Kondisi pak Anggoro tidak memungkinkan untuk menghadiri rapat, Kenzo datang untuk mewakilinya.
Duduk tenang di kursi paling ujung, Kenzo datang sendiri kali ini, sedangkan Disti harus mengurus hal-hal lain.
"Bagaimana ini pak Ken, aturan yang perusahaan bapak terapkan terlalu membatasi kami. Ini membuat kesulitan pada prakteknya jika harus membuat produk minuman, sesuai standar yang pak Anggoro cantumkan," keluh pak Doni.
"Saya sudah mengajukan beberapa revisi terkait itu, anda jangan khawatir. Teruskan produksi! saya jamin di periode berikutnya, produk baru Bapak akan masuk ke tempat kami, "
Pak Doni mengelus rambut yang tumbuh di area janggutnya. Berpikir sesaat, kemudian menimpali. "Pak Kenzo bisa menjamin? karena saya mengeluarkan modal besar dalam hal ini. Jika nantinya barang saya tertolak, pastinya saya rugi, "
"Maaf jika saya menyela, " tutur Bu Sinta, "Namun saya sarankan pak Doni mengganti produk tersebut. Minuman beralkohol sangat dilarang oleh pak Anggoro sendiri. Walaupun itu ditujukan pada kalangan tertentu saat pemasaran. Tapi siapa yang bisa memastikan? produk anda akan dijangkau oleh konsumen yang sesuai kriteria anda?? Saya yakin. Jika pak Anggoro ada di sini, dia akan setuju dengan pendapat saya. Ini sudah menjadi kebiasaan, juga identitas perusahaan ini, " sanggah bu Sinta.
Pak Doni tersenyum sinis.
"Kita ini berada di posisi yang sama, jadi tak usahlah, menggurui saya!! anda tidak cukup pengalaman hingga melakukan hal itu!" hardik pak Doni.
"Tolong tenang! " pinta Kenzo, pandangannya beralih ke bu Sinta, yang duduk di sebelah kanan darinya.
"Seiring waktu berjalan, apapun bisa berubah Bu!! prinsip, kebiasaan, selama itu mendatangkan uang. Bagi saya tidak masalah," ucap sang CEO.
"Oh benarkah?? saya tau, anda menduduki posisi penting. Namun keberadaan kami, yang sudah lama bernaung di bawah kepemimpinan pak Anggoro juga tak kalah penting. Jika kami yang bertentangan dengan pak Doni, mengambil langkah menarik diri. Apa yang akan anda lakukan? jika nanti pak Anggoro bertanya terkait hal itu, apa anda punya jawaban? "
"Anda mengancam saya???? " Kenzo menaikkan nada bicaranya.
Pria lain, juga setuju dengan opini ibu Sinta.
"Yang disampaikan ibu Sinta benar pak. Bisnis bukan hanya berkaitan dengan untung dan rugi semata, tapi berkah itu sendiri yang akan menentukan bisnis itu akan semakin maju atau malah merosot, " ucap pak Sugeng, mendukung opini ibu Sinta.
"Benar pak, buat kami laba sedikit tak masalah, toh itu juga dikalikan sekian persen. Kami lebih memilih hal itu, " ungkap yang lain.
Bu Sinta menatap Kenzo dengan tajam. Merasa menang, dirinya semakin optimis bahwa pria itu gagal dalam meyakinkan para anggota rapat.
"Baiklah. Untuk pak Doni nanti saya akan rekomendasikan produk anda ke rekan saya yang lain," keputusan Kenzo mengakhiri rapat, disambut tepuk tangan para supliyer yang hadir.
Hanya satu orang yang memasang wajah masam. Dialah pak Doni.
[ ]
Beberapa hari berlalu. Dokter masih memantau kondisi Via, gadis cantik dengan mata sipit korban kecelakaan tunggal di hari pertunangannya.
Luka lebam di bagian kaki dan tangan mulai pudar, begitu juga beberapa jahitan di kepala, juga pundaknya. Namun perkembangan syaraf di dalam otak masih lambat.
Dokter spesialis, juga dokter bedah berdiri di sana.
Menggeleng lemah, meski begitu mereka tak putus asa.
Tiba-tiba saja gadis itu menggerakkan jarinya.
Dokter yang menyadari langsung memeriksa ulang keadaan pasien.
Denyut nadi, jantung juga memeriksa bola mata dari pasien.
Via bernafas lebih aktif.
Membuat para dokter bahagia.
"Organ vitalnya kembali berfungsi dok! " kata seorang dokter perempuan.
"Tekanan darahnya bagaimana? "
"Masih rendah, tapi ada peningkatan dibanding sebelumnya! "
Perlahan gadis itu membuka mata. Bicaranya belum jelas, pandangannya pun samar, ingatannya seolah berputar, kembali pada kejadian nahas hari itu.
[ ]
Tok.. Tok.. Tok..
Disti mengetuk pintu ruangan Kenzo, membuka lalu masuk dengan senyum bersinar.
Kenzo duduk bersandar pada kursi kekuasaannya, matanya memejam, tidak menyadari kehadiran Disti di dekatnya.
Tangan Disti yang halus segera mendarat di salah satu pipi Sang CEO.
Kenzo membeliak.
"Bagaimana rapat pagi ini Sayang?" tanya Disti, ujung jemarinya menelusuri garis pipi kekasihnya.
"Biasa saja. Ada perdebatan. Aturan lama pak Anggoro menghambat pemasukan tambahan untuk kantongku," Kenzo meraih postur sang sekretaris dengan kedua tangan, hingga membuat Disti duduk di pangkuannya.
"Lepasin Pak!! ini di kantor. Bagaimana kalau ada yang lihat? " Disti berusaha berontak, walau sejujurnya, hatinya menyukai hal itu.
"Nanti malam menginaplah di tempatku," pinta Kenzo, jemarinya mengusap rambut Disti. Menyelipkan beberapa helai di belakang telinganya.
"Aku tidak bisa, ada acara party dengan teman-teman, " tolak Disti.
"Tega sekali, sahabatmu sekarat di rumah sakit namun kamu tetap melakukan pesta?" cela Kenzo.
Disti menoleh pada wajahnya.
"Kamu sendiri bagaimana? calon tunanganmu terbaring koma, namun kamu malah tidur dengan sahabatnya. Itu tindakan kejam tingkat dua, " balas Disti menyeringai.
Keduanya tertawa bersama-sama.
"Sayang, andai aku jadi menikah dengan Via, apa kamu nggak cemburu? " Kenzo menciumi punggung tangan Disti begitu mesra.
"Heummmm____ cemburu pastinya. Tapi aku harap kamu melakukan itu tanpa perasaan. Lekas akhiri hubungan kalian sesudahnya. Agar kita bisa bersatu secara sah, hukum agama dan negara, "
Kenzo mengangguk paham.
Suara ketukan membuyarkan kemesraan keduanya. Wajah Kenzo sempat menempel pada ujung gundukan kenyal berwarna pink kehitaman, terpaksa ia dorong agar menjauh.
Disti buru-buru bangkit, ia merapikan rambut juga kancing bajunya.
"Masuklah!! " titah Kenzo.
Dion menyodorkan sebuah berkas kepada si bos.
"Ini adalah laporan terkait pendapat dari beberapa konsumen. Mereka mengeluh pengiriman yang tidak sesuai tanggal estimasi. Ada juga yang menyarankan agar kita mengeluarkan produk baru, supaya tidak terkesan monoton, ini saya terima melalui email, saya print seperti keinginan pak Anggoro biasanya," ucap Dion, berdiri di hadapan Kenzo, namun matanya mengarah pada Disti.
Tubuhnya yang ideal, wajah cantik, juga cerdas membuat Dion menyukai sekretaris itu.
Disti risih dengan tatapan Dion, terkesan nakal dengan sorotnya yang menelusuri tampilan Disti dari ujung kaki hingga kepala.
"Ekhem!!!!!" Kenzo berdehem keras.
Dion tersentak.
"Eh iya pak Ken? "
"Sudah selesai? apalagi?"
"Su--dah pak. Saya pamit," Dion bergegas untuk keluar ruangan.
"Ssiaaalan..... " rutuk Disti, begitu Dion menghilang dari pandangan.
"Kamu terlalu seksi sampai memikat banyak lelaki, " puji Kenzo, sambil tersenyum senang.
"Itu juga yang membuatmu tergila-gila padaku!" ucap Disti, kemudian berlalu.
"Aku menunggumu nanti malam! apakah cinta pada temanmu lebih besar dibanding denganku? "
Disti melirik sesaat,
"Aku butuh relaks Sayang, jadi berhenti mengekangku," pungkasnya seraya melempar tatapan manja.
Kenzo menggeleng pelan.
"Heumm... party dan party, berbeda dengan Via," Kenzo mengingat gadis itu lagi, "Jangankan party, setiap ngedate harus pulang sebelum jam sembilan. Gadis polos, dan manja. Sangat patuh kepada papanya, terlalu membosankan!" bisik Kenzo seorang diri.
°°°°°