"Nak, Papa rindu," ucap ayah Erik dengan wajah yang begitu memelas.
"Apa kau tidak bisa mengerti. Kedatanganmu ke sini hanya akan menambah penderitaanku," geram Erik, ia mengepal tangannya dengan sangat erat.
"Nak, sekali saja. Dengarkan penjelasan papamu ini," bujuk ayahnya, ia berharap Erik akan bisa mengerti setelah ia menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.
"Tidak perlu. Lebih baik kau pergi!" tampik Erik semakin tak terkendali.
"Nak ...."
"Pergiii!" teriak Erik semakin murka.
Teriakannya yang menggelegar terdengar oleh Muni. Ia terkejut dan langsung menuju balkon agar dapat melihat yang sedang terjadi. Di dalam hatinya pun bertanya, tentang seorang pria yang baru saja datang. Mengapa tiba-tiba sikap Erik berubah saat pria itu hadir?
Setibanya di balkon, dapat Muni lihat Erik yang berdiri dengan wajah yang merah padam urat-uratnya menonjol menandakan ia sedang sangat menahan emosi. Sedangkan pria tersebut mengatupkan kedua telapak tangannya seperti sedang memohon. Muni tidak dapat mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Namun, dari gerak tubuh mereka, Muni tahu antara Erik juga pria itu sedang ada masalah.
"Pergiii!!!"
Teriakan Erik semakin menggelegar. Hingga Muni pun ikut terlonjak dan terkejut mendengarnya. Muni melihat Mbok Darsih yang berlari tergopoh-gopoh dan memeluk Erik. Entah apa yang ia bicarakan pada pria yang masih berdiri dengan wajah yang sedih itu.
Pria tersebut menunduk dan tangannya seperti sedang menyeka air mata di pipi. Kemudian ia kembali menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan dan pergi. Muni masih memperhatikan Mbok Darsih yang memeluk Erik dan memberi Erik sesuatu seperti pil dan air minum di dalam gelas. Muni benar-benar di buat penasaran.
Cepat-cepat Muni berlari turun ketika ia mendengar suara Luci yang memanggil-manggil namanya.
"Ada apa, Kak?" tanya Muni setibanya di bawah.
"Kau dengar itu tadi kan, Muni?" tanya Luci tangannya menunjuk-nunjuk ke arah rumah Erik.
Muni mengangguk tanda ia memang mendengarnya.
"Tadi itu, mobil yang datang itu ayah Erik. Sekarang kau percaya kan padaku, jika Erik memang sakit mental?" tegas Luci membenarkan kata-katanya yang tidak terbukti malam itu.
"Tapi, Kak. Menurutku dengan Erik berteriak seperti tadi bukan berati dia sedang gila. Aku tahu dia sedang ada masalah. Dan jika benar tadi itu ayahnya, mungkin ada kesalahpahaman antara dia dan ayahnya," papar Muni, ia masih tidak percaya lelaki yang kini berstatus kekasihnya itu mengalami gangguan jiwa.
"Terserah kau sajalah Muni. Aku hanya mengingatkan. Kulihat kau semakin dekat dengan Erik." Luci berbicara sambil jalan menuju Kulkas. Ia membuka kulkas dan mengambil beberapa potong kue.
Sedangkan Muni. Ia semakin di landa rasa penasaran. Pada Luci dan kini pada Erik kekasihnya pula.
***
Di dalam kamarnya, Erik sedang menangis. Mbok Darsih yang berada di sampingnya mencoba untuk menenangkan Erik. Ia merasa bersalah karena dengan tidak langsung sudah mengundang ayah Erik untuk datang.
"Mbok, aku tidak ingin melihat lelaki itu," rengek Erik, ia memeluk tubuh Mbok Darsih yang gemuk.
Mbok Darsi hanya terus mengusap punggung Erik. Ia pun bingung, tidak tahu harus berpihak kepada siapa. Sebagai seseorang yang telah bekerja pada keluarga Erik dengan cukup lama, Mbok Darsih banyak tahu apa yang terjadi dengan keluarga ini.
Berkat pengaruh obat penenang yang Mbok Darsih berikan, Erik pun tertidur. Meski terlelap, Erik masih mengeluarkan air mata dari sudut matanya.
Mbok Darsih merasa sangat iba melihat nasib Erik. Hidup di dalam keluarga yang kacau membuatnya jadi trauma. Ia yang belum mengerti apa pun di paksa untuk bisa mengerti apa yang sedang terjadi. Hingga akhirnya mentalnya sakit. Apa lagi, semenjak kepergian ibunya yang tiba-tiba. Erik semakin sulit untuk dikendalikan. Terutama di saat ada ayahnya datang.
Malam di kota Jakarta. Hujan kembali mengguyur dengan sangat deras. Muni duduk melamun mengingat Erik siang tadi. Sore tadi, ia sempat mendatangi rumah Erik. Akan tetapi, Mbok Darsih mengatakan Erik sedang tidur. Akhirnya Muni kembali dengan rasa kecewa. Ia berniat menghibur kekasinya itu sekaligus bertanya tentang apa yang tadi siang terjadi.
Lamunan Muni buyar, ketika Sony masuk dan berjalan menuju dapur. Terkadang, Muni merasa takut dengan Sony. Apa lagi mereka selalu berdua saja di rumah itu. Meski pun Sony kerap berada di luar, tetapi sesekali saat malam ia akan masuk.
Muni pun memutuskan masuk ke kamarnya. Ia mengunci pintu kamar dari dalam. Sementara hujan di luar semakin lebat. Suasana yang dingin dan suara air jatuh ke genteng, membuat hati Muni rindu pada sang ibu.
Terakhir Muni dan ibunya berkomunikasi, saat Muni mengirimkan uang lewat Farhan. Muni meminta pada Yani untuk tidak lagi bekerja mencuci pakaian. Muni merasa uang yang ia kirim sudah sangat cukup jika hanya untuk hidup ibunya seorang diri.
Muni bangkit dan menuju lemari. Ia membuka lemari itu dan meraih tas yang di dalamnya terdapat pakaian yang lebih di dominan milik Yani dahulu semasa ia gadis.
Dibukanya tas itu, kemudian mengambil salah satu baju favorit Muni. Baju dress mini bermotif bunga mawar. Muni merasa baju itu sangat cantik sekali.
"Ibu, Muni rinduuu sekali," gumam Muni, ia memeluk baju milik Yani.
Tiba-tiba Muni teringat akan sesuatu yang ada di kantung kecil di dalam tas itu. Ia pun mencoba untuk mengeluarkan pakaian dari dalam tas. Namun, sialnya saat pakaian tinggal beberapa lembar lagi lampu pun padam. Muni yang takut dengan kegelapan segera bangkit dan mencari-cari alat penerangan.
Ia bingung harus mencari ke mana. Sedangkan suasana yang gelap di campur hujan juga petir yang menyambar-nyambar membuat Muni merasa takut. Ia berusaha untuk tenang, berjalan sambil meraba-raba dinding.
Nihil. Muni tidak dapat menemukan apa pun. Ia tidak tahu di mana letak lilin. Atau mungkin memang tidak ada lilin yang tersimpan di dalam rumah itu. Akhirnya, mau tidak mau Muni pun berteriak memanggil nama Sony.
Mendengar teriakan Muni, Sony sadar bahwa Muni takut dan juga pasti bingung tidak ada penerangan sama sekali. Ia pun bergegas membawa dua buah senter masuk ke rumah.
"Bang, Sony. Syukurlah malam ini kau tidak pergi. Atau kalau tidak aku bisa mati berdiri," ucap Muni, ia merasa sangat bersyukur ada Sony di situ.
Sony mengaguk dan memberikan beberapa lilin yang belum menyala. Ia pun memberikan sebuah lilin yang telah terdapat apinya di sumbunya.
"Jangan teriak-teriak, ini sudah malam. Berisikkk!" protes Sony pada Muni. Ia pun pergi meninggalkan Muni yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya.
Perlahan Muni masuk kembali di ke kamar. Ia melihat pakaian yang tadi sempat ia keluarkan dan memasukkan kembali ke dalam tas.
"Besok saja aku buka," gumam Muni, dan memasukkan tas tersebut ke dalam lemari.
Ia pun naik ke atas kasurnya dan memilih untuk tidur agar rasa takut di hatinya tidak semakin menjadi. Suasana temaram dan hujan di luar membuat rasa rindu pada ibunya semakin menjadi.
Pagi kembali menyapa. Matahari tampak malu-malu untuk menyinari bumi. Langit masih di dominan dengan awan kelabu sisa hujan semalam. Ranting-ranting juga rerumputan masih basah oleh air hujan. Terdapat pula genangan air di jalan. Sesekali angin berhembus dingin menusuk hingga ke tulang.
Namun, meski suasana pagi yang syahdu membuat kebanyakan orang malas untuk bangun, itu tidak untuk Sony. Ia sudah sibuk mengurusi bunga-bunga yang roboh karena derasnya hujan semalam. Ia mengikat tangkai-tangkai bunga yang tak bisa berdiri tegak lagi. Sony pun membersihkan sisa air hujan yang masih menggenang di halaman rumah itu.
Begitu pula dengan Muni. Ia sudah sibuk dengan sapu juga alat pel. Hari ini ia ada janji dengan tetangga yang rumahnya hanya berjarak tiga rumah dari tempat ia tinggal. Tetangganya itu meminta Muni untuk membantunya membungkus kue. Ia memang mempunyai usaha makanan ringan, apabila sedang banyak orderan tentangannya itu pasti akan membutuhkan tenaga lebih.
Muni sebenarnya ingin menemui Erik. Namun, ia sudah berjanji pada tetangganya itu bahwa hari ini ia akan membantu. Muni tidak ingin ingkar janji. Ia pun memilih untuk menemui Erik besok hari setelah pekerjaannya membantu membungkus kue selesai.