Siasat Baru

993 Words
Jarum jam terus berjalan, gadis cantik berkulit putih duduk melamun di depan cermin. Usai mandi kemudian memakai mini dress merah maroon kesayangannya, Via berpikir keras untuk mengambil tindakan selanjutnya. Kepada sahabat yang ternyata menjalin asmara dengan sang pacar, sekaligus calon tunangan. Pak Anggoro tengah berbincang dengan seorang pengacara di ruang tamu, letaknya di lantai satu bangunan mewah. Via berjalan pelan, dari kamarnya yang berada di lantai dua, menuruni anak tangga satu persatu. Matanya menerawang, hingga tak menyadari papa dan tamunya kini berfokus menatap dirinya. Suara hells yang ia kenakan, rambutnya juga tergerai panjang. Kini kedua mata lentik menyadari, bahwa dirinya sedang menjadi pusat perhatian. "Kemari nak!!" pinta sang papa. Via mendekat, wajahnya murung tanpa senyuman. "Kenalkan ini putri semata wayang saya. Dulu sempat terlintas ingin menjodohkan dengan kamu, sayangnya putriku sudah punya pilihan lain, " terang pak Anggoro kepada tamunya. Kedua pria tertawa ringan. "Ah begitukah, sayang sekali. Saya kehilangan kesempatan untuk menjadi menantu Bapak," balas seorang pria tampan, badan atletis, juga hidungnya mancung. Mengulurkan tangan kepada Via, pun menyambut dengan sedikit ragu. "Nama saya Reynand Gazali, " "Hai, na--ma ku, Via Paramita," Gadis itu terlihat kurang bersemangat. "Baiklah pak Anggoro, saya mohon pamit. Urusan saya sudah selesai di sini, " pamit Reynand. "Meski tidak jadi menantu, kamu bisa menjadi putraku. Seringlah datang kemari! " pak Anggoro yang bertubuh tambun itu, memeluk pemuda di hadapannya. Reynand, kemudian meninggalkan kediaman pak Anggoro. Baru membuka satu pintu mobilnya, Via berlari dari dalam, memanggil namanya. "Tunggu sebentar_____! " cegah Via dengan terengah-engah. "Iya, kenapa? " "Anda seorang pengacara bukan? boleh minta kartu namamu? sejujurnya aku butuh bantuanmu. Melihat hubunganmu dengan papa begitu dekat. Aku yakin kamu bisa dipercaya!" Reynand tercengang, gadis yang tadi hanya mengucap sedikit kata saat berkenalan, kini berbicara begitu banyak. "Boleh saja, " Reynand mengambil dompetnya, mengeluarkan kartu nama. Memberikan kepada Via. "Aku akan menghubungimu nanti Pak__" "Panggil Rey saja. Berhubung kita kenalan di luar kantor, agar terlihat tidak berjarak," Via mengangguk. Reynand pun berlalu. Batinnya terus terbayang akan kecantikan si putri konglomerat. "Wajahnya nampak tertekan, bukankah dia baru sembuh dari sakitnya? mestinya dia bahagia. Bisa melanjutkan rencana tunangan dengan kekasihnya." [ ] Via kembali masuk ke rumah, dengan memegang kartu nama kecil milik teman papanya. "Kenapa Vi? kamu melamun terus. Jika ada masalah cerita ke Papa! Lalu kapan kita memberitahu Kenzo, bahwa kamu sudah pulih?" Gadis itu duduk di dekat sang papa. "Selama aku sakit, apa Kenzo selalu seperti ini pa? " lirih Via hampir tak bertenaga. "Maksudmu nak? " "Apa dia sering berkunjung ke rumah sakit?" "Tidak, dia kan sibuk dengan urusan kantor," "Aku sedang berpikir untuk mengejutkan dia Pa. Jadi aku harap Papa tetap menjaga rahasia ini." "Baiklah Papa setuju saja. Yang penting kamu bahagia." "Oh, Papa kenal Reynand di mana? akrab sekali?" "Papa Reynand adalah sahabat papa sejak kuliah, kami berpisah sangat lama. Karena mereka pindah ke luar negeri. Kini Papa bahagia bisa bertemu Reynand, dia seorang pengacara hebat, sifatnya banyak menurun dari papanya. Reynand juga mengunjungi rumah sakit saat kamu belum sadar." "Kenapa? " Pak Anggoro menggaruk pelipisnya. "Tidak apa, memangnya kenapa? mengunjungi orang sakit, sekaligus memberi semangat kepada Papa. Itu bagus kan? " Via mengangguk pelan. Keningnya sedikit berkerut. "Enam bulan lalu, papanya Reynand pernah mengutarakan niatnya untuk meminang kamu. Ya dengan berat hati Papa menolak, karena kamu sudah memilih Kenzo. Namun meski bagitu dia tidak marah. Reynand tetap hormat kepada Papa," puji pak Anggoro. "Kenapa Papa tidak cerita kepadaku sebelumnya?" "Mana bisa!! setiap bertemu Papa kamu terus membicarakan Kenzo. Dia tampan, dia romantis, papa sampai gak punya celah sedikit pun." Via tersenyum getir. "Aku istirahat dulu pa," ucap Via. Meninggalkan sang papa kemudian. [ ] Di tempat dan waktu yang sudah ditentukan, Via pergi menemui sang pengacara tampan, kenalan akrab dari ayahnya. Gadis itu duduk seorang diri, pada sebuah restoran bintang lima, mengenakan atasan lengan panjang warna navy, juga celana hitam panjang, kontras dengan warna kulitnya yang putih cerah. Sehingga aura kecantikan gadis itu semakin terpancar. Reynand sampai kemudian mencari nomor meja yang Via kirim lewat pesan tertulis. "Sudah lama menunggu?" tanya Reynand. "Baru sepuluh menit, apakah kamu terjebak macet?" "Untungnya tidak, aku mencari jalur lain," Usai berbasa basi, kemudian memesan minuman beserta dessert mereka berbincang banyak. Via menceritakan semua masalah pilu yang ia alami. Reynand menjadi pendengar yang baik siang ini. "Jadi aku harus melakukan apa? ingin rasanya menghukum kedua pengkhianat itu!!" seru Via geram, matanya berkaca-kaca, ada luka yang menganga dalam lubuk hatinya. Melepas kaca mata, kemudian mengambil helaian tisu dari atas meja. "Jika kamu ingin memecatnya, maka kamu harus membuat kesalahannya terlihat! " Reynand memberi saran. "Caranya?" "Pertama, kamu harus bertunangan dengannya!" "Apa??? Kamu gak salah?" pekik Via histeris. "Tentu saja. Kamu bilang dia hanya melakukan hubungan palsu denganmu. Maka jangan khawatir, dia tidak akan menyentuhmu. Karena wanita yang membuat pria itu tertarik adalah Disti, bukan kamu! " "Mengingat keduanya b******u di depanku, sudah membuatku sesak napas. Aku masih harus menarik dia agar dekat denganku?" keluh Via ingin menolak. "Hanya sementara, percaya padaku!" Gadis itu berpikir sesaat. "Oke, aku akan bersandiwara dengan baik.Tapi katamu ada benarnya. Dia pasti punya niat lain. Dia sampai ingin menikah denganku. Lalu setelahnya? mungkin mereka akan menenggelamkanku ke dalam sungai? kemudian mereka bisa melanjutkan hubungan gelap itu?" "Kemungkinan Kenzo mengincar saham pak Anggoro, belum lagi asuransi atas namamu. Jika terjadi sesuatu padamu, otomatis dia adalah penerima yang sah. Sebagai suamimu." "Dia mengatakan, dia dan Disti hidup kekurangan, karena itu dia mendekatiku. Kejam sekali, membuat aku terjerat cinta_____" "Hal itu biasa terjadi, namun kamu beruntung mengetahui ini sekarang, " "Mau kah kamu membantuku?" "Aku akan membantumu hingga akhir__" Reynand dan Via beradu pandang. Ada harapan pada sorot mata masing-masing. "Tapi kamu harus membayarku mahal, " celetuk Reynand, disertai tawa ringan. "Begitukah, bisnis tidak mengenal hubungan rupanya. Papamu adalah sahabat papaku. Tapi baiklah. Aku akan membayar, juga bonus di saat misiku selesai. " Via mengulurkan satu tangan, lalu Reynand menyambutnya. "Deal!" ucap mereka bersamaan. "Misi kita," imbuh Reynand menimpali. Via tersenyum lega. Keduanya lalu menyantap makanan yang sudah tersedia. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD