Erik terus menatap wajah pucat Muni yang sedang terlelap. Ia pun teringat pada mendiang ibunya. Tak lama ia merasakan kebahagiaan bersama sang ibu. Namun, masalah yang ayahnya ciptakan membuat masa kecilnya ternoda dan hingga kini noda itu sukar untuk dihapus dari ingatan.
Mbok Darsih sering menceritakan hal yang sebenarnya. Namun, Erik terus saja menolak kebenaran itu. Bahwa ibunya ikut andil dalam tragedi bunuh dirinya itu. Ibunyalah yang memperkeruh segala masalah dalam keluarganya.
Satu nama yang tak pernah Erik temui lagi. Yaitu Teddy. Guru privatnya yang kata Mbok Darsih turut menjadi pemacu keretakan rumah tangga orang tuanya. Hendak mencari pun Erik tak tahu. Padahal, ia sangat ingin bertemu untuk bertanya lagi tentang masa lalu.
Hingga saat ini, semua seperti sebuah film yang tiada usai. Erik seperti sedang memainkan sebuah peran yang dia sendiri tidak akan pernah bisa menolak.
Erik tak menyangka akan ada di titik ini. Bertahun-tahun menjauh dari keramaian akhirnya kini ia bertarung lagi dengan hiruk pikuk dunia yang penuh kepalsuan. Sungguh saat ini Erik enggan mempercayai siapa saja. Namun, melihat Muni hatinya seakan merasa terketuk dan selalu ingin melindunginya.
Bagi Erik kehadiran Muni begitu amat berarti. Setiap kali Muni berada dekat dengannya, ia merasa hidupnya kembali berwarna. Kehilangan sang ibu cukup terlupakan saat Muni berada dekat di sisinya.
*
"Bang, apa harus kita kabari orang tua Muni?" tanya Sinta pada Anton. Sinta telah tiba di butiknya lagi dan langsung membicarakan perihal Muni pada Anton.
"Kabari saja. Lagi pula, kenapa Muni dekat-dekat Erik terus. Apa Sony tidak memperingati?" jawab Anton, ia tampak geram saat mengingat Erik.
"Hum, entahlah, Bang. Aku mau menelepon Farhan dulu," ujar Sinta, tangannya sibuk menekan tombol telepon genggam.
Suara telepon tersambung, tak lama kemudian suara Farhan pun terdengar. Sinta langsung mengatakan tujuannya menelepon, kemudian Farhan meminta untuk memutuskan panggilan sejenak karena ia hendak mendatangi rumah Yani.
Yani yang kini lebih banyak di rumah terkejut melihat kedatangan Farhan.
"Ini, Bu. Tante Sinta, majikan Muni menelepon," ucap Farhan sambil menyerahkan telepon genggam yang kini sudah tersambung lagi pada Sinta.
"Bu Yani, saya Sinta. Hum, begini saya mau mengabarkan bahwa Muni masuk rumah sakit ...."
"Ha! Apa? Apa yang terjadi pada anakku, Bu?" potong Yani yang terkejut mendengar kabar Muni masuk rumah sakit.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Bu. Muni hanya demam, mungkin hanya perlu beberapa hari perawatan dia akan pulih," jawab Sinta, ia mencoba menenangkan Yani yang suaranya mulai bergetar.
"Bu, tolong sering-sering kabari saya." Yani mengusap air matanya. Hatinya ingin untuk bisa menjaga putrinya yang tengah sakit. Namun, jarak yang jauh tidak memungkinkan untuk Yani datang.
Yani kembali memberikan telepon pada Farhan lalu kembali masuk ke rumah. Yani terduduk lemas di sebuah kursi kayu. Mengingat lagi putrinya saat bersama dulu. Saat Muni sakit, ia selalu mengingau dan Yani akan selalu mendekap Muni menenangkan rasa gelisah hati putrinya.
Akan tetapi, kini ia tidak berada di dekat Muni. Pedih hati Yani memikirkan nasibnya dan putrinya. Setiap harinya ia selalu memendam rindu yang entah kapan akan berujung. Harapan Yani hanya Muni segera kembali, tetapi Muni seakan enggan. Semua karena Muni ingin membahagiakan Yani.
Di rumah sakit, Muni terbangun dan melihat Erik dengan senyum manisnya. Tubuhnya telah membaik, tetapi rasa haus kini melanda tenggorokannya.
"Erik, aku mau minum," kata Muni dengan sangat lemah.
Dengan sigap Erik meraih gelas, ia isi dengan air mineral dan meletakkan pipet di dalamnya agar Muni tidak kesulitan untuk minum. Perlahan ia mengarahkan pipet pada bibir Muni dan memegang gelas sampai Muni selesai minum.
Muni menatap langit-langit kamar. Menerawang jauh pada sang ibu yang ada di desa. Mengingat kembali masa-masa mereka bersama.
Erik yang memperhatikan Muni pun mendekat, lalu ia berkata, "Kau kenapa Muni? Katakan apa yang sakit?"
Muni menggeleng pelan, dari kelopak matanya mengalir buliran bening membasahi pipi. "Aku rindu pada ibuku," katanya kemudian.
"Kau ingin bertemu ibumu? Apa aku harus membawa ibumu ke sini?" tanya Erik, wajahnya menunjukkan bahwa ia begitu amat menyayangi Muni.
Muni menggeleng lagi. "Aku hanya ingin bicara pada Ibuku, Erik."
"Baiklah, apa kau ingat nomor telepon ibumu?" tanya Erik kemudian, ia berniat menghubungi ibu Muni.
"Tidak. Tapi, aku mencatatnya di buku telepon di rumah Bu Sinta."
"Baiklah, aku akan meminta pada Mbok Darsih untuk mengirim nomor itu," ucap Erik kemudian melangkah keluar. Ia hendak mencari telepon umum.
Setelah sejenak berkeliling mencari telepon umum, akhirnya Erik menemukan WARTEL yang jaraknya tidak jauh dari klinik. Ia masuk ke dalam bilik kecil itu dan langsung menekan nomor untuk menelepon Mbok Darsih.
"Mbok tolong ke rumah Bu Sinta. Minta pada si tukang kebun itu untuk meminjamkan buku telepon," ucap Erik setelah Mbok Darsih menerima panggilannya.
Mbok Darsih pun bergegas mendatangi rumah Sinta. Setelah Erik memberi tahu keadaan Muni yang rindu pada ibunya. Ia tidak ingin gadis itu menunggu.
Pintu pagar yang tidak tertutup membuat Mbok Darsih masuk tanpa permisi. Ia mencari-cari sosok Sony di kebun kecil di depan rumah itu. Namun, Mbok Darsih tidak juga menemukan keberadaan Sony.
Sony yang mengetahui kedatangan Mbok Darsih enggan menemui. Ia bersembunyi di dalam kamarnya dan terus saja diam meski suara Mbok Darsih terus saja memanggil namanya.
Mbok Darsih hampir menyerah, tetapi ia teringat lagi pada permintaan Erik untuk harus meminta buku itu. Ia pun kembali berteriak lebih kencang memanggil nama Sony. Meski Sony pun tetap diam dan tidak menyahut panggilan Mbok Darsih.
Merasa lelah memanggil Sony yang tak kunjung terlihat batang hidungnya. Mbok Darsih pun masuk ke rumah itu. Ia mendekati telepon rumah uang terletak di meja dekat sofa. Di sana terdapat buku kecil berwarna cokelat. Mbok Darsih yakin, buku itulah yang Erik maksud.
Setelah mendapatkan buku telepon itu, Mbok Darsih pun kembali pulang.
Di dalam kamar tempat Muni di rawat, Erik tengah sibuk menyalakan sebuah telepon genggam yang baru saja ia beli. Ia sengaja membeli untuk Muni menghubungi ibunya. Selama ini, Erik tidak berminat memiliki benda berbentuk persegi yang dapat menghubungi orang dari jarak jauh itu.
Telepon genggam yang Erik beli sudah siap dan bisa untuk di pakai. Ia pun mulai menekan nomor telepon rumahnya.
"Sudah ada Mbok?" tanya Erik pada Mbok Darsih lewat sambungan telepon.
"Sudah, Nak. Tapi, yang mana. Di sini banyak catatan nomor telepon," jawab Mbok Darsih, ia mengernyitkan keningnya sambil menatap baris angka di dalam buku tersebut.
"Muni, atas nama siapa kau simpan nomor ibumu?" tanya Erik pada Muni yang terlihat tak sabar untuk segera bisa bicara pada ibunya.
"Bang Farhan, Erik. Aku menulis di dalam buku itu atas nama Bang Farhan. Itu nama tetanggaku," jawab Muni.
"Mbok cari yang namanya Bang Farhan," pinta Erik pada Mbok Darsih.
"Oh, ini." Mbok Darsih mulai menyebutkan baris nomor yang di atasnya terdapat nama 'Bang Farhan'
"Baiklah Mbok, terima kasih. Oh iya, Mbok sore ini tolong datang ke klinik. Bawakan aku baju, lagi pula aku tidak mungkin menjaga Muni sendiri. Ia butuh ke kamar mandi," pinta Erik pada Mbok Darsih sebelum akhirnya telepon ia putuskan.
Erik mulai menghubungi Farhan. Sedangkan Muni menunggu dengan binar bahagia di wajahnya. Obat yang paling ampuh, yaitu suara sang ibu.
"Aku Erik, teman Muni. Tolong berikan telepon ini pada ibunya Muni," ucap Erik dengan kaku.
Farhan yang baru saja kembali dari rumah Yani pun kembali memutar arah. Ia sedikit berdecak kesal apa lagi ucapan Erik seakan memerintah.
"Nak Farhan, ada apa?" pekik Yani yang terkejut melihat Farhan kembali.
"Bu, ini teman Muni menelepon," tukas Farhan sambil tangannya menyerahkan telepon genggamnya pada Yani.
Yani mengerutkan keningnya. "Halo, maaf ini siapa?" tanya Yani hati-hati.
"Ini Muni, Bu!" ucap Muni dengan senyum terukir di wajahnya. Seakan sakit di tubuhnya sembuh seketika.
"Muni! Anak Ibu. Bagaimana keadaanmu, Nak. Ibu Sinta bilang kau sakit."
"Iya, Bu. Tapi, setelah mendengar suara Ibu. Muni merasa sembuh," jawab Muni sambil terkekeh.
"Muni jaga kesehatan. Ibu ingin kau kembali dengan sehat, Nak," ucap Yani, ia merasa lega setelah mendengar suara Muni.
"Pasti, Bu. Ibu jangan khawatirkan Muni. Saat Muni sakit, suara Ibu-lah obat yang paling mujarab," ucap Muni di akhiri kekehnya lagi.
Cukup panjang Muni dan Yani berbincang lewat telepon. Hingga ia lupa di sampingnya ada Erik yang menatap dengan sendu. Ia pun merasa rindu pada sang Ibu. Sosok yang begitu amat ia rindukan hingga tak akan pernah ada ujung. Sebab rindu itu tak akan pernah lagi bertuan.