Ini menjadi acara penting nan ditunggu-tunggu. Tamu undangan memenuhi kediaman pak Anggoro, pemilik perusahaan Indo Jaya Grup, yang bergerak di bidang distribusi, sejak empat puluh tahun silam.
"Yang saya dengar, pak Anggoro sedang diselimuti kesedihan, lantas mengapa membuat acara semewah ini?" tanya seorang rekan bisnis.
"Mungkin putrinya sudah sembuh?" timpal yang lain.
Sementara Disti datang bersamaan CEO tampan, Kenzo Aditama.
"Siap-siap sayang! sepertinya pak Anggoro akan menyerahkan semua kuasa kepadamu," celetuk Disti, senyumnya optimis.
"Entahlah, aku tidak yakin akan secepat ini, " balas Kenzo.
Keduanya berjalan beriringan, Kenzo masih belum tahu jika Via sudah sadar dari koma. Karena memang dia juga tidak pernah bertanya, sikapnya tidak menggambarkan seorang kekasih yang mengalami kesedihan akibat pacarnya mengalami musibah kecelakaan.
Via berdiri di atas balkon yang gelap, bersama Reynand Gazali, menatap pacar bersama sahabat dari kejauhan.
"Mereka nampak serasi! betapa konyol aku selama ini. Mengira Kenzo mencintaiku, padahal aku tidak kompeten seperti Disti," keluhnya di ambang putus asa.
"Apapun itu, tidak membenarkan tindakan Kenzo untuk menipu!" hibur Reynand.
"Pria cerdas seperti Kenzo, pasti memiliki tipe wanita setara. Sedangkan aku? hanyalah gadis manja yang berlindung di belakang nama pak Anggoro. Aku tak cukup berani ikut masuk serta mengambil kewajiban terhadap perusahaan. Selama ini aku hanya mengelola galeri seni, sesuai dengan hobiku saja. Terlalu lama berada dalam zona nyaman, membuatku dibodohi habis-habisan____" tatapan Via menerawang, butiran bening kembali menetes dari sudut matanya.
Reynand mengeluarkan sapu tangan dari saku, mengulurkan ke arahnya, "Kamu juga tidak salah, kedua penipu itu yang serakah, bangkitlah!! jangan menyerah!!"
Via mengurut bulir-bulir kesedihan. Cinta yang telah tumbuh subur dalam jiwanya, harus roboh oleh gelombang pengkhianatan kekasih serta sahabatnya.
Seorang MC memulai acara malam ini, ia mengucap beberapa kata pembuka untuk mencairkan suasana malam.
"Ada yang aneh sayang! kenapa om Anggoro nampak bahagia?" bisik Disti.
"Mana ku tau, kita tunggu saja!" jawab Kenzo kaku.
Setelah cukup berbasa-basi,si pembawa acara memanggil Kenzo untuk maju ke hadapan para undangan.
Pria itu melangkah tegap penuh percaya diri.
Lanjut memanggil gadis cantik, satu-satunya pewaris tahta Indo Jaya Grup, Via Paramita.
Sekejap lampu ruangan dibuat menjadi gelap. Sorot putih tertuju pada ujung tangga di atas sana, Via berjalan dengan penuh keanggunan. Memakai dress merah menyala, membungkus tubuh seksinya. Rambutnya di buat lurus dengan gulungan kecil pada setiap ujungnya. Seluruh pasang mata terpesona dengan kemunculannya.
Via yang dulu manja, suka cengengesan, kini berubah seratus delapan puluh derajat. Menjadi gadis dewasa nang memikat.
Kenzo tak berkedip beberapa saat.
Glekk___
Menelan saliva dalam rongga kerongkongan.
"Itu Via?? sa--ngat can-tik____" gumamnya kagum.
Disti melongo melihat kemunculan sang sahabat. Menepuk pipinya keras sebanyak dua kali.
"Ini pasti mimpi!!! " serunya menyadarkan diri. "Sejak kapan dia bangun?! kenapa aku tidak diberitahu?" sesal Disti hampir gila.
Via melempar senyum bahagia, tentu itu hanyalah sandiwara. Ia harus mendalami peran dalam situasi ini, guna memberi balasan setimpal untuk kedua curut itu.
Berdiri tegak di samping pak Anggoro. Sang pembawa acara lalu mengisyaratkan acara inti, yakni pertunangan yang sempat batal digelar hari itu.
Via segera mengambil benda kecil, melingkarkan pada jari manis Kenzo, pun sebaliknya.
Via merasa ada api menyala dalam dirinya. Ingin sekali mendorong pria itu agar jatuh tersungkur. Namun ini belum saatnya.
"Mulai esok hari, putriku akan bergabung di perusahaan, menggantikan diriku sebagai Presiden Komisaris, aku sangat bangga padanya. Ia akan berusaha dengan sungguh-sungguh, " ucap pak Anggoro.
Semua orang bertepuk tangan, seiring dengan lampu yang kembali menyala.
"Sayang kamu memberi kejutan luar biasa! Tapi kamu nggak mengerti soal kantor. Gimana bisa tiba-tiba terjun ke sana? seharusnya biarkan aku yang memegang tanggung jawab besar itu," ucap Kenzo, terdengar jelas di indra pendengaran Via.
"Tenangkan dirimu!! kenapa harus takut?! " Via menoleh tepat di depan wajahnya.
Kedua matanya tajam seperti pedang, Kenzo menjadi gusar.
"A--ku tentu senang Sayang. Artinya kita bisa selalu bersama-sama, aku akan membantumu nanti," Kenzo tersenyum, untuk membuat Via terpikat pada ketampanannya.
Wajah Via menyeringai, sekuat apa dia menahan amarah, hal itu tetap membuat celah kecil, hingga mengeluarkan kilatan api melalui sorot matanya yang hitam.
Via mendekati pembawa acara, mengambil mikrofon dari genggamannya.
"Aku menyadari kekuranganku dalam mengelola perusahaan, oleh sebab itu, selain dibawah bimbingan papa, ada seseorang yang lebih berkompeten, akan mendampingiku dalam menjalani tugas. Dia adalah pak Reynand Gazali, seseorang yang aku tunjuk menjadi penasehat hukum, bertugas memberi arahan, juga dukungan kepadaku."
Lelaki bertubuh atletis muncul dari lantai dua, mengukir senyum untuk semua orang yang hadir pada malam itu.
Kenzo tercengang dengan kebaranian kekasihnya.
Via berpindah, ia kembali pada posisi awal, berdiri di tengah, antara Kenzo dan Reynand. Senyumnya merekah indah.
Seluruh tamu diminta menikmati acara ini, denting piano dimainkan. Suasana menjadi hangat dan akrab, semua orang larut dalam kebahagiaan.
Via dan Reynand saling pandang, membuat Kenzo merasa diasingkan.
"Ini tidak benar, " gumam Kenzo.
Beberapa orang berdansa mengikuti alunan musik.
Kenzo meraih tangan kekasihnya,
"Ayo dansa denganku Vi!!" ajaknya setengah memaksa.
Via menoleh, langsung mendaratkan tangan pada wajah tunangannya.
Plaak___
Untunglah para tamu tidak menyadari hal itu.
Kenzo melotot akibat tindakan Via.
"Itu tadi, ada nyamuk bertengger di pipimu, " ungkap Via.
Kenzo menyentuh pipinya, terasa panas.
"Oh benarkah Sayang, aku tak menyangka. Di rumahmu yang megah ini ada nyamuk berkeliaran, " jawab Kenzo seadanya. Hatinya tentu saja dongkol, namun ia coba sembunyikan sekuat tenaga.
"Menurutmu aku berbohong??!" decak Via kesal.
"Ti--dak Sayang, mana mungkin kamu berbohong, justru aku yang sering berbohong. Maksudku_____" Kenzo kehabisan alasan.
Via tersenyum ringan.
"Bagus!! mengakulah!!! tindakan kalian sangat menjijikkan! " batin Via.
Via melambai pada Disti, meminta agar sang sahabat segera mendekat.
Keduanya berpelukan ringan.
"Mengapa wajahmu tegang??! seolah melihat hantu saja," tanya Via dengan senyum ramah.
Disti tergagap, ia melihat bagaimana Kenzo menerima sentuhan kasar di satu pipi tadi. Disti merasa nyalinya menciut.
"Kamu udah sehat, aku nggak nyangka, kamu pulih secepat ini, "
"Kenapa?? kamu berharap aku mati???"
Disti tersentak, " Mengapa aku menginginkan itu?? kita kan sahabat, selalu bersama dalam suka dan duka, tentu aku senang melihatmu kini,"
"Hahahah.... lucu sekali. Ayolah, aku hanya bercanda. Kamu serius banget!!" tawa Via pecah. Diikuti Disti yang menatapnya bingung.
Disti menjadi salah tingkah, "Bercanda, ya bercanda. Jantungku hampir saja lepas," gumamnya.
Via mengumbar senyum lebar-lebar.
Kenzo dan Disti melirik satu sama lain.
Si pria hanya menggeleng kecil.
Sementara Disti, menjadi gusar. Kini ia harus menjaga jarak lagi, menyembunyikan kemesraan antara dia dan Kenzo. Ia harus kembali ke dalam ruang gelap, menjauh dari Kenzo dan Via, sama seperti dulu.