Tiga hari berlalu, Muni akhirnya di perbolehkan untuk pulang. Mbok Darsih dan Erik sedang membereskan barang-batang Muni selama di klinik. Mereka tampak semakin akrab bahkan seperti seorang anak dan ibu. Muni tak lagi canggung berdekatan dengan Erik.
“Muni, aku sudah membayar semua biaya perawatanmu. Ayo kita pulang.” Suara Anton mengejutkan Erik dan Muni juga Mbok Darsih. Mereka saling melempar tatap dan Mbok Darsih akhirnya mengangguk, tetapi tangannya mencekal tangan Erik yang hendak menghalangi Anton membawa Muni.
“Biar kami saja yang bawa barang-barang Muni,” ucap Erik pada Anton.
“Tidak perlu. Muni adalah tanggung jawabku,” jawab Anton kemudian meraih tas yang ada di dalam gengaman Mbok Darsih dengan sedikit kasar.
Muni berjalan di samping Anton. Sesekali ia menengok ke arah di mana Erik dan Mbok Darsih masih berdiri kaku memandang Muni yang semakin menghilang bersama Anton. Masih dapat Muni lihat, Mbok Darsih berusaha menenangkan Erik.
“Maafkan aku, Erik,” gumam Muni di dalam hatinya.
Mobil milik Anton telah menunggu di depan klinik. Muni lantas masuk tanpa aba-aba dari Anton. Namun, ia terkejut melihat Sinta yang duduk di dalam mobil itu.
“Ibu. Aku pikir Ibu tidak ikut menjemputku.” Muni menatap bingung pada Sinta yang hanya diam di dalam mobil saja.
“Duduklah Muni. Kau baru saja sembuh.” Tanpa menjawab pertanyaan Muni, Sinta tetap menunjukkan wajah ramahnya pada Muni.
Anton mulai melajukan mobilnya dengan sangat stabil. Tidak ada percakapan antara mereka bertiga. Suasana di dalam mobil itu lengang hanya ada suara kendaraan lain dari arah luar.
Tak perlu qaktu lama, mereka pun tiba di rumah. Sinta mmebantu Muni untuk berjalan masuk ke kamarnya.
“Istirahatlah di kamarmu, Muni,” usul Sinta pada Muni. Ia pun memgangguk, tubuhnya yang masih terasa lemas memang masih harus banyak istirahat.
Muni mengerjapkam matanya. Ia melihat ke arah jendela terlihat langit telah gelap artinya hari sudah malam. Muni tak menyadari berapa jam ia tertidur. Namun, suara orang yang bercakap membuat tidur nyenyaknya itu terganggu. Ia mencoba mendengarkan suara itu yang tak lain adalah kedua majikannya yaitu Anton dan Sinta.
Hal yang membuat Muni lebih tertarik lagi. Kedua suami istri itu tampaknya sedang membicarakan dirinya.
“Kita pulangkan saja. Aku tidak ingin nanti kita yang akan menanggung malu.” Suara Anton, tampaknya ia sangat serius.
“Beri kesempatan sekali lagi, Bang. Nanti aku yang akan menasihati Muni. Kasihan dia,” jawab Sinta, dari suaranya ia terus membela Muni. Sedang Muni sendiri sebagai topik perdebatan suami istri itu pun bingung. Ia tak mengerti kesalahan apa yang ia lakukan hingga Anton tampak sangat tidak suka.
Obrolan yang membuat tegang itu pun usai tanpa ada penjelasan. Satu kesempatan yang Sinta ucapkan masih belum Muni mengerti untuk apa dan salah apa?
“Apa mungkin, karena aku sakit?” Muni mencoba menerka apa yang sedang terjadi. Ia pun mencoba bangkit dari tubuh yang lemah itu.
Muni melangkah menuju dapur. Cokelat hangat jadi tujuannya masuk ke dalam dapur, minuman kesukaan Sinta dan Anton. Ia berharap dapat kembali mengambil hati kedua orang yang berjasa baginya itu.
“Muni! Kau sedang apa?” Sinta terkejut saat melihat Muni yang sudah berada di ruang dapur itu.
“Ini, Bu. Aku sedang membuatkan cokelat hangat,” jawab Muni , sebisa mungkin ia menyembunyikan rasa lemasdi tubuhnya itu.
“Sudah kau istirahan saja dulu, Muni. Kau belum pulih. Jangan kerjakan apa pun dulu.” Sinta menarik tangan Muni keluar dari dapur. Sedang Muni yang memang tubuhnya belum stabil pun hampir saja terjatuh. Tubuhnya terhuyung karena kepalanya yang seperti berputar.
“Muni aku ‘kan sudah minta kau istirahat. Jangan lakukan apa pun sampai kau pulih,” tekan Sinta, semburan rasa khawatir hadir di wajah wanita cantik itu.
“Bu, aku masih ingin kerja di sini.” Tangis Muni akhirnya pecah.
Sinta memeluk tubuh Muni yang bahunya terguncang karena menangis. “Kau bicara apa Muni. Memangnya siapa yang akan memecatmu?”
“Tadi, tidak sengaja aku mendengar Ibu dan Bapak bicara tentangku. Bu, apa Bapak sangat marah padaku, hingga ia mau memulangkan aku ke desa lagi?”
“Aku sebenarnya ingin mengatakan ini jika kau sudah sembuh. Namun, karena kau bertanya maka aku akan katakan Muni.
Suamiku tidak suka kau dekat dengan Erik. Mengingat keluarganya yang berantakan. Anton takut ia akan seperti ayahnya.
Jadi, aku minta jauhi Erik.”
Muni menatap tak percaya pada Sinta. Baru saja, ia merasa taman bunga di hatinya tumbuh dengan subur oleh kehadiran Erik. Namun kini, ia malah di minta untuk menjauhi Erik.
Air mata Muni meluncur bak air terjun deras tanpa bisa di tahan. Bukan lagi perihal ucapan Anton yang ia tangisi. Namun, larangan untuk dekat dengan Eriklah yang ia ratapi.
“Aku harap kau bisa menjaga kepercayaan kami, Muni,” ucap Sinta. Ia pun melangkah keluar kamar meninggalkan Muni dengan rasa sedih di hatinya.
“Apa yang akan aku katakan pada Erik?” gumam Muni.
Erik berdiri di balik jendela. Menatap malam dengan bintang yang menghiasi angkasa. Hatinya gelisah memikirkan Muni yang tiada ia lihat setelah kepulangannya dari klinik. Erik memperhatikan rumah tempat Muni tinggal. Mobil milik Anton masih terpakir di halaman.
Erik ingat betul tatapan benci dari Anton padanya. Itu sebabnya Erik urung untuk datang menemui Muni di rumah itu. Ia enggan bertemu dengan majikan Muni yang semakin ketus terhadapnya. Ia memilih untuk menunggu kedua majikan Muni pergi.
Seminggu berlalu. Akhirnya hari yang Erik tunggu pun tiba. Ia melihat mobil milik Anton dan Sinta pergi dan di sana Muni berdiri melepas kepergian kedua majikannya. Erik melambaikan tangan pada Muni. Namun, ia merasa heran karena Muni hanya menatap dan menampilkan senyum yang seakan terpaksa padanya.
“Apa Muni marah padaku, karena aku tidak datang menjenguk?” terka Erik. Ia merasa gelisah dengan sikap Muni yang terlihat berbeda.
Erik turun ke lantai bawah di mana Mbok Darsih sedang membersihkan rumah. Entah sejak kapan, mengadu pada Mbok Darsih seperti menjadi kebiasaan baginya sekarang.
“Mbok, apa kau sibuk?” tanya Erik mengejutkan Mbok Darsih. Ia sedang berbicara pada seseorang lewat telepon.
Buru-buru Mbok Darsih meletakan telepon pada tempatnya. “Tidak. Ada apa?” tanya Mbok Darsih salah tingkah.
Erik mengerutkan keningmya. “Ada apa Mbok? Kenapa kaget?”
“Oh, anu ... Mbok kaget kau tiba-tiba saja datang. Ada apa, Nak?”
“Mbok, aku ingin menemui Muni. Aku rasa ia marah karena sedari ia pulang aku tidak menjenguk,” adu Erik pada Mbok Darsih.
“Nanti Mbok ke depan mencari buah untuk kau bawa ke rumah Muni,” ujar Mbok Darsih, menciptakan senyum di wajah Erik.
*
Erik mengetuk pagar yang terlihat terkunci. Ia tampak sangat gagah dibalut dengan baju kemeja dan celana denim. Di tangannya memegang keranjang yang dipenuhi dengan berbagai macam buah.
“Mau apa?” tanya Sony, ia memperhatikan Erik dari ujung kaki hingga ke kepala.
“Aku ingin bertemu Muni.”
“Tidak bisa. Tuan dan nyonyaku melarang kau masuk dan bertemu dengan Muni. Silakan pergi,” usir Sony pada Erik dengan nada sinisnya.
Merasa tak terima, Erik berteriak memanggil nama Muni. Muni berdebar, ia bingung antara menepati janjinya pada Sinta atau melepas rindu dengan Erik.
Akan tetapi, suara Erik semakin meninggi. Muni khawatir akan memancing penghuni lain. Ia pun bergegas keluar untuk menemui Erik.
“Muni aku datang,” ucap Erik ketika melihat Muni.
Sony menatap pada Muni dengan sangat sinis. Ia dongkol karena Muni malah keluar dan menemui Erik.
“Masuk!” tekan Sony pada Muni.
“Sebenar saja, Bang. Setelah itu aku janji tidak akan menemui Erik lagi.”
Erik tampak terkejut mendengar penuturan Muni. Ia menatap Muni dengan penuh tanda tanya.
“Erik ayo kita ke bangku taman!” ajak Muni, Erik pun mengikuti langkah gadis yang sangat ia cintai itu.
Tiba di taman. Sesaaat mereka hening. Muni sedang menata hati dan merangkai kata untuk mengungkap hal yang sebenarnya pada Erik. Sungguh ia tak kuasa menghancurkan hati pemuda yang berusaha membuat bunga di hatinya senantiasa mekar itu.
“Muni, jelaskan apa maksud perkataanmu pada tukang kebun itu?” desak Erik, ia tak sabar melihat Muni yang terus saja diam.
Muni menatap wajah Erik dengan sendu. “Ini di luar kekuasaanku Erik. Pak Anton dan Bu Sinta melarangku untuk dekat denganmu.” Muni menunduk setelah mengatakan itu, ia tak sanggup melihat wajah Erik yang sangat kecewa.