BAB 1: Negosiator Empat Tahun dan Klien Raksasa
"Keberatan, Mami. Selai kacang itu melanggar hak asasi seleraku."
Rania Mahardika, dua puluh tujuh tahun, Senior Associate di salah satu firma hukum paling bergengsi di SCBD, menghentikan olesan pisaunya di atas roti tawar. Ia menarik napas panjang, menunduk menatap bocah laki-laki berusia empat tahun yang sedang duduk di kursi makan tingginya sambil melipat tangan di depan d**a.
Bumi Mahardika menatap ibunya dengan dahi berkerut. Sebuah kerutan identik yang belakangan ini sering membuat d**a Rania berdesir aneh karena mengingatkannya pada seseorang yang seharusnya sudah ia kubur dalam-dalam di masa lalu.
"Bumi, sayang, selai kacang mengandung protein tinggi. Otakmu butuh protein untuk merakit lego Dinosaurus yang baru Mami belikan kemarin," Rania mencoba bernegosiasi, melirik jam tangan Cartier di pergelangan tangan kirinya. Pukul 07.15 WIB. Tiga puluh menit sebelum rapat evaluasi mingguan.
"Tapi teksturnya lengket, Mi. Seperti lumpur. Bumi tidak suka. Bumi mau selai cokelat. Atau tidak makan sama sekali," balas Bumi dengan nada final, dagunya sedikit terangkat.
Rania memejamkan mata sejenak. Kadang ia lupa bahwa berdebat dengan Bumi sama menguras tenaganya dengan berdebat dengan pengacara lawan di ruang sidang. Bocah ini tidak menangis atau tantrum seperti anak empat tahun pada umumnya. Dia berargumen.
"Baiklah. Settlement," Rania menghela napas, menaruh pisau selai kacang dan mengambil botol Nutella. "Setengah kacang, setengah cokelat. Kesepakatan yang adil. Mami tidak menerima banding."
Bumi tampak berpikir sejenak, menimbang-nimbang tawaran itu dengan raut wajah serius, sebelum akhirnya mengangguk. "Sepakat. Tapi susunya jangan terlalu panas, Mi."
"Siap, Bos Kecil." Rania mengecup puncak kepala anaknya yang berambut lebat dan sedikit ikal itu.
Tiga puluh menit kemudian, setelah menitipkan Bumi pada Mbak Nur, pengasuh kepercayaannya, Rania melangkah masuk ke lobi gedung perkantoran kaca di jantung Jakarta. Jas tailored hitamnya melekat sempurna, dipadukan dengan kemeja sutra putih dan stiletto merah marun yang suaranya menggema tajam di lantai marmer. Rania adalah gambaran sempurna seorang pengacara korporat: dingin, tak tersentuh, dan selalu siap membantai argumen lawan.
"Rania! Ya ampun, untung lo belum masuk ruangan Pak Tjahjono."
Sebuah suara nyaring menghentikan langkah Rania. Clara Maharani, sahabat sekaligus rekan sesama pengacara di firma Tjahjono & Partners, berlari kecil menghampirinya sambil menyodorkan segelas Iced Americano. Penampilan Clara selalu kontras dengan Rania; hari ini ia memakai blazer fuschia menyala yang entah bagaimana tidak melanggar dress code kantor.
"Ada apa? Sidang mediasi kasus tambang kemarin gagal?" tanya Rania seraya menyambut gelas kopi itu seperti orang kehausan di padang pasir.
Clara mengibaskan tangan, gelang emasnya bergemerincing. "Bukan! Ini lebih besar dari tambang. Lo tahu Wiraguna Group? Raksasa real estate dan hospitality yang menguasai setengah proyek hotel mewah di Asia Tenggara?"
"Tentu saja. Hendra Wiraguna. Kudengar dia sedang diinvestigasi KPPU soal monopoli, tapi buktinya selalu nihil," jawab Rania santai sambil berjalan menuju lift.
"Nah, berita terbarunya, Hendra Wiraguna pelan-pelan mundur dari posisi operasional. Dia menaikkan anak laki-lakinya jadi CEO baru. Dan tebak? Firma kita baru saja memenangkan pitching untuk jadi konsultan hukum eksternal mereka dalam proyek akuisisi lahan mega-resort! Rapat perdananya hari ini!" mata Clara berbinar-binar. "Gue dengar dari anak-anak divisi M&A, CEO barunya ini gila kerja, ruthless, dan... tampan parah. Masih di bawah tiga puluh tahun."
Rania menekan tombol lift, wajahnya datar. "Clara, mau dia setampan Chris Evans atau sekaya Elon Musk, klien tetaplah klien. Artinya, jam tidur kita akan dipotong lagi, tagihan billable hours akan mencekik, dan kita harus siap ditelepon jam dua pagi hanya karena Bapak CEO yang terhormat panik membaca draf kontrak yang tidak dia mengerti."
"Lo itu emang batu es, Ran. Nggak ada romantis-romantisnya sama sekali," cibir Clara saat pintu lift terbuka. "Ngomong-ngomong, Bumi sehat? Kemarin gue titip mainan dokter-dokteran ke Mbak Nur, dimainin nggak?"
Raut wajah Rania seketika melunak. "Dimainin. Tapi dia membedah boneka beruangnya untuk mencari organ dalam, lalu menuntutku karena malapraktik medis. Anak itu... dia terlalu pintar, Cla."
"Bapaknya pasti orang yang sangat menyebalkan tapi cerdas," gumam Clara tanpa dosa.
Langkah Rania terhenti sejenak. Jantungnya berdetak tidak nyaman. Sudah lima tahun sejak malam di Bali itu, dan identitas ayah Bumi adalah satu-satunya rahasia yang ia bawa sampai mati. Clara, satu-satunya orang di kantor yang tahu Rania punya anak, sudah bosan bertanya. Rania selalu menjawab bahwa itu adalah 'kecelakaan satu malam dengan turis mabuk yang tak ia ingat namanya'. Sebuah kebohongan yang rapi.
"Ayo cepat, Pak Tjahjono benci orang telat," Rania mengalihkan pembicaraan, melangkah keluar dari lift menuju ruang sudut yang elegan.
Di dalam ruangan yang didominasi kayu oak dan aroma cerutu itu, Bapak Tjahjono, Partner Senior firma, sedang berdiri membelakangi mereka, menatap jendela yang menampilkan skyline Jakarta. Ia berbalik saat Rania dan Clara masuk.
"Duduk, Mahardika, Maharani," sapa pria paruh baya bertubuh tambun itu.
Rania duduk dengan punggung tegak. "Bapak memanggil saya?"
"Ya. Seperti yang mungkin sudah digosipkan oleh seluruh kantor ini, kita baru saja resmi menjadi retainer untuk Wiraguna Group," Pak Tjahjono melempar sebuah map tebal berwarna biru ke atas meja. "Proyek terdekat mereka adalah pembangunan mega-resort di sebuah desa di Karangasem, Bali. Nilai investasinya fantastis. Masalahnya, lahan seluas lima hektar yang menjadi titik pusat resort itu adalah tanah yang berstatus abu-abu."
Rania mengerutkan kening, insting hukumnya langsung bekerja. Ia membuka map itu, matanya memindai dengan cepat. "Abu-abu bagaimana, Pak? Ini sertifikat Hak Milik."
"Baca catatan di halaman lima," potong Pak Tjahjono. "Menurut warga desa adat di sana, tanah itu adalah Tanah Laba Pura. Tanah suci yang diwariskan turun-temurun untuk membiayai pemeliharaan Pura leluhur. Namun, di era 90-an, ada manipulasi sertifikat yang membuat statusnya menjadi Hak Milik atas nama individu. Sekarang, Wiraguna Group ingin membelinya dari individu tersebut, tapi warga desa mengancam akan melakukan blokade adat dan membawa ini ke pengadilan."
Rania menelan ludah. Kata 'Desa Adat di Bali' entah kenapa selalu sukses membuat perutnya mual karena gugup.
"Saya menunjuk kamu untuk memimpin kasus ini, Rania," lanjut Pak Tjahjono.
"Saya? Pak, divisi litigasi properti dipimpin oleh Pak Hermawan. Saya biasanya di bagian korporat umum dan akuisisi," Rania memprotes halus.
Pak Tjahjono mencondongkan tubuhnya ke depan. "Saya butuh kamu, Rania. Saya sudah membaca kembali skripsi dan tesis master-mu. 'Benturan Hukum Agraria Nasional dan Awig-Awig Bali Terkait Alih Fungsi Tanah Laba Pura'. Kamu adalah satu-satunya pengacara di gedung ini yang mengerti cara kerja hukum adat mereka tanpa harus membaca buku lagi. Kamu tahu seluk-beluknya, kamu tahu bahasanya."
Rania terdiam. Tentu saja dia tahu. Dia menghabiskan waktu berbulan-bulan lima tahun lalu, meneliti di sebuah desa, dipandu oleh seorang pemuda desa lokal bersarung yang kulitnya berbau sinar matahari dan tanah basah. Pemuda yang... ah, Rania menepis pikiran itu kasar-kasar.
"Rapat perdananya pukul sepuluh pagi ini di ruang kaca," ujar Pak Tjahjono final, tidak menerima penolakan. "CEO barunya akan datang langsung bersama asistennya. Dia kabarnya sangat teliti dan tidak suka basa-basi. Jangan buat saya malu, Rania. Yakinkan dia bahwa kita bisa mengeksekusi lahan itu secepatnya."
"Baik, Pak. Saya akan pelajari berkasnya sekarang," Rania berdiri, mengambil map tebal itu dengan tangan yang, tanpa bisa ia cegah, sedikit berkeringat.
Ini hanya kasus biasa, batin Rania meyakinkan dirinya sendiri. Bali sangat luas. Ada ribuan desa di sana. Tidak mungkin ini desa yang itu. Dan yang lebih tidak mungkin lagi, masa lalunya akan datang menghantuinya di ruang rapat elit SCBD.
Namun, alam semesta terkadang memiliki selera humor yang sangat menyebalkan.