Sisi Baik

1393 Words
Hari berlalu begitu cepat. Hubungan Muni dan Erik pun semakin dekat. Jarak mereka yang tidak jauh pun membuat mereka sering bertemu. Meski kini bukan lagi Erik yang datang ke tempat tinggal Muni. Melainkan Muni-lah yang mendatangi rumah Erik. Semua itu agar mereka tidak mendapat tatapan sinis dari Sony. Meski sebenarnya Sony tetap menatap penuh telisik saat Muni hendak ke luar rumah. Rasa penasaran terhadap Luci pun kian menjadi. Bahkan, Luci belum juga datang menemui Muni. Hingga tiba-tiba di suatu malam, saat itu hujan sedang mengguyur kota Jakarta sedari sore. Sesekali kilat menyambar-nyambar membentuk garis cahaya yang meliuk-liuk di langit. Untuk sebagian orang, suasana ini membuat nyaman untuk tidur. Suara gemercik air dan sesekali guntur yang tidak terlalu besar seakan menjadi melodi pengantar tidur. Akan tetapi, hal itu tidak terjadi pada Luci. Ia gelisah sambil terus mendekap putrinya. Suhu tubuhnya tinggi, hujan lebat di luar sana membuatnya tidak dapat pergi untuk sekedar mencari obat. Ia terus saja menimang anaknya sambil berjalan mondar-mandir. Di dalam hatinya, sungguh Luci sangat takut akan terjadi hal buruk pada putri semata wayangnya itu. Di dalam kamar berukuran 3 x 4 meter yang bercat putih itu Muni terbaring. Ia sedang menikmati hujan di luar yang mengingatkannya pada sang ibu. Rasa rindu yang membuncah membuat ia tidak dapat terlelap. Sayup-sayup ia mendengar suara pintu diketuk. Namun, ia tidak keluar karena ia tahu ada Sony di sana. Suara ketukan berhenti. Akan tetapi, kini ketukan itu berpindah pada pintu kamarnya. Ia bangkit dan membuka pintu. "Kak Luci!" seru Muni saat melihat Luci yang berdiri bersama Sony. "Ada apa?" tanya Muni dengan sangat khawatir. Ia melihat Luci yang menangis di pipinya pun terlihat bulir-bulir bening itu masih tersisa. "Shila Muni, dia sakit. Aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa," adunya pada Muni sambil menangis. "Muni kau temani dia. Aku akan pergi mencari obat di apotek," pamit Sony membuat Muni tak percaya. Sony yang bersikap acuh nyatanya begitu sangat khawatir saat melihat Shila yang lemas di dalam gendongan Luci. Muni segera mengangguk dan berkata, "Hati-hati di jalan, Bang. Hujan sedang sangat deras." Muni pun mengajak Luci duduk. "Kakak sudah makan?" Luci menggeleng. Meski air matanya telah berhenti, tetapi isakannya masih terdengar. Muni pun berjalan menuju dapur. Ia mengambilkan Luci minuman dan sisa makanan yang ia masak sore tadi. "Makanlah dulu, Kak. Kau juga butuh tenaga, kasihan Shila jika kau juga sakit," ucap Muni sambil meletakkan piring di atas meja tepat di depan Luci. Luci menatap Muni dengan haru. Ia meraih piring tersebut dan segara makan dengan lahap. Beberapa saat menunggu, Sony pun tiba dengan basah kuyup. "Ini ambil, segera minumkan pada anakmu," ucap Sony pada Luci. Ia menyerahkan bungkusan yang berisi obat. Luci pun meraihnya sambil mengucapkan terima kasih. Muni membantu Luci untuk meminumkan Shila obat penurun panas. "Menginap saja di sini dulu, Kak," tawar Muni pada Luci. "Tapi ...." "Sudah tidak apa-apa. Ayo, malam semakin larut, aku akan membantu Kakak menjaga Shila," ajak Muni. Ia berjalan menuju kamar diiringi Luci. Mendung masih bergelayut seakan enggan untuk pergi. Sisa hujan tadi malam saja masih menyisakan hawa dingin hingga menusuk tulang. Muni bangkit dan menuju dapur hendak menyiapkan sarapan. Sekilas ia menatap pada Luci juga Shila yang masih terlelap. Perlahan-lahan Muni melangkah agar tidak menimbulkan suara. Ia mulai meraih beberapa bahan makanan dari dalam kulkas. Muni ingin menarik lagi simpati Luci dan membantunya jika ia memang sedang di rundung masalah. Muni pun mendengar Sony yang sibuk membersihkan sisa-sisa air hujan di teras rumah. Muni merasa Sony sesungguhnya seseorang yang baik. Namun, sikapnya saja yang sulit untuk ditebak. Muni tersenyum dan melanjutkan aktivitasnya memasak. Pukul 06.55 wib hampir jam tujuh Luci bangun dan segera menggendong putrinya. Namun, sebelumnya ia menempelkan telapak tangannya di jidat anaknya itu. Sudah tidak terasa panas, wajah anaknya pun sudah terlihat lebih segar. "Kita pulang ya, Shila," ucap Luci pada anak tiga tahun itu. Ketika Luci hendak melangkah ke luar, Muni lebih dulu masuk ke kamar. "Kakak sebelum pulang mari kita sarapan dulu," ajak Muni pada Luci. Luci menunduk dan menangis. Melihat itu Muni pun mendekat dan menyentuh pundak Luci yang terguncang. "Kak ada apa?" tanya Muni. "Tidak, kau masak apa Muni?" Luci segera menepis air matanya. Ia berusaha untuk tersenyum kembali. Mereka pun menuju meja makan yang sudah dipenuhi hidangan yang tampak lezat. Meski sederhana wangi dari masakan Muni begitu menggugah cacing di dalam perut Luci. Ia pun duduk sambil memangku Shila dan mulai mengisi piringnya dengan nasi juga lauk pauk. "Muni aku pulang dulu, Shila harus mandi," pamit Luci setelah selesai makan. Muni mengangguk, "Bawa obat Shila, Kak. Barangkali panasnya datang lagi." Muni menyerahkan obat yang semalam Sony beli. Setelah kepulangan Luci. Muni semakin yakin, bahwa memang ada yang Luci sembunyikan dan Muni pun yakin Luci sedang ada masalah yang berat. Muni memutuskan untuk terus mendekati Luci dan bisa mencari tahu apa penyebabnya. *** Sejak kejadian itu, Luci kembali bersikap seperti awal lagi. Ia sering datang menemui Muni dan seperti biasa ia langsung menuju dapur dan mencari makanan yang ada. Muni belum juga dapat info apa pun. Ia masih tetap memendam rasa penasarannya terhadap Luci. Kini, genap satu bulan sudah Muni berada di Jakarta. Ia sudah mengenal beberapa tetangga di komplek itu. Menurut Muni, mereka semua baik. Tidak ada yang seperti di desanya. Yang hanya menilai seseorang hanya dari kekayaannya saja. Muni pun kerap di mintai tolong. Apa bila ada tentangannya yang butuh tenaga mencuci atau pun menyetrika. Muni akan siap membantu, lagi pula pekerjaannya di rumah Sinta tidak terlalu banyak. Begitu pun hubungannya dengan Erik. Ia semakin dekat, Erik pun semakin menunjukkan pada Muni bahwa ia begitu sangat menyayangi Muni. Dan begitu sebaliknya, Muni berusaha menunjukkan pada Erik bahwa ia pun begitu menyayangi Erik. Semua berjalan dengan lancar. Gaji pertama Muni selama bekerja di Jakarta pun sudah ia kirim kepada ibunya di desa. Yani begitu terharu, saat Farhan memberikan amplop berisi banyak uang. Muni meminta Sinta untuk mengirim semua gajinya pada Farhan dan memberikannya pada Yani. Muni sengaja memberikan semua uangnya. Ia sendiri memiliki uang dari hasil membantu tetangga mencuci baju dan menyetrika. Erik pun terkadang memberinya uang, katanya sekedar untuk membeli parfum. Begitu pula Sinta, saat ia kembali ke rumah, Sinta kerap memberikan Muni uang lebih. Akan tetapi, rasa penasaran terhadap Luci membuat ganjalan di hatinya. Terkadang Muni masih saja memikirkan sikap Luci. Hingga tiba-tiba Muni teringat akan ucapan Luci yang pernah bilang bahwa ia adalah teman dari Sinta. Ia pun hendak memutuskan mencari tahu lewat Sinta perihal sikap aneh Luci. Hari yang Muni tunggu pun tiba. Sinta kembali ke rumahnya. Muni hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk dapat bertanya pada Sinta. "Apa Ibu tidak menginap?" tanya Muni yang melihat Sinta berpakaian dengan rapi. "Menginap. Ada apa Muni?" Sinta balik bertanya pada Muni. "Tidak Bu, aku lihat Ibu berpakaian rapi. Aku kira Ibu akan kembali ke butik," jawab Muni, ia merasa lega. Awalnya Muni takut Sinta tidak lama berada di rumah. "Oh, Ini. Ibu akan ke komplek sebelah. Di sana ada teman Ibu yang sedang mengadakan pesta. Apa kau mau ikut?" ucap Sinta menawari Muni. "Ah, tidak Bu. Aku di rumah saja," tolak Muni. Ia tidak ingin mengganggu acara Sinta. "Baiklah. Ibu pergi dulu ya," pamit Sinta dan dijawab anggukan oleh Muni. Waktu Menunjukkan pukul 20:15 malam. Muni tak sabar menunggu kepulangan Sinta. Hingga tak lama kemudian suara klakson mobil terdengar di depan rumah. Muni bergegas berlari dan membukakan gerbang. Ia tahu Sony pasti sudah pergi. Jadi, memang harus ia yang membuka gerbang. "Ambil ini Muni." Sinta menyerahkan bungkusan berisi makanan. Sinta dan Anton pun langsung masuk ke kamar. Lagi-lagi hal ini membuat Muni kecewa. Rencananya untuk mencari tahu tentang Luci pun terancam gagal. Muni masih duduk di depan televisi meski malam sudah sangat larut. Ia bukan ingin menonton acara yang ada di dalam televisi tersebut. Akan tetapi, ia masih berharap Sinta akan keluar kamar. Namun, ketika Muni sadar itu tak mungkin ia pun hendak mematikan televisi dan hendak pergi ke kamar. "Belum tidur Muni?" Suara Sinta mengejutkan Muni. Ia urung mematikan televisi. "Belum, Bu. Acaranya sedang bagus," jawab Muni berkilah. "Boleh Ibu minta tolong?" ucap Sinta lagi. Ia kini duduk di dekat Muni. "Tentu boleh Bu. Ibu mau aku tolong apa?" tanya Muni. "Buatkan Ibu cokelat hangat. Tubuh Ibu lelah, Muni. Jadi, Ibu kesulitan tidur. Mungkin minum coklat hangat rasa kantuk datang." Muni mengangguk. Ia bergegas menuju dapur dan membuatkan Sinta cokelat hangat minuman kesukaan Sinta. Muni pun merasa senang, ada kesempatan untuk bertanya-tanya pada Sinta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD