Via Sadar Dari Koma

1087 Words
Via mendapat keajaiban, ia bangun setelah mengalami koma dalam waktu satu bulan. Aneh memang, namun begitulah takdir. Pertama kali yang ia cari adalah papanya. Pak Anggoro sedang tidak ada di sana, sang papa berada di ruang lain untuk mendapat perawatan. Via lanjut meminta dokter merahasiakan pulihnya kini, termasuk kepada Kenzo, lelaki yang hampir bertunangan dengan Via hari itu. Via beralasan ingin memberi kejutan, ia juga berniat menemui papanya terlebih dahulu sebelum kekasihnya. Siang itu Disti membawa buket bunga mawar merah muda nan cantik. Kreeekk... Pintu terbuka, Via memejamkan matanya kembali, berusaha melakukan aktingnya sebaik mungkin. Karena ia sudah terbaring beberapa waktu, melakukan kepura-puraan itu tidaklah sulit. "Selamat siang Vi, btw kapan kamu mau bangun? nggak bosan apa? heum.... Nanti kalau kamu udah sembuh, kita bisa berburu odeng, ya kan? " Via masih menahan senyum. Ingin rasanya mengagetkan Disti, namun Via mengurungkan niat sebab ia harus konsisten. Tak lama Kenzo juga datang. "Selamat siang Pak, " sapa Disti formal. Itu sudah menjadi kesepakatan mereka, untuk menjaga jarak untuk menutupi kisah rahasia mereka. "Udah lama kamu Dis? " tanya Kenzo. "Belum," balasnya seraya tersenyum ramah. Kenzo mendekati si sekretaris, "Bunganya cantik, namun kamu jauh lebih cantik, " ungkap Kenzo, tangannya meraih dagu Disti. Degh____ Via mendengar hal itu seketika heran. "Apa itu tadi? Kenzo memuji kecantikan Disti? Dia tak pernah melakukan ini sebelumnya, " batin Via meronta. Rasa penasaran menggerogoti pikiran gadis yang masih terbaring itu. "Kenapa, kamu takut kita ketahuan? tidak ada siapa-siapa di sini, " ucap Kenzo semakin berani. Kini pria yang berstatus CEO di perusahaan milik pak Anggoro itu, malah memeluk Disti. Disti menepis wajah kekasihnya, agar menjauh dari dirinya. "Tetap saja, bagaimana kalau suster tiba-tiba datang?" "Hemm alasaan, kamu gak menyesal sudah mengabaikanku beberapa hari terakhir " "Aku punya banyak pekerjaan, semenjak om Anggoro absen dari kantor," "Baiklah, tapi malam ini datang ya! kangen banget sama kamu Sayang, " "Aku pikirkan nanti, " balas Disti. Kenzo langsung melepas dekapannya. Berbalik menjauhi Disti, berdiri sambil melipat tangan di depan d**a, keduanya bersandar pada footboard di ujung kaki Via sambil membelakanginya. Disti mendekatinya. "Ada yang ngambek nih ceritanya, " goda Disti manja. "Apa aku nggak penting lagi buatmu?" cecar Kenzo kesal. "Tentu saja penting, oke-oke, nanti aku nginep di tempatmu, puas?? " Disti melepas tangan Kenzo, meletakkan ke pinggang rampingnya. Kenzo tersenyum, "Ini baru kekasihku____" Keduanya lalu bermesraan dalam ruang perawatan Via. Mengumpulkan semua keberanian, gadis yang sudah koma sebelumnya, berusaha membuka mata. Hatinya berdebar kencang, namun suara yang muncul dari Kenzo dan Disti membuat penasarannya memuncak. Dug.. dug... dug... Via tercengang dengan pemandangan di depan mata. Disti sahabatnya sedang menikmati sentuhan bibir Kenzo yang tak lain adalah pacarnya sejak setahun ini. Sepasang kekasih saling memagut dengan gerakan rakus. Sekretaris itu sampai memejamkan kedua matanya. Via hampir tidak percaya. "Bagaimana bisa??? Sejak kapan?? " Tak ingin ketahuan, Via kembali memejam. Airmata menetes dari kelopak matanya. Kenzo melepas pagutannya setelah merasa cukup. "Pipimu merah merona, haruskah aku mengambil potretmu seperti ini? " bisik si Kenzo sensual. Disti memukul pelan d**a Kenzo yang bidang itu. "Sudahlah, aku harus ke kantor. Mau tetap di sini?" tanya Disti kemudian. "H'em, aku harus bicara pada pak Anggoro, untuk merevisi beberapa peraturan. Agar aku mendapat pemasukan lebih, pak Doni sudah berjanji, akan memberiku sepuluh persen dari produk barunya, " terang