Muni kembali dengan segelas cokelat hangat di tangannya. Ia menghampiri Sinta yang menunggunya di depan televisi dan meletakkan gelas berisi minuman cokelat itu di dekat Sinta.
"Ibu mau aku pijat?" tanya Muni menawarkan.
"Kau belum mengantuk?" tanya Sinta memastikan.
Muni menggeleng sambil menampilkan senyum di wajahnya.
"Baiklah, kaki ibu memang sangat pegal," keluh Sinta, ia meluruskan kakinya.
Muni pun mulai menekan-nekan kaki Sinta dengan pelan. Terkadang Sinta meringis menahan rasa nyilu dari pijatan Muni. Namun, tampak dari wajah Sinta ia senang. Muni merasa ini saat yang sangat tepat untuk menanyakan soal Luci.
"Bu, aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Muni, ia masih ragu-ragu.
"Tentu Muni. Kau mau bertanya apa?"
"Ibu teman baik Kak Luci bukan?" tanya Muni. Ia ingin memastikan ucapan Luci hari itu.
"Aku tidak terlalu dekat dengannya Muni. Yah, hanya sekedar mengenalnya saja," jawab Sinta.
"Ada apa?" tanya Sinta lagi. Ia merasa ada yang Muni sembunyikan.
"Tidak, Bu. Kak Luci pernah bilang jika dia berteman baik dengan Ibu," ucap Muni menjelaskan.
Sinta tersenyum. "Kau sering mengobrol dengannya?"
"Iya. Dia sering datang ke sini. Tapi, aku merasa aneh dengan sikapnya, Bu. Aku juga sempat datang ke rumahnya. Kak Luci terlihat sangat berbeda. Aku penasaran dengannya," papar Muni memberitahu kebingungannya.
"Aku juga kurang tahu Muni. Beritanya sangat simpang siur. Ada yang bilang dia menikah lalu di tinggalkan, ada juga yang bilang dia istri simpanan," ungkap Sinta membuat Muni benar-benar terkejut.
"Tapi, Bu, sikapnya yang aneh itu saat dia datang ke sini selalu saja seperti orang yang kelaparan," adu Muni lagi. Hal ini yang membuat Muni merasa Luci sangat aneh.
"Mungkin dia memang tidak punya uang Muni. Kau bantu saja jika dia dalam kesulitan," ucap Sinta menyarankan.
Muni mengangguk. Meski belum mendapat jawaban pasti, tetapi Muni sedikit mendapat petunjuk. Mungkin sikap aneh Luci berkaitan dengan kehidupan rumah tangganya.
***
Awan hitam berarak menyambut pagi. Di akhir tahun musim hujan melanda kawasan Indonesia. Tidak heran, jika banyak kawasan yang nantinya akan dilanda banjir. Beruntung rumah tempat Muni bekerja berada di tempat yang sama sekali tidak pernah kebanjiran. Meski bukan komplek elite, setidaknya komplek Permata Hijau ini di huni orang-orang menengah yang kebanyakan sibuk bekerja sebagai karyawan.
Meski tidur baru beberapa jam, Muni bangun dan menuju dapur. Ia tidak ingin Sinta sang majikan yang lebih dulu menguasai dapur. Ia ingin melayani dua orang itu saat mereka berada di rumah. Muni pun memasak beberapa hidangan yang ia pelajari dari Sinta setiap kali ia kembali ke rumah.
"Wah, wangi sekali!" seru Anton yang menghampiri meja makan. Di sana sudah tersedia beberapa makanan.
Muni tersenyum. Sinta pun muncul dari kamarnya mengikuti suaminya yang lebih dulu menghampiri meja makan.
Muni segera melayani mereka berdua.
"Wah, masakanmu enak Muni. Kau memang pintar," puji Sinta pada Muni.
Sinta dan Anton makan dengan lahap. Mereka juga memanggil Sony untuk makan bersama. Kedua suami istri ini memang mempunyai sifat yang dermawan. Mereka berdua tidak pernah melakukan Muni atau pun Sony selayaknya pembantu. Mereka menganggap Muni juga Sony sudah seperti saudara sendiri.
Usai makan, Sinta dan Anton bersiap-siap hendak kembali ke butiknya. Mereka berdua memang sengaja menyibukkan diri di sana. Mereka melakukan itu agar tidak terlalu sedih memikirkan anak yang tidak kunjung mereka dapatkan.
"Ibu pamit ya, Muni. Jaga diri baik-baik," pesan Sinta sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil dan pergi.
Muni masuk ke rumah. Setelah mengantar Sinta hingga ke depan pintu. Ia merasa sedang melepas ibunya yang hendak bekerja. Sikap baik Sinta membuat Muni merasa ia adalah ibunya.
Muni membereskan sisa makanan dan juga alat-alat kotor bekas ia memasak. Hingga aktivitasnya berhenti sejenak saat namanya di panggil seseorang.
"Wah, kau sudah masak Muni?" tanya Luci yang datang seperti biasa.
"Iya, Kak. Ayo makan," ucap Muni mempersilakan.
Tanpa malu dan ragu, Luci segera memenuhi piringnya dengan makanan yang masih tersisa di meja. Anaknya pun ikut makan dengan sangat lahap. Muni memerhatikannya dengan iba. Meski awalnya ia kesal, tetapi akhir-akhir ini ia merasa sedih melihat Luci.
