Masih Koma

1002 Words
Sekitar pukul sepuluh malam, Disti berada di unit 111 seorang diri. Ingin merebahkan tubuh sintalnya, bel pintu ditekan dari arah luar. "Resek banget!! baru juga mau istirahat!! " umpatnya kesal. Pintu dibuka pelan. Kenzo buru-buru masuk, hingga bahu keduanya saling bersinggungan. "Ken?? kamu gila?" sergah Disti, melongokkan wajahnya keluar pintu, lalu mengedarkan pandangan ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada yang mengikuti pria itu. "Apa yang____" belum lengkap pertanyaan yang Disti lontarkan, Kenzo langsung melum4t bibir Disti dengan rakus. Keduanya bertautan satu sama lain. Mood Disti yang tadinya kurang bagus, perlahan mencair, lalu mengimbangi sikap kekasihnya. Kenzo menangkup wajah Disti menggunakan kedua tangan, wajahnya menjauh sesaat, mereka saling mengunci pandang selama beberapa detik. Disti terdiam bagai tersihir, "Kangen banget sama kamu, " lirih Kenzo. "Lelah rasanya harus sembunyi seperti ini, setelah Via tiada nanti, mari ungkap hubungan kita di depan semua orang, " Kenzo mengusap pipinya penuh kelembutan. "Kamu gak waras? kita bahkan belum dapat apa-apa, " keluh Disti, menepis sentuhan Kenzo. Pelan menjauhinya, "Mending kamu pulang sana!! kalau ada yang lihat, bisa nambah masalah nanti, " usirnya cepat. Kenzo tidak peduli, ia tahu persis bahwa kekasihnya merasakan kegelisahan yang sama. Kenzo yakin, Disti memiliki kerinduan jauh lebih besar, hanya memang sedikit munafik. Kenzo melingkarkan kedua tangan pada pinggang Disti, mengendus tengkuknya sembari mengucap kalimat mesra. Disti merasa cinta dari Kenzo masih sama sejak kencan pertama mereka dua tahun yang lalu. Netranya memejam, jantungnya berdebar semakin kencang. "Mari kita lupakan tentang orang lain, kamu tahu kan, keadaan pak Anggoro juga memburuk. Sedang Via, harapannya untuk bangun sangat kecil, jika pak Anggoro tiada maka aku yang akan memegang kendali sepenuhnya. Ya__walau untuk saham aku tidak bisa mewarisi semuanya, " ungkap Kenzo. "Memang saham Om Anggoro di berikan ke mana? jika ternyata Via meninggal?? dia kan putri satu-satunya?" Disti membalik badan, kedua sejoli saling menghadap dengan tatapan lembut penuh hasrat. "Ada sebuah yayasan sosial yang siap menampung separuh kekayaan beliau, andai saja aku sudah menikahi Via, kemungkinan itu bisa menjadi milikku, " "Kalau begitu lakukan!! kita bisa menikmati harta itu bersama, liburan ke luar negeri. Juga membeli banyak aset, " Disti tersenyum lebar, membayangkan masa depan cerah yang akan dia peroleh. "Gadis manja itu bahkan masih terbaring lemah, kamu minta aku menikahinya? " cibir Kenzo. Tatapannya memicing. "Hehehe.... semoga Via bangun kembali. Aku tidak sabar menyandang status istri dari CEO Kenzo Aditama, duda kaya raya yang tampan juga kompeten, " puji Disti optimis. "Oh begitu, kamu hanya peduli dengan dirimu sendiri?" Kenzo mencubit pucung hidung hidungnya pelan. "Apa lagi memangnya, bukankan kamu juga mau begitu? atau jangan-jangan, kamu ingin menghabiskan sisa hidupmu dengan gadis polos itu? " selidik Disti, api cemburu mulai memercik dalam hatinya. "Ngaco kamu!! aku nggak tertarik sama sekali dengannya. Cantikan kamu ke mana-mana, seksi pula," rayuan maut keluar dari bibir pria itu, menarik pinggang Disti hingga mereka lebih dekat. Disti dan Kenzo saling mengenal berkat pertemuan keduanya pada suatu hari. Dua tahun lalu, Disti sedang menemani rapat bosnya, yaitu pak Anggoro. Pada sebuah perusahaan yang baru saja menjalin kesepakatan. Di sana Kenzo menjabat sebagai dewan Direksi. Keduanya menyukai satu sama lain. Usai berkenalan, hubungan keduanya semakin dekat. Disti yang memiliki rasa iri terhadap sahabatnya, Via Paramita kemudian membuat rencana licik, menjebak sahabatnya dengan cinta palsu kekasihnya. °°° Kriiing...... Dering ponsel memekik, lantas membangunkan Disti dari lelapnya. "Heum... siapa ini?" sahutnya dengan mata setengah terbuka. "Hanya mau mengingatkan pak Kenzo, pagi ini beliau diminta menggantikan pak Anggoro rapat dengan para supplier. Btw ini ponsel pak Kenzo. Anda siapa? " tanya wanita dari sambungan telepon. Seketika Disti membelalak, ibu jarinya cekatan menekan ikon merah. "Astaga! apa yang ku lakukan?" ia mengira telepon genggam itu miliknya. Menepuk bahu Kenzo yang masih nyenyak, Disti berupaya membuat kekasihnya tersadar. "Sayang bangun!! kamu ada rapat jam delapan kan? Heni menghubungimu tadi. Dia bertanya siapa aku, dia pasti syok, ada gadis lain memegang ponselmu sementara Via masih koma, " ujarnya panik. "Heuummmmmm, biar saja! " Kenzo hanya menggeliat, dirinya masih enggan membuka mata. "Sayang, " seru Disti lagi. Kenzo pun bangkit ke posisi duduk sekarang. "Apa sih, biarkan aku istirahat sebentar lagi! " tolaknya, ingin kembali merebahkan diri. Disti lalu mencegah. "Mending kamu cuci muka terus out dari sini, keburu siang, ntar ada yang lihat, kan ribet!" Pria itu melirik Disti tajam. "Apa?? nggak terima aku usir?!" cibir Disti menambahkan. "Baweell, makin gemes sama kamu, " Kenzo mencubit kedua pipinya, kemudian beranjak bangun. Pria itu memakai kemejanya kembali, meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja. "Aku pergi Sayang, sampai jumpa lagi esok, " ucap Kenzo, mengecup pipinya singkat. Langkahnya tergesa meninggalkan unit apartemen. Hubungan keduanya masih aman sampai sekarang, belum diketahui siapa pun. [ ] Sementara di rumah sakit, seorang ayah terus berharap keajaiban. "Ya Tuhan, cabut saja nyawaku, tapi tolong kembalikan kehidupan putriku," ucapnya lemah. Seorang laki-laki, yang biasanya tegar dan kuat, namun hatinya seketika hancur ketika putri semata wayang terbaring tidak berdaya. Pak Anggoro akhirnya tumbang juga, menghadapi kenyataan pahit, hatinya terkoyak. Tidak sanggup jika harus kehilangan sang anak seperti ini. Nafasnya terengah-engah, Dadanya terasa berat, seorang suster yang melihat lalu meminta rekan untuk segera memanggil dokter. ## Via berdiri di dalam ruang kegelapan seorang diri. "Aku dimana? mengapa di sini gelap? tidak ada siapa pun, papaaaa___ jemput aku pa____ Aku takut, " ucap Via. Gadis itu memutar pandangannya, tangannya mencoba meraih sesuatu, namun tidak ada siapapun berada di dekatnya. Dari kejauhan nampak seutas cahaya, putih berkilau. Saking silaunya cahaya itu, Via sampai menyilangkan kedua lengan di depan wajah. Perlahan Via merasa seakan ada yang menarik tubuhnya, melalui lorong waktu. Tubuhnya terasa ringan, ia pasrah mengikuti arus yang membawa tubuhnya terus bergerak. "Apakah ini jalan menuju kematian? " gadis tak mampu melawan, arus itu semakin kuat. Ia menutup kedua mata. Yang melintas dalam memorinya adalah senyum sang mama. "Mama, tunggu aku di sana! Kita akan segera bersama, aku sayang mama." Badannya terasa menghantam sesuatu. Terpental kesana kemari. Di luar kesadarannya, Via merasa sakit di sekujur tubuh. Seakan ia menabrak batu besar, ia tak bisa menghindar, lalu menutup kepalanya menggunakan kedua tangan. .......
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD