Angka di kuitansi itu terus menari-nari di depan mata Ze, bahkan saat ia sudah berada di dalam kamar.
Lima juta rupiah. Itu bukan uang kecil. Bagi Ze yang setiap bulan harus memutar otak agar uang belanja cukup sampai tanggal tiga puluh, angka itu terasa seperti tamparan.
Ia tahu Arif adalah ketua tim penjualan, tapi ia juga tahu berapa persisnya gaji pokok dan komisi rata-rata suaminya.
Arif baru saja selesai mandi, handuk masih melingkar di lehernya saat ia melihat Ze duduk melamun di pinggir tempat tidur.
"Kok belum tidur, Ze?" tanya Arif santai. Ia menuju lemari, mengambil kaos oblong putih yang biasa ia pakai tidur.
Ze menarik napas panjang, mencoba mengatur nada suaranya agar tidak terdengar seperti sedang menginterogasi.
"Mas, tadi aku nggak sengaja lihat kuitansi pembayaran Fira di meja makan."
Gerakan Arif yang sedang memakai kaos sempat terhenti sejenak, namun sangat singkat.
"Oh, iya. Itu gaji bulan pertama yang dibayar di muka. Biar dia semangat ngajarnya."
"Mas, lima juta?" suara Ze sedikit meninggi namun tetap tertahan karena takut terdengar sampai kamar Bu Ratri.
“Ya. Terus? Demi Lili, Sayang.”
"Itu hampir sama dengan gaji pokokku sebulan sebagai staf bantuan. Dari mana uangnya? Cicilan rumah kita bulan ini saja masih kurang sedikit lagi, Mas."
Arif menghela napas, ia duduk di samping Ze dan memegang kedua tangan istrinya. Tangannya hangat, seperti biasa.
"Ze, dengerin aku. Aku dapat bonus tambahan dari proyek luar kantor. Semacam freelance konsultasi penjualan. Aku nggak bilang karena aku mau kasih kejutan kalau cicilan rumah kita sudah lunas nanti."
Ze menatap mata Arif. Suaminya terlihat jujur, tidak ada kilatan kebohongan yang biasa muncul di mata orang yang berselingkuh.
Arif bahkan tidak terlihat punya ketertarikan spesial pada Fira. Saat Fira tadi datang, Arif hanya menyapa sewajarnya, bahkan lebih banyak menghabiskan waktu di teras depan sambil merokok daripada masuk ke dalam memperhatikan Fira mengajar.
"Tapi kenapa harus semahal itu, Mas? Banyak guru les lain yang gajinya lebih masuk akal," desak Ze.
"Fira itu punya metode khusus, Ze. Dia bukan cuma ngajar materi sekolah, tapi juga terapi fokus buat anak. Kamu lihat sendiri kan, Lili langsung nurut sama dia? Itu yang kita bayar mahal. Aku cuma mau yang terbaik buat anak kita."
Ze terdiam. Kalimat terbaik buat anak kita selalu menjadi senjata pamungkas yang membuat Ze merasa bersalah jika ia terus membantah. Ia merasa seperti ibu yang pelit demi masa depan anaknya sendiri.
***
Keesokan harinya, Ze mencoba mengamati Fira lebih dekat. Kebetulan hari itu kantor Ze sedang tidak terlalu sibuk, sehingga ia bisa pulang pukul setengah lima sore.
Saat ia sampai, Fira masih ada di sana, sedang menemani Lili merapikan alat tulisnya.
Fira tampak sangat profesional. Ia mengenakan kemeja biru muda yang rapi dan jilbab yang senada.
Wajahnya ramah, namun ada kesan formal yang sangat kaku. Ia tidak banyak bicara hal pribadi.
Jika Ze mencoba mengajak mengobrol, Fira hanya menjawab seperlunya, lalu kembali fokus pada perkembangan belajar Lili.
"Mbak, hari ini Lili sudah bisa menyelesaikan sepuluh soal perkalian tanpa bantuan," lapor Fira sambil memberikan buku catatan perkembangan harian kepada Ze.
Ze menerima buku itu. Isinya sangat rapi, sistematis, dan detail.
"Terima kasih ya, Fira. Kamu ... kuliah di mana tadi? Semester berapa?"
"Saya mahasiswi tingkat akhir di universitas negeri, Mbak. Jurusan Psikologi Pendidikan," jawab Fira dengan senyum tipis yang sopan.
"Oh, pantesan Lili langsung nurut," sahut Ze.
Ia mencoba mencari-cari sesuatu yang janggal, namun Fira benar-benar terlihat seperti guru profesional pada umumnya.
Tidak ada tatapan genit pada Arif, bahkan Fira cenderung menghindari kontak mata dengan Arif saat suaminya itu baru pulang kerja.
Namun, kecurigaan Ze beralih pada Bu Ratri. Ze memperhatikan bagaimana mertuanya itu memperlakukan Fira.
Bu Ratri terlihat sangat ... menghargai Fira. Bahkan lebih dari caranya menghargai Ze.
"Fira, ini diminum dulu tehnya. Ada kue cubit kesukaanmu, tadi Ibu sengaja beli di depan," ujar Bu Ratri dengan nada suara yang sangat lembut, nada yang jarang sekali ia gunakan pada Ze.
"Terima kasih banyak, Bu. Tapi saya harus segera pergi, ada jadwal les di tempat lain," tolak Fira dengan halus.
"Duh, rajin sekali ya kamu. Coba menantu Ibu rajinnya kayak kamu, nggak cuma sibuk kerja kantoran yang gajinya nggak seberapa itu," sindir Bu Ratri sambil melirik Ze yang sedang berdiri di ambang pintu dapur.
Ze hanya bisa mengepalkan tangan di balik daster yang ia kenakan. Rasa sakit itu kembali datang. Di rumah ini, ia selalu menjadi pihak yang salah.
Setelah Fira pergi, Ze menghampiri mertuanya di dapur. "Bu, sepertinya Ibu suka sekali ya sama Fira?"
Bu Ratri mencuci piring dengan gerakan cepat. "Ya jelas suka. Dia pintar, tahu sopan santun, dan yang paling penting, dia bisa ngurus Lili. Nggak kayak kamu, lulusan S1 tapi anak sendiri nggak keurus."
"Tapi Bu, gajinya itu mahal sekali."
"Mahal itu relatif, Ze! Kalau Arif sanggup bayar, kenapa kamu yang sewot? Harusnya kamu malu, suami cari uang tambahan sampai segitunya buat nutupin kekurangan kamu sebagai ibu!"
Ze tertegun. Ze mulai merasa ada yang aneh. Arif bilang itu bonus proyek, tapi kenapa Bu Ratri bicaranya seolah-olah Arif sedang melakukan sesuatu yang sangat berat atau penuh pengorbanan?
Malam itu, saat Arif sudah tertidur lelap, Ze memberanikan diri membuka tas kerja Arif yang biasanya tidak pernah ia sentuh. Ia mencari tahu tentang proyek luar kantor yang dimaksud suaminya.
Ia menemukan sebuah map cokelat di bagian paling bawah tas. Saat membukanya, jantung Ze serasa berhenti berdetak.
Itu bukan dokumen penjualan. Itu adalah dokumen perjanjian kerja sama yang bukan atas nama Arif, melainkan atas nama Bu Ratri.
Ada beberapa sertifikat tanah di kampung halaman Bu Ratri yang dijadikan jaminan untuk sebuah pinjaman besar.
Sebenarnya uang itu untuk apa?