CEO & Putri Tunggal
SATU BULAN YANG LALU
"Ahhh... yes Baby.... sedikit lagi sampai, Ahhhh......." lenguh manja perempuan ketika Kenzo melesatkan pusakanya ke area inti dengan kekuatan penuh.
Keduanya berada dalam unit apartemen nomor 111, tanpa rasa bersalah Disti Mahisa mencengkeram erat punggung Kenzo, tak lain kekasih dari sahabatnya sendiri.
Entah berapa kali mereka bergumul seperti ini, kesunyian kamar berubah menjadi suasana panas ketika keduanya saling mencumbu.
****
HARI INI
Kriiinggg..........
Telepon genggam milik Via berdering berulang-ulang.
"Iya, aku otw sekarang! " Tutur gadis cantik berwajah oriental melalui ponselnya.
Satu tangan memegang sepasang hells kaca, yang memang ia siapkan sejak jauh-jauh hari.
Sementara di tangan satu lagi ia membawa gaun yang akan ia kenakan pada hari istimewa ini.
BUGHH
Gadis itu melempar b****g pada jok mobil SUV miliknya.
"Jalan pak! " serunya kepada pak supir.
Kendaran berjalan perlahan,
Ping__
Pesan masuk dari sahabatnya, Disti.
Via sibuk mengobrak abrik tas kecil yang ia lempar begitu akan memasuki mobil tadi.
["Vi! elo dimana?? kan udah gue bilang sejak kemarin!! nginep di hotel aja, maksud gue biar gak kejadian kayak gini!!!?"] ujar Disti, penuh tekanan.
["Aelah___ udah terjadi, masiiih aja ngehujat gue. Lo temen apa musuh sih?! "]
["Oke-oke, it's fine. penting lo nyampe dengan selamat. good luck!! Gue akan sabar menunggu, "] balas Disti.
"Isshhh...... " Via mendengus kesal.
Rupanya pagi tadi dia sudah berangkat, baru separuh jalan, teringat ponselnya ketinggalan. Alhasil kendaraan harus memutar balik.
"Pak ngebut tolong! Ngejar waktu niih! " pinta Via mendesak.
"Sabar Non, ini udah cepet lho." Seolah mendapat feeling negatif, pak sopir enggan menuruti keinginan sang Nona.
"Buruan Paak, aku pengennya bisa tepat waktu!!!"
"Tenang saja, Non Via kan bintangnya hari ini, mereka pasti nungguin Nona kok, "
"Ishhh... aku Nona muda, pewaris papa satu-satunya. Tapi sepertinya nggak berwibawa sama sekali. Pak supir membantah, Disti yang notabene sekretaris papa, bisanya nyalahin mulu, " keluhnya kesal.
Pak supir yang sudah menemani keluarga Via sejak sepuluh tahun lalu, hanya bisa tersenyum.
"Iya ini saya tambah kecepatan Non, jangan manyun begitu, nanti hilang cantiknya, " hibur pak supir ketika meliriknya dari pantulan center mirror.
Via lega.
Ia kehilangan sang mama sejak kecil, sementara pak Anggoro yakni papa Via sibuk bekerja di kantor sepanjang hari.
Sepuluh menit kemudian.
BRUUUKHHH
SREETTTT...
Mobil yang ia tumpangi menabrak pembatas jalan.
Via dan pak supir spontan berteriak.
Mobil hitam itu terpental melewati pagar pembatas, tertahan sebuah pagar cukup besar, Via dan sang supir, berjarak sejengkal dari mulut jurang.
Beberapa kendaraan yang melintas pun berhenti, mendekati area kecelakaan.
Mobil ringsek mengeluarkan asap.
"Ayo cepat keluarkan korban!!!" seru seseorang yang mendekat.
Via merasakan sakit di semua sisi. Jantungnya berdetak pelan.
Gadis cantik yang seharusnya berdiri cantik dengan dress hitam, melingkarkan cincin bersama Kenzo Aditama merasakan kemampuan geraknya berkurang.
Ia tak bisa merespon ketika orang-orang menggotong tubuhnya menjauhi lokasi kecelakaan.
Pandangannya samar, pendengarannya semakin kabur.
"Hubungi ambulans cepat!!! darahnya banyak sekali, " ujar seseorang panik.
"Paaapaaaa...... " satu kata yang terucap dari bibir Via. Di menit berikutnya, kesadarannya perlahan menghilang.
[ ]
Beberapa tamu undangan memuji persiapan acara yang begitu mewah.
"Selamat pak Anggoro! setelah Via dan Kenzo bertunangan, selanjutnya mereka tinggal menyusun pernikahan. Anda bisa istirahat dari kesibukan yang menguras banyak waktu. Lihatlah calon menantu anda! " ucap seorang rekan bisnis.
Berdiri berhadapan dengan pak Anggoro, mereka menatap jauh ke depan sana.
"Pemuda seperti Kenzo itu sangat langka, selain tampan, dia juga berkompeten dengan pekerjaannya, anda tidak salah menjadikan dia seorang CEO(Chief Executive Officer) , " yang lainnya ikut memuji.
Pak Anggoro menggangguk, senyumnya menampilkan rasa puas.
"Putriku sangat beruntung, Kenzo memilik karisma yang jarang orang miliki, pola pikirnya juga kritis, penuh ketelitian, " Ungkap pak Anggoro setuju.
Di tengah suasana kebahagiaan, Disti menghampiri pak Anggoro, sambil tangannya gemetaran memegangi ponsel.
"Om, Via kecelakaan di Tol Jagorawi, sekarang sedang menuju rumah sakit. Seseorang menghubungi saya dengan nomor Via," terang Disti panik.
Pak Anggoro tersentak, sorot matanya melebar, dadanya terasa sesak.
Rekan bisnis menahan bobot pak Anggoro yang mulai limbung.
"Via...." desisnya di ambang putus asa.
"Tenang Om, tarik nafas!!!! semoga keadaan Via nggak parah, saya dan Kenzo akan menyusul ke sana, "
Pak Anggoro sedikit lemas,
"Ti--tip Viaa__ jaga putriku tolong! " pak Anggoro terbata.
Kenzo yang diberitahu pun bergegas menyusul calon tunangannya.
"Dis, cepat!!! " ajaknya tergesa.
Keduanya lalu pergi bersama.
Disti mendapat banyak bantuan dari keluarga pak Anggoro. Bersahabat dengan Via sejak keduanya duduk di bangku SMP. Hingga meneruskan pendidikan ke salah satu fakultas ternama, Disti sudah dianggap seperti anak sendiri oleh pak Anggoro.
"Lebih cepat Ken! " pinta Disti cemas.
Pria yang duduk mengemudi meliriknya tajam.
"Apa??" timpal Disti kesal. "Kamu nggak tau ini situasi genting?? orang tadi mengabariku, kondisi Via kritis. Dia tidak boleh pergi secepat ini Ken!! Kalian harus menikah dulu, kuras hartanya, lalu ceraikan dia, " terang Disti.
"Harusnya kamu yang memastikan keselamatan dia, nyawanya sangat berharga untuk masa depan kita!!!" hardik Kenzo dengan wajahnya memerah.
"Mau gimana lagi.Aku membujuknya berulang kali, tapi dia nggak mau dengar, "
Keduanya was-was, misi yang mereka jalani sejak satu tahun lalu, akan berakhir sia-sia.
"Aku sudah mengorbankan banyak waktu untuk memanjakan keinginan gadis itu, dia tambang emas kita, dia harus hidup sebentar lagi!!!! " ujar Kenzo.
Saat ini yang mereka pikirkan hanyalah keuntungan keduanya, sebagai sepasang kekasih yang telah sukses memperdaya gadis polos juga papanya.
Setibanya di Rumah Sakit, keduanya langsung mencari keberadaan Via.
Kenzo kesal, ia melonggarkan dasi yang sedari tadi melingkari lehernya. Mengepal tangan, lalu mendaratkan pukulan pada tembok yang keras.
"Kenzo!! kendalikan dirimu!!! siapapun bisa melihatmu!" Disti ikut kesal,
"Sekarang bukan saatnya marah, sebentar lagi rekan media pasti datang, kamu harus membuat mimik muka sedih, oke??!! "
"Apa kamu ingin mengguruiku sekarang?" bantah Kenzo.
Disti menepuk jidatnya.
"Kamu bisa apa tanpa aku?? bahkan untuk mendekati Via saja harus aku juga yang maju!!"
"Kamu pikir sangat hebat?? "
"Stop Kenzo!! fokus! kita masih harus berjuang, bukan bertengkar!!" pungkas Disti menyadarkan.
****