Kenzo. "Baiklah, bekerja keraslah sayangku. Sebab tas branded itu tidak akan berjalan sendiri ke dalam lemariku, " Disti terkekeh manja. "Apapun untukmu Sayang," balas Kenzo. Disti berlalu, kini tinggal Via dan Kenzo dalam ruangan itu. [Sunyi] Lelaki melangkah, mendekati pasien. Menggenggam jemari si gadis yang masih terpejam tenang. "Semua ini salahmu Vi!! kenapa kamu harus terlahir begitu beruntung, orang tuamu kaya raya. Sedang aku dan Disti, kami hanya hidup dengan keadaan pas-pasan. Malahan, cenderung kekurangan. Aku tidak ingin menyakitimu sebenarnya. Mendekatimu, menjerat dalam cinta palsu, tak lain demi harta semata. Gadis lugu, tidak menarik sekaligus membosankan!!" jelas Kenzo. Ia tersenyum licik, tanpa merasa bersalah. Seorang suster masuk, membawa obat kemudian menyuntikkan ke selang infus. Kenzo kemudian memasang wajah sedih. Suster berkata, "Bapak bisa mengajak ngobrol pasien, itu akan menstimulasi otot serta syarafnya, agar lebih cepat pulih." "Apa dia mendengar ucapan saya sus?" tanyanya heran, matanya membelalak. "Mendengar, tapi ketika bangun nanti, kemungkinan dia sudah melupakannya," jawab suster kemudian berlalu. Suster itu juga tahu bahwa pasien sudah sadar, saat ini dia sedang berpura-pura, tak lain karena itu bagian rencana Via. Kenzo panik luar biasa. "Apa yang sudah aku lakukan. Kenapa aku bodoh sekali, " Kenzo berkacak pinggang, ia terus berjalan mondar mandir. Pintu kembali terbuka, pak Anggoro yang datang kini. "Ken, kapan kamu datang?" Pak Anggoro tidak mengerti hubungan Kenzo dengan Disti, merasa bahagia melihatnya. Pak Anggoro mengira Kenzo sangat perhatian terhadap putri semata wayang. "I--ni, saya baru datang Pak. Saya juga ingin membicarakan beberapa hal. Tentang perusahaan, " "Tolong Ken, untuk saat ini, sampai Via sembuh. Saya tidak bisa membahas tentang pekerjaan. Biarkan semua berjalan seperti biasanya! " "Oh , iya, baiklah. Maaf Pak. Kalau begitu saya permisi, ada yang harus saya urus, " pamitnya terburu. Pak Anggoro mengangguk paham. Usai Kenzo tak terlihat lagi, sang papa mendekati Via yang masih terbaring lemah. Memperhatikan wajah putrinya lekat. Menjumput selembar tisu, kemudian mengurut air mata putrinya. Perlahan Via membuka mata. "Paaapaa_______" desisnya pelan. Pak Anggor tercengang tak percaya. "Sayang!! putriku___ kamu___??" Via berusaha bangkit ke posisi duduk. "Pelan-pelan Sayang! " sang papa membantu Via bangkit. Via masih merasa kaku di beberapa bagian tubuhnya. Kini ia bisa memeluk erat sang papa. Dia lah lelaki yang selalu bisa Via andalkan. "Paaapaaaaa_____" gadis itu tersedu-sedu dalam dekapan sang papa. "Ini sungguh keajaiban, Papa sangat bersyukur. Jangan ada lagi airmata Sayang, kamu harus bahagia mulai sekarang!!! " pak Anggoro mengelus punggung Via. Via tidak bisa menceritakan semua yang baru ia dengar dan lihat. "Justru ini awal perih yang aku rasa paaa..... aku harus bagaimana sekarang? " ucap Via membatin. Ingin bicara semua, tetapi khawatir membuat sang papa syok. Via memilih bungkam, sembari memikirkan langkah selanjutnya. Keduanya lalu berbincang, melepas rindu yang selama ini tertahan. Via tersenyum bahagia dengan candaan yang ayahnya lontarkan. Pak Anggoro teramat senang. Ia sempat pesimis tidak akan bertemu putrinya lagi. Via Paramita ibarat jantung juga nafasnya. Perempuan yang berarti setelah almarhumah istrinya. Pak Anggoro menggenggam tangan putrinya. "Jangan meninggalkan papa sendiri Sayang! " Pak Anggoro menyeka sudut matanya sesekali. "Apa ini? papa yang macho, bisa menangis juga?heheheh...... " ledek Via. "Macho gini kan papa manusia biasa, " bela pak Anggoro. Via tersenyum, ia pun menjadi trenyuh. "Terima kasih Tuhan, Engkau berikan kesempatan aku kembali ke dunia ini__" °°°°°°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD