Teka Teki Luci

1297 Words
Muni berjalan menuju rumah tetangganya yang akan ia bantu. Ia membantu tidak dengan Cuma-Cuma. Tetangganya itu akan memberikan upah pada Muni. Saat tepat di depan rumah Erik, Muni menengadah ke arah jendela kamar Erik. Sejak hubungan mereka yang semakin dekat, Erik memang jarang berdiri di jendela itu lagi. Ia lebih suka memanggil Muni dan berbicara di teras rumahnya. Dari hari kemarin Erik belum juga terlihat. Pintu rumahnya yang kemarin kerap terbuka kini kembali tertutup rapat seperti awal Muni melihatnya ketika ia baru datang. Muni pun menghela napas berat. Ia tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Di balik kebahagiaannya ternyata begitu banyak misteri yang menurut Muni begitu sangat membuatnya penasaran. Muni telah tiba di rumah tetangganya itu. Aroma kue langsung menusuk indera penciuman Muni. “Muni, kau sudah datang. Kupikir kau tidak jadi membantu,” ucap si pemilik rumah. “Aku kan sudah berjanji, Bu. Jadi, aku pasti datang,” jawab Muni, ia duduk dan langsung memulai membungkus kue-kue ke dalam plastik. Kue-kue itu nantinya akan di masukkan ke dalam kotak dan di tambah satu botol air mineral berukuran kecil pula. Sudah ada beberapa pekerjanya yang bekerja lebih dulu. Sambil tangan mereka sibuk membungkus kue dengan rapi, mereka pun saling berbincang dan tertawa-tawa. Akan tetapi, tawa mereka berhenti ketika mendengar suara jeritan seoarang wanita. Sontak mereka semua yang ada di rumah itu berhambur ke luar rumah demi melihat siapa yang baru saja berteriak. “Lepasss! Jangan ambil anakku,” teriak wanita tersebut yang tak lain adalah Luci. Mereka yang tadi sibuk membungkus kue pun akhirnya menjadi penonton antara Luci juga seorang lelaki yang terus mendekap Shila anak dari Luci dengan sangat erat. Di dalam hatinya, Muni bertanya-tanya. Siapa gerangan lelaki yang berusaha merebut Shila dari Luci? “Kau harus ingat perjanjian kita. Sekarang kau tidak ada hak lagi atas Shila,” bentak lelaki tersebut pada Luci. Luci terus menangis dan memohon untuk tidak membawa Shila. “Tolong, Shila masih sangat membutuhkan aku. Kau boleh membawanya setelah ia berumur sepuluh tahun. Aku mohon.” Melihat Luci yang mengemis dan berlutut di kaki lelaki tersebut membuat hati Muni merasa iba. Ingin rasanya ia menolong dan merebut Shila dari tangan lelaki itu. Namun, ia takut malah akan memperkeruh keadaan. Tak lama kemudian, dari dalam sebuah mobil yang terparkir tepat di depan rumah Luci keluarlah seorang wanita dengan pakaian yang begitu glamor dan sangat terlihat mewah. Wanita tersebut berjalan mendekat pada lelaki yang sedang menggendong Shila. Ia pun bergelayut manja di pundak lelaki tersebume “Sudahlah, Sayang. Biarkan saja dia mengurus Shila. Anggap saja dia babu gratisan,” usul wanita itu dengan sedikit senyum di bibirnya. Khas orang yang sedang mengejek. “w************n kau!” hina Luci pada wanita itu. Mata Luci menatapnya dengan nyalang, ada cahaya kebencian yang terpancar dari tatapan Luci. “Ingat, ya. Aku akan pegang janjimu, saat Shila berumur sepuluh tahun dia akan jadi milik kami,” tekan lelaki tersebut sambil jari telunjuknya mengarah ke wajah Luci. Luci yang mendapatkan Shila kembali oun segera memeluk putrinya dengan erat. Ia mencium Shila berkali-kali. Lelaki dan wanita tadi berjalan menuju mobilnya dan pergi. Muni langsung berlari mendatangi Luci dan memeluknya. “Kak, kau tidak apa-apa kan?” tanya Muni memastikan. Luci menggeleng. Air matanya masih deras mengalir membasahi pipi. Sedang Shila, bocah tiga tahun itu tudak mengerti apa pun. Ia hanya terus menatap wajah ibunya dengan tatapan yang sedih. Seakan Shila mengerti, ia tidak sama sekali menangis bahkan ia terlihat begitu kuat meski matanya berkaca. “Ayo, Kak.” Muni membantu Luci berdiri dan membersihkan tubuhnya. Ia mengajak Luci untuk masuk ke rumahnya. Muni memberikan Luci segelas air, perlahan Luci pun tenang. Rasanya ingin segera Muni menanyakan apa yang terjadi. Namun, melihat Luci yang begitu amat syok membuatnya urung. Ia pun meminta Luci istirahat di rumahnya, tetapi Luci menolak dan memilih untuk pulang. Muni berjalan lagi menuju rumah tetangganya untuk melanjutkan pekerjaannya. Namun, ia bertemu dengan Erik yang berdiri di dekat pagar rumahnya. “Erik!” sapa Muni. “Kau mau kemana Muni?” tanya Erik terdengar suaranya sangat lemah. “Aku akan ke rumah Bu Berta, ia memintaku membantu membungkus kue. Erik, apa kau sakit?” Muni merasa khawatir melihat wajah Erik yang tampak pucat. “Tidak. Aku hanya lelah. Baiklah, besok saja kita bicara,” ucap Erik sambil tersenyum tipis. Ketara sekali jika senyumnya amat terpaksa. Muni menggangguk dan melanjutkan berjalan menuju rumah Bu Berta orang yang memintanya membantu membungkus kue. Setibanya di rumah Bu Berta, Muni mendengar para pekerja yang terdiri dari wanita itu sedang membicarakan hal yang baru saja Luci alami. Muni duduk, meski tangannya sibuk membungkus kue-kue, tetapi ia terus memasang telinga agar tidak terlewat satu informasi pun. “Kasihan, ya. Padahal Luci itu dulu wanita yang baik. Entah kenapa ia malah terjebak.” “Kenapa dia tidak pergi saja. Kalau aku, sudah jelas memilih pergi dari pada harus kehilangan anak.” “Muni, aku pernah lihat Luci datang ke tempatmu?” tanya Rina mengejutkan Muni. Salah satu pekerja Bu Berta ini mempunyai usia yang sama dengan Muni. “I—iya,” jawab Muni singkat. “Memangnya dia tidak pernah cerita apa pun padamu?” tanya Rina lagi membuat Muni salah tingkah. “Em ... tidak. Dia hanya main karena bosan.” Muni tidak ingin menceritakan bagaimana sikap Luci saat datang. Ia tidak ingin, para pekerja di rumah Bu Berta ini semakin membicarakan Luci. Sehari penuh, pembahasan hanya pada satu orang yaitu Luci. Mereka seakan tiada hentinya membucarakan wanita yang sedang dalam masalah itu. Muni sendiri enggan ikut bicara. Ia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pekerjaan selesai. Muni pun berpamitan pada Bu Berta. Tak lupa Bu Berta memberikan Muni sejumlah uang. Muni menerimanya dan setelah mengucapkan terima kasih ia pun pulang. Saat berada di depan rumah Erik, Muni menengadah menatap jendela kamar Erik. Di sana, pemuda tampan dengan rambut sebahu tersenyum manis pada Muni. Erik pun melambaikan tangannya pada Muni. Muni yang merasa Erik terlihat lebih baik lagi pun senang. Ia membalas senyum Erik dan membalas lambaian tangan Erik. Tiba di rumah. Muni mendapati Sony terbaring di sofa. Ia merasa aneh dengan sikap Sony kali ini. Namun, tidak ingin mendapat masalah Muni pun masuk ke kamarnya. Ia tidak ingin menegur Sony, ataupun membangunkannya. Hari beranjak malam. Muni memilih duduk di depan televisi. Sedangkan Sony, seperti biasa ia sudah pergi entah kemana. Sore tadi, Muni mendengar Sony pergi dengan terburu-buru. Kadang Muni heran dengan apa yang Sony lakukan di luar sana. Hingga hampir setiap hari, ia pergi sore dan pulang dini hari. Suara bel berbunyi dan pintu diketuk. Muni bangkit dan segera menuju pintu. Ia mendapati Luci ketika pintu terbuka. Muni langsung mempersilakan Luci untuk masuk. Ia pun mengeluarkan beberapa kue yang sore tadi diberikan oleh Bu Berta. Anak Luci tampak makan dengan lahap. Muni sesekali mengajak Shila bergurau, ia bingung harus bicara apa pada Luci. Sedangkan, Luci tampak menjadi pendiam setelah kejadian di depan rumahnya bersama lelaki tadi. “Muni, aku harus apa?” tanya Luci dengan suara sedikit parau. Sepertinya ia sudah sangat puas menangis. “Aku tidak tahu apa yang sedang kau alami, Kak. Coba kau ceritakan, ada apa sebenarnya,” pinta Muni. Ia menggenggam tangan Luci agar wanita itu merasa nyaman. “Muni, kejadiannya berawal dari beberapa tahu yang lalu.” Luci pun mulai bercerita. “Aku tidak tahu Muni. Jika dia hanya akan memanfaatkanku saja. Dia hanya ingin mendapatkan anak dariku.” Luci terisak-isak mengingat kembali masa lalunya yang hanya di manfaatkan oleh Herman. “Kenapa Kakak tidak pergi menghilang saja. Jika itu memang rumahnya, kenapa Kakak harus bertahan,” tanya Muni, ia menyayangkan sikap Luci yang masih bertahan di rumah pemberian Herman. “Aku harus kemana, Muni? Orang tuaku sudah tiada. Shila masih sangat kecil,” gusar Luci memikirkan Shila. “Lalu, Kakak akan apa?” tanya Muni kemudian. Ia tidak bisa menyarankan apa pun lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD