Cookies 2

1050 Words
St. Mark’s Square, Venice, 20 Januari 2008  “Tenang saja, gadis kecil, aku janji, kita akan bertemu lagi, ya. Tapi, ketika menemuimu nanti, kamu janji, ya, ketika kita bertemu lagi nanti, kamu tidak akan menolak jika saat itu aku memintamu untuk menjadi istriku, kita akan nikah, ya, young lady.” Dengan antusias, aku hanya mengangguk senang, karena selain dia ramah, dia juga baik karena membelikanku es krim kesukaanku. Dan juga dia adalah satu-satunya orang yang peduli denganku dan yang dari tadi menemaniku di taman ini, saat orang-orang yang lewat dan melihatku hanya diam dan tidak memperdulikan aku. Aku bisa sampai di sini dan menangis ketika aku tersadar bahwa aku terlepas dari genggaman tangan Ibu ketika asyik mengejar banyak burung. Sungguh, burung di taman ini banyak dan cantik-cantik. Dan pria ini juga yang kemudian mengantarkan ke lokasi pihak keamanan terdekat. Karena senangnya aku dibelikan es krim, maka dengan penuh antusias aku menjawab ucapannya, “Tenang aja, Mister, kamu itu tipeku, seperti pangeran berkuda putih yang menyelamatkan putri di saat pertempuran terjadi. Tapi, ehm … Kamu kaya, kan? Uang kamu bisa belikan rumah dan mobil. Karena Bapak bilang aku harus menikah dengan orang kaya.  Kalau enggak, bisa kacau, karena aku tidak akan mengantongi izin menikah sama sekali. Bapak bilang lebih baik mati sendiri daripada menikah tapi susah,” kataku sembari menikmati es krim cokelat dengan taburan cookies yang banyak banget. “Dan juga, selain membelikanku rumah yang besar dan mobil yang bagus, ehm … Mister juga bisa, ‘kan, membelikan banyak es krim cokelat dengan topping cookies yang banyak seperti ini?” lanjutku dengan menunjukkan ke depan matanya es krim di tanganku yang hampir habis, karena sejak tadi aku makanin, tanpa henti. “Pasti. Aku janji ketika kamu sudah dewasa nanti, aku akan datang melamarmu dan membawamu tinggal di rumah besar, yang indah dan megah dilengkapi dengan taman yang indah seperti pemandangan hari ini. Burung-burung yang beterbangan di sana sini, aku juga berjanji akan menyediakan es krim sebanyak yang kamu mau, ya.” ketika kami sedang ngobrol, tiba-tiba aku melihat melihat Ibu, setengah berlari, mencariku, bertanya ke beberapa orang yang ada di taman tersebut. Aku juga melihat Ibu menangis dan meneriakkan namaku. Tanpa pikir panjang, aku pun melambai ke arahnya dan langsung berlari menghampirinya. Setelah bicara dengan pria tadi, dan mengucapkan terima kasih, “Terima kasih, Sir, atas bantuanmu. Aku tidak tau bagaimana nasib anak gadisku jika bukan Anda yang menolongnya. Bisa saja dia celaka atau dijahatin orang yang punya niat tidak baik. Sekali lagi terima kasih, semoga hari Anda menyenangkan.” Kemudian kami berpisah setelah Ibu mengucapkan terima kasih kepadanya, si Mister. *** “Bangun, Ngga. Udah setengah lima, jangan lupa salat. Eh … ada apa ini, kok tiba-tiba baru bangun tidur, senyum-senyum begitu?” sahut Ibu, demi melihatku tersenyum ketika baru bangun dari tidurku, tidur dengan mimpi yang sangat menyenangkan untuk diingat. Aku baru sadar, rupanya Ibu menemukanku yang sedang tersipu ketika terbangun dari tidur dengan bahagia. Lelaki itu datang lagi, dia yang masih jelas dalam ingatanku, khas dengan senyumnya yang manis, ciri khas pemuda tampan Eropa yang santun. Ah … lelaki itu, mister pangeran kuda putihku, yang dulu berjanji akan menikahiku dan membahagiakanku dengan uang yang banyak. “Gak apa-apa, Bu. Udah, ah, Ibu buat Ngga malu aja. Udah, Buuu … Ibu keluar, Ngga mau mandiii …,” kataku sembari setengah kudorong Ibu agar keluar dari kamar, yang terlihat mau menggodaku. It’s going to be a very beautiful day. It should be is. Selesai mandi, Bapak sudah di meja makan dengan gawainya. Bapak bertanya, “Ngga, kamu lagi dekat sama laki-laki? Tadi Ibu bilang, bangun tidur kamu senyum-senyum sendiri. Kamu lagi jatuh cinta? Ingat, ya, Ngga, pastikan pria itu bisa menjamin masa depanmu. Gak harus kaya, minimal bisa membelikan rumah, gak buat kamu kepanasan naik kendaraan umum, kesusahan bayar kontrakan, bayar listrik. Bapak yakin ….” Aku menatap wajah Bapak dan berkata, “Pak … iya, Pak, sudah tahu. Akan kuingat segala petuah Bapak, pria yang kaya, punya rumah, punya mobil. Tapi, Pak, mana ada pria yang kaya raya begitu mau sama aku? Lihat, Pak, baju yang kupakai ini hanya yang itu-itu saja, gaji sudah habis hanya untuk membayar kontrakan dan t***k bengek yang ada di rumah ini. Andai saja dulu Bapak bertahan di perusahaan akuntan itu, kita masih akan berada di Eropa. Saat ini masih musim salju di sana. Aku gak akan kesulitan seperti ini, kuliah saja harus uber-uberan dengan waktu kerja. Ibu gak perlu menjahit sampai jauh tengah malam. Dan Bapak? Apa yang Bapak lakukan? Dengan dalih TRAUMA MASA LALU di-PHK, Bapak diam saja di rumah. Apakah ini ….” PLAK! Aku merasakan panas di wajahku. Ibu sudah berdiri, menahan tangan Bapak. “Anak kurang ajar, gak tahu diuntung. Kamu pikir sebesar itu, siapa yang kasih kamu makan? Siapa yang menyekolahkanmu? Sekarang, baru bantu sedikit aja sudah diungkit semua!” bentak Bapak. Tidak, kali ini tidak akan ada air mata. Aku kembali ke kamar, mengemas beberapa baju kerja dan buku-buku kuliah. Aku menyeret koper kecil. Aku sudah bertekad, biarlah, mungkin aku akan jadi salah satu penghuni neraka, tapi hidup seperti ini pun bagai neraka dunia yang tak berkesudahan. Umurku sudah memasuki kepala tiga, tapi hidupku belum juga menuju cahaya terang kebaikan. Hidup apa yang bisa diharapkan?  “Pergi? Kamu mau pergi? BAGUS! Sudah tidak ada gunanya lagi kamu memang sebagai anak. Saya juga sudah gak lagi merasakan memiliki anak. Pergi yang jauh, jangan kembali.” Pria tua di depanku ini, yang katanya Bapak ini, entah kenapa begitu bencinya dia padaku. Apa salahku? “Iya, Pak, Bu, aku pamit. Maaf kalo selama ini belum bisa jadi anak yang berguna dan membahagiakan kalian. Tenang saja, aku pasti kembali, setelah mendapatkan LELAKI KAYA yang bisa membahagiakanku sesuai keinginan kalian.” Aku pamit ke Ibu. Kubelai punggung tangannya yang sudah mulai keriput dimakan usia. Pria tua itu ada andil besar dalam ketidakbahagiaan kami. Dia yang egois memutuskan semuanya sendiri tanpa bertanya pendapat aku dan Ibu, sangat egois “Ngga pamit, Bu. Tolong doakan Ngga sukses dan sehat. Ibu jaga diri, ya. Ngga pasti kembali,” kataku pamit. Ibu hanya mengangguk. Ibu paham akan situasi ini, si anak yang keras kepala dan Bapak si pria batu. Kalau kami sudah begini, tidak akan ada yang mengalah. Ini memang jalan yang lebih baik, meski harus menggigit lidah menahan perih meninggalkan rumah yang penuh kenangan.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD