Menjauh

1222 Words
Muni masih mengingat kejadian saat di taman tadi. Ia masih merasa tidak percaya bahwa Erik kini telah menjadi kekasihnya. Pertama kali, ia merasakan getaran aneh yang selalu membuat darahnya berdesir. Sejak awal bertemu Erik, pemuda itu langsung mendapat tempat yang spesial di hati Muni. Akan tetapi, Muni selalu teringat dengan Luci. Ia belum juga datang lagi. Biasanya Luci pasti akan datang sesekali. Untuk pergi ke rumah Luci lagi pun Muni merasa enggan. Ia ingin menunggu Luci yang datang lebih dulu. Pekerjaan rumah yang tidak banyak membuat Muni banyak terdiam. Ia pun memilih membaca majalah yang Sinta bawa kemarin. Namun, pikirannya masih berfokus pada Luci. Sungguh, bayangan wajah Luci tidak dapat lupit dati ingatan Muni. Muni mencoba berjalan ke depan rumah Luci. Suasana rumahnya yang sepi dan tampak sangat tidak terawat. Daun-daun dibiarkan saja berguguran tanpa disapu. Bahkan, teras rumahnya pun berdebu seakan tidak ada penghuni di dalamnya. Lama Muni berdiri di depan rumah itu. Rumah yang seperti tidak ada kehidupan di dalamnya. Bahkan, Muni pun bergidik ngeri. Ia tidak dapat membayangkan, Luci yang berpenampilan cantik dan berkulit putih itu tinggal di dalam rumah yang tampak suram ini. "Huaaa!!" teriak Muni saat ia merasakan pundaknya di sentuh seseorang. "Ih, Erik!" seru Muni saat ia melihat bahwa Erik yang ada di belakangnya. "Kau kenapa di sini?" tanya Erik penasaran. "Tidak, aku hanya ingin berkeliling saja," jawab Muni berkilah. "Berkeliling? Tapi, aku lihat kau diam berdiri saja di sini, Sayang." Sontak Muni menatap Erik yang baru saja memanggilnya sayang. Dadanya yang sebelumnya berdebar karena kaget kini malah berdebar karena bahagia dan tersanjung. Sebuah sebutan yang begitu indah bagi Muni. "Kenapa sih, kau ini suka terdiam seperti ini? " celetuk Erik, makin membuat Muni salah tingkah. "Sudah, ayo ikut aku." Erik pun menarik tangan Muni. "Kita mau kemana Erik?" desak Muni meminta penjelasan dari Erik. Muni terkejut saat mengetahui Erik akan mengajaknya ke rumahnya. "Kenapa ke sini? Kalau ada yang lihat bagaimana?" "Di dalam ada pembantuku. Lagi pula kita hanya duduk di pelataran saja. Di sini lebih baik dari pada di rumah tempatmu bekerja. Tidak akan yang mengganggu kita." Erik membuka pintu rumahnya. Namun, ia duduk di kursi yang terdapat di teras rumah itu. Rumah Erik yang sederhana memang kerap tertutup. Di dalam rumah itu hanya ada Erik dan seorang pembantu yang umurnya sudah hampir enam puluh tahun. " Ada tamu, Nak?" tanya seorang ibu dengan perawakan yang sedikit gemuk dan rambut putih. "Iya, Mbok. Tolong ambilkan minum," pinta Erik padanya. Wajah wanita tua yang di panggil Mbok oleh Erik ini tampak sangat bahagia. Ia seakan senang melihat Erik yang mempunyai teman. "Dia siapa?" Muni menanyakan wanita itu pada Erik setelah ia masuk. "Dia pembantuku. Tapi, lebih dari pembantu. Kau dengar ‘kan barusan ia memanggilku apa," jawab Erik. Muni mengangguk. "Kau pasti akan suka padanya. Dia yang sudah mengurusku sejak kecil," ucap Erik lagi memberi tahu. Tak lama kemudian wanita itu datang dengan membawa minuman juga makanan ringan. "Diminum, Nak," ucap wanita itu pada Muni. "Iya, Bu," jawab Muni tersenyum. "Panggil dia Mbok Darsih." Erik menepuk pundak Mbok Darsih. Ia seakan sedang membanggakan wanita yang telah berpuluh tahun bekerja di rumahnya itu. "Mbok masuk ya, kalian mengobrollah," pamit Mbok Darsih, ia menatap lekat pada Muni seakan penuh harap. Setelah Mbok Darsih masuk ke rumah. Suasana hening. Erik dan Muni sedang sibuk dalam merangkai kata untuk membuka suatu percakapan yang seru. Ragu-ragu Muni pun berpikir akan menanyakan Luci. "Erik, aku ingin bertanya sedikit denganmu." Muni menundukkan wajahnya dan menarik napas dalam. Erik yang melihat sikap Muni yang aneh pun merasa penasaran. Ia menatap lekat pada gadis di sampingnya yang tampak sekali sedang memikirkan sesuatu. "Kau kenal Luci kan?" tanya Muni membuat alis Erik bertautan. "Kenapa?" jawab Erik seraya alisnya terangkat. "Jadi, begini. Aku merasa ada sesuatu yang aneh padanya. Ia kerap datang menemuiku, hal ini yang membuatku heran. Saat ia datang ia pasti seperti orang yang sangat kelaparan. Ia akan masuk dan langsung menuju dapur. Aku tidak masalah dengan itu, karena dia mengaku teman baik Bu Sinta. Namun, saat kemarin aku datang ke rumahnya. Dia itu sangat aneh dan sepeti orang yang ketakutan." Muni menjelaskan panjang lebar. Erik memperbaiki duduknya agar lebih nyaman lagi, ia sesungguhnya enggan untuk membahas soal Luci. "Lantas, kau mau menyelidiki Luci?" tanya Erik sedikit bernada kesal. "Bukan, aku tidak ingin menyelidikinya. Hanya saja, aku khawatir ia sedang dalam masalah," jawab Muni, wajahnya tampak gelisah. "Aku tidak tahu. Aku pun tidak ingin tahu. Kau bisa lihat dari rumahnya, dia orang yang aneh." Erik menatap ke arah rumah Luci yang hanya terlihat pagarnya saja. Muni terdiam. Ia tidak mendapatkan jawaban apa pun. Malah di hatinya semakin di penuhi rasa penasaran. "Apa kau tidak tahu sedikit pun?" tanya Muni. Ia ingin sedikit saja mendapatkan petunjuk agar hatinya tenang. "Tidak," jawab Erik singkat dan acuh. Melihat sikap Erik, Muni tahu pemuda itu tidak suka. Ia pun mencari topik pembicaraan lain agar Erik tidak sampai marah. Suasana yang tadi hampir dingin kini kembali hangat. Mereka bercerita tentang hobi, makanan favorit, yang ternyata banyak kesamaan. "Mungkin kita memang jodoh Muni. Itu sebabnya kita sama," ucap Erik di sela tawa mereka. Melihat Erik tertawa membuat Mbok Darsih meneteskan air mata. Ia merasa anak dari majikannya itu akan sembuh. Ia ingin Erik menjadi lelaki yang normal dan tidak selalu bergantung dengan obat. Ia yang sedari tadi memperhatikan Erik juga Muni dari dalam ikut tersenyum haru. Tiga jam berlalu. Langit biru mulai menunjukkan rona kuningnya menandakan hari hampir sore. Muni pun berpamitan untuk pulang. "Kau terlihat sangat bahagia bersamanya, Nak," ucap Mbok Darsih ketika Erik masuk ke dalam rumah. Erik pun memeluk tubuh gemuk Mbok Darsih dengan penuh kasih sayang. Wanita yang mengurusnya sedari kecil itu memang sangat dekat dengan Erik. Erik masuk ke kamarnya. Ia meraih sebuah album foto yang ia simpan di dalam lemari. Gambar seorang anak lelaki bersama wanita yang amat cantik. Anak itu adalah Erik dan ibunya. Ia membuka satu persatu halaman album foto itu. Sesekali mengusap pada wajah ibunya di dalam foto. *** Beberapa hari berlalu, Luci belum juga datang menemui Muni. Hal ini membuat Muni makin penasaran. Ia memutuskan untuk datang ke rumah Luci lagi. Wajah Luci hari itu, membuat hati Muni semakin tak menentu. Saat ia mengingatnya mendadak Muni merasa sesak dan ingin menangis. Meski ia tak tahu, apa yang harus ia tangisi. Muni berjalan sedikit ragu. Panas matahari yang terik membuat rumah Luci tampak lebih gersang lagi. Ia membuka gerbang yang tidak terkunci. Muni pun mulai memasuki halaman rumah Luci yang sangat mini malis, tetapi di penuhi dengan banyak sampah juga dedaunan kering. Ia pun mengetuk pintu rumah Luci dengan pelan. Tidak ada sahutan dari dalam. Namun, Muni mendengar seorang anak kecil yang terus menangis. Dia Shila anak dari Muni. Tangisan Shila membuat Muni merasa semakin iba. Ia mengetuk pintu rumah Luci sedikit lebih keras lagi. Kini terdengar sahutan dari dalam. Tak lama kemudian pintu rumah itu terbuka, tetapi hanya sedikit saja. "Muni, kenapa kau ke sini?" tanya Luci yang terlihat sangat terkejut. "Aku ingin mengobrol denganmu, Kak," jawab Muni beralasan. "Aku sedang sibuk. Kapan-kapan saja kau datang," tolak Luci kemudian menutup pintu dengan sedikit kasar. Muni tersentak saat pintu tertutup keras. Namun, sekilas Muni dapat melihat Luci yang memang jauh berbeda. Ia yang biasa datang dengan penampilan rapi, terlihat sangat tidak terurus. Bahkan, baju daster yang ia pakai pun terlihat banyak sekali robekan. Muni sungguh tidak mengerti ada apa dengan Luci.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD