Malam harinya,
Helena keluar dari kamarnya, wanita itu menggunakan gaun sebatas paha, dan belahan d**a yang tidak terlalu rendah. Wanita itu melangkahkan kedua kakinya menuju dapur.
Setibanya di dapur, Helena mencepol rambutnya asal. Memberikan kesan sexy pada wanita itu, apalagi ketika leher jenjangnya terlihat. Membuat siapapun ingin menjilat, dan menggigitnya. Kini Helena mengambil apron, ia memakainya, dan segera mengambil bahan masakan.
"Sepertinya membuat spaghetti dan salad tidak terlalu buruk," gumam Helena, ia mengeluarkan semua bahan masakan yang akan ia masak.
Helena mulai berkutat dengan bahan masakannya, sesekali ia bernyanyi dan menggoyangkan badannya. Helena benar-benar menikmati aktivitasnya malam ini, tanpa menyadari tatapan buas dan lapar milik Mike. Bibir pria itu pun menampilkan seringainya.
Mike berdiri di ambang pintu, dengan menyenderkan tubuhnya pada pintu. Kedua tangannya bersendekap di d**a. Sementara kedua matanya tidak lepas dari Helena.
"Bukankah lehernya sangat menantang untuk di gigit?" ujarnya dengan terkekeh lirih, Mike menegakkan tubuhnya, ia melangkah mendekati Helena.
Setibanya di dekat Helena, dalam gerakan cepat. Mike memeluk Helena dari belakang, membuat Helena tersentak.
"T-tuan, apa yang Anda lakukan?" pekik Helena dengan terbata, Mike mendengkus.
"Call my name, Baby. Bukan Tuan," pinta Mike, Helena menggelengkan kepalanya.
"Tidak bisa, Tuan. Bagaimana bisa saya memanggil Anda hanya dengan nama tanpa embel—"
"Bisakah kau menurut, Helena?" geram Mike, pria itu menggigit leher jenjang Helena. Membuat wanita itu meringis, dan memejamkan kedua matanya.
Sementara Mike, ia sangat menikmati leher Helena. Pria itu menyesap, dan menjilat bekas sesapannya yang menimbulkan beberapa kissmark. Tidak hanya satu, melainkan ada beberapa tanda kepemilikan di sana yang telah Mike ciptakan.
"Coba panggil namaku, sebelum aku kembali menciptakan jejak di lehermu," ancam Mike, Helena menggigit bibir bawahnya sejenak. Wanita itu menghela nafasnya perlahan.
"Tuan ... ah M-mike," ralat Helena saat ia akan memanggil dengan sebutan Tuan Mike kembali.
"Ulangi, Baby," titah Mike.
"M-mike," panggilnya, menerbitkan senyum seringai di bibir Mike.
"Bagus, aku sangat menyukai panggilan itu darimu. Helena," ujar Mike, pria tersebut menaruh dagunya pada pundak Helena. Membuat Helena beriri menegang.
"M-mike, bisakah kau menjauh? Jangan seperti ini," ujar Helena dengan terbata, wanita itu kesusahan dalam memasak jika Mike seperti ini.
"Kenapa? Apakah kau tidak suka jika aku memelukmu?"
"Ya, tidak seharusnya kau seperti ini. Jadi bisakah kau menjauh sebentar?"
Mike tersenyum, ia suka penolakan Helena. Semakin Helena menolaknya, semakin ia tertantang untuk mendapatkan Helena.
"Aku akan melepaskanmu, but—give me kiss?" pinta Mike dengan seringai di bibirnya, ia membalikkan badan Helena menjadi menghadap ke arahnya. Helena menatap Mike dengan takut-takut, wanita itu menunduk.
Mike tersenyum, ia meraih dagu Helena dan membawa wajah wanita itu agar mendongak menatapnya.
"Jangan pernah menunduk jika kau sedang berbicara denganku, Baby. Sekarang lakukan,"
Helena mengernyit. "Lakukan apa, Mike?" tanyanya, membuat Mike mendengkus geli.
"Give me kiss, lalu aku akan membiarkanmu memasak dengan tenang," ujar Mike, Helena menggeleng.
"Tidak mau, bagaimana bisa aku menciummu. Kau suami ora—"
"Yasudah, kalau begitu aku tidak akan melepaskanmu, dan akan menciummu," ancam Mike.
Helena melotot, wanita itu terkejut mendengar ancaman Mike yang sangat memberatkannya. Wanita itu meruntukki dirinya sendiri karena sudah berurusan dengan Mike, ia tidak ingin mencium Mike. Namun, jika ia tidak melakukan perintah Mike, dia yang akan mendapatkan dua masalah.
Helena mendesah kasar, wanita itu mengangguk.
"Baiklah," lirihnya, ia mendekatkan wajahnya ke arah Mike. Dalam gerakan cepat, Helena mengecup bibir Mike.
"Sudah, sekarang lepaskan aku," ujar Helena, Mike terkekeh.
"Itu bukan sebuah ciuman, Baby. Ciuman itu seperti ini." Mike menahan tengkuk Helena, ia memangut bibir Helena dengan penuh tuntutan. Membuat Helena memberontak.
Setelah puas memberikan contohnya, Mike menatap Helena dengan terkekeh, ia melepaskan Helena begitu saja. Helena sendiri langsung membalikkan badannya, ia memegang dadanya yang terasa berdegup dengan kencang. Mike memang gila, dan Helena menyadari itu.
'Secepatnya aku harus mencari cara untuk membuat Tuan Mike menjauhiku,' batin Helena, wanita itu kembali meneruskan aktivitasnya.
Tak lama kemudian, masakan Helena sudah matang. Wanita itu menyajikannya di atas pantry, ia memanggil Mike dan mengajak pria itu untuk makan bersama.
"Sudah matang, Tuan," ucap Helena, Mike mengangguk. Pria itu melangkah menuju pantry, dan segera duduk tanpa menggoda Helena, bahkan wajahnya terkesan dingin.
'Ada apa dengannya?' batin Helena, ia bertanya-tanya tentang Mike yang tiba-tiba berubah. Helena menggedikkan bahunya acuh, wanita itu memilih duduk di sebelah Mike.Mike sendiri menatap Helena dengan menyeringai.
Setelahnya, mereka menikmati hidangan makan malamnya dengan khidmat. Tidak ada pembicaraan di antara keduanya, hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Ketika selesai makan, Mike langsung kembali ke kamarnya tanpa menegur Helena. Helena sendiri sedikit penasaran dengan perubahan Mike, namun ia menghilangkan rasa penasaran tersebut.
Sementara itu di Indonesia, Alvin tengah menjalankan rencananya. Jika Mike hanya menyuruhnya untuk membuat cacat Billy, maka Alvin membuat Billy lebih parah dari permintaan Mike. Alvin menjebak Billy dengan seorang jalang yang sudah ia bayar, ia memotret beberapa kali ketika Billy sedang mabuk, dan bercinta dengan jalang tersebut. Setelahnya, Alvin menjalankan jebakan Mike. Menyabotase mobil Billy, agar nanti ketika Billy kecelakaan—semuanya akan mengira jika itu murni kesalahan Billy sendiri
Sangat gila, namun demi melancarkan jebakan kedua Mike kepada Helena. Maka Alvin harus lebih gila dari rencana sebelumnya, hingga akhirnya—apa yang Alvin inginkan terjadi. Setelah puas bercinta dengan jalang, dan Alvin mendapatkan beberapa foto juga video. Billy kembali pulang, pria itu masuk ke dalam mobilnya pada saat hari menjelang pagi.
"Damn! Bagaimana bisa aku mabuk, dan menghabiskan waktu dengan jalang? Apakah ada yang menjebakku?" gumam Billy, ia memukul kepalanya sendiri yang terasa sangat berat. Pria itu sekuat tenaga mengemudikan mobilnya kembali ke mansion.
Sampai akhirnya hal yang Alvin, dan Mike inginkan terjadi. Billy mengalami kecelakaan, mobil pria itu menabrak pembatas jalan, dan terguling. Alvin yang ada di dekat sana sontak menyeringai.
"Boom, sangat menakjubkan. Seharusnya kau di buat meninggal saja, tapi tidak—Mike menginginkanmu tersiksa terlebih dahulu dalam kondisi seperti ini." Alvin terkekeh, pria itu mengirimkan beberapa video eksekusi Billy kepada Mike. Setelahnya, ia menatap ke arah anak buahnya.
"Keluarkan dia dari dalam mobil, dan bawa ke rumah sakit, dan ingat satu hal—jangan sampai tanda serigala kalian terlihat," peringat Alvin, beberapa anak buahnya langsung mengangguk.
"Kami mengerti, Tuan," jawab mereka.
"Bagus, jalankan tugas kalian dengan sebaik mungkin. Karena Mike akan memberikan kalian bonus besar jika rencana ini benar-benar berhasil 100%, dan lebih parah dari rencananya." Alvin tersenyum smirk, sebelum akhirnya pria itu melangkah pergi.
Sedangkan di sisi Mike, pria yang kini berada di Paris itu menatap beberapa laporan Alvin dengan senyum lebar di bibirnya.
"Selamat tinggal, Billy, dan selamat datang di jebakanku selanjutnya,"