"Aku bantu mencuci piring ya, Muni." Luci membawa piring-piring kotor ke tempat pencucian piring.
"Tidak perlu, Kak. Biar aku saja," jawab Muni cepat.
Luci mengangguk dan meletakkan piring-piring itu. Ia kembali duduk bersama anaknya di kursi meja makan sambil memperhatikan Muni yang membereskan dapur.
"Kak, suamimu bekerja di mana?" tanya Muni, ia sengaja bertanya perihal suami Luci. Ia ingin perlahan-lahan mencari tahu yang sebenarnya.
"Ha, emmm dia, suamiku kerja ... karyawan, iya dia karyawan di salah satu perusahaan Muni." Luci terkejut dan bingung mencari jawaban pada Muni.
Mendengar ucapan Luci barusan, membuat Muni yakin. Masalah yang sedang Luci hadapi adalah masalah keluarganya. Suaminya lebih tepat.
"Selama aku di sini belum pernah melihat suamimu, Kak," ujar Muni lagi. Membuat Luci semakin salah tingkah.
"Muni aku pulang dulu, ya." Luci langsung menggendong anaknya dan berjalan cepat.
Muni hanya memperhatikan sikap Luci. Ia terkesan menghindar dari pertanyaan Muni. Yakinlah sudah, Muni merasa tidak salah lagi. Semua sikap ane Luci di sebabkan suaminya.
***
Di lain tempat. Erik kini semakin stabil semenjak kehadiran Muni di dalam hidupnya. Hal itu membuat Mbok Darsih, pembantu yang sudah menganggap Erik anaknya itu merasa senang. Diam-diam ia memberi kabar pada ayah Erik lewat telepon.
"Benar, Tuan. Aku tidak bohong. Erik perlahan-lahan berubah. Ia sudah jarang meminum obatnya. Aku hitung obatnya belum berkurang," ucap Mbok Darsih pada ayah Erik melalui sambungan telepon.
"Apa mungkin aku bisa pulang, Mbok?" tanya ayah Erik memastikan. Ia merasa rindu pada putra semata wayangnya itu.
"Aku tidak tahu bagaimana nanti sikapnya pada, Tuan. Namun, saat ini Erik memang sangat stabil," jawab Mbok Darsih.
Lelaki berumur lima puluh tahunan itu gamam. Ia begitu rindu dengan Erik, tetapi ia pun tidak ingin jika anaknya akan semakin depresi. Ia pun menghela napas panjang, mengingat kesalahan yang ia perbuat di masa lalu yang akhirnya membuat istrinya yang tak lain adalah ibu dari Erik menjadi gila.
Ia pun tidak ingin, rasa trauma pada istrinya akan terjadi lagi pada Erik. Namun, rasa rindu di hatinya membuatnya tak kuasa menahan air mata. Ia begitu ingin memeluk putra semata wayangnya itu. Erik perlahan menjauh dan membencinya, sungguh ia merasa hal ini begitu menyakiti hatinya sebagai seorang ayah.
Mendengar apa yang telah Mbok Darsih katakan. Ia ingin mencoba menemui Erik. Barang kali saja, Erik akan lebih tenang dan bisa menerimanya kembali sebagai ayah kandungnya.
Ia bersiap, dipacunya kendaraan beroda empat itu dengan pelan. Ia tidak ingin terburu-buru. Bayangan Erik mengamuk entah mengapa bergelayut manja di benaknya. Ia takut, Erik akan berbuat nekat di saat ia kehilangan kendali.
Ia menarik napas dalam saat mobil yang ia kendarai memasuki kawasan komplek Permata Hijau. Satu persatu rumah ia lewati. Hingga akhirnya terlihatlah pagar rumahnya yang bahkan tidak bisa ia tempati. Jantungnya semakin berdebar tak menentu. Ia berharap kali ini Erik bisa menerima dan memaafkan kesalahannya di masa lalu.
Tepat di depan rumah itu. Ia melihat Erik yang sedang bercengkerama dengan seorang gadis belia. Gadis yang cantik juga terlihat sangat polos. Ia tersenyum melihat keakraban mereka berdua. Namun, senyumnya memudar ketika melihat tatapan tajam Erik yang melihat mobilnya berhenti tepat di depan pagar rumah.
Ia melihat Erik berdiri dengan wajah yang merah dan rahang mengeras. Sedangkan gadis di sebelahnya terlihat kebingungan melihat sikap Erik yang mendadak berubah.
Perlahan ayah Erik keluar dari mobil. Meski ragu, tetapi ia sangat ingin menemui anaknya.
"Muni, kau pulang dulu," pinta Erik pada Muni. Kini ayahnya telah memasuki gerbang dan berdiri di depan Erik dan Muni.
Muni yang merasa bingung pun hanya menuruti permintaan Erik. Ia melangkah pulang, tetapi saat bertemu tatap dengan lelaki yang baru saja datang itu Muni menyapa dengan mengangguk pelan dan tersenyum.
"Mau apa kau datang kesini?" tanya Erik sambil berusaha menahan amarah. Ia mendadak sulit untuk mengendalikan diri.