Pukul sepuluh pagi, mereka tiba di airpor karena pesawat akan lepas landas pukul dua belas siang. Setelah check in mereka menunggu di ruang tunggu yang disiapkan maskapai. Tepat pukul dua belas, pesawat mereka lepas landas menuju Singapura.
Sean menggenggam tangan Shiela lalu menciumnya, "Kamu pasti sembuh sayang..." bisiknya. Pipi Shiela bersemu merah mendengarnya. "Terima kasih." hanya itu yang sanggup Shiela katakan sebab dia tidak ingin Sean menggantungkan harapannya pada seorang wanita yang sewaktu waktu dapat meninggalkannya.
Sebuah apartemen yang terletak tidak jauh dari rumah sakit tempat Dokter Mathew praktek telah disewa oleh Handoko. Apartemen tersebut memiliki tiga buah kamar tidur dan lebih dari cukup untuk mereka tempati.
Jadwal konsulatasi dengan Dokter Mathew adalah esok hari, jadi masih ada waktu bagi Shiela untuk pergi ke kebun binatang di Singapura yang terkenal itu. Dorongan hati Shiela untuk pergi ke tempat itu sangat besar karena disanalah iSean mengutarakan cintanya. Momen yang tidak akan dilupakannya seumur hidup, terlebih saat ini dia masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk berkunjung ke sana bersama dengan Sean.
Sesampainya di sana, mereka menggunakan tram yang disediakan pihak kebun binatang untuk para pengunjung mengelilingi seluruh area tanpa perlu bersusah payah berjalan kaki.
Karena mereka tidak memiliki banyak waktu untuk mengunjungi seluruh area, Shiela memilih area binatang kutub karena dia sangat ingin melihat binatang pinguin.
Sean menggandengan tangan Shiela memasuki area bintang kutub yang dilengkapi pendingin ruangan yang cukup dingin bagi mereka. Shiela tidak memperdulikan tubuhnya yang kedinginan, matanya berbinar senang ketika melihat para pinguin berbaris di sebuah kolam yang dibuat menyerupai lingkungan aslinya.
"Lihat Sean...pinguin di pojok kanan itu.." ucap Shiela seraya mengangkat telunjuknya mengarah ke barisan pingguin "Itu..mereka seperti sedang berpegangan tangan ehh..sayap deh." lanjut Shiela. "Tahu gak kamu Sean kalau pinguin itu adalah salah satu binatang yang setia dengan pasangannya? Walaupun mereka kadang terpisah tapi mereka akan kembali lagi ke pasangannya masing masing."
"Hm....seperti aku dan kamu yah sayang?" bisik Sean tepat ditelinga Shiela.
"Hahah..hahah...masa sih?" tanya Shiela tersipu malu.
"Apakah kamu masih meragukan cintaku Shiel?" kembali Sean bertanya
Shiela menggelengkan kepala lalu menyandarkan tubuhnya pada d**a bidang Sean yang kini tengah memeluk dari punggungnya. "Aku takut tidak bisa menemanimu Sean. Berjanjilah untuk bahagia walau tanpaku." ujar Shiela.
Dipeluk erat erat tubuh kekasihnya, Sean membisikkan kalimat yang pernah diucapkannya tiga tahun silam di tempat yang sama. "We will together forever Shiela. Aku cinta kamu Shiela...selamanya"
"Aku juga sayang kamu Sean, tapi berjanjilah kamu akan hidup dengan baik walau tanpaku. Dan, simpan cintamu di sini...selamanya" ucap Shiela, dia mendekatkan telapak tangannya di d**a kanan Sean, tepat pada jantung pria itu.
"Selama jantung ini berdetak, selama itu juga cintaku padamu tak akan pernah padam Shiel. Kita tidak akan berpisah, Tuhan telah mempertemukan kita untuk bersatu kembali." ucap Sean dengan penuh keyakinan walaupun hati kecilnya memiliki sedikit keraguan yang disembunyikannya.
Malam itu, seakan telah mimiliki kesepakatan diantara mreka, tidak ada satupun yang membahas masalah kesehatan Shiela. Kedua orang tua Shiela dan Sean tanpa saling mengucapkan telah berjanji untuk menikmati malam ini bersama dengan Shiela.
Keesokan hari, setelah sarapan mereka berjalan kaki menuju rumah sakit. Sambil menikmati pemandangan taman apartemen mereka berjalan ditemani dengan hening. Masing masing berkutat dengan pikiran mereka dan sepertinya tidak jauh dari cobaan yang sedang mereka alami.
Setelah menunggu hampir lima belas menit lamanya, nama Shiela dipanggil oleh seorang perawat wanita muda untuk menemui Dokter Matthew. Ruangan yang baru saja mereka masuki cukup besar dan bersih. Sinar matahari masuk dari jendela menambah kenyamanannya, tidak seperti ruang dokter pada biasanya.
Mereka dipersilahkan oleh perawat tadi untuk duduk di sofa menunggu Dokter Mathew yang sedang membereskan peralatannya di ruangan sebelah. Lalu terdengar suara langkah yang semakin lama semakin dekat, "Hello..." sapa suara berat milik Dokter Matthew. "Hai, you must be Shiela." lanjutnya sambil mendekati Shiela seraya mengulurkan tangan untuk berjabatan.
Setelah Dokter Matthew memperkenalkan diri kepada Sean serta kedua orang tua Shiela, Dokter Matthew berkata" Kalian dapat memanggil saya Matt saja.' ucapnya dengan menggunakan bahasa Indonesia yang fasih." Tentu saja mereka terkejut, tidak menyangka jika Dokter itu dapat berbicara dalam Bahasa Indonesia.
"Yeah...saya lahir di Indonesia kok. Ibu saya berasal dari suku Jawa dan ayah saya warga negara Singapura. Well...mix jadiya" lanjutnya terkekeh dan diikuti oleh Shiela, Sean, Handoko dan Tina
"Baguslah kalau begitu, ehemm..Matt. Komunikasi akan semakin lancar kedepannya." kata Handoko dan dikuti dengan anggukan kepala oleh Dokter muda tersebut.
"Baiklah, kita mulai. Saya sudah menerima dan mempelajari semua laporan hasil lab dan CT scan kamu dari Dokter Roni di Jakarta." kata Dokter Matt dengan wajah yang tiba tiba berubahi serius. "Hm....saya akan berusaha menyembuhkanmu, asalkan Shiela mengikuti setiap langkah treatment yang cukup panjang dan melelahkan nantinya." lanjutnya.
"Boleh diceritakan Matt, rencana terapi untuk Shiela apa saja?" tanya Sean
"Ohh off course Sean". Diambilnya selembar kertas dan pulpen dari meja kerjanya kemudian mulai menulis sambil menjelaskan "First, we try chemotherapy for 4 times dalam 1 bulan pertama. Lalu kita lihat respon tubuh Shiela. Jika terlihat tumor mengecil, tandanya kemo berhasil dan di bulan kedua dilanjutkan namun intervalnya kita kurangi menjadi 2 kali dalam 1 bulan dan seterusnya sampai make sure tumor menghilang." Diberikan waktu sejenak untuk pasien dan keluarganya mencerna penjelasannya barusan.
"Namun, jika setelah kemo dalam bulan pertama itu terlihat tidak ada perubahan atau bahkan membesar, saya akan putuskan untuk melakukan prosedur operasi pengangakatan tumor serta jaringan disekitarnya. Diharapkan belum menyebar terlalu banyak ke organ lain." Tambah Dokter Mattew lagi.
"Berdasarkan experience kamu, Matt, chance Shiela untuk sembuh bagiamana?" tanya Handoko..
"Hm...banyak kasus yang lebih parah dari Shiela dan berhasil sembuh. Banyak faktor yang mempengaruhi nya, dan faktor yang terbesar adalah pikiran." Dialihkan pandangan ke Shiela "Kamu harus selalu berpikiran positif, dan tidak boleh stress."
Shiela hanya bisa tersenyum dan menganggukan kepalanya. "Mengetahui penyakit ini saja sudah cukup meningkatkan tekanan darahku." batinnya. "Aku usahakan..." jawabnya.
Keheningan menyelimuti ruangan itu. Dr. Matthew memutuskan untuk meninggalkan Shiela dan keluarga agar mereka dapat berbicara dan berdiskusi dengan leluasa tanpa ikut campur dari pihak luar.
"Shiela, bagaimana dengan pendapatmu?" tanya Handoko tepat ketika Mathew menutup pintu ruang tersebut.
Sejenak Shiela memandang papi, mami dan Sean bergantian. Lalu dia menarik napas panjang "Tidak ada pilihan Pap. Shiela masih mau hidup dan menemani kalian di dunia ini. Aku akan melawan penyakit ini semampu Shiela, tentu saja dengan dukungan kalian." Pendek jawaban Shiela namun sangat bearti bagi kedua orang tuanya dan Sean tentu saja. Semangat Shiela untuk sembuh adalah modal utama untuk memulai terapi ini.
"Shiela putriku, maafkan mami tidak menjagamu dengan benar sehingga kamu mengidap penyakit ini."ucap maminya dengan terisak. Tina memeluk putri kesayangannya itu serta membelai rambutnya dengan lembut. "Tuhan akan menjagamu sayang" lanjutnya. Shiela tak kuasa menahan tangisnya dan turut larut dalam kesedihan Tina. "Bukan salah siapa siapa Mam, ini sudah suratan takdir Shiela."
Sean menundukkan kepala, siapa yang tidak hancur melihat kekasihnya sedang berjuang melawan maut sementara dirinya tidak bisa berbuat apapun selain memberikan semangat saja.
"Baiklah, kita putuskan untuk mengikuti saran dari Dokter Matthew." ucap Handoko, dia tidak ingin kesedihan menunda waktu terapi Shiela. Saat ini, setiap detik sangat berharga bagi Shiela.
Tak lama kemudian, Dokter Matthew kembali. "Apakah kalian sudah memutuskan?" tanya Matthew pada Handoko. Satu satunya orang yang terlihat tidak emosi adalah pria itu. "Hm...orang tua mana yang tidak sedih melihat anaknya mengidap penyakit seperti ini. Apalagi Shiela masih muda sekali, perjalanan hidupnya masih sangat panjang." ucapnya dalam hati.
"Matt." panggil Handoko. "kami sudah berdiskusi dan memutuskan untuk mengikuti saran kamu tadi. Semoga semua bejalan dengan lancar dan Shiela bisa sembuh. Berapapun biayanya tidak menjadi masalah." tegasnya. Yah...Handoko memang seorang pengusaha yang sukses, uang tidak menjadi masalah baginya yang penting kesembuhan Shiela, anak semata wayangnya.
"Good, keputusan yang bijak. Semoga yang terbaik akan terjadi pada Shiela." ucap Dokter Matthew. Lalu memanggil perawat untuk mengambilkan formulir yang harus diisi oleh pasien. Diberikan formulir itu ke Handoko "Pak Handoko dapat membawa formulir ini dan mengisinya, dapat dikembalikan ke saya besok."
Lalu beralih pada Shiela dan berkata "Shiela, besok pukul smbilan pagi kembali ke sini unuk melakukan beberapa pengetesan seperti darah, dan CT scan lsekali agi. Sepertinya harus membawa pakaian dan kebutuhan kamu untuk tinggal di rumah sakit. Hm...maybe two or three days. Setelah proses kemo pertama kamu dapat pulang ..tapi bukan ke Jakarta yah..."senyum Dokter Matthew lalu mengalihkan pandangannya ke Pak Handoko.
"Pak Handoko dapat mulai mencari-cari apartementyang dapat disewa montly agar setelah proses kemo pertama Shiela dapat beristirahat dengan nyaman sambil menunggu proses kemo selanjutnya." tambah Dokter.
"Baiklah Mattew, terima kasih atas waktunya. Besok kami akan kembali lagi." sahut Handoko, rupanya keputusanmya untuk menyewa apartemen tepat sehingga saat ini mereka tidak perlu kerepotan lagi.
Malam itu, di meja makan, Handoko terlihat cemas ketika mengisi formulir yang tadi diberikan oleh Dokter. "Mam" panggilnya.
Tina menghampiri suaminya dan duduk di hadapan pria itu.
"Kenapa pa? Ada masalah?" tanya Tina.
Handoko menatap Tina "Aku harus mencantumkan golongan darah kita di sini."
"Untuk apa?" Suaminya menaikkan pundaknya.
"Aku juga tidak tahu, mungkin untuk berjaga jaga apabila Shiela membutuhkan bantuan darah. Dan mereka akan meminta keluarga terdekatnya untuk menyumbangkan darah mereka sebelum ke palang merah. Biasanya seperti itu."
Tina tampak cemas, "Apa yang harus kita lakukan pa?"
"Tidak ada pilihan selain mencantumkan yang sebenarnya....."
"Tapi..." suara Tina tercekat. Hal yang ditakutkan selama ini terjadi, rahasia yang disimpan rapat rapat kini mulai menyeruak ke permukaan.