#2 Kejujuran Hati

1253 Words
Andai kau tahu Sean, kaulah cinta pertama dan terakhirku. Tapi sepertinya Sean tidak perlu lagi mengetahui hal itu, cinta kami sudah aku kubur jauh didalam lubuk hatiku yang paling dalam. “Bukan gitu Sean, " jawab Shiela sambil memberanikan diri menatap mata Sean. “Maafkan sikap kekanakanku, sepertinya aku masih belum bisa melepaskan kenangan kita” kupaksakan tersenyum dan dulu dapat meluluhkan hati Sean, entah sekarang…. “Shiela…Sean….sini dong, kita foto bareng yukkk” terdengar panggilan Amy dari hall A memanggil mereka berdua untuk mengabadikan moment reuni mereka. Shiela dan Sean berdampingan berjalan pelan menyusul Amy dan teman teman lain yang sudah bersiap siap untuk difoto. Dan..upss…tangan Sean perlahan meraih dan menarik lembut tangan Shiela tanpa ijin ketika dirasakan Shiela hendak menjauhinya . "Ternyata getaran itu masih ada," bisik batin Shiela. Reuni yang menghebohkan pun berakhir dengan saling menukar nomor telepon masing-masing. Mendadak ponsel Shiela bertambah lebih dari dua puluh nama baru, dan nama Sean termasuk didalamnya. “Dah..Shiel, Sean…” teriak Amy dari dalam mobil Joni, kebetulan rumah mereka searah sehingga Joni mengajak Amy pulang bersama. Tinggallah Shiela dan Sean masih duduk di bawah pohon dekat gerbang sekolah, sepertinya masih ada keengganan untuk berpisah. “Shiel,” panggil Sean pelan sambil meraih tangan Shiela masuk dalam gengaman tangan Sean yang hangat. Detak jauntung Shiela berdegup dengan cepat, dia berusaha untuk menarik tangannya kembali , Shiela tidak mau terbuai dengan perasaan yang sudah lama dipendamnya. Namun usaha Shiela tidak berhasil, gengaman Sean semakin erat. “Aku..aku..harus cepat pulang Sean, ditunggu mami dirumah” bohong Shiela sambil berdiri dan menarik tangannya. Terdengar helaan napas berat Sean, terpaksa melepas gengamannya dan membiarkan Shiela berjalan kearah mobil putihnya. “Aku antar kamu ke mobil” merasa pria itu tidak dapat dicegah, akhirnya Shiela menyerah. Sebelum dirinya masuk kedalam mobil, Sean kembali meraih tangan Shiela “ Aku minta maaf jika melakukan kesalahan 3 tahun lalu, mohon beri aku kesempatan untuk menjelaskannya Shiel” tutur Sean dengan wajah memohon. Shiela menatap sepasang mata yang dulu berhasil membuatnya berdebar debar bahkan sampai saat ini, mencoba mencari kejujuran didalamnya. " Aku.. aku....." dengan terbata Shiela berusaha merangkai kata kata yang sedari tadi berkecamuk di dalam otaknya, “ Baiklah." Ujarnya menyerah. "Besok aku ada waktu, kita ketemuan di café Bonga jam 5. OK? " “Terima kasih Shiel” senyum Sean mengembang, akhirnya pria itu dapat meluruskan kesalahpahaman diantara mereka. Sean merasakan kekecewaan dari sorot mata Sheila, padahal semua itu telah berlalu lebih dari tiga tahun lamanya. Dirinya menyesal telah mempermainkan perasaan wanita yang kini tengah duduk disampingnya, mengenang masa lalu yang bisa dikatakan menyakitkan. "Maafkan aku Shiel, jika tahu kalau diri ini akan benar benar jatuh cinta padamu tidak akan kutanggapi tantangan mereka." Batin Sean yang masih saja berkubang dalam penyesalan tak berakhir. Kelembutan dan keluguan Shiela berhasil mencuri perhatiannya, walau diawali hanya karena keisengan teman temannya yang menantang Sean untuk dapat menjadikan wanita itu sebagai pacar dalam waktu sebulan. Egonya sebagai laki laki tertantang dan keberhasilan harus diraihnya demi nama baiknya sebagai salah satu cogan di sekolah. Dengan kharisma yang dimiliki Sean, dia memberikan perhatian, kelembutan yang membuat Shiela jatuh hati dan menerimanya lebih dari sekedar sahabat. Hubungan yang diawali dengan sandiwara lambat laun berubah, Sean tidak dapat mengontrol lagi perasaannya. Dia telah benar benar jatuh hati pada kekasihnya. Cinta yang tulus tumbuh begitu saja dalam diri pria itu dan berharap kekonyolan permainan dia dan temannya tidak diketahui oleh Shiela. Rencana tidak berjalan sesuai harapan, seorang gadis yang telah menaruh hati pada Sean membocorkan rahasianya dan membujuk Shiela untuk putus dengan Sean. Termakan omongan Mila, teman sekelasnya, Shiela tanpa mau mendengar penjelasan Sean secara sepihak memutuskan hubungan mereka dan melanjutkan kuliah ke Amerika. Shiela sedang mematut dirinya didalam cermin kamar dan berkata dalam hati, “ Shiela, kau harus kuat, jangan sampai terbawa suasana dan hanyut kedalam perasaan yang susah payah dipendam.”.tekad Shiela bulat.. “Ck..ck..ck..anak mami yang cantik kok muram gitu sih?” suara mami membuyarkan lamunanku. “Ah..mami…gak apa apa kok. “ jawabku sambil memberikan senyumku paling manis untuknya. “Aku jalan dulu ya mam, mau ketemu teman. Mugkin pulang agak malam, OK mam?” dengan basa basi aku bertanya, padahal aku sudah tahu jawaban mami. “Ok dear, take care ya” sahut maminya sambil meninggalkan anak semata wayang nya. Shiela memarkirkan mobilnya di halaman café. Tampak masih sepi “ Ahh..baru jam 4.30. Aku terlalu awal tibanya. Nanti dikira Sean aku menantikan pertemuan ini. Bisa besar kepala dia” batin Shiela. “ Biar aku tunggu di mobil saja sampai jam 5” ujar Shiela dalam hati sambil meraih smart phonenya dan mulai membuka aplikasi Instagarm. Tak terasa 1 jam berlalu , Shiela dengan tergesa gesa mematikan mesin mobilnya lalu meraih tas, segera turun dari mobil. Langkahnya terhenti ketika melihat di dalam Café , Sean sedang berbincang bincang akrab dengan seorang wanita. “Uhhh…kebiasaan lama tidak hilang hilang” batin Shiela berteriak. Awalnya Shiela sudah mau masuk kembali kedalam mobil dan membatalkan janjinya, namun terlambat. Sean sudah melihatnya dan melambaikan tangan memanggil Shiela untuk masuk ke dalam Café “Kok cemberut Shiel” senyum Sean tanpa dosa menyapa Shiela yang sedang manyun melihat Sean bersama dengan wanita lain. "Upss..ada apa denganku?” tanya Shiela dalam hati. “Cemburukah aku pada wanita itu?” Dengan cepat digelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran tersebut. “Tadi ada yang menyalib mobilku seenak udelnya” jawab Shiela asal sambil duduk di hadapan Sean. Terlihat senyum Sean tipis menyaksikan sikap Shiela. Sean tahu kalau wanita itu sedang berbohong, menjadi pacar Shiela selama dua tahun lebih cukup waktu untuk mengenalnya. Setelah Shiela dan Sean memesan minuman, kembali Sean memandang Shiela dan tersenyum. "Kenapa kamu senyum senyum?” tanya Shiela curiga. “ Heheh…kamu cemburu ya melihatku bersama dengan wanita itu?” sambil menunjukan tangannya pada wanita di meja sudut café. Shiela hanya mendengus dan berusaha menutupi rasa cemburunya di depan Sean. “Buat apa aku cemburu? Toh kamu bebas berhubungan dengan siapapun, aku tidak peduli.” tangkis Shiela sambil memainkan smart phonenya. Tak lama kemudian minuman mereka datang. Dengan cepat Shiela menghirup ice lemon Tta dan memecah keheningan diantara mereka “So? Apa yang hendak kamu jelaskan kepadaku?” langsung saja Shiela to the point. Gerah rasanya dipandangi terus menerus oleh Sean sedari tadi. Seketika wajah Sean berubah serius dan mulai mengatur duduknya serta menarik napas panjang sebelum memulai penjelasannya. Jantung Shiela mulai berdetak lebih cepat dari biasanya. Shiela mulai mengira ngira cerita apa yang hendak Sean jelaskan kepadanya. “Ehmm…gini Shiel, mengenai kejadian tiga tahun silam. “ Sean memulai penjelasannya, “Aku minta maaf dan berhutang penjelasan kepadamu. Memang awalnya aku mendekatimu karena mereka mengajak aku taruhan. Mereka bertaruh kalau aku gak mugkin bisa menjadikanmu pacarku dalam waktu sebulan, tapi Shiel….” lanjut Sean “ Semakin lama aku mengenalmu, semakin aku yakin kalau aku benar benar mencintaimu.” ujar Sean sambil meraih tangan Shiela dan menggegamnya. “Kenapa kamu berbohong pada ku Sean?” tanya Shiela perlahan. “Aku…Aku..takut kamu marah dan meninggalka ku, dan ketika aku putuskan hendak menceritakan semuanya kepadamu ternyata sudah terlambat. Kamu sudah tahu dari Mila, maaf kan aku Shiela.” ucap Sean masih tetap memandang Shiela. Sebenarnya Shiela telah mengetahui semua itu dari Amy, tapi dia keburu kecewa dengan kebohongan Sean dan sakit hatinya dibawa pergi jauh menghindar pria itu, berharap suatu hari nanti terobati. Sekali lagi Sheila menatap sepasang mata Sean yang berhasil meluluh latakan dunianya tiga tahun silam. "Sungguh menyesal aku terlalu percaya dengan ucapan Mila, cinta itu ternyata masih bersarang dalam hatiku" Batin Shiela bergejolak. “Sean aku juga mencintaimu” jerit batin Shiela. ----
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD