punya persediaan beras yang banyak?" tanya Luci, kali ini ia datang sendiri tanpa anaknya.
"Ada, Kak. Kemarin Bu Sinta membawa sekarung beras. Ayo," ajak Muni berjalan menuju dapur.
"Bu Sinta bilang beras ini untuk persediaanku. Tetapi, aku makan tidak banyak, Kak. Kau mau semana?" tanya Muni yang sudah memegang wadah yang Luci bawa.
"Tidak usah banyak-banyak Muni. Dua liter saja," jawab Luci.
Muni pun menakar beras yang Luci minta bahkan Muni melebihkan dari yang Luci mau. "Ini, Kak," ucapnya menyerahkan wadah yang sudah berisi beras.
"Terima kasih, ya Muni. Besok kalau aku sudah membeli beras akan aku ganti. Aku pulang dulu, ya," pamit Luci kemudian pergi.
Muni menatap Luci dengan tatapan heran. Meski rumahnya di sebelah, Muni belum pernah datang ke rumah Luci yang kerap bersikap sangat aneh.
"Kenapa, sih. Kau ini suka sekali berurusan dengan orang-orang aneh," hardik Sony, yang lagi-lagi muncul dengan tiba-tiba seakan ia memata-matai semua gerak-gerik Muni.
Muni yang malas meladeni Sony pun melangkah masuk ke dalam kamar. Ia menutup kembali kamarnya dan mengunci pintu dari dalam. Kembali angannya pada sang ibu di desa.
Entah apa yang ibunya kini lakukan. Ia mengingat kembali segala kenangan di Desa Pantau yang begitu sangat menyakitkan hati. Sedari kecil hidupnya selalu diremehkan orang. Seakan tidak ada yang sudi untuk menghormati seseorang yang miskin.
Bahkan, bukan hanya rindu pada sang ibu. Rasa penasaran pada ayahnya pun masih menjadi ganjalan di dalam hatinya. Ia mengingat kembali perkataan Yani yang bilang bahwa ayahnya sedang bekerja sangat jauh.
Akan tetapi, dari yang ia dengar dari gunjingan warga kampung. Ayahnya telah pergi meninggalkan ibunya seorang diri. Hal yang paling menyakitkan hati Muni, saat mereka mengatakan ibunya wanita yang tidak baik rela menjadi istri simpanan demi harta.
"Bu, apa sesungguhnya yang terjadi pada ayah? Di mana ayah Muni, Bu," gumam Muni sambil menangis terisak.
Muni terlonjak kaget saat melihat benda bulat yang menempel di dinding menunjukkan pukul 11:30 siang. Karena lelah menangis, Muni ternyata tertidur. Ia bergegas bangun mencuci wajahnya dan keluar hendak memasak.
Sedari pagi lambungnya belum terisi makanan. Muni mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan ia masak. Namun, ia terkejut melihat isi di dalam kulkas yang ternyata sudah penuh dengan kue-kue juga bahan-bahan makanan yang belum di masak.
"Siapa yang mengisi, apa Bang Sony?" tanya Muni dalam hati sambil memperhatikan isi di dalam kulkas.
Di tengah keheranannya tiba-tiba muncul Sony yang masuk dari luar.
Muni sempat memperhatikan Sony. Namun, ia segera mengalihkan lagi pandangannya ke arah lain.
"Minggir," bentak Sony, "Aku mau minum. Kau ini kenapa diam saja di depan kulkas. Kalau kau ingin ambil dan makan, tidak perlu menatap aneh begitu."
Sungguh, Muni begitu amat kesal dengan sikap Sony. Namun, mau tidak mau ia hanya diam dan mengalah. Ia malas meladeni pria aneh yang umurnya saja jauh di atasnya.
Setelah mengambil sebotol air dingin, Sony pergi. Ia memang kerap diam di dekat kebun kecil milik Sinta. Di sana ada ruang kamar yang khusus untuknya. Karena itu, saat ia pulang malam Muni tidak kerepotan harus membuka pintu. Kalau pun ia mau masuk, Sony sudah membawa kunci cadangan.
Muni mengurungkan niat untuk masak. Ia memilih memakan kue yang ada di dalam kulkas. Kue itu terlihat sangat lezat.
"Enak? Makan yang banyak. Lihat tubuhmu kurus, hanya kulit dan tulang. Tidak berdaging," ucap Sony yang masuk membawa botol yang lain yang telah kosong.
"Menjengkelkan!" gumam Muni.
"Kau bilang apa?" sahut Sony yang sedikit menangkap suara Muni tadi.
"Apa? Aku tidak bilang apa pun," jawab Muni berkilah. Di dalam hatinya ingin tertawa melihat wajah Sony.
Sony meliriknya dengan kesal. Kemudian kembali ke luar. Setelah memastikan Sony pergi, Muni tertawa kecil.
"Dasar orang tua," umpat Muni, ia duduk di sofa menikmati kue.
Pukul 12:45 siang. Muni teringat akan ucapan Erik pagi tadi yang akan datang. Namun, Erik tidak juga kelihatan. Muni pun memutuskan naik ke balkon. Tempat favoritnya sedari awal tiba di rumah ini.
Setibanya di balkon. Muni langsung menatap jendela kamar Erik. Ternyata jendela itu tertutup sangat rapat. Muni merasa aneh. Panas yang terik membuat Muni tidak betah berlama-lama di atas. Ia memutuskan untuk turun lagi. Dan lagi-lagi, ia bertemu Sony.
"Kecentilan," gumam Sony, yang ternyata terdengar jelas oleh Muni.
"Masa bodo," jawab Muni, ia berlari masuk ke kamarnya. Sambil menahan tawa. Muni malah merasa lama-lama Sony ternyata sangat lucu meski sikapnya kerap dingin dan aneh.