bc

Semesta Jingga

book_age18+
40
FOLLOW
1K
READ
fated
second chance
drama
sweet
humorous
enimies to lovers
like
intro-logo
Blurb

Menjadi anak tunggal yang harus bisa membantu hampir semua kebutuhan dan keperluan rumah tangga ketika Ayah dan Ibu beranjak menua. Semua tuntutan dibebankan kepadanya, hingga Jingga terpleset ke malam yang hampir saja membuatnya celaka. Beruntung Raditya menolongnya. Semakin dekat, Jingga merasa seperti tidak asing dengan Raditya, ternyata Raditya adalah pangeran berkuda putih yang pernah dia temui. Ditingkahi cinta pertama yang hadir tiba-tiba, dan orang yang pernah mau menikahinya tetapi sudah beristri, apakah Jingga akan memilih salah satu dari mereka atau memilih menghabiskan waktu membesarkan toko kuenya dan membahagiakan Ibu?

chap-preview
Free preview
Cookies 1
“Makanya kalo kerja sudah enak itu, gak usah gegayaan pake keluar-keluar segala. Udah tau cari kerjaan susah, gak usah ngimpi jadi inilah, jadi itulah. Besok makan, bisa bayar kontrakan aja, udah syukur.” Hai … namaku Jingga. Indah, ya, tapi tidak seindah kenyataan hidup yang dihadapi. Besar dalam keluarga yang tidak mengizinkan untuk memiliki cita-cita bahkan sekadar bermimpi bukanlah hal yang mudah. Ucapan di atas adalah ucapan Bapak, orang yang harusnya menyayangiku. Aku merasa, sepertinya aku ini memang bukan anak kandung mereka, bisa jadi aku adalah anak yang dipungut mereka dari tong sampah atau tempat pembuangan limbah, sehingga sepertinya mereka jijik banget sama aku. Lihat saja perlakuan mereka, menyuruhku menghasilkan pundi-pundi uang, tanpa menanyakan bagaimana keadaanku, apakah aku baik-baik saja, apakah aku sudah makan, apakah ada lelaki yang sedang dekat denganku? Tidak, mereka tidak akan menanyakan hal seperti itu, karena mereka memang tidak peduli terhadapku. Yang mereka pedulikan hanya uang yang bisa aku hasilkan dan berapa upeti yang bisa mereka dapatkan. Tapi … ya sudahlah, aku si plegmatis ini lebih memilih diam, tidak berkomentar. Toh, itu bakal buat Bapak adem, tenang, enggak lagi mengeluarkan jurus kata-kata bertuahnya. Aku lebih memilih diam. Aku tidak suka mengkonfrontasi apa yang menurutku tidak menyenangkan. Biar saja seperti ini dulu, aku tahan semua rasa tidak enak ini. Sembari bekerja, aku perlahan mengumpulkan uang, berniat untuk kost, dan hidup sendiri. Sepertinya itu adalah doa paling sering dan paling khusyuk yang selalu aku panjatkan setiap selesai salat. Karena memang sejujurnya aku sudah tidak tahan dengan apa yang terjadi di dalam rumah ini. Disebut neraka, tapi aku masih di dunia, aku gak tau apa salahku, sampai kedua orang tuaku membenciku. * “Itu, pria yang di sana pesan coffee late plus cokelat cookies buatanmu, dan dia request kamu yang harus antar pesanannya, Ngga. Ingat, ya, dia itu pelanggan tetap kita, royal, lagi, gak pernah itung-itungan kalo beli apa-apa di sini. Jangan sampai dia pergi karena kamu jutekin dia. Pasang senyum yang manis.” ujar Mbak Ranti, manajer coffee shop tempatku kerja part time. Untung aja Mbak Ranti baik, banyak bantu aku, dan sudah mengerti keadaanku. Aku menganggapnya seperti kakakku sendiri, kalo gak, udah aku tinggalin nih café. Karena cookies yang aku buat, pria ini jadi sering ke café ini, katanya. Padahal, cookies buatanku gak ada yang istimewa, entah apa yang membuatnya jadi sering bolak-balik ke sini. Gak, bukan gak bersyukur ada pelanggan loyal seperti dia, cuma aku kurang nyaman aja dengan perlakuan dan sikapnya. Jadi, karena Mbak Ranti lagi-lagi seperti meng-ultimatum-ku, seolah ingin menyampaikan bahwa PEMBELI ADALAH RAJA. Jadi, kalian tahu, kan apa yang bisa dan harus aku, si pelayan ini lakukan? Iya, benar, tidak lain dan tidak bukan, yaitu apalagi selain harus nurut, ‘kan? Aku cuma karyawan part time yang enggak punya pilihan lain, selain nurut. Nurut and manut is my way. Baru saja aku berjalan ke arahnya, belum sampe, nih, masih beberapa meter lagi, si pria ini sudah senyam-senyum gak jelas “Sore, Jingga. Gimana kabarnya hari ini? Terima kasih, ya, pesanannya. Pesanku sudah sampai juga, ‘kan? Nanti malam ada waktu? Aku mau ajak kamu makan plus nonton, gimana?” tanyanya. Hanya senyuman yang berusaha kubuat semanis mungkin nan mampu terukir, sembari mencoba menjelaskan bahwa aku tidak bisa menerima tawarannya. “Maaf, Pak Raditya yang terhormat, pulang dari sini saya harus lekas pulang, karena harus langsung lanjut ke kampus. Senang berkenalan dengan Bapak,” jawabku.  Ya … dia Raditya, lelaki yang punya usaha mebel di sebelah kafe ini. Aku heran, awalnya dia sering banget pesan kopi di sini, dan pesanannya selalu sama coffee late plus cookies cokelat, buatanku yang sengaja dititipkan di kafe ini untuk uang tambahan. * “Hai, udah selesai? Yuk … aku antar pulang. Tenang, gak akan ….” Aku melongo. Pria ini, Raditya, sudah berdiri di gerbang kampus dengan gayanya yang … ah, entahlah, aku sulit menggambarkannya, “Kan, udah dibilang dari tadi, gak usah jemput. Aku langsung pulang. Masih banyak tugas kampus yang harus dikerjakan. Jadi gak usah ….” Omonganku terpotong, karena dia dengan manisnya membukakan pintu dan mempersilakanku untuk masuk ke mobilnya. Sementara teman-teman sudah mulai rusuh bersiul dan bergumam ramai di belakang. Mau enggak mau aku masuk juga ke mobilnya, demi menghindari keributan dan ledekan mereka. “Kita makan dulu, ya. Yakin, deh, kamu belum makan. Habis itu ….” “Stop … please, stop! Tolong jelasin, apa maumu? Karena jujur, perlakuanmu ini kurang nyaman untukku. Awalnya aku kira kamu cuma laki-laki penggila coffee late dan cookies, tapi lama-kelamaan aku jadi mulai curiga, ada sesuatu yang melatari perbuatanmu tersebut. Pak Raditya, tolong jawab, apa maksud dan tujuan Anda?” tanyaku tanpa basa-basi, langsung memotong pembicaraannya, karena jujur, aku enggak suka. Semua laki-laki pasti sama, tidak akan ada kebaikan dari mereka tanpa alasan. “Aku gak ada niat buruk, hanya ingin mengenalmu lebih jauh, salahkah?” Aku melotot ke arahnya. Bagaimana bisa laki-laki yang sudah beristri dan memiliki anak ini berani-beraninya merayuku? Lelaki di depanku ini hanya tersenyum, menjalankan mobilnya, dan menyetir, lurus. Tidak ada lagi percakapan antara kami, sampai di depan rumah makan seafood kegemaranku. Eh … tunggu sebentar.  “Kenapa kita berhenti di sini? Kan, tadi sudah kubilang, aku harus pulang, banyak yang harus kukerjakan. Besok pagi juga aku dapat shift pagi di kafe, jadi harus secepatnya tidur. Kalo tidak, besok bisa bangun kesiangan,” kataku protes. Dia menatapku, ah … lagi-lagi senyum hangatnya, “STOP! Itu suami orang, Jingga, jangan bermain api,” otakku saling bersahutan dengan hatiku yang sedang berdegup kencang. “Ini kenapa, sih? Kenapa tiba-tiba?” lanjut batinku. Aku melihatnya turun dari mobil dan menuju kasir seperti sedang berbicara. Tidak lama kemudian dia kembali ke dalam mobil dan berkata, “Kalo kamu enggan turun, kita tunggu saja di mobil. Sudah kupesankan makanan kesukaanmu.” Lagi-lagi aku dibuatnya bengong. Makanan kesukaan? Kampus? Dia tahu dari mana? “Memangnya Bapak tahu apa makanan kesukaan saya? Dan … dari mana Bapak tahu kampus? Jam berapa saya pulang? Jangan-jangan Bapak sengaja menguntit, ya? Apa maksud Bapak sebenarnya?” Dia tidak bereaksi, tetap dengan tatapan matanya lurus menatapku, “Anggap saja, aku beruntung.” Aku bisa saja kabur, langsung lari ketika ada kesempatan. Tapi, entah kenapa kaki dan tanganku seperti berkomplot menentang semua rencanaku, hingga aku masih di sini. Mungkin aku terpana akan perlakuannya, perlakuan baik dan manis yang selama hidup ini tidak aku dapatkan.   

